Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
111: Guci Dewa Air


__ADS_3

Pada air terjun berwarna hijau di hadapan mereka tiba-tiba muncul sebuah pintu yang bercahaya terang dan sebuah benda terlihat melayang di dalam pintu tersebut.


Benda yang melayang di udara tersebut adalah sebuah Guci berwana Hijau lumut . Yao Chan pun segera melesat ke pintu tersebut dan segera meraihnya.


Guci setinggi dua jengkal tersebut memiliki tutup yang tersegel oleh sebuah kertas yang diatasnya tertulis beberapa bait kata.


Yao Chan pun membaca bait demi bait kata yang tertulis tersebut. Sesaat setelah ia menyelesaikan membaca bait terakhir, tutup Guci Dewa Air terbuka dengan sendirinya.


Bersamaan dengan terbukanya tutup Guci Dewa Air itu, seberkas cahaya keperakan keluar dari dalam guci. Cahaya tersebut meliuk-liuk kearah air terjun yang airnya berwarna hijau tersebut.


Saat cahaya keperakan tersebut menyentuh air terjun berwarna hijau itu, suatu keajaiban terjadi. Air yang berwarna hijau perlahan-lahan terserap ke dalam guci melalui cahaya keperakan tersebut.


Mereka bertiga terpana dengan apa yang mereka lihat. Cahaya keperakan itu menghilang setelah seluruh air di air terjun tersebut telah terserap kedalam guci.


Hal yang membuat mereka takjub adalah, bagaimana bisa guci sekecil itu menampung ribuan liter air yang berasal dari air terjun yang kini telah mengering tanpa air setetes pun.


"Chan Gege ... Air sebanyak itu sekarang berada di dalam guci ini? Aku tak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri."


Yao Chan hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Yu Lian.


"Saudara Chan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, aku merasa tempat ini tidak akan bertahan lebih lama lagi."


Selesai berkata demikian, Zhu Yin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang beratapkan batu tersebut. Terlihat beberapa benda yang sebelumnya melayang tinggi kini mulai melayang turun mendekati tanah.


"Benar juga ayo kita tinggalkan tempat ini secepatnya!"


"Tunggu! jangan kau masukan guci itu kedalam Gelang atau bebatuan diatas kita akan runtuh seketika."


Zhu Yin berteriak dengan kencang saat melihat Yao Chan akan memasukan Guci Dewa Air ke dalam Gelang Ruang Dimensinya.


Yao Chan tersenyum kecut mendengar teriakan Zhu Yin. Hampir saja ia membuat mereka semua terkubur oleh bebatuan yang mengapung diatas kepala mereka.

__ADS_1


Yu Lian membawa Zhu Yin melayang menuju celah bebatuan yang merupakan pintu masuk menuju air terjun.


Setelah mereka berdua sampai di luar celah, Yao Chan yang masih berada di balik celah batu tersenyum kecut karena Guci tersebut tidak dapat ia loloskan dari celah batu dihadapannya.


Sementara dibelakangnya suara gemuruh bebatuan yang mulai runtuh terdengar seperti mengejar dirinya.


Merasa tidak menemukan cara lain akhirnya Yao Chan segera memasukan Guci tersebut kedalam Gelang Ruang Dimensinya. lalu melesat melalui celah tersebut tepat saat ruang dimana mereka berada tadi telah runtuh.


Suara bergemuruh terdengar ke seantero lembah bagian selatan pegunungan Huashan. Pepohonan besar pun banyak yang tumbang. Beberapa bagian bukit menghilang karena terjadi longsor dalam skala cukup besar.


"Ah beruntung sekali tadi kau mengingatkan aku, jika tidak mungkin kita telah terkubur hidup-hidup oleh reruntuhan itu."


Ucapan Yao Chan membuat Zhu Yin tersenyum tipis. Ia pun tak menduga bahwa reruntuhan itu berakibat longsor sebesar yang mereka lihat saat ini.


"Chan Gege ... Apa yang akan kau lakukan selanjutnya dengan Guci Dewa Air?"


"Air yang berada di dalam guci itu bukanlah air biasa. Air tersebut akan meningkatkan tenaga dalam dengan sangat cepat jika kita menggunakan teknik yang benar."


Mereka pun kembali ke tempat dimana ke tiga kuda mereka berada. Saat mereka kembali menaiki kuda, hari pun telah menjadi senja, dimana malam sebentar lagi hadir menyambut rembulan.


"Chan Gege .. Apakah malam ini kita akan menginap di bawah lembah yang dingin ini?"


"Kita tidak punya pilihan lain, kembali ke kota Nanjing pun kita akan tiba disana setelah tengah malam."


Yao Chan akhirnya memutuskan untuk menginap di markas kelompok Rubah Hitam yang telah kosong.


Mereka bertiga segera menggebrak kudanya kearah markas kelompok pembunuh itu. Saat tiba di gerbang markas Rubah Hitam, mereka tidak lagi menemukan satu mayat pun berada disana.


"Kemana mayat-mayat mereka?"


Yu Lian menyuarakan pertanyaan yang sama yang berada di benak Yao Chan dan Zhu Yin.

__ADS_1


"Hal yang memungkinkan adalah adanya ratusan hewan buas semisal serigala yang memakan dan membawa mayat-mayat itu ke sarang mereka."


Zhu Yin menyuarakan pemikiran yang terbersit di benaknya. Hal itu ia katakan setelah melihat rerumputan yang sepertinya habis dilewati oleh banyak hewan.


Ketiganya pun meneruskan langkah mereka memasuki Markas Rubah Hitam yang kini terlihat lengang. Namun begitu, mereka bertiga tidak menurunkan kewaspadaan terhadap adanya serangan tersembunyi.


Setelah memastikan bahwa tidak ada satupun manusia lagi di markas itu, mereka bertiga memasuki sebuah bangunan besar yang sebelumnya merupakan tempat Feng Hui tinggal selama ini.


Setelah beristirahat dan menyantap makanan yang mereka bawa di dalam gelang Ruang Dimensi, Yao Chan akhirnya mengambil tiga cawan dan mengambil air dari dalam Guci Dewa Air yang berada dalam Gelang Ruang Dimensinya.


"Biarkan aku mencoba khasiat Air Hijau ini terlebih dahulu."


Yao Chan mengambil cawan berisi air hijau tersebut lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.


Saat air itu sudah berada dalam perutnya, Yao Chan merasakan luapan energi yang begitu besar memasuki seluruh tulang, otot dan syaraf di tubuhnya


Rasa sakit yang luar biasa hebat dirasakan Yao Chan hingga membuat tubuhnya bergetar keras. Ia pun segera menggunakan Teknik Nafas Naga untuk mengolah energi yang jauh lebih murni dari tenaga dalam yang ia ketahui selama ini.


Zhu Yin dan Yu Lian memandang Yao Chan dengan tatapan yang dipenuhi kekhawatiran karena tubuh Yao Chan terus menggigil dan mengeluarkan keringat yang sangat banyak, padahal cuaca di lembah ini terasa sangat dingin bagi mereka berdua.


Setelah satu jam, Yao Chan merasa kesadarannya hampir hilang tepat saat ia berhasil meredam semua luapan energi didalam perutnya. Yao Chan pun menghela nafas panjang beberapa kali untuk menstabilkan pernafasannya.


Beberapa saat kemudian Yao Chan merasakan tubuhnya menjadi lebih segar dan lebih ringan. Yao Chan tersenyum saat menemukan di dalam tubuhnya kini terbentuk dua puluh kristal energi yang sangat murni.


"Akhirnya aku berhasil membentuk qi, namun jumlahnya masih terlalu sedikit untuk bisa mempelajari teknik tingkat tinggi dari kitab-kitab Dewa itu."


Pernyataan Yao Chan mengejutkan Yu Lian dan Zhu Yin. Mereka tersenyum gembira melihat kondisi Yao Chan telah kembali seperti semula.


Yao Chan lalu memasukan kembali dua cawan yang berisi air hijau itu, membuat Yu Lian dan Zhu Yin terbengong dengan benak di yang dipenuhi pertanyaan.


*****

__ADS_1


__ADS_2