
Suasana menjadi hening setelah Tetua He Jun menyampaikan informasinya. Wajah Kaisar Wu Jian terlihat tegang setelah membaca surat yang dari Jendral Yu Ma.
Yao Chan menghela nafas panjang, beban dipikirannya pun bertambah dengan adanya informasi yang baru saja ia dengar.
"Tetua He Jun, urusan di Kota Anhui sebentar telah selesai, Aku pun akan segera kembali ke Ibukota. Kita berangkat pagi ini juga."
Kaisar Wu Jian akhirnya memutuskan rencana berikutnya yang akan ia lakukan. Namun suara Yao Chan terdengar sebelum ia melanjutkan kata-katanya.
"Lian'er kau ikutlah kembali ke ibukota setelah mengambil Mustika Jiwa Api. Saudara Jian Bisakah engkau menunda sebentar keberangkatan mu ke Ibukota? Setidaknya untuk setengah hari saja."
"Tentu saja, aku akan menunggu kalian kembali setelah Lian'er menyelesaikan tugasnya."
Wajah Kaisar Wu Jian terlihat ceria ketika mengetahui Yu Lian akan kembali bersamanya ke Ibukota. Masalah besar yang baru saja ia terima, sedikit terlupakan dengan kebahagiannya mendengar sang Kekasih akan pergi bersamanya.
"Chan Gege ... Apakah kau yakin kita bisa kembali ke Kota Anhui sebelum tengah hari tiba?"
Suara Yu Lian mempertanyakan rencana Yao Chan yang menurutnya terlalu terburu-buru. Yao Chan tersenyum tipis mendengar hal tersebut.
"Yang paling sulit dalam mengambil Mustika itu adalah Hawa Panas yang luar biasa. Dan Hawa panas itu tidak bekerja pada mu bukan? Jadi seharusnya tak ada kesulitan yang berarti untuk mengambil Mustika Jiwa Api itu."
Semua orang terdiam mendengar penjelasan Yao Chan. Yu Lian menghela nafasnya. Ada ketakutan dalam dirinya dengan apa yang di rencanakan kakak tirinya itu.
"Baiklah jika begitu, terimakasih Tetua He Jun atas informasi anda, silakan beristirahat terlebih dahulu, pelayan akan mengantarkan anda ke ruangan anda beserta hidangan untuk sarapan Anda."
"Terimakasih yang Mulia, hamba mohon izin untuk istirahat sejenak."
Tetua He Jun segera meninggalkan ruangan bersama seorang pelayan yang akan mengantarkan dirinya untuk beristirahat.
Yao Chan mengatakan bahwa ia dan Yu Lian akan pergi berdua saja untuk mengambil Mustika Jiwa Api yang berada ada di wilayah Barat Kota Anhui yang berjarak kurang lebih dua puluh kilometer.
"Chan Gege ... Kenapa aku tidak boleh ikut kesana?"
__ADS_1
Zhu Yin memprotes keputusan Yao Chan, karena menurutnya dengan kemampuan yang ia miliki sekarang, ia yakin bisa menahan hawa panas dari Mustika Jiwa Api tersebut.
Yao Chan memintanya untuk menemani Qing Mi dan menjaga Kaisar, barulah Zhu Yin bisa menerimanya.
Yao Chan dan Yu Lian memutuskan untuk ke barat melalui jalur udara karena akan menghemat waktu mereka.
Kedua pun bergegas keluar dari pintu belakang penginapan dan segera melesat dengan cepat ke arah barat. Beberapa penduduk terlihat histeris melihat ada dua orang manusia terbang layaknya burung. Kota Anhui pun menjadi gempar karena aksi keduanya.
Dari atas udara Yao Chan dan Yu Lian bisa melihat sebuah desa yang kosong dan sangat gersang, tidak satu pun terlihat pepohonan yang masih memiliki daun.
Setelah melayang sejauh dua kilometer dari desa tersebut hawa panas mulai dirasakan oleh Yao Chan, ia pun segera mengalirkan energi es menggunakan teknik Elemen Naga, Jurus Naga es.
Hawa dingin mulai menyelimuti tubuh Yao Chan sesaat kemudian, sementara Yu Lian segera mengeluarkan cambuk Naga Api dan menggenggamnya. Suatu keanehan dirasakan oleh Yu Lian, hawa panas yang tadi terasa olehnya, kini telah sirna dan udara pun terasa sejuk baginya.
Semakin mereka menjauhi desa, Yao Chan merasakan bahwa hawa panas semakin terasa lebih tinggi dari sebelumnya.
Dengan jurus Naga Es, Yao Chan terus menerus mengubah energi qi nya menjadi energi berhawa dingin yang menyelimuti seluruh kulit tubuhnya. Namun tetap saja hawa panas sedikit terasa olehnya.
Di bawah sana Pohon-pohon besar terlihat berdiri tanpa satu pun uang memiliki daun bahkan banyak diantaranya yang terlihat mengering dan hangus sepeti bekas terbakar.
Hamparan tanah gersang terpampang di mata mereka berdua saat semakin jauh memasuki wilayah hutan yang menunjukan tanda bahwa pernah terjadi kebakaran besar.
"Chan Gege ... Lihat disana!"
Yu Lian menunjuk arah di depan mereka sejauh kurang lebih satu kilometer, dimana terlihat aura berwarna biru terpancar di udara.
"Sepertinya disana keberadaaan Mustika itu."
Suara kakak tirinya yang bergetar membuat Yu Lian menoleh ke arah Yao Chan. Ia terkesiap.melihat tubuh sang Kakak yang kini diselimuti oleh aura berwarna putih.
"Chan Gege ... apakah kau masih bisa bertahan dari hawa panas ini?"
__ADS_1
Yu Lian terlihat khawatir melihat kondisi tubuh kakaknya. Namun perkataan Yao Chan berikutnya membuatnya mengalihkan pandangan ke sebuah titik, di mana sebuah api berwarna biru menyala dengan terang pada jarak kurang dari lima ratus meter lagi.
"Lian'er sepertinya aku tak bisa menemanimu lebih jauh lagi, hawa panas ini terlalu besar untu ku redam dengan jurus Naga Es."
Yu Lian terkejut mendengar perkataan Yao Chan yang kini seluruh keningnya terlihat telah dipenuhi oleh keringat.
"Baiklah Chan Gege, kau tunggu disini saja, biar aku sendiri yang kesana. Bertahanlah sebentar lagi."
Selepas berkata demikian, Yu Lian segera melesat dengan cepat mendekati nyala api yang berwarna biru itu.
Yu Lian berhenti tepat di atas Nyala api tersebut, matanya menatap tajam ke arah sebuah lubang berdiameter sepuluh meter yang tanahnya terlihat menyala kebiruan.
"Manusia gadis, jangan melawan saat aku ambil alih kesadaran tubuhmu, hanya aku yang mengerti bagaimana menyatukan Mustika Jiwa Api tersebut dengan cambuk Naga Api ini."
Suara Roh Naga Api terdengar di kepala Yu Lian sesaat kemudian, Yu Lian pun kehilangan kesadarannya. Tubuh Yu Lian pun kini dikendalikan oleh Roh Naga Api yang segera melesat turun ke dalam lubang tersebut.
Roh Naga Api segera menjulurkan tangannya pada kobaran api biru yang menyala itu. Ia pun berhasil menggenggam sebuah mutiara yang memiliki energi panas yang tertinggi ke dua setelah Api Putih.
Roh Naga Api tersenyum sebelum ia mengucapkan beberapa mantera dan melemparkan Cabuk Naga Api dan Mutiara Jiwa Api ke udara.
Dua buah senjata Pusaka Dewa itu melayang di udara lalu keduanya saling mendekat dan sesaat kemudian saat keduanya bersentuhan Cahaya berwarna biru memendar menyilaukan mata.
Beberapa saat kemudian, Cambuk Naga Api terlihat diselimuti Aura berwarna biru dan api biru yang menyala. Perlahan-lahan api tersebut redup dan kini, hanya terlihat Cambuk naga Api yang mengeluarkan aura Biru. Sedang Mutiara Jiwa Api kini tak terlihat lagi.
Roh Naga Api segera mengembalikan kesadarannya kepada Yu Lian setelah mengambil Cambuk Naga Api.
"Lian'er .. Syukurlah kau berhasil menyatukan Mutiara itu."
Suara Yao Chan terdengar di belakang Yu Lian yang segera membalikkan badan dan tersenyum melihat kakak tirinya yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
****
__ADS_1