Pengantin Simpanan

Pengantin Simpanan
Bagian 18


__ADS_3

jangan pada kepo sama Gerald dan Kimberly ya kalo komen dan voteya gak sampe 500. selamat baca semoga suka, jangan lupa follow instagram author putrimahetta oke.


Balikpapan, 12/11/2019


Selasa, 10:11 wita


**


Seperti biasa, kembali seperti dulu dengan rutinitas yang sangat diperlukan. Allexe datang ke perusahaan. Para staff dan jajaran petinggi menyambutnya bak raja. Mereka membungkuk memberi hormat hingga sang tuan masuk ke dalam lift. Allexe menghembuskan nafasnya saat lift tertutup.


''Lain kali katakan pada mereka, jangan menyambutku seperti itu. Aku bukan Tuhan mereka.'' Ujar Allexe ke Gerald. Gerald yang berada di depannya mengangguk


''Baik Tuan.'' Jawab Gerald.


''Kamu juga jangan panggil aku tuan tuan tuan.''


''Ini kantor jadi harus sopan. Kau harusnya beruntung karena mereka menghormatimu. Kalau bukan kamu yang bantu mereka, siapa lagi?'' kata Gerald sambil menunggu lift menuju ruangan CEO. Allexe hanya mendenguskan nafasnya kesal.


Ting


Pintu lift terbuka Allexe dan Gerald keluar namun langkah mereka terhenti ketika di depan ruangan ada kursi dan meja serta seorang wanita kuno.


''Siapa kamu?'' tanya Allexe dingin.


''Saya Kimberly, serketaris anda Tuan, Nyonya Lonas memberikan saya pekerjaan ini.'' Jawab Kimberly. Kimberly memilki rambut yang di kepang samping, pendek, memakai kaca mata dan tentunya tidak ada bakat pelakor.


''Aku sudah ada Gerald, tapi gakpapa. Well, kau akan jadi serketaris dia saja.'' Allexe menepuk bahu Gerald dan langsung masuk ke ruangannya.


''Siap, jadi ada yang bisa saya bantu?'' tanya Berly ke Gerald. Gerald yang diammnya setengah mati hanya menggedikan bahu dan duduk di samping Berly.


''Buatkan aku teh, ingat jangan terlalu panas ataupun dingin, cangkirnya harus yang bersih dan jangan kemanisan. Setelah itu aku akan memberikanmu sebagian pekerjaanku.'' Gerald menyilangkan kedua tangan dan menaikan satu kakinya.


'Ba- baik.'' Jawab Kimberly seraya melesat pergi.


"pssst...'' panggil Allexe di balik pintu, rupanya lelaki itu tidak langsung duduk, melainkan menguping di baliknya. Gerald sontak kaget dan berdiri hormat.


''Ada yang bisa saya bantu?'' tanya Gerald.


''Apa kamu naksir dia? Bukannya ruanganmu ada di bawah. Kenapa duduk di situ?'' pertanyaan CEO meluncur di mulutnya saja.

__ADS_1


''Diamlah Al, kau bilang dia serketarisku. Masuk sana jadilah CEO bukan penguntit hubungan bawahannya.'' Jawab Gerald.


''Aku bosmu kenapa kamu yang perintah aku. Dan panggil aku Tuan.'' Allexe memegang jasnya bertanda ia adalah dewa disini.


''Kau tadi menyuruhku jangan panggil Tuan sekarang disuruh panggil.''


''Iya juga ya. Yaudah kalau gitu.'' Allexe menutup pintu ruangannya dan duduk di singgah sana kerajaan.


**


Suri memandang langit yang mendung, ini bukanlah rumahnya tetapi di sebuah rumah baru dan daerah baru. Sesampainya di bandara Soekarno-hatta Allexe dan Suri berpisah. Allexe kembali tempatnya sedangkan Suri pergi ke tempat ini. Bila diingat dia bukanlah siapa- siapa, memandang mendungnya langit ia jadi teringat masa lalunya. Tinggal di rumah kecil, pakaian bekas dan makan seadanya.


Ibunya berjuang sendiri setelah kepergian ayahnya yang memilih menikah lagi. Suri merindukan kedua orang tuanya tapi apalah daya. Suri tidak ingin mengingat masa lalu, bukan ia kejam melainkan tidak tahan dengan rasa sakit. Suri bersyukur memiliki Allexe yang mulai menyayanginya walaupun demi baby.


Rumah yang di tempati Suri berada di sebuah perumahan yang masih dimiliki oleh perusahaan Allexe. Rumah ini tidak besar dan kecil, bertingkat satu dan berpagar tinggi. Disini bukan Cuma Suri yang tinggal melainkan ada dua orang pengawal pribadi dan satu asisten rumah tangga.


Kedua pengawal itu bersama Sinta 20 tahun dan Dewina 22 tahun sedangkan asistennya bernama Lastri 45 tahun.


''Mba Suri, mau jalan- jalan ke mall?'' tawar Dewina. Suri menggeleng di kamarnya. Dewina berada di amang pintu.


''Badanku lagi gak enak, kalau kamu mau jalan pergilah.'' Jawab Suri ke Dewina.


''Mba sedang sakit? Mau saya buatkan sesuatu?''


''Baik kalau begitu.''


''Aku merindukan Allexe.'' Kata Suri dalam hati.


**


Lonas datang ke kantor Allexe dan mendatangi suaminya itu.


''Aku merindukanmu sayang.'' Lonas memeluk Allexe di kursinya menyandarkan kepalanya di lekukan leher lelaki itu. Allexe hanya diam ada rasa aneh di dirinya. Allexe merasa sedikit jijik dengan istrinya itu.


''Lonas, malam ini aku pulang kerumah jadi tunggulah aku disana.'' ''sial. Kenapa Gerald tidak menahannya diluar padahal dia lagi PDKT disana.''gumam Allexe dalam hati.


''Aku tidak bisa mneunggu, sudah sangat lama dirimu bersama Suri. Pokoknya aku mau kita seperti dulu. Urusan anak nanti kita adopsi dipanti, aku sudah berubah pikiran.''


''Maksdunya? Jangan harap. Aku ingin anak hasil sendiri bukan orang lain, kamu ini kenapa sih tiba- tiba seperti ini? Baru ditinggal dua minggu.'' Allexe membedirkan Lonas. Lonas dan dirinya sama- sama tinggi berbeda dengan Suri.

__ADS_1


''Kalau gitu izinkan aku tinggal bersamanya dan serumah.''


''Dia tidak tinggal disini lagi karena aku ingin fokus denganmu! Pekerjaanku untuk menghamilinya selesai.'' Bohong Alllexe. ''ini semua demi Suri dan memperbaiki kesalahannya.'' Batin Allexe


''Allexe, kamu mencintaiku kan?'' rayu Lonas. Allexe mengangguk namun matanya berisyarat waspada.


''Aku butuh 10 ribu dollar untukku.''


''Baiklah, aku akan memberikannya. Kau tinggal minta pada Gerald.'' Jawab cepat Allexe. Lonas nampak kaget saat Allexe menjawabnya iya tanpa tau alasannya.


''Tapi...''


''Aku tau istriku ini butuh kasih sayang suaminya karena tidak pernah shopping.'' Jawab Allexe dengan senyum. Lonas nampak sumringah ia mengecup pipi suaminya dan berpamitan.


''Terima kasih sayang. Aku pergi dulu.''


Sepeninggal Lonas Allexe menghembuskan nafasnya dalam ia akan berbicara dengan Gerald dan Fareel tentang kasus ini.


**


"Pak Gerald, hari sudah sore, apa saya boleh pulang?'' ujar Kimberly sambil mengikuti langkah Gerald dan membenarkan kaca matanya.


''Menurutmu? Ini memang jam pulang kantor tapi untuk staff sedangkan aku belum, jadi kamu juga gak akan pulang. Emang ada apa hm?'' tanya Gerald.


''Anu saya harus menjemput anak saya di penitipan.'' Cicit Kimberly.


''Kau sudah puny anak? Lelaki mana yang memiliki hasrat denganku ck.'' Gerald berbalik membuat Kimberly menabrak dadanya.


''Aduh Pak, kalo jalan jangan berenti ini bukan lampu merah. Tolong terus saja jalan, lagian saya bekerja disini untuk mengawasi Pak Allexe tapi kenapa malah sama Pak Gerald.'' Sungut Kimberly kesal.


''Oh jadi kamu kerja di sini untuk mengawasi bukan jadi serketaris? Apa Ibu Lonas yang menintamu hm? Buat apa mengawasi bosku? Dia juga tidak pernah bawa masuk wanita lain di ruangannya.'' Gerald mencengkram tangan Kimberly.


''Kau berbuat kejahatan disini maka aku akan menghabisimu.'' Gerald mendekati Kimberly hingga wanita itu menempel di dinding.


''Andaikan penampilanmu ini dirubah pasti kelihatan cantik ck.'' Gerald melepaskan tangan Kimberly. ''Pulanglah jemput anakmu. Mulai besok kau akan terus bersamaku.'' Gerald melangkah pergi meninggalkan Kimberly sendiri.


Kimberly menghembuskan nafasnya pelan, apa samarannya terbongkar?


Tidak...

__ADS_1


''Kamu masih seperti dulu.'' Gumam Kimberly.



__ADS_2