
Mata Song He melebar saat mendengar Kakek itu menyebutkan julukannya. Tentu saja ia sudah mengetahui nama Dewa Obat yang sudah sangat terkenal di dunia Persilatan itu.
Bukan hanya karena kemampuannya dalam hal mengobati suatu penyakit, Nama Dewa Obat juga terkenal karena kemampuan beladirinya yang sangat tinggi.
Mendapati sosok terkenal itu menghardiknya, tentu saja Song He merasa jerih. Apalagi dirinya tidak bisa mengukur kemampuan Kakek yang dikabarkan telah berusia lebih dari seratus lima puluh tahun itu.
"Aku tidak butuh nasehat mu ataupun pendapat mu, Apa maksud mu menemui ku dengan cara seperti ini. Apa Kau ingin beradu kekuatan denganku?"
Song He membalas perkataan Dewa Obat dengan sinis, walau ia tidak bisa mengukur kekuatan Kakek itu. Hal itu menunjukan bahwa kekuatan Dewa Obat lebih tinggi dari kekuatan yang dimilikinya.
"Aku tidak sedang menasehati dirimu, ataupun mengemukakan pendapatku, Aku sedang memperingatkan dirimu, bahwa Seorang Kaisar membutuhkan rakyatnya sama besar dengan rakyat membutuhkan kaisar-nya. Jika kau mencoba merampas hak rakyat, kau akan kehilangan tahta mu itu. Camkan itu baik-baik!"
Dewa Obat pun segera membalikan badannya setelah berkata demikian. Ia pun akan segera melesat untuk meninggalkan Song He. Namun ia merasakan adanya sebuah serangan kuat ke arah dirinya.
Song He yang sangat marah mendengar perkataan Dewa Obat, tanpa berpikir panjang segera melesat dan melepaskan sebuah tendangan yang kuat ketika Kakek itu berbalik akan pergi.
Song He terkejut ketika sejengkal lagi tendangannya mengenai punggung Kakek itu, tiba-tiba saja Kakek berjuluk Dewa Obat itu melentingkan tubuhnya ke udara dan telah berada dibelakangnya dengan sangat cepat.
BUUUGH
Tubuh Song He terpental puluhan meter di udara dengan punggung yang terasa sangat nyeri akibat tendangan kuat dari Dewa Obat tepat mengenai punggungnya.
Darah menetes dari dari sela-sela bibirnya yang menandakan dirinya mengalami luka dalam. Ia pun merasa jerih menatap Dewa Obat yang sedang melayang kearahnya.
Karena akan dinobatkan sebagai Kaisar, Trisula Iblis Hitam sedang ia simpan di ruangannya. Sehingga Iblis Hitam tidak bisa merasuki tubuhnya untuk membantunya bertarung.
"Kau pikir mudah mendaratkan serangan pada ku?"
Dewa Obat tertawa kecil mendapati Song He yang semula terlihat arogan, kini wajahnya terlihat memucat.
Dari gerakan yang ditunjukan oleh Dewa Obat tadi, Song He menyadari Kakek itu setidaknya memiliki kekuatan jauh diatasnya, walau belum sekuat Yao Chan.
Rasa gentar pun kembali merasuki dirinya, namun melihat tiga orang melesat kearah mereka, ia pun tersenyum lebar.
__ADS_1
Dewa Obat mengerutkan dahinya melihat senyum Song He yang baru saja dinobatkan menjadi Kaisar itu.
Pertanyaan di benaknya pun terjawab, saat merasakan tiga orang berkekuatan setara dengan Song He melesat mendekati mereka.
"Fu Mao si Dewa Obat!"
Suara Jiao Xin terdengar bergetar saat mengenali sosok yang membuat Song He terluka hanya dalam satu serangan saja.
Dirinya satu generasi dengan Dewa Obat, sehingga ia bisa mengetahui nama Dewa Obat yang sebenarnya.
Dewa Obat pun mengerutkan dahinya mendapati seseorang yang telah ia kenali sedang menatapnya dengan rasa terkejut yang besar.
Tiga orang yang baru datang itu memiliki kemampuan yang setara dengan Song He, Pendekar Suci Tahap Akhir.
Ketiganya pun sedang tidak membawa senjata mereka, mengingat hal itu terlarang saat menghadiri acara kenegaraan seperti Penobatan Kaisar ini. Karena mereka adalah tamu bagi kekaisaran Song.
Suara ribuan rakyat kembali riuh saat melihat keatas dimana sejauh tiga puluh meter di udara, mereka melihat lima orang sedang melayang bagaikan seekor burung.
Dewa Obat tentu saja mengenali Jiao Xin, hanya saja ia sedikit terkejut dengan kekuatan yang kini dimiliki oleh sosok yang seusia dirinya itu.
Setelah berkata demikian, Fu Mao atau Dewa Obat segera mengerahkan sejumlah besar energinya yang tidak lebih dari seribu Kristal itu.
Aura energi yang sangat kuat, menerpa ke empat pendekar Suci Tahap Akhir itu, membuat mereka sedikit gentar, apalagi Roh Para iblis itu tidak bisa membantu mereka karena tidak sedang bersemayam dalam senjata mereka yang saat ini tersimpan di ruangan di tempat mereka menginap beberapa hari ini.
Hanya Mo Duan yang masih bisa tersenyum membuat ketiga rekannya yang telah mengerahkan energi mengerut heran.
Namun mereka tak bisa mengeluarkan pertanyaan dalam benak masing-masing karena Dewa Obat telah menerjang dengan sebuah tendangan ke arah Jiao Xin.
Mereka bertiga segera membantu Jiao Xin yang baru saja terpental karena menahan tendangan Dewa Obat yang sangat kuat dan cepat itu dengan kedua tangannya.
Dewa Obat tidak bisa melanjutkan serangannya karena sosok perempuan satu-satunya dari keempat lawannya itu, sedang melepaskan serangan tenaga dalam yang mengandung racun Bunga Hitam.
Dewa Obat tak merasa jerih walau menghadapi empat orang berkekuatan tinggi, hidup seratus lima puluh tahun lebih, membuatnya memiliki guru yang terbaik yaitu pengalaman.
__ADS_1
Pertukaran serangan pun silih berganti, pertarungan tanpa senjata dan hanya mengandalkan jurus tangan kosong saja berlangsung dengan sengit.
Sebuah tendangan kuat dari Dewa Obat gagal di hindari oleh Mo Duan membuat Kakek cebol itu terpelanting belasan meter. Namun sebuah tendangan dari Song He berhasil mengenai Pinggang Dewa Obat.
Tendangan itu membuat Dewa Obat kehilangan keseimbangannya. Sebuah tinju dari Jiao Xin pun bersarang dengan telak di dadanya membuatnya memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
Dewa Obat segera melesat ke atas untuk menghindar dari kepungan mereka. Ia berhasil mengambil nafas sejenak karena ke empat lawannya terpana dengan gerakan cepat yang ia tunjukan tadi.
Dewa Obat menatap mereka dengan kesal, saat beberapa detik kemudian mereka telah melesat mengepungnya dan mensejajarkan diri dengan ketinggiannya.
Ia Oun kembali mengerahkan energi lebih besar ke seluruh tubuhnya dan membuat perisai tenaga dalam dari energi qi nya.
Song He dan lainnya yang merasakan perubahan kekuatan lawan mereka, segera melakukan hal yang sama dengan mengerahkan tujuh puluh persen energi mereka.
Pertarungan tak seimbang dalam jumlah itu, kembali berlangsung dengan sengit karena walau melawan empat orang, Dewa Obat masih bisa mengimbanginya untuk beberapa waktu.
Namun wajahnya memucat saat menyadari sebuah aura mencekam melesat ke arah pertarungan mereka. Sementara senyum Mo Duan melebar saat melihat sebuah Cakram berwarna kuning melesat ke arah mereka.
Pertarungan seketika terhenti saat Cakram besar itu tiba dan melesat ke tangan Mo Duan. Dewa obat pun menjadi waspada saat tiba-tiba aura kekuatan Iblis yang sangat kuat merembes dari Kakek bertubuh cebol itu.
Iblis Kuning segera merasuki tubuh Mo Duan saat cakramnya bersentuhan dengan kulit tangan Kakek bertubuh cebol itu.
Dari ketiga pusaka Iblis itu hanya hanya Iblis Kuning saja yang bisa melesatkan senjatanya di udara. Itupun karena bentuk senjatanya yang berupa Cakram bergerigi tajam.
Dewa Obat terkesiap, walau ia sudah mendengar kehebatan para Iblis yang diceritakan oleh Zhu Long, namun melihat dan merasakan sendiri secara langsung berbeda jauh.
Rasa gentar mulai mengisi hati Dewa Obat, saat Iblis Kuning dalam tubuh Mo Duan menyeringai ke arahnya. Dewa Obat merasakan kekuatan iblis Kuning tidak berada dibawah kekuatan yang ia miliki.
"Kakek Dewa Obat, biarkan aku membantumu!"
Sebuah suara lantang terdengar mengejutkan mereka. Dari suara yang mengandung tenaga dalam tinggi itu mereka bisa mengetahui kekuatan besar pemilik suara itu.
*****
__ADS_1