
Hari Pernikahan Yu Lian pun tiba, Sejak pagi sebelum matahari terbit, kesibukan luar biasa terlihat di kediaman Yu Ma.
Yu Lian sedang di rias oleh para Dayang Khusus yang memang di tugaskan untuk menjadi perias bagi sang pengantin dan keluarganya.
Saat selesai di rias, Yu lian terlihat lebih dewasa dari usianya dan memancarkan Aura seorang Permaisuri dari wajah cantiknya itu.
Gaun Merah yang dikenakannya sangat serasi dengan kulit putihnya, perpaduan yang menambah kecantikan Sang Calon Permaisuri Wu itu.
Akhirnya waktu untuk memulai prosesi pernikahan pun tiba. Iring-iringan Kereta kuda Mewah pun mulai berjalan menyusuri jalanan di Ibukota Wu Chan An yang dipenuhi oleh berbagai hiasan yang bernuansa warna merah.
Iring-iringan Kereta itu menuju ke Istana Kekaisaran Wu dari kediaman Yu Ma, Kereta yang membawa keluarga Yu Ma dan keluarga besar mereka dari Sekte Lembah Dewa.
Iring-iringan Kereta itu menuju ke lingkungan Istana Wu di mana Prosesi Pernikahan yang terdiri dari empat bagian akan dilaksanakan dalam area Istana Kekaisaran Wu.
Kereta pun tiba setelah matahari mulai terlihat meninggi di bagian timur langit Kekaisaran Wu yang hari itu terlihat sangat cerah.
Perjalanan mereka dari Kediaman Yu Ma hingga ke Istana berada dalam penjagaan ketat dari ribuan prajurit yang sejak pagi tadi telah berjejer disepanjang jalan.
Sebenarnya hal itu tidaklah diperlukan, mengingat Sosok terkuat di kekaisaran Wu bahkan di dua kekaisaran lain berada di dalam sebuah kereta dengan dua orang Gadis yang seakan enggan menjauh darinya.
Yao Chan, Zhu Yin, Qing Mi dan Yao Fu berada dalam satu kereta besar. Mereka sedang bercanda menggoda Yao Fu yang seringkali terlihat senyum-senyum sendiri.
Hanya Yao Chan yang tahu dengan pasti kenapa kakak misannya itu bersikap demikian. Hal itu karena rasa bahagia sang Kakak yang telah menjalin keakraban dengan sosok gadis yang baru saja ia temui semalam yang mampu mengguncang kebekuan Hatinya.
Setelah keberhasilannya menyadarkan Ibu Suri dan membuatnya kembali sehat dengan cepat setelah menyerap Khasiat Apel Dewa yang diberikan oleh Yao Chan. Yao Fu pun diangkat menjadi Tabib Utama Istana Kekaisaran Wu oleh Kaisar Wu Jian malam itu juga.
Tidak ada satupun Tabib Istana yang memprotes hal itu, mengingat ia adalah satu-satunya murid dari Dewa Obat dan telah memiliki reputasi yang tengah menanjak yang membuatnya terkenal sebagai Raja Obat.
Selain memiliki kemampuan dalam hal pengobatan, Yao Fu juga mempunyai keahlian beladiri yang cukup tinggi, yaitu Pendekar Pertapa Tahap Awal.
__ADS_1
Iring-iringan Kereta akhirnya tiba di lingkungan istana Wu di mana prosesi pernikahan yang terdiri dari empat tahap itu akan dilaksanakan.
Mereka pun disambut oleh Keluarga Besar Kaisar Wu Jian yang terlihat sangat tampan dengan Jubah Merahnya itu.
Ibu Suri terlihat telah sehat kembali seolah-olah dirinya tidak pernah mengalami koma, istilah yang digunakan oleh Yao Fu untuk menyebut kondisi Ibu Suri semalam.
Di belakangnya terlihat sosok seorang Putri yang teramat cantik yang tak lain adalah Wu Mey. Mata Raja Obat itu, berbinar sangat terang melihat kecantikan sosok yang telah mengisi ruang benaknya sejak semalam.
Pun demikian dengan Putri Wu Mei yang mendapat dukungan dari Ibu Suri saat ia ditanya mengenai sikap manjanya pada Yao Fu semalam.
Yu Lian segera di sambut oleh ibu Suri dan dibimbingnya untuk mendekat kearah Kaisar Tampan yang sedang menatapnya seolah baru melihat Kecantikan Yu Lian yang merupakan gadis tercantik baginya.
Keduanya beriringan diikuti yang lain untuk memulai prosesi pernikahan yang pertama yaitu Sembahyang di sebuah Klenteng Kecil namun bercorak mewah yang telah ada di istana sejak ratusan tahun lalu.
Selain untuk memberi penghormatan kepada Tuhan, Alam dan para leluhur, dalam tahapan ini juga dilakukan penghormatan kepada kedua orang tua mempelai.
Mata Lin Hua telah berurai air mata saat kedua mempelai memberikan hormat kepada mereka, sementara mata Yu Ma terlihat berkaca-kaca, saat menyadari gadis kecilnya hari ini menjadi Ratu bagi seluruh Rakyat di Kekaisaran Wu.
Biksu tua itu membaca doa-doa yang bertujuan untuk memberkati kedua pengantin baru itu. Proses itu masih dilaksanakan di Klenteng yang mewah selama beberapa waktu.
Acara pun berlanjut kepada tahapan prosesi berikutnya, yaitu Tea Pai. Pada prosesi ini hanya keluarga inti yang menghadirinya. Karena kegiatan dalam prosesi ini adalah nasehat kedua orang tua kepada pengantin dalam menjalani rumah tangga.
Ketiga Prosesi ini berlangsung hingga hari menjelang Sore. Acara Pun dilanjutkan dengan Resepsi pernikahan yang semestinya dan berlangsung hingga malam hari.
Prosesi ke empat ini di adakan di ruang Aula Istana dengan jamuan makan yang menyajikan berbagai hidangan lezat dan Arak berkualitas.
Resepsi pun berlangsung dengan meriah diselingi hiburan musik dan tari-tarian yang silih berganti sebagai teman mereka menyantap Hidangan dan minum arak.
**
__ADS_1
Berjarak ribuan kilometer dari Istana Wu, terjadi peristiwa besar lainnya di Istana Kekaisaran Song.
Jika di Kekaisaran Wu rakyat sedang bersuka cita memeriahkan pernikahan kaisar mereka. Di Kekaisaran Song sedang terjadi kemeriahan yang dimana rakyat sedang berdukacita mengikuti Prosesi Penobatan Song He sebagai Kaisar Baru menggantikan ayahnya Kaisar Song Yu yang wafat seminggu lalu.
Dukacita rakyat itu, timbul karena pidato dari Song He yang baru saja resmi dinobatkan sebagai Kaisar dengan ritual Penobatan yang telah turun temurun dilaksanakan.
Dalam pidato pertamanya sebagai Kaisar, Song He mengatakan bahwa kekaisaran sedang membutuhkan bantuan rakyat dalam hal tenaga dan uang untuk membantu Kekaisaran dalam menjalankan perang yang sebentar lagi akan terjadi dengan Kekaisaran Wu.
Untuk itu Song He menaikan pajak bagi para pedagang dan para petani dua kali lipat dari biasanya.
Selain itu Song He juga mewajibkan para pemuda yang berusia tujuh belas hingga dua puluh lima tahun, untuk mengikuti wajib militer demi menambah jumlah pasukan.
Keriuhan terjadi di alun-alun Istana Song saat ia belum menyelesaikan pidatonya. Membuatnya marah dan mengerahkan tenaga dalam.lebih besar lagi membuat ribuan rakyat yang menyaksikan acara penobatan itu terdiam seketika.
Dalam pidato lanjutannya tersebut, Song He juga mengatakan bahwa mereka yang tidak mematuhi aturan tersebut akan dikenai denda atau hukuman dari ringan hingga terberat yaitu hukuman Mati.
Suasana kembali riuh dan menjadi hening seketika saat Song He melesat ke udara dan melayang di atas rakyat yang diwajibkan menghadiri acara tersebut.
Melihat Kaisar mereka melayang di udara, barulah mereka menyadari bahwa Kaisar mereka adalah seorang pendekar tingkat tinggi.
Tak ada satu pun rakyat yang berani membuka suaranya kecuali seorang Kakek Tua yang tiba-tiba saja melesat ke udara dan melayang di hadapan Song He dengan wajah yang menunjukan kemarahan.
"Kau tidak pantas menjadi seorang Kaisar, anak muda, seorang Kaisar seharusnya melindungi dan mengayomi rakyatnya, bukan seperti apa yang baru saja kau sampaikan!"
Song He terkejut mendengar kata-kata Kakek dihadapannya, ia pun tertegun saat menyadari tidak bisa mengukur kekuatan Sang Kakek tersebut."
"Siapa nama mu Kakek peot! kenapa kau berani menentang ku?!"
Song He membentak untuk mengusir rasa jerih dihatinya. Sementara sosok Kakek yang ia bentak itu, tersenyum tipis dan lalu menjawab pertanyaan Song He.
__ADS_1
"Namaku tidak dikenal oleh orang-orang, namun mereka menjuluki diriku sebagai Dewa Obat."
******