
"Ada apa? Kenapa kalian berlarian!?"
Pemilik kedai bergegas kearah pintu dimana salah satu pekerjanya berlari masuk lalu menutup pintu kedai itu.
"Perampok Laba-laba Merah hendak memasuki desa ini Tuan!"
Pelayan kedai menjawab dengan tergagap dan wajah yang dipenuhi ketakutan.
"Perampok Laba-laba Merah!"
Seluruh pengunjung Kedai itu berteriak hampir bersamaan. Wajah mereka seketika berubah menjadi pucat.
"Bagaimana ini!?"
"Ayo kita kabur lewat belakang!'
Mendengar hal itu para pengunjung pun segera berlarian menuju bagian belakang kedai itu. Namun langkah mereka terhenti oleh sebuah teriakan.
"Berhenti!, jangan keluar Kedai!'
Suara yang disertai tenaga dalam itu membuat, para pengunjung Kedai berhenti seketika. Mereka membalikan badan dan mendapati seorang pemuda sedang menatap tajam ke arah mereka.
Pemilik Kedai terkesiap mendengar suara teriakan tersebut. Dari teriakan yang disertai tenaga dalam itu, ia bisa mengetahui bahwa pemuda di hadapan nya ini, memiliki kemampuan yang tinggi.
"Paman-paman sekalian jangan keluar.dari ruangan ini, tetaplah di dalam. Biarkan aku dan Paman pemilik Kedai ini yang menghadapai mereka."
Pemilik Kedai lagi-lagi terkesiap, Ia sudah menyembunyikan kemampuan beladirinya, namun pemuda dihadapannya mampu mengetahuinya dengan mudah.
Para pengunjung pun menatap heran kepada Yao Chan dan pemilik kedai. Mereka tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan "menghadapi mereka" yang baru saja di ucapkan Yao Chan.
"Paman cepatlah ambil senjata mu, mereka semakin dekat. Yin'er, Mi'er, kalian berdua jaga mereka jangan sampai ada yang memasuki ruangan."
Selepas berkata demikian, Yao Chan segera melangkah mendekati pintu. Setelah membukanya Yao Chan melesat keluar dari kedai dan menuju ke arah Gerbang Desa bagian Timur dimana ratusan orang berkuda terlihat berjalan santai menuju desa.
"Sepuluh tahun berlalu tapi mereka masih tetap saja menjadi perampok, walau pemimpin mereka hampir mati dan berhasil melarikan diri dari Ayah. Sepertinya aku harus membantai mereka hingga ke akar-akarnya."
__ADS_1
Dalam benaknya Yao Chan memutuskan untuk menghabisi kelompok Laba-laba Merah, meyelesaikan apa belum terselesaikan oleh Ayahnya.
"Anak Muda, siapa namamu? Kau menyuruhku untuk membawa senjata, tapi kulihat kau tak membawa senjata apa ... pun"
Pemilik Kedai yang sudah berada di samping Yao Chan, memandangi heran kepada Yao Chan yang tidak membawa senjata sama sekali.
Saat ia mempertanyakan hal itu, Yao Chan mengeluarkan Pedang Pelangi dari Gelang Ruang Dimensinya yang terlihat oleh Pemilik Kedai, seolah ia mengeluarkan Pedang dari Ruang Hampa.
"Paman, namaku Yao Chan. Paman, jangan biarkan satu pun dari mereka yang tersisa dalam keadaan hidup, agar di masa depan mereka tidak lagi membuat kekacauan."
Sambil menjawab pertanyaan pemilik Kedai, Yao Chan juga mengajaknya untuk membasmi habis para perampok yang kini jaraknya kurang dari seratus meter lagi.
Mereka berjalan santai dan penuh percaya diri, namun mereka menjadi ketika mendapati dua orang dengan senjata terhunus sedang berdiri menghadang jalan mereka.
"Marga Yao, pedang itu ... Itu Pedang Pelangi, jangan-jangan dia ... Wajahnya pun memiliki kemiripan dengannya. Dugaanku sepertinya benar saat pertama melihat wajahnya "
Pemilik Kedai terkejut saat mendengar nama Yao Chan dan Pedang Pelangi di tangan pemuda tampan itu. Berbagai pertanyaan mengisi benaknya, namun ia menyimpannya ketika menyaksikan kelompok Laba-laba Merah sudah tiba di hadapan mereka.
Seorang lelaki bertubuh besar dengan membawa sebuah golok besar terlihat menatap garang ke arah Yao Chan dan Pemilik Kedai.
**
"Apa kabar Matriak Bunga Hitam, kau semakin cantik saja dari hari ke hari hehehe."
"Simpan omong kosong itu Kakek Tua Bangka, apa tujuanmu mendatangi Sekte ku?"
Shin Mu terkekeh mendengar jawaban Matriak Bunga Hitam yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Mereka berempat baru tiba pagi ini di Sekte Bunga Hitam. Waktu yang sama saat Yao Chan berpamitan dengan Dewa Racun Barat di lembah Nang Xin.
"Kau masih saja dengan sikap judes mu itu, apalagi kau telah menembus tingkat Pendekar Suci tahap Awal."
Wajah Cantik Matriak Bunga Hitam itu seketika berubah, Ia nampak terkejut mendapati Shin Mu bisa membaca kemampuan beladirinya padahal ia belum mengerahkan tenaga dalamnya sedikit pun.
"Bagaimana kau bisa tahu, tingkat beladiriku?lalu apa tujuan dan maksud kedatangan mu ke sekte kami? Bukankah kau tahu kami tidak menerima tamu laki-laki?"
"Hahahaha ... Mudah saja bagiku mengetahui tingkat bela dirimu, Karena kemampuan ku lebih tinggi darimu. Tentu saja aku juga tahu peraturan itu, namun kami datang kesini karena ada urusan teramat penting. Jadi mari ku perkenalka dengan Putera Mahkota Kekaisaran Song. Tuan Muda Song He, ia memiliki tawaran bagus untuk mu."
__ADS_1
Shin Mu memperkenalkan Song He sebagai Putera Mahkota Kekaisaran Song, agar Matriak Bunga Hitam itu berhati-hati dengan sikapnya.
Apa yang diharapkan Shin Mu tidak sesuai dengan dugaannya. Matriak Bunga Hitam itu hanya sekilas menatap pria tampan itu sesaat saja, lalu gadis cantik yang sebenarnya berusia hampir enam puluh tahun itu, mengalihkan pandangannya kembali ke Shin Mu.
Walau Song He merasa kesal dengan sikap Matriak Bunga Hitam itu, namun ia berusaha menahannya. Dalam Hati ia mengagumi kecantikan dan keelokan tubuh wanita di hadapannya.
"Urusan apa pun itu, aku tidak ingin terlibat dengan mu dan teman-teman mu."
Kata-kata Matriak Bunga Hitam, membuat wajah Shin Mu sedikit berubah, namun masih bisa menahan kemarahannya. Shin Mu memahami bagaimana sikap seorang wanita yang telah patah hati dan membenci pria itu.
"Dengarkan dulu penjelasan ku, Kau akan bertambah kuat jika kau mau berkerja sama dengan kami, setidaknya kau akan segera memasuki Tingkat Pendekar Suci tahap Akhir seperti kami semua. Bagaimana? Apa kau tertarik? dan kami berharap tidak mendengar kata penolakan darimu."
Shin Mu tersenyum tipis setelah memberikan penjelasan yang sekaligus juga menggertak dan mengancam Matriak Bunga Hitam itu.
Wajah Matriak Bunga Hitam seketika berubah mendengar kata-kata Shin Mu, ia berusaha menutupi rasa gentar dalam hatinya dengan sebuah senyuman manis. Senyum yang membuat Song He menelan ludahnya, menahan sesuatu yang telah lama tidak ia salurkan.
"Aku ingin mengetahui kerjasama seperti apa yang kalian tawarkan dan juga seberapa besar keuntungan yang bisa ku dapatkan. Kau tahu kan, kami perempuan memerlukan biaya mahal untuk merawat wajah dan tubuh kami?"
Matriak Bunga Hitam tersenyum genit berusaha menutupi kegundahan hatinya dengan bersikap demikian untuk mengalihkan mereka dari rasa gentar di hatinya.
"Nyonya ... mengenai uang ..."
"Aku belum menikah, jangan memanggilku seperti itu!"
Song He yang mencoba berbicara, terputus kata-katanya saat Matriak Bunga Hitam memotong kalimatnya dengan nada pedas. Song He pun tersenyum tipis. Panggilan memang hal sensitif bagi seorang wanita.
"Maaf Aku telah salah kata Nona, mengenai uang kau jangan khawatir, selama kita bisa bekerjasama uang bukan masalah bagiku."
Shin Mi, Huang Lun dan Mo Duan memandang heran ke arah Song He. Rencana awal tidaklah seperti itu, namun saat melihat wajah Song He yang terlihat berbeda dari biasanya, mereka memahami sebab rencana awal itu berubah.
"Dasar laki-laki, nenek-nenek pun dirayunya."
Huang Lun yang seumuran dengan Matriak Bunga Hitam terlihat kesal dan berkata demikian dalam benaknya.
*****
__ADS_1
Author tidak menolak Vote dan Hadiah bagi siapa yang ingin memberikannya lho... Jadi jangan ragu untuk menvote dan menghadiahi Author 😁😁😁🙏🙏🙏🙏