
Tetua Ma Hua dan Yu Ma bahu membahu menghadapi lawan-lawan mereka yang rata-rata memiliki kemampuan di tingkat pendekar Raja dan Pendekar Bergelar.
Pengalaman bertarung kedua tokoh Sekte Lembah Dewa itu, sangat membantu mereka saat menghadapi serangan terhadap.kota Kaifeng.
Dari sekitar dua ribu orang yang menyerang Kota Kaifeng, setidaknya telah separuhnya yang terbunuh saat pertarungan berjalan beberapa puluh menit.
.
Selain karena mereka berdua, adanya bantuan dari puluhan anggota dua sekte aliran lurus yang mempunyai cabang di kota Kaifeng, membuat situasi di kota tersebut dapat dikuasai dengan cepat.
Hanya saja korban di kedua belah pihak banyak yang berjatuhan terutama dari para prajurit yang memiliki kemampuan bertarung yang terendah.
Yu Ma dan Tetua Ma Hua, bergerak melesat ke arah gerbang ketika menyadari adanya aura pendekar Suci tahap Awal dari arah tersebut.
Keduanya memutuskan untuk menghabisi Ketua mereka terlebih dahulu untuk membuat semangat tarung anggotanya melemah.
Dalam beberapa helaan nafas akhirnya mereka menemukan keberadaan kedua orang Ketua Sekte yang memimpin penyerangan ke kota Kaifeng.
Yu Ma tak ingin membuang waktu, Ia dengan cepat menggunakan jurus terkuatnya, Pedang Matahari mengeluarkan Aura Keemasan saat seribu simpul tenaga dalam ia alirkan ke Pedangnya.
Ketua Sekte yang Yu Ma pilih sebagai lawannya adalah yang termuda diantara kedua orang tersebut. Berusia sekitar enam puluh tahun, dan membawa tiga buah cakram kecil sebagai senjata utamanya.
Sedang Tetua Ma Hua bertarung dengan lawan yang seusia dengan dirinya yang membawa sebuah golok besar dimana bilah Goloknya telah berlumuran darah.
Tanpa Banyak bicara, keempat orang pendekar Suci itu segera bertaruh nyawa dalam pertarungan tingkat tinggi yang berbahaya.
Namun terlihat jelas jika Yu Ma dan Tetua Ma Hua mendominasi pertarungan hidup dan mati melawan kedua Ketua Sekte tersebut.
Selain teknik bertarung keduanya berada pada tahap yang lebih tinggi, pengalaman bertarungnya juga menjadi alasan mereka bisa mendominasi pertarungan itu.
Saat pertarungan mendekati seratus jurus, terlihat kedua orang Ketua Sekte itu, telah terdesak hebat oleh Yu Ma dan Tetua Ma Hua.
__ADS_1
Beberapa luka telah mengeluarkan darah cukup banyak membuat jubah mereka berwarna merah karena luka yang terus saja mengalirkan darah itu.
Dalam sebuah gerakan tipuan yang cepat dan kuat, Yu Ma berhasil menghujamkan Pedang Matahari ke dada lawan yang menjerit keras seiring nyawanya yang melayang.
Teriakan itu, membuat rekannya yang sedang bertarung dengan Tetua Ma Hua menjadi lengah dan konsentrasinya pun terpecah.
Serangan cepat dari Tetua Ma Hua pun tidak bisa ia hindari, membuat tebasan Pedang Tetua Tertinggi Sekte Lembah Dewa itu menggores lehernya dengan luka cukup dalam.
Ketua Sekte dari Kekaisaran Song itu, harus kehilangan nyawanya saat Tetua Ma Hua memberikan serangan susulan dan berhasil menikam dadanya dengan pedang hingga menembus punggungnya.
Setelah itu, Tetua Ma Hua segera melesat menyusul Yu Ma yang terlebih dahulu menuju pertarungan di mana para Tetua kedua Sekte itu sedang mengamuk dengan hebat karena kematian ketua mereka.
**
Sementara di kota lain yaitu Kota Yudong, Pertarungan cepat lainnya terjadi, Dewa Obat benar-benar marah saat mendapati beberapa bangunan kota telah terbakar dan terlihat banyak penduduk yang tewas dibantai oleh para penyerang.
Gui Han yang juga terlihat sangat murka melihat hal itu, menerjang lawannya dengan sangat hebat. Dan akhirnya dua Jagoan Tua dari kekaisaran Song itu, mengamuk bagaikan Singa lapar.
Setiap lawan yang mereka temui tewas dalam satu serangan saja, sehingga kedatangan mereka yang baru beberapa belas menit, telah membunuh sebagian dari para penyerang kota itu.
Mereka saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya melayang di udara untuk melesat pergi meninggalkan anggota mereka.
Namun baru lima puluh meter meninggalkan gerbang kota, mereka merasakan serangan melaju cepat dari arah belakang.
Keduanya mengumpat kesal sambil melompat ke udara lebih tinggi lagi dengan wajah yang berubah menjadi pucat.
Keduanya baru mengetahui bahwa dua cakram energi yang melesat hendak memotong tubuh mereka, berbalik arah dan melesat kembali ke arah mereka dengan cepat.
Keduanya kembali berjumpalitan di udara untuk menghindari cakram energi tersebut. Dalam benak mereka, terus bertanya bagaimana bisa ada senjata seperti itu.
Sambil menghindari serangan cakram energi itu, mereka menebaskan pedang bermaksud untuk membelah cakram tersebut.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati pedangnya menembus cakram tersebut namun tidak membuatnya hancur.
Dewa Obat melesat ke arah kedua orang Ketua Sekte itu setelah berteriak kepada Gui Han, bahwa ia akan mengurus Pemimpin mereka terlebih dahulu.
Beberapa detik saja ia telah dekat dengan kedua orang Ketua Sekte yang masih berjibaku menghindari Cakram yang ia buat dari Energi qi nya.
Melihat dua cakramnya belum menunjukan hasil yang ia inginkan, Dewa Obat lalu membuat dua buah cakram lagi dengan ukuran yang sama dengan dua cakram sebelumnya.
Kedua Ketua Sekte yang semakin jerih karena kedatangan sosok Dewa Obat, bertambah jerih saat dua cakram lain melesat ke arah mereka.
Keduanya benar-benar terlihat kepayahan saat masing-masing berjibaku menghindari dua buah cakram yang silih berganti mengarah ke pinggang mereka.
Luka pun mulai mulai menggores kulit dan merobek jubah mereka, perlahan namun pasti nafas Kedua Ketua Sekte itu mulai terengah-engah setelah sepuluh menit menghindari dua cakram yang yang dikendalikan oleh Dewa Obat.
Gerakan keduanya pun semakin lambat seiring luka di tubuh mereka yang semakin banyak dan membuat darah pun mengalir lebih deras lagi dari tubuhnya.
Salah seorang menghadap ke arah Dewa Obat dan berteriak lantang kepadanya yang membuat Dewa Obat tersenyum geram.
"Dewa Obat Pengkhianat Negara, Aku akan menunggu mu di neraka haha ..."
Setelah berkata demikian ia tertawa pasrah, dan tawanya pun berhenti saat sebuah Cakram memutuskan lehernya sehingga membuat kepalanya jatuh terpisah dengan badannya.
Rekannya yang melihat hal itu pun menjadi putus asa saat melihat dua cakram lain melesat ke arah dirinya.
Ia pun hanya bisa berpasrah diri saat empat cakram itu mengenai tubuhnya dan memotongnya menjadi lima bagian.
Dewa Obat memandang pilu pada jasad kedua orang Ketua Sekte yang ia ketahui merupakan sekte aliran Netral di Kekaisaran Song.
Ia pun menyesalkan ambisi Keduanya yang menginginkan tahta lebih dari kemampuan yang dimilikinya, hingga mengantarkan mereka berdua pada kematian yang mengenaskan dan dianggap sebagai penjahat penida kebenaran.
Dewa Obat pun kembali ke arena pertarungan dimana Gui Han sedang mengamuk Hebat dengan trisula ditangannya.
__ADS_1
Dewa Obat menghela nafas panjang, mendapati bahwa sebentar lagi, mereka berhasil mengamankan kota dan penduduknya dari pembantaian kedua Sekte itu.
*****