
Lima tahun yang lalu…
Gadis cantik dengan senangnya pulang kerumah dengan seragam putih abu- abu. Tahun ini ia duduk di bangku SMA dengan predikat kelas satu. Begitu smapai didepan rumah ia memberi samalam dan melepas sepatunya. Jika kalian bayangkan keadaan Suri yang sederhana maka itu
jauh sekali.
Suri tinggal di gubuk yang terbuat dari anyaman dan atapnya berupa genteng dari tanah dan di lapisi dengan
daun kelapa agar terlindungi. Seragam sekolahnyapun pemberian tetangga serta sepatunya. Suri mengangkat sepatu sekolahnya untuk dibawa masuk ke dalam kamar setelah itu mengganti seragamnya dengan kaos longgar dan rok hitam selutut.
Suri mendatangi ibunya yang sedang menanak nasi aking pemberian tetangga untuk makan nanti.
‘’Ibu,hari ini kita makan
apa?’’ Tanya Suri. Ibu dengan senyuman khasnya menjawab
‘’Nasi dengan sambal goreng
tahu. Sayang’’ jawabnya. Suri langsung terpekik bahagia bayangkan sambal goreng
ala kadarnya jadi menu istimewa.
***
Suri membawa uang lima ribu ia pergi ke sebuah warung untuk membeli kecap dan bawang merah. Karena tempat
tinggalnya tak jauh dari sebuah proyek yang akan di bangun ia melihat dari jauh segerombolan orang dengan pakaian proyek tengah berdiskusi dengan seorang lelaki berwajah bule.
‘’wah bule.’’ Seru Suri pelan
sambil menyusuri jalan hingga sampai di warung.
‘’Bude.’’ Seru Suri namun
matanya ke segerombolan orang itu.
‘’Kenapa Nduk, mau beli apa?’’
bule warung keluar dengan sarut di lilitkan di perut.
‘’Beli kecap yang lima ratusan,
dua. Sama bawang merah empat ribu.’’ Suri menyerahkan uangnya seraya duduk di bangku kayu. Di depan
suri terdapat gorengan hangat ia hanya menenggak air liur dan memegang perutnya
yang krucukan.
‘’Ni, nduk.’’ Kata bude. Suri
segera mengambil belanjaannya dan segera pulang kerumah. Gorengan tadi
membuatnya jadi kepengen. Suri lalu berlari agar sampai kerumah tapi ia
menabrak salah satu pekerja proyek yaitu bule tadi. Suri segera bangun dan
meminta maaf tanpa terlebih dulu memungut belanjaannya.
‘’Maaf, maaf saya telah
menabrak anda.’’ Kata Suri tapi tidak berani menegakan kepalanya untuk melihat
lelaki itu.
‘’Tegakan wajahmu cantik, apa
dirimu gakpapa?’’ kata lelaki itu dengan bahasa Indonesia dan logat ke bule-
__ADS_1
bulean.
Suri mengerutkan keningnya
dengan pelan ia menegakan kepalanya dan menangguk.
‘’Iya.’’ Jawab Suri sambil
memegang siku tangannya yang lecet. Tabrakan itu cukup keras dan cepat hingga
lelaki itu tidak sempat menangkapnya.
Lelaki itu bernama Axelle ia
melihat belanjaan yang berserakan dan kondisi gadis ini yang malang. Axelle
merunduk dan mengangkat belanjaan Suri lalu menarik pelan gadis itu untuk ke
warung tadi.
‘’Duduklah, kamu mau makan atau
minum?’’ Tanya Axelle. Suri menggeleng namun matanya ke gorengan tadi. Axelle
mengikuti pandangan Suri ke gorengan lalau ia tertawa.
‘’Permisi, saya mau gorengan
ini dibungkus semuanya.’’ Kata Axelle di bude sambil mengeluarkan dompet dan
mengeluarkan uang mewarna merah dengan bapak Presiden pertama tersenyum. Bude
itu langsung terkaget saat melihat beberapa lembar uang dengan gorengan yang
tidak seberapa. ‘’Berikan ke adik ini sama plester untuk lukanya.’’ Axelle
tersenyum lalu duduk di samping Suri. Suri sedikit menjauh dan meremas
bungkusan hitam berisi belanjaan.
ditungguin mama untuk belanjaanya. Permisi.’’ Suri menggeleng ke bude setelah
itu beranjak pergi pulang kerumahnya. Axelle berdiri dan mengambil bungkusan
gorengan dan mengikuti Suri dari belakang.
***
‘’Mama.’’ Panggil Suri.
‘’Kok lama nak?’’ Tanya Ibu
‘’Iya tadi jatuh ketabrak om
bule bu.’’ Jawabnya sambil memberikan belanjaan tadi.
‘’Oh.’’ Jawab ibunya. Suri
keruang tv lalu melipat pakaian yang ibunya telah cuci dan kering.
Tok
Tok
Tok
Suri memutar bola matanya
setelah itu berdiri dan membuka pintu.
‘’Iya.’’ Jawab Suri setelah
__ADS_1
membuka pintu, dirinya terkejut karena orang tadi datang kerumahnya.
‘’Hai. Ininya ketinggalan.’’
Axelle memberikan Suri gorengan
‘’Siapa nak.’’ Kata mamah dari
dapur.
‘’Orang yang Suri tabrak bu.’’
Kata Suri pelan tak lama ibu dari dapur berdiri dan membuka pintu lebar hingga
jelas ia melihat Axelle yang tinggi menjulang.
‘’Boleh saya masuk?’’ Tanya
Axelle.
‘’Ibu tidak yakin apa rumah ini
cukup untuk dirimu yang tinggi atau tidak, tapi masuklah.’’ Kata Ibu. Axelle
dapat melihat Ibunya Suri dengan usia terbilang masih muda harus mengalami
sakit- sakitan hingga terlihat sudah tua.
‘’Ibu buatkan minum dulu.’’
Kata Ibu sambil melangkah ke dapur. Suri terus menunduk dengan perasaan tidak
enak. Ia takut jika dirinya di tuntut.
‘’Jadi rumah mungil ini
milikmu?’’ Tanya Axelle. Suri mengangguk pelan
‘’Kau tau rumahku berkali lipat
besarnya dari ini bahkan kamar tidurku lebih besar dari rumahmu. Bagaimana bisa
dirimu dan ibumu berada disini?’’ Tanya Axelle.
‘’Bisa saja, hanya ini yang ibu
dan Suri punya setelah bapaknyanya pergi dan menikah lagi.’’ Jawab Ibu yang
mendengar Axelle bertanya dengan Suri. ‘’Suri gadis yang penakut dan pendiam
jika di tanya ia hanya akan menundukan dirinya seraya berkata mau sembunyi’’
ujar ibunya. Suri langsung mengangguk dan memilih masuk ke kamarnya.
‘’Jadi dia takut denganku?”
Tanya Axelle. ‘’Baiklah mungkin sering- sering saya kesini biar dia gak
takut.’’ Bukannya tersinggung Axelle justru tersenyum ramah.
‘’Apa
keinginanmu anak muda untuk kesini dan mengikuti anak gadisku.’’ Kata Ibu to
the point. Mala tidak seperti ibu menye-menye ketika ada lelaki tampan dan kaya
datang langsung welcome.
‘’Tidak, hanya mengantarkan
gorengan karena ia menginginkannya cuma gak bilang.’’ Kata Axelle.
__ADS_1
‘’Terima kasih, silahkan
diminum maaf hanya ada teh.’’kata Ibu. Axelle hanya mengangguk dan meminumnya.