Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
130: Raja Tinju Vs Dewa Racun


__ADS_3

"Kakek Racun, apakah kau membutuhkan bantuan ku?"


Dewa Racun Barat mendengus kesal mendengar ucapannya Yao Chan.


"Bocah sontoloyo, biar ku hadapi sendiri, kau duduk manis dan lihat saja kekuatan baru ku ini."


Dewa Racun Barat segera mengerahkan kembali kekuatan kristal qi yang baru ia miliki. Kini sekujur tubuhnya diselimuti aura dan asap tipis yang berwarna kehijauan.


Wajah Raja Tinju Petir terlihat sedikit terkejut saat melihat kekuatan penuh Dewa Racun Barat Ia menyadari bahwa pertarungan hidup dan mati akan tak bisa ia hindari lagi.


Raja Tinju Petir segera mengerahkan kekuatan penuhnya, kini tubuhnya diselimuti oleh percikan petir besar yang terlihat kuat.


"Dewa Racun Barat, jangan kau pikir mudah untuk membunuhku, hari ini kita tentukan siapa yang lebih kuat diantara kita berdua."


Raja Tinju Petir segera melesat dengan jurus terkuatnya, Tinju Petir Tanpa Bayangan. Gerakannya menjadi jauh lebih cepat dan kuat dari sebelumnya. Dewa Racun Barat tak gentar melihat itu, ia pun melepaskan serangan tapaknya dengan jurus Tapak Racun Hijau.


Tinju dan Tapak pun bertemu di udara, benturan kedua energi itu menghasilkan suara keras disertai gelombang kejut yang besar.


Pertukaran jurus pun berlangsung dengan sangat cepat, Senja kini telah berubah menjadi malam saat keduanya telah bertukar serangan hingga ratusan jurus.


Kekuatan keduanya sekilas terlihat berimbang, namun Yao Chan mengetahui bahwa Dewa Racun Barat, sedikit lebih unggul dan masih menyimpan kekuatan yang sebenarnya.


"Kakek Racun sampai kapan kau bermain-main' terus, hari sudah malam, aku mulai lapar."


Yao Chan meneriaki kedua kakek yang sedang bertarung itu. Raja Tinju Petir terkejut mendengar perkataan Yao Chan. Dirinya merasakan hal yang sama melihat nafas Dewa Racun Barat masih terlihat normal, sedangkan dirinya mulai terengah-engah.


Dewa Racun Barat mendengus kesal mendengar perkataan Yao Chan, ia ingin membuat Raja Tinju Petir frustasi terlebih dahulu baru menghabisinya.


Dewa Racun Barat sengaja membiarkan dirinya terkena tinju yang mengandung unsur petir tersebut. Ia pun berhasil mendaratkan beberapa serangan tapak beracunnya ke tubuh lawan.


"Bocah Sontoloyo, kau turunlah dan minta Mi'er membuatkan makanan untukmu!"


Dewa Racun Barat membalas ucapan Yao Chan, ia sempat melihat cucunya itu bergerak ke kediaman mereka bersama seorang gadis lainnya. Gadis yang ia lihat diwaktu mendatangi Ibukota Kekaisaran Wu.

__ADS_1


Yao Chan tersenyum tipis, tujuannya yang sebenarnya adalah membuat mental lawan Dewa Racun Barat menjadi ciut. Bukan karena ia benar-benar merasa lapar.


BUUUK


Sebuah Tinju keras dari Raja Tinju Petir mendarat dengan telak di dada Dewa Racun Barat, membuatnya terdorong satu meter kebelakang. Wajahnya pun berubah menjadi merah karena menahan marah.


"Tinju Petir aku sudah bosan bermain-main bersama dirimu, saatnya ku kirim kau ke neraka!"


Selepas berkata demikian Dewa Racun Barat segera mengerahkan kembali kekuatan penuh dari energi qi yang sempat ia tunjukan sebelumnya.


"Sombong sekali kau Racun Barat, buktikan omong kosong mu itu!"


Raja Tinju Petir menjadi kesal mendengar ucapan Dewa Racun Barat, namun kekesalannya berubah menjadi terkejut saat mendapati lawannya telah berada setengah meter darinya.


PLAAAAAK


Suara pipi Raja Tinju Petir yang tertampar oleh Dewa Racun Barat terdengar keras, tubuhnya kakek tua itu terpental belasan meter dengan beberapa giginya yang rontok. Darah pun terlihat keluar dari sudut bibirnya.


Baru saja Raja Tinju Petir meludahkan darahnya Dewa Racun Barat telah kembali menyerangnya.


Wajah Raja Tinju Petir memucat ketika setelah beberapa kali memuntahkan darah segar dari mulutnya. Nafasnya terengah-engah, saat ia menoleh ke arah Dewa Racun Barat, lawannya itu ternyata telah berada dibelakangnya.


"HEEEK"


Suara tercekik dari leher Raja Tinju Petir membuat Yao Chan tersenyum. Provokasinya kepada Dewa Racun Barat untuk segera mengakhiri pertarungan berhasil sesuai dengan yang ia harapkan. .


Tubuh Raja Tinju Petir yang tercekik perlahan-lahan menjadi berwarna hijau, seiring dengan nafasnya yang perlahan-lahan berhenti membuatnya tewas dengan mata melotot lebar.


Dewa Racun Barat segera melemparkan mayat Raja Tinju Petir dengan sangat kuat ke arah sebuah lembah, tempat dimana ular-ular berbisa peliharaanya berada.


"Kakek, baru sebentar kita tidak bertemu, namun kekuatan mu telah meningkat pesat."


"Simpan omong kosong mu itu, kekuatanku memang bertambah, tapi masih jauh dibawah kekuatanmu yang meningkat drastis."

__ADS_1


Dewa Racun Barat merasa kesal karena mengira Yao Chan meledeknya. Yao Chan hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Dewa Racun Barat yang mengetahui kekuatan dirinya memang jauh diatas kakek tersebut.


"Ayo kita turun, lihatlah mereka berdua masih menunggu kita."


Setelah berkata demikian, Dewa Racun Barat perlahan melayang turun yang kemudian di ikuti oleh Yao Chan.


****


Di sebuah tempat yang berjarak ratusan kilometer dari Yao Chan Dan Zhu Yin berada, sebuah lingkaran kecil tiba-tiba terlihat di sebuah ruang penginapan. Di dalam.ruang tersebut, sedang terjadi pesta arak empat orang laki-laki yang salah satu diantaranya memiliki tubuh yang pendek.


Song He bersama Shin Mu, Huang Lun dan Mo Duan sedang menyenangkan diri dengan meminum Arak. Terlihat beberapa guci telah kosong, padahal malam baru saja tiba.


Lingkaran berwarna putih tersebut mengejutkan mereka berempat, Sesaat kemudian keluar seorang kakek dengan tubuh yang terlihat lemas.


"Siapa kau!"


Huang Lun ingin berkata begitu, namun mulutnya terkunci karena Roh Iblis Merah telah merasuki tubuh mereka. Demikian juga dengan ketiga teman mereka.


Aura mencekam seketika merembes dari tubuh keempat kakek itu hingga ke seluruh penginapan berlantai dua tersebut. Membuat seorang Lelaki tua yang terlihat seperti seorang tabib terhenyak dari duduknya.


Lelaki tersebut berada tepat di bawah ruangan yang di sewa oleh Song He dan yang lainnya. Ia sedang membuka sebuah kotak yang berisi jarum-jarum kecil yang biasa ia gunakan untuk mengobati orang.


Sementara di ruangannya, Song He yang telah dirasuki oleh Iblis Hitam terlihat menyeringai saat menatap Kakek yang baru saja datang dengan cara tak biasa itu.


"Peri Hitam, kau masih hidup rupanya, Aku tak menyangka kau juga terlempar ke dunia manusia. Tapi mengapa kau berada dalam tubuh lelaki tua ini?"


Peri Hitam yang masih merasuki tubuh Pedang Tengkorak, tersenyum tipis melihat kekasihnya berada di tubuh seorang pemuda yang sangat tampan.


"Iblis Hitam Hitam sayangku, ceritanya panjang sekali, aku datang dari tempat yang cukup jauh, Aku kemari karena merasakan energi mu. Namun jurus Teleportasi yang ku gunakan menyita habis kekuatan ku."


Peri Hitam kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang ia yang baru saja melarikan diri dari pertarungan melawan seorang pemuda yang memiliki Zirah Naga Emas.


Iblis Hitam dan yang lainnya terkejut mendengar hal tersebut. Namun sebelum Peri Hitam menjelaskan lebih lanjut, ia telah kehabisan tenaga dan mengembalikan kesadaran pada pemilik tubuh yang sebenarnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2