Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
108: Yao Chan vs Feng Hui


__ADS_3

Yao Chan tersenyum tipis menemukan Feng Hui mempunyai kemampuan setara dengannya, Pendekar Suci tahap Akhir.


Merasa tidak akan mudah mengalahkan Feng Hui, Yao Chan tidak ingin bermain-main lagi. Feng Hui belum mencabut pedang dipinggangnya, membuat Yao Chan menggunakan Jurus Tinju Naga untuk mengahadapi jurus tangan kosong Feng Hui.


Feng Hui melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata orang biasa. Namun tidak dengan Yao Chan yang memiliki kecepatan sedikit diatas Feng Hui.


Yao Chan menangkis serangan Feng Hui dan membalasnya dengan melepaskan tinjunya. Pertukaran serangan pun terjadi di udara membuat suara beradunya pukulan terdengar menggema di lembah itu.


Melihat Ketua mereka telah memulai pertarungan, anak buah Rubah Hitam pun segera melesat menerjang Yu Lian dan Zhu Yin.


Kedua gadis belasan tahun tersebut, segera melesat menerjang puluhan anggota Rubah Hitam yang rata-rata memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Raja.


Hanya sekitar sepuluh orang yang berada ditingkat Pendekar Pertapa. Tiga diantaranya sudah berada di tahap akhir dan tidak ikut menyerang mereka berdua. Merek memperhatikan pertarungan Feng Hui melawan Yao Chan.


Yu Lian melesat dan berhenti di udara, membuat mata penyerangnya melotot lebar, mereka.terkejut melihat gadis itu mempunyai kemampuan Pendekar Suci.


Keterkejutan mereka tak berlangsung lama, mereka melompat berhamburan menyelamatkan diri ketika tiba-tiba Cambuk Naga Api Yu Lian berubah menjadi besar dan diselimuti api, menderu ketempat dimana mereka berada.


Belasan orang terlambat menghindar, tubuh mereka terpotong-potong dan hangus terbakar akibat tersambar Cambuk di tangan Yu Lian.


Feng Hui yang melihat hal itu dari ketinggian terlihat geram sekaligus takjub. Karena konsentrasinya yang terpecah, Feng Hui terlambat menyadari Tinju Yao Chan yang mengarah cepat ke arah perutnya.


BUK!!


Feng Hui terlempar kebelakang hingga belasan meter, wajahnya terlihat geram saat menatap Yao Chan yang tersenyum sinis kearahnya.


"Bocah Kurang ajar ... jangan salahkan aku jika tidak mengampuni mu!"


Feng Hui berteriak keras lalu melesat lebih cepat dari sebelumnya. Yao Chan sempat terkejut ketika tiba-tiba Feng Hui sudah berada didepannya sambil melepaskan tendangan.


Tubuh Yao Chan terdorong kebelakang saat menangkis tendangan keras Feng Hui, Keduanya kembali bertarung hingga puluhan jurus sebelum akhirnya Feng Hui melompat mundur.

__ADS_1


Ia pun mencabut pedangnya lalu mengalirkan sejumlah besar tengahnya ke pedang tersebut. Sesaat kemudian pedang ditangannya terlihat mengeluarkan aura cahaya disertai kilatan petir.


Yao Chan tak ingin gegabah, ia pun mengeluarkan Pedang Dewa Perang dari gelang Ruang Dimensinya. Hal itu membuat Feng Hui sedikit melotot, seolah melihat pemuda dihadapannya mengeluarkan pedang dari ruang hampa.


Pedang di tangan Feng Hui merupakan pedang Pusaka Bumi, bernama Pedang Halilintar Pedang yang mengharumkan namanya sebagai Pendekar Pedang Halilintar saat usianya masih muda.


"Anak muda jangan salahkan aku jika tak mengampuni mu!"


Yao Chan tersenyum tipis mendengarnya. Ia pun mengerahkan lima puluh persen tenaganya dan mengalirkan ke Pedang Dewa Perang. Udara seketika terasa dua kali lebih berat dari sebelumnya.


Feng Hui terkesiap merasakan perubahan tekanan udara di sekitarnya. Mendapati pedang ditangan Yao Chan bukan pedang pusaka biasa, Feng Hui menjadi lebih waspada.


"Kakek Bau tanah jangan salahkan aku jika tak mengampuni mu!"


Yao Chan sengaja membalikan kalimat yang Feng Hui ucapkan kepadanya. Tujuannya agar Kakek tersebut tersulut emosinya. Sehingga menyerang dirinya dengan membabi buta.


Namun Yao Chan harus menelan harapannya, Feng Hui yang sudah kenyang akan asam garam kehidupan, menyadari pemuda dihadapannya sedang berusaha mancing kemarahannya.


Selesai berkata demikian, Feng Hui melesat dengan kecepatan penuhnya, sebelumnya ia sempat melihat ke bawah dimana anak buahnya hanya tersisa separuhnya dari semula.


Ia ingin segera menyelesaikan pertarungan dengan pemuda dihadapannya dan menyelamatkan anak buahnya yang tersisa.


Serangan Feng Hui yang cepat seolah tidak terpengaruh tekanan udara yang dua kali lipat lebih berat, membuat Yao Chan mengerutkan dahinya.


Sambaran Pedang kearah lehernya berhasil Yao Chan hindari, Yao Chan pun membalas menyerang Feng Hui dengan cara yang sama. Pertukaran serangan pun kembali terjadi di udara.


Setelah pertarungan memasuki enam puluh jurus, Feng Hui tiba-tiba mundur beberapa meter lalu mengangkat pedangnya seraya berteriak.


"Halilintar Menghancurkan Gunung."


Pedang Halilintar di tangan Feng Hui memancarkan percikan kilat yang sangat besar. Lalu Feng Hui menebaskan pedangnya ke arah Yao Chan.

__ADS_1


Seberkas petir besar menderu kearah Yao Chan yang segera menghindarinya dengan cepat. Lesatan petir itu akhirnya menghantam pepohonan di belakang Yao Chan yang langsung membuat pohon besar itu tumbang dan terbakar.


Feng Hui yang melihat serangannya gagal segera melesat kearah Yao Chan yang terlihat sedang terpana oleh kekuatan pedang Halilintar miliknya.


Namun saat jaraknya dengan pemuda tersebut hanya terpaut dua meter lagi, Feng Hui menyadari sesuatu yang salah. Seketika ia merasakan tubuhnya sangat berat. Membuat ayunan pedangnya pun melambat.


Yao Chan tersenyum sinis, Ia segera menangkis pedang Halilintar Feng Hui yang mengarah ke lehernya, sebuah tendangan cepat dan keras ia lesatkan ke dada Feng Hui yang membuat Ketua Rubah Hitam itu terpental lima meter kebelakang.


Feng Hui merasakan dadanya seperti terhantam sebuah batu besar, ia pun memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Ia menatap Yao Chan dengan pandangan yang seolah tak percaya, bahwa pemuda belasan tahun itu bisa melukainya hingga sedemikian rupa.


"Kakek bau tanah, bersiaplah menemui Tao Yan dan Bai Xun di akhirat."


Selepas berkata demikian, Yao Chan yang sudah bersiap dengan Langkah Dewa Angin segera melesat dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukan kepada Feng Hui.


Feng Hui terkejut saat mendapati Yao Chan tiba-tiba menghilang lalu menyerangnya dari belakang punggungnya. Dengan pengalaman puluhan tahun di dunia persilatan, Feng Hui berhasil menghindari tebasan Pedang kearah lehernya itu.


Namun sebuah tendangan keras menghajar pantatnya hingga membuat tubuh tua itu terhempas sesaat. Ia pun memaki-maki Yao Chan yang sedang tersenyum geli melihatnya.


"Bocah Kurang ajar, rasakan pembalasanku!"


Feng Hui kali ini merasa sangat kesal. Ia pun segera mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki, Pedang halilintar ditangannya kembali memercikan kilatan petir, namun kali ini lebih banyak dan lebih besar.


Udara pun berfluktuasi dengan hebat, senyum dibibir Yao Chan seketika menghilang, ia bisa merasakan kekuatan Feng Hui melonjak lebih besar dari dugaannya.


Tak ingin gegabah, Yao Chan segera mengalirkan sejumlah besar tenaga dalamnya ke Zirah Sisik Naga. Perlahan-lahan kulit tubuh Yao Chan berubah menjadi seperti bersisik kuning seperti ular.


*****


Like dan Votenya jangan lupa ya🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2