Pengantin Simpanan

Pengantin Simpanan
Episode 1: Suriani


__ADS_3

Lima tahun yang lalu…



Gadis cantik dengan senangnya pulang kerumah dengan seragam putih abu- abu. Tahun ini ia duduk di bangku SMA dengan predikat kelas satu. Begitu smapai didepan rumah ia memberi samalam dan melepas sepatunya. Jika kalian bayangkan keadaan Suri yang sederhana maka itu


jauh sekali.



Suri tinggal di gubuk yang terbuat dari anyaman dan atapnya berupa genteng dari tanah dan di lapisi dengan


daun kelapa agar terlindungi. Seragam sekolahnyapun pemberian tetangga serta sepatunya. Suri mengangkat sepatu sekolahnya untuk dibawa masuk ke dalam kamar setelah itu mengganti seragamnya dengan kaos longgar dan rok hitam selutut.


Suri mendatangi ibunya yang sedang menanak nasi aking pemberian tetangga untuk makan nanti.


‘’Ibu,hari ini kita makan


apa?’’ Tanya Suri. Ibu dengan senyuman khasnya menjawab


‘’Nasi dengan sambal goreng


tahu. Sayang’’ jawabnya. Suri langsung terpekik bahagia bayangkan sambal goreng


ala kadarnya jadi menu istimewa.


***


Suri membawa uang lima ribu ia pergi ke sebuah warung untuk membeli kecap dan bawang merah. Karena tempat


tinggalnya tak jauh dari sebuah proyek yang akan di bangun ia melihat dari jauh segerombolan orang dengan pakaian proyek tengah berdiskusi dengan seorang lelaki berwajah bule.


‘’wah bule.’’ Seru Suri pelan


sambil menyusuri jalan hingga sampai di warung.


‘’Bude.’’ Seru Suri namun


matanya ke segerombolan orang itu.


‘’Kenapa Nduk, mau beli apa?’’


bule warung keluar dengan sarut di lilitkan di perut.


‘’Beli kecap yang lima ratusan,


dua. Sama bawang merah empat ribu.’’ Suri menyerahkan  uangnya seraya duduk di bangku kayu. Di depan


suri terdapat gorengan hangat ia hanya menenggak air liur dan memegang perutnya


yang krucukan.


‘’Ni, nduk.’’ Kata bude. Suri


segera mengambil belanjaannya dan segera pulang kerumah. Gorengan tadi


membuatnya jadi kepengen. Suri lalu berlari agar sampai kerumah tapi ia


menabrak salah satu pekerja proyek yaitu bule tadi. Suri segera bangun dan


meminta maaf tanpa terlebih dulu memungut belanjaannya.


‘’Maaf, maaf saya telah


menabrak anda.’’ Kata Suri tapi tidak berani menegakan kepalanya untuk melihat


lelaki itu.


‘’Tegakan wajahmu cantik, apa


dirimu gakpapa?’’ kata lelaki itu dengan bahasa Indonesia dan logat ke bule-

__ADS_1


bulean.


Suri mengerutkan keningnya


dengan pelan ia menegakan kepalanya dan menangguk.


‘’Iya.’’ Jawab Suri sambil


memegang siku tangannya yang lecet. Tabrakan itu cukup keras dan cepat hingga


lelaki itu tidak sempat menangkapnya.


Lelaki itu bernama Axelle ia


melihat belanjaan yang berserakan dan kondisi gadis ini yang malang. Axelle


merunduk dan mengangkat belanjaan Suri lalu menarik pelan gadis itu untuk ke


warung tadi.


‘’Duduklah, kamu mau makan atau


minum?’’ Tanya Axelle. Suri menggeleng namun matanya ke gorengan tadi. Axelle


mengikuti pandangan Suri ke gorengan lalau ia tertawa.


‘’Permisi, saya mau gorengan


ini dibungkus semuanya.’’ Kata Axelle di bude sambil mengeluarkan dompet dan


mengeluarkan uang mewarna merah dengan bapak Presiden pertama tersenyum. Bude


itu langsung terkaget saat melihat beberapa lembar uang dengan gorengan yang


tidak seberapa. ‘’Berikan ke adik ini sama plester untuk lukanya.’’ Axelle


tersenyum lalu duduk di samping Suri. Suri sedikit menjauh dan meremas


bungkusan hitam berisi belanjaan.


ditungguin mama untuk belanjaanya. Permisi.’’ Suri menggeleng ke bude setelah


itu beranjak pergi pulang kerumahnya. Axelle berdiri dan mengambil bungkusan


gorengan dan mengikuti Suri dari belakang.


***


‘’Mama.’’ Panggil Suri.


‘’Kok lama nak?’’ Tanya Ibu


‘’Iya tadi jatuh ketabrak om


bule bu.’’ Jawabnya sambil memberikan belanjaan tadi.


‘’Oh.’’ Jawab ibunya. Suri


keruang tv lalu melipat pakaian yang ibunya telah cuci dan kering.


Tok


Tok


Tok


Suri memutar bola matanya


setelah itu berdiri dan membuka pintu.


‘’Iya.’’ Jawab Suri setelah

__ADS_1


membuka pintu, dirinya terkejut karena orang tadi datang kerumahnya.


‘’Hai. Ininya ketinggalan.’’


Axelle memberikan Suri gorengan


‘’Siapa nak.’’ Kata mamah dari


dapur.


‘’Orang yang Suri tabrak bu.’’


Kata Suri pelan tak lama ibu dari dapur berdiri dan membuka pintu lebar hingga


jelas ia melihat Axelle yang tinggi menjulang.


‘’Boleh saya masuk?’’ Tanya


Axelle.


‘’Ibu tidak yakin apa rumah ini


cukup untuk dirimu yang tinggi atau tidak, tapi masuklah.’’ Kata Ibu. Axelle


dapat melihat Ibunya Suri dengan usia terbilang masih muda harus mengalami


sakit- sakitan hingga terlihat sudah tua.


‘’Ibu buatkan minum dulu.’’


Kata Ibu sambil melangkah ke dapur. Suri terus menunduk dengan perasaan tidak


enak. Ia takut jika dirinya di tuntut.


‘’Jadi rumah mungil ini


milikmu?’’ Tanya Axelle. Suri mengangguk pelan


‘’Kau tau rumahku berkali lipat


besarnya dari ini bahkan kamar tidurku lebih besar dari rumahmu. Bagaimana bisa


dirimu dan ibumu berada disini?’’ Tanya Axelle.


‘’Bisa saja, hanya ini yang ibu


dan Suri punya setelah bapaknyanya pergi dan menikah lagi.’’ Jawab Ibu yang


mendengar Axelle bertanya dengan Suri. ‘’Suri gadis yang penakut dan pendiam


jika di tanya ia hanya akan menundukan dirinya seraya berkata mau sembunyi’’


ujar ibunya. Suri langsung mengangguk dan memilih masuk ke kamarnya.


‘’Jadi dia takut denganku?”


Tanya Axelle. ‘’Baiklah mungkin sering- sering saya kesini biar dia gak


takut.’’ Bukannya tersinggung Axelle justru tersenyum ramah.


‘’Apa


keinginanmu anak muda untuk kesini dan mengikuti anak gadisku.’’ Kata Ibu to


the point. Mala tidak seperti ibu menye-menye ketika ada lelaki tampan dan kaya


datang langsung welcome.


‘’Tidak, hanya mengantarkan


gorengan karena ia menginginkannya cuma gak bilang.’’ Kata Axelle.

__ADS_1


‘’Terima kasih, silahkan


diminum maaf hanya ada teh.’’kata Ibu. Axelle hanya mengangguk dan meminumnya.


__ADS_2