
Raja peri Xian Bun dan yang lainnya, kini sedang berada di pangkal Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.
Hari Ini adalah hari ke sembilan puluh atau tiga bulan dari hari Yao Chan memasuki Alam Kristal Dewa untuk pertama kalinya.
Zhu Yin dan Qing Mi terlihat sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Yao Chan dan yang lainnya.
“Ayahanda, mengapa mereka belum keluar juga? Apakah terjadi sesuatu?”
Xian Chi yang juga hadir bersama Xian Shi, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakak mereka, Xian Mey.
Sementara Tabib Xian Niu, Ratu Peri Xian Xing dan Raja Xian Bun, lebih penasaran seperti apa sosok cucu mereka. Laki-laki ataukah perempuan.
“Entahlah Chi’er Mungkin Yao Chan belum selesai berlatihnya. Sehingga mereka menunda sementara waktu kepulangan mereka.”
Raja Peri Xian Bun menjawab tak pasti pertanyaan Adik Xian Mey itu.
Ia pun menatap Pangkal Pohon Abadi Xian Fun Da Shi, tepat dimana terbukanya pintu dimensi ke Alam Kristal Dewa tiga bulan lalu.
Ke tujuh orang itu, masih menunggu dengan hati penasaran, namun Aura kekuatan yang sangat besar tiba-tiba mereka rasakan.
Ke tujuh orang itu memandang ke arah darimana Aura itu berasal, firasat buruk segera saja memenuhi benak ketiga Petinggi Istana Peri itu.
“Aura ini … Bagaimana Bisa … “
Ratu Peri Xian Xing berkata dengan suara bergetar, saat berhasil mengingat Aura Kuat yang semakin mencekam, seiring semakin dekatnya pemilik Aura itu.
“Dinda … Apa maksudmu? … Apakah ini …”
Raja Peri Xian Bun pun terdiam saat Ia menyadari hal yang sama dengan apa yang ada di benak isterinya, Ratu Peri Xian Xing.
Sementara tubuh Tabib Xian Niu mulai bergetar, Ia pun telah berhasil mengingat siapa pemilik Aura tersebut.
Sementara Zhu Yin, Qing Mi dan dan dua Peri legendaris lainnya, merasa heran saat melihat ketakutan, terlihat jelas di wajah Ketiga Petinggi Istana Peri itu.
“Ayah … Bunda … Siapakah Pemilik Aura mencekam ini?”
Pertanyaan Xian Chi tidak mendapat jawaban, karena Raja Peri Xian Bun berkata tegas kepada mereka berempat.
“Kalian Berempat! Segera tinggalkan tempat ini …. Cepat! Selamatkan diri kalian!”
__ADS_1
Zhu Yin dan ketiga gadis lainnya terkejut mendengar perkataan keras Raja Peri Xian Bun. Saat hendak bertanya, suara lain telah mendahuli Zhu Yin.
“Kalian mau pergi kemana para gadis Cantik hahaha ….”
Sesosok Iblis tiba-tiba telah berada di hadapan mereka, memancarkan Aura kekuatan yang sangat dahsyat.
Zhu Yin dan ketiga gadis lainnya, seketika merasakan sesak pada nafas mereka, hingga membuat keempanya jatuh terduduk.
Melihat Hal Itu, Han Mo segera menarik kembali Aura kekuatannya. Ia tak ingin menciderai ke empat gadis yang ingin Ia jadikan budaknya dan menggantikan Peri Hitam.
Peri Hitam telah tewas karena kehabisan energi roh dan energi kehidupannya. Hal itu disebabkan oleh hasrat Han Mo yang sepertinya tiada habisnya.
Han Mo bagaikan Banteng yang kesurupan, Ia merudapaksa Peri Hitam selama lebih dari satu minggu dan membuatnya tewas dengan tubuh yang kurus mengering.
Sebelum ajalnya, Han Mo menyetujui permintaan Peri Hitam untuk membalaskan kematian ke dua Orang Tuanya.
Ia pun meminta Han Mo untuk membunuh ketiga Petinggi Istana Bangsa Peri yang kini tubuhnya mulai bergetar.
Raja Peri Xian Bun menelan ludahnya, merasakan Aura Kekuatan Han Mo yang jauh lebih besar dari terakhir Ia ingat.
Sedangkan Tabib Xian Niu dan Ratu Xian Xing, segera mengeluarkan Tongkat Pusaka mereka yang kemudian di ikuti oleh Raja Peri Xian Bun.
Han Mo terus saja tertawa dengan pandangan terarah kepada Zhu Yin dan Qing Mi . Hasratnya bergejolak setelah melihat kedua gadis yang berasal dari Dunia Bumi itu.
“Dewa Iblis Han Mo! … Jangan Kau pikir kami akan menyerah begitu saja. Lebih baik aku mati melawan mu!”
Walau merasa gentar namun Raja Iblis tak ingin menunjukannya. Ia memilih mati dalam pertarungan daripada harus mati menyerahkan diri.
Suara tawa Iblis Han Mo menghilang, berganti pekikan kesakitan dari Raja Iblis Xian Bun yang tubuhnya telah terlempar akibat sebuah serangan cepat dari Dewa Iblis Han Mo.
“Cepat sekali …. “
Zhu Yin berkata dengan suara yang bergetar.
Ratu Iblis Xian Xing menjerit saat mendapati suaminya terkulai setelah tubuhnya membentur Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.
Setangkup darah berwarna biru keluar dari mulutnya, memaksanya memegangi bagian perut yang baru saja terkena serangan tinju dari Dewa Iblis Han Mo.
Tabib Xian Niu segera melesat mendekati Raja Peri Xian Bun, Ia pun memberikan sebutir pil yang segera saja di telan oleh Raja Peri Itu.
__ADS_1
Dewa Iblis Han Mo yang melihat hal itu, segera melesat mendekati kedua petinggi Istana Peri itu.
Namun Ia terkejut saat mendapati dirinya melewati sebuah lingkaran yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya.
Ia pun menggeram marah saat menemukan dirinya telah berada seratus meter dari Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.
Dewa Iblis Han Mo segera melesat kembali dan Ia menemukan ketiga Petinggi Istana Peri itu, tengan duduk bermeditasi menyatukan ujung tongkat mereka di udara.
Bertepatan dengan kedatangannya kembali di tempat itu, dari ujung tongkat yang menyatu itu, melesat sebuah cahaya kuning keemasan.
Cahaya itu perlahan-lahan membentuk sesosok Peri laki-laki bertubuh Emas yaitu Roh Raja Peri Emas.
Roh yang setinggi lima puluh meter itu perlahan namun pasti, mulai terbentuk sempurna seiring dengan melemahnya energi Roh ketiga Petinggi Istana Peri.
“Ayahanda Raja Peri, hentikan! Biar Aku dan cucumu yang menghadapinya.”
Suara seorang laki-laki terdengar seiring munculnya cahaya kuning di batang pohon Xian Fun Da Shi.
Wujud Roh Raja Peri Emas pun perlahan memudar, saat ketiga Petinggi Istana Peri itu, menarik kembali masing-masing tongkat mereka.
Dewa Iblis Han Mo mengerutkan dahinya saat melihat sebuah lingkaran tercipta dari cahaya keemasan yang berkumpul menjadi satu itu.
Sementara tubuh Zhu Yin bergetar, saat mendengar suara Yao Chan yang sempat menyebutkan kata “Ayahanda" dan kata "Cucumu” kepada Raja Peri Xian Bun.
Hati Keduanya menjadi tak menentu, saat menduga bahwa Xian Mey dan Gong Li telah menikah dengan Yao Chan.
Sementara ketiga Petinggi Istana Peri itu menatap lingkaran cahaya yang kini telah berupa sebuah lorong.
Ketujuh orang itu, tiba-tiba dikejutkan oleh dua tubuh kecil yang melesat bagaikan kilat dan menyerang dengan sangat cepat ke arah Dewa Iblis Han Mo.
Dewa Iblis Han Mo terkesiap melihat gerakan yang hampir menyamai kecepatan geraknya. Ia hanya menangkis tendangan dua bocah kecil itu dengan sebelah tangannya.
DUAG DUAG
Dua buah suara keras, terdengar saat tangan Dewa Iblis Han Mo berbenturan dengan tendangan kaki sepasang bocah itu kecil itu.
Tidak pernah terbayangkan dalam pikiran Dewa Iblis Han Mo, jika Ia bisa terpental belasan meter oleh serangan dua anak kecil yang terlihat masih berusia sepuluh tahun itu.
Sementara itu, mata ketujuh orang lainnya terbelalak melihat apa yang baru saja terjadi dihadapan mereka.
__ADS_1
******