
Tubuh Yao Chan bergetar hebat saat mendapati bangunan rumah Ayahnya, kini telah hancur berantakan.
Demikian juga dengan Zhu Yin dan Qing Mi, keduanya yang pernah tidur di rumah itu, terduduk dengan airmata yang mengalir deras.
Gong Li yang juga mengetahui bahwa jika reruntuhan bangunan di depan mereka itu adalah rumah orang tua suaminya, segera mendekati Yao Chan.
“Chan Gege … Tenanglah … “ Dengan suara yang terbata-bata Gong Li berusaha menenangkan suaminya.
Sementara Yao Chan kini duduk bersimpuh dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia sangat menyesali keteledorannya di masa lalu sebelum meninggalkan dunia ini.
Ia pun mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling bangunan tanpa sepatah kata pun menanggapi perkataan Gong Li.
Ia pun melesat ke udara setinggi hampir seratus meter. Dari ketinggian tersebut, dirinya dapat melihat jika kota Wu Chang An telah luluh lantak.
Istana Kekaisaran pun telah porak poranda dan tidak terlihat satupun kehidupan di sana.
Menilik dari banyaknya mayat prajurit dan warga ibukota kekaisaran yang baru saja membusuk, sepertinya baru beberapa hari yang lalu hal ini terjadi.
“Semua ini salahku … Aku berjanji untuk tidak menggunakan Jurus menggandakan diri lagi”
Yao Chan berkata lirih di tengah rasa sedihnya yang mendalam. Ia lalu melesat turun dan mengitari bangunan tersebut untuk menemukan jasad kedua orang tuanya.
Namun Karena Ia tidak menemukannya, Ia lalu meminta Gong Li dan Xian Mey untuk serta Zhu Yin dan Qing Mi untuk mencari keberadaan jasad keduanya.
Setelah beberapa jam mencarinya, mereka tidak juga berhasil menemukannya.
Yao Chan pun segera melesat menuju Istana. Di sela reruntuhan bangunan Istana, Yao Chan pun tidak menemukan sosok mayat yang Ia kenali.
“Semua mayat ini adalah mayat para prajurit Kekaisaran Wu. Dimanakah mereka berada? Masih hidup ataukah ….”
Merasa tidak menemukan jasad yang Ia cari, Yao Chan segera kembali ke tempat para isteri dan anak-anaknya berada.
Ia pun mengajak mereka ke sebuah tempat yang mungkin saja ada mereka di sana. Tempat dimana makam Ayahnya berada.
Namun Ia juga mendapati bahwa Lembah Dewa telah hancur lebur sama halnya dengan Kota Wu Chang An.
__ADS_1
Namun tidak terlihat satupun jasad para mayat anggota Sekte lembah Dewa yang tergeletak di tempat itu.
Yao Chan pun segera menelusuri bagian belakang wilayah Sekte Lembah Dewa secara perlahan-lahan.
Hatinya berdebar keras saat telah sampai di tepi Jurang Dewa. Ia memandang di tempat dirinya pertama kali memasuki Alam Kultiva Naga saat belasan tahun lalu.
“Alam Kultiva Naga!! Apakah mereka berada di sana?” Tiba-tiba terbersit sebuah dugaan di dalam kepala Yao Chan ketika Ia mengingat masa lalunya.
Yao Chan pun segera bermeditasi untuk mengerahkan Teknik Dewa yang telah Ia pelajari dari Dewa Naga.
Karena kesedihannya Yao Chan terlupa jika dirinya telah memiliki Teknik Mata Dewa. Dengan teknik ini, Yao Chan mampu melihat sesuatu dari jarak sejauh seribu kilometer sekalipun.
Bahkan dirinya dapat melihat di alam Dimensi yang berbeda seperti Alam Kultiva Naga.
Yao Chan pun segera memejamkan matanya, lalu mengalirkan lima ratus ribu kristal qi ke arah matanya.
Sesaat kemudian bola mata Yao Chan berubah menjadi kuning keemasan dengan memancarkan cahaya yang berwarna sama.
“Aaah ini … Kenapa Ia tidak mengatakan hal ini kepadaku sebelumnya?” Ada Nada kesal dalam bicara Yao Chan setelah Ia melihat isi dari Alam Kultiva Dewa.
Setelah melihat kedua orang tuanya berada di sana dan juga menemukan beberapa orang lainnya, Yao Chan lalu menghentikan Jurus yang menyita banyak Energi qi nya itu.
Hal itu bertepatan dengan kedatangan ketujuh isteri beserta anaknya. Yao Chan pun lalu membawa mereka memasuki Alam Kultiva Naga.
Kedatangan Yao Chan yang tiba-tiba saja itu, membuat seluruh manusia yang berada di Alam Kultiva Naga sangat terkejut.
Beberapa orang berteriak ketakutan bahkan menjerit saat menatap wajahnya. Hal yang membuat Yao Chan tersenyum kecut melihatnya.
“Chan’er? … Benarkah kau Chan’er Puteraku?”
Suara Lin Hua yang segera mendatangi tempat itu, bersama suaminya, terdengar bergetar dipenuhi oleh keraguan.
Namun setelah melihat sosok Zhu Yin dan Qing Mi, Lin Hua segera berlari memeluk Yao Chan.
“Chan’er … Kau telah datang nak?” Lin Hua Terisak di dalam pelukan Yao Chan.
__ADS_1
“Benar ibu, ini Aku Yao Chan puteramu, Aku juga membawakan ibu tujuh menantu dan tujuh cucu.”
Yao Chan pun melepaskan pelukan Ibunya yang tertegun mendengar hal tersebut. Ia tidak menduga jika puteranya telah menikah dan memberinya cucu.
Satu persatu ketujuh menantu Lin Hua dan mendatanginya dan memberinya hormat. Hingga tibalah pada dua orang bocah kecil yang memiliki kemiripan dengan Yao Chan.
“Siapa nama cucuku ini?” Lin Hua bertanya kepada Yao Shen yang terlebih dulu mendatanginya.
“Namaku Yao Shen Nek … Nenek … Apakah Ayah seganteng aku waktu masih kecilnya?” Pertanyaan Yao Shen membuat Lin Hua tertawa lebar seraya memeluknya.
“Kau Lebih ganteng dari Ayahmu sewaktu Ia masih kecil, Shen’er.”Jawaban Lin Hua membuat Yao Shen terlihat gembira.
Lalu melangkahlah Sosok Yao Xian Li ke hadapan Lin Hua, sementara Yao Shen terlihat menghampiri Yu Ma dan memberi hormat kepada Kakeknya itu.
Yu Ma pun segera menggendong Yao Shen yang terlihat begitu senang. Sementara Yao Xian Li sedang dipeluk oleh Lin Hua.
Tiba-tiba suasana menjadi hening dan semua orang terlihat berhenti bergerak kecuali Yao Chan.
Yao Chan tidak terkejut atau pun heran melihat hal itu, Ia pun mengalihkan pandangannya di tempat dari mana Aura Dewa Naga berasal.
“Sebaiknya kau segera mendatangi kota Xinan, Sisi gelap dirimu berada disana, Ia mencari keberadaan dirimu. Apakah Kau telah menemukan petunjuk dalam gulungan itu dan menemukan cara untuk menyegelnya?”
Dewa Naga segera bertanya kepada Yao Chan setelah Ia berada di dekatnya. Yao Chan menganggukkan kepalanya.
Dewa Naga menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Yao Chan. Ia pun segera kembali ke tempatnya berada. Dan meminta Yao Chan untuk berhati-hati.
Suasana pun kembali menjadi normal seperti semula. Lalu Yao Chan menceritakan jika sosok dirinya yang jahat sedang berada di kota Xinan.
Yao Chan meminta Ibunya untuk menjaga kelima cucunya yang masih bayi. Saat itulah Guo Jin dan Xie Jin mendatangi tempat di mana mereka berada.
“Kakek Kami pergi dulu, Shen’er, Li’er jangan nakal ya sama Nenek dan Kakek.” Yao Chan berpesan demikian setelah Ia menjelaskan kepada semuanya apa yang akan mereka lakukan.
Guo Jin dan Xie Jin bersedia menjaga Yao Shen dan Yao Xian Li. Setelah itu Yao Chan segera menghilang dari pandangan mata bersama ke tujuh isterinya.
*****
__ADS_1