
Rupanya tubuhku benar-benar jauh lelah daripada yang kubayangkan, aku tertidur dengan nyenyak di atas kasurku yang nyaman lengkap dengan selimut tebal yang membungkus tubuhku, aku hanya terbangun sebentar untuk sholat subuh dan langsung kembali tidur sampai akhirnya aku terbangun ketika ku dengar ponselku berbunyi.
Dengan mata sedikit terpejam aku melihat siapa yang mengirimiku pesan dan kemudian tersenyum ketika melihat sang pengirim adalah pria semalam mengantarku pulang. Mataku kini terbuka sempurna, masih dengan posisi tiduran aku membuka isi pesan itu kemudian tertawa ketika melihat sebuah foto dimana sang Letnan berfoto dengan abang-abang penjual ketoprak yang tangan kanannya memegang ulekan sedangkan tangan kirinya memerlihatkan jari telunjuk dan tengah hingga membentuk tanda V dengan senyum menghiasi wajahnya.
“Lapor! Sudah sampai Jakarta, sekarang mau sarapan ketoprak dulu… jangan salah fokus sama abang-abang tukang ketopraknya ya.”
“Hehehe… awas jangan foto berdua nanti abang tukang ketopraknya ngaku-ngaku pacarnya Mas Yudha bisa bahaya nanti.”
“Hahaha… tanang saja si abangnya gak punya akun sosmed katanya, jadi amanlah.”
“Hahaha.”
“Lagi ngapain?”
“Baru bangun, hehehe.”
Ponselku tiba-tiba saja berbunyi tapi bukan pesan yang masuk melainka video call dari sang Letnan membuatku mengerutkan alis sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan tanpa berpikir panjang aku langsung mengangkatnya.
“Hai…” sapaku dengan suara sedikit serak bangun tidur sambil tersenyum ketika melihat wajah tampan sang Letnan yang muncul di layar ponselku.
“Hai,” balasnya masih dengan senyum lebar dengan mata menatapku lembut seperti biasanya.
“Kenapa tiba-tiba video call?” tanyaku sambil menutup mulutku karena menguap membuat sang Letnan tertawa.
“Gak apa-apa cuma mau lihat muka kamu kalau bangun tidur dan mendengarkan suaramu yang masih serak seperti ini.”
Seketika aku tersadar kalau aku bahkan belum cuci muka yang artinya mukaku masih terilihat kusut! Secepat kilat aku menarik selimut hingga menutupi kepala dan bisa kudengar sang Letnan tertawa membuatku menurunkan selimut hingga hanya mata saja yang telihat.
“Udah ya! Tutup dulu!”
“Kenapa?” Dia bertanya masih dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Masih berantakan belum mandi.”
“Hahaha… gak apa-apa masih tetap cantik kok, malah sekarang kamu terlihat lebih cantik dari biasanya.”
Diam-diam di balik selimut aku tersenyum mendengar pujiannya. Aku bisa melihat sang Letnan mengambil piring ketoprak yang diantarkan penjualnya.
“Bentar, Bang! Cantik gak, Bang?”
Seketika aku terbelalak ketika melihat wajah asing menghiasi layar ponselku.
“Cantik, Mas, matanya saja cantik banget mukanya pasti lebih cantik,” puji si abang tukang ketoprak membuat sang Letnan tertawa bangga.
“Calon saya itu, jangan suka ya Bang, nanti saingan saya tambah banyak.”
“Iiih Mas Yudha apaan sih?!” Aku tertawa malu mendengar ucapannya.
“Biarin saja, biar semua orang kini tahu kalau kamu adalah milikku.”
“Hahaha… calon, kan belum sah.”
“Iyaaa calon, hehehe.”
“Ketopraknya sudah jadikan? Ya udah makan dulu gih, nanti telpon lagi kalau sudah beres.”
“Ya udah, aku makan dulu tar kalau urusan kerjaan sudah beres aku hubungi lagi.”
“Ok.”
“Bye, Za.”
“Bye Mas Letnan.”
“Mandi sana tapi jangan dandan cantik-cantik.”
“Kenapa?”
“Tar banyak yang suka.”
“Hahaha… Mas Yudha juga, jangan lama-lama nongkrong di pinggir jalan.”
“Kenapa?”
“Tar yang lewat pada suka, apa lagi pakai seragam kaya gitu kan jadi double gantengnya.”
“Hahahaha.. tenang aja nanti sama si abang dibilangin kalau aku sudah punya calon yang cantik dan galak.”
“Hahahaha… ya udah, tutup dulu telponnya katanya mau makan.”
__ADS_1
“Hehehe… ya udah,sekarang beneran bye-nya.”
“Hehehe… Assalamualaikum, Mas Letnan.”
“Wa’alaikumsalam, Za.”
Aku kembali berbaring dengan senyum lebar sambil memeluk guling untuk beberapa saat sebelum akhirnya keluar kamar untuk menikmati hari libur ini sambil menunggu sang Letnan pulang dari Jakarta.
Arga datang ke rumah kira-kira jam 4 sore tapi dia malah asyik bermain PS dengan Dirga dan baru bisa ngobrol berdua dengan ku setelah sholat magrib. Kami duduk di teras belakang dengan semangkuk pempek di tangan kami.
Aku menceritakan tentang apa yang terjadi Musi Rawas termasuk tentang Bang Eddy dan Leona, aku bahkan memperlihatkan screen shoot dari sang Letnan untuk membuktikan kalau dia tak berbohong. Seperti biasa Arga mendengarkanku dengan seksama walaupun dengan mulut penuh pempek.
“Semua orang yang ada di Kubu saat itu mencurigai hubungan sang Letnan dengan Leona, hanya aku aja yang tidak. Mungkin karena sudah dibutakan oleh amarah dan kecewa jadi itu semua luput dari perhatianku.”
Arga menatapku sesaat kemudian mengangguk.
“Terus sekarang gimana?”
“Gimana apanya?”
“Kamu sama dia, udah jadian belum?”
“Belum.”
“Kenapa?” Arga kembali bertanya sambil menyuap pempek ke dalam mulutnya.
“Aku gak mau sebelum masalah sama Leona dan Bang Eddy beres.”
Arga kembali mengangguk setuju.
“Kita lihat aja, apa dia akan menyelesaikan masalah ini atau hanya dibiarkan begitu aja kaya kemarin.”
“Aku janji akan membereskannya.”
Sebuah suara berat membuatku dan Arga dengan terkejut menatap ke belakang dimana sang Letnan berdiri di ambang pintu masih lengkap dengan seragamnya.
“Mas Yudha! Kapan sampai?” Aku berdiri dengan senyum gembira melihat kedatangannya.
“Baru saja, Ayah yang menyuruhku langsung ke belakang katanya kamu sama Arga lagi ada di sini.”
Aku mengangguk dengan senyum masih menghiasi wajahku.
“Jangan nyengir mulu, tar giginya kering,” ucap Arga yang langsung membuat senyumku semakin lebar dan itu membuat Arga memutar bola matanya sambil menggeleng.
“Mas Yudha ini Arga, sahabatku dari zaman SMP.”
Mereka kini berjabat tangan dengan mata masih saling menilai satu sama lain.
“Masih perlu ku pukul sampai semua giginya rontok ga?” Arga berbisik membuatku menatapnya dengan mata membulat ketika mengingat janjinya dulu.
“Jangan!” Secara reflex aku hampir saja berteriak dengan mata membulat menatap Arga.
“Tapi aku kan sudah janji.”
“Gak usah! Janjinya sudah aku batalin.”
“Kan aku yang janji bukan kamu, Key.”
“Kamu janjinya kan sama aku, jadi terserah aku dong.”
Arga menatapku sambil menggelengkan kepala.
“Ckk… dasar cewek gak mau kalah.”
“Biarin.” Aku tersenyum penuh kemenangan sambil menarik tangan Mas Yudha untuk duduk bergabung dengan kami mengelilingi meja dari besi tempa putih yang sengaja ditaruh di sana lengkap dengan 4 kursi dari bahan yang sama untuk kami duduk-duduk santai seperti sekarang.
“Janji apaan?” tanya sang Letnan penasaran.
“Janji buat bikin gigi seseorang rontok karena sudah bikin dia nangis… Aww!!!”
Seketika aku langsung menendang betis Arga karena tak percaya kalau dia akan mengatakan itu.
“Gak usah didengerin, Mas, dia mah suka ngaco.”
“Dulu yang nyuruh siapa? Aww!!!” Aku kembali menendang betis satunya lagi.
“Apa aku perlu memesan gigi palsu sekarang?” tanya sang Letnan sambil meringis membuat kami menatapnya kemudian tertawa.
“Gak perlu, kalau aku sampai menepati janjiku, ku rasa aku juga akan membutuhkan gigi palsu karena Kekey pasti akan membuatku kehilangan gigi juga,” ucap Arga sambil menatapku yang hanya mengangkat bahu santai.
__ADS_1
“Mas Yudha, baru pulang dari Jakarta?”
“Iya.”
“Langsung ke sini?”
“Iya.”
“Gak pulang dulu?”
“Kalau pulang dulu takut kemalaman.”
“Pasti cape banget ya?”
“Engga juga, Jakarta-Bandung sekarang cuma 2-3 jam doang kalau ga macet.”
“Macet gak tadi?”
“Engga.”
“Sudah beres urusan kantornya?”
“Sudah.”
“Sudah makan belum?”
“Belum?”
“Mas Yudha belum makan? Mau makan apa? Pecel ayam mau? Atau sate? Atau nasi padang?”
“Woi! Key! nanya pelan-pelan, terus ngeliatinnya biasa aja, Mas Letnannya gak bakalan ngilang kok, sekarang bikinin dulu minum, kasian kan cape baru datang dari Jakarta malah langsung diintrogasi kaya gitu.”
“Hehehe.. lupa.. Mas Yudha mau minum apa?”
“Apa saja,” ucap sang Letnan sambil tersenyum membuatku ikut tersenyum sebelum akhirnya berdiri untuk mengambil minum.
“Nitip ya, Ga… jangan suka, dia sudah punya calon soalnya.”
“Iiih amit-amit, masih normal, Key.”
“Hahahaha.”
Aku tertawa sambil berjalan masuk ke dalam dan bisa ku dengar sang Letnan juga tertawa. Aku berjalan menuju dapur dan melewati ruang keluarga dimana ayah dan ibu sendang nonton TV.
“Yudha baru pulang dari Jakarta?”
“Iya, Yah, langsung ke sini kalau pulang dulu takut kemalaman katanya.”
“Kasian pasti capek banget, sudah makan belum?”
“Katanya sih belum, Bu.”
“Waduh… makan apa dong ya? Ibu gak masak soalnya tadi.”
“Beliin pecel ayam si Dul mau gak?”
“Gak tahu, Yah, nanti Kekey tanyain sekarang Kekey mau bikinin minum dulu.”
Ayah mengangguk dan aku-pun kembali berjalan menuju dapur untuk membuatkan sang Letnan sirup. Aku kembali ke teras belakang dengan membawa gelas berisi sirup, ku lihat Arga dan sang Letnan tengah berbicara dan sepertinya cukup serius tapi mereka menghentikan pembicaraannya setelah melihatku datang.
“Ngomongin apaan?”
“Rahasia laki-laki,” jawab Arga dengan senyum jahilnya sambil berdiri, “Udah ah! Pulang dulu ya.”
“Kok pulang, Ga?” tanya sang Letnan sambil ikut berdiri.
“udah dari tadi, Mas, lagian kalau di sini terus tar ganggu lagi.”
“Iya sih bener juga,” ucap sang Letnan membuatku tertawa.
“Hahaha… nitip dia, Mas, jangan sampai nangis lagi kaya kemarin.”
Sang Letnan mengangguk dengan penuh keyakinan sambil menerima uluran tangan Arga, “Akan ku pastikan mulai detik ini dia hanya akan tersenyum, walaupun dia menangis akan ku pastikan itu adalah air mata bahagia.”
Arga mengangguk percaya dengan ucapan sang Letnan. Arga-pun akhirnya pulang, aku dan sang Letnan mengantarnya ke depan sampai motornya benar-benar tak terlihat.
“Kamu beruntung punya teman seperti Arga, Za.”
Aku mengangguk sambil tersenyum gembira karena sang Letnan juga berpikiran sama sepertiku mengenai Arga, salah satu orang penting dalam hidupku layaknya keluargaku sendiri.
__ADS_1
*****
Bonus sarapan tanggal tua 😁