Pengantin Simpanan

Pengantin Simpanan
Bagian 31


__ADS_3

Hai sudah update


Gak rasa udah masuk bab 31 wk padahal ceritanya masih panjang.


Jangan lupa mampir ke akun ****** dan baca cerita yang ada disana ya.please kasih tanda lovenya...


kayaknya aku udah gak lanjut lagi di mangatoon karena cerita ini gak ada kontrak sama sekali haha. kalian bisa pindah ke ******* aja..


kesel nih tiap ajukan kontrak di tolak mulu wk...


yaudah deh, selamat baca


***


''Karena Lonas adalah di diagnose sulit hamil karena ngobat.'' Jawab Allexe bohong. Ia belum sanggup untuk jujur. Xander langsung syok ia langsung memegang dadanya sebelah kiri, Allexe langsung memegang tubuh Papinya dan menyandarkan pria paruh baya itu di tubuhnya. Sungguh ia amat sangat bersalah.


''Papi.'' Panggil Allexe pelan. Xander berusaha menegakan badannya.


''Ceraikan dia! Ceraikan! Kamu ingin Papi cepat mati?'' Marah Xander dan Allexe menggeleng cepat.


''Secepatnya.'' Balas Allexe.


''Kenapa dari dulu gak bilang?''


''Karena lupikir tidak penting.'' Jawab Al.


**


Allexe sampai dirumah namun papi tidak turun dari mobil.


''Suruh Mamimu kesini. Papi mau langsung pulang saja, tidak jadi tidur di tempatmu.'' Kata Papi dingin dan datar. Allexe mengangguk dan menutup pintu mobil. Ia kemduian berjalan kearah pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Sampai di dalam rumah Allexe menghampiri Maminya di dapur Bersama Lonas, ternyata mereka sedang masak Bersama.

__ADS_1


''Mami dipanggil Papi di mobil. Mau pulang katanya.'' Kata Allexe setelah itu ia pergi ke kamarnya.


''Al.'' panggil Lonas namun Allexe mengangkat tangannya dari belakang pertanda tidak ingin diganggu. Lonas dan Mami saling menatap tak lama wanita paruh baya itu segera mendatangi suaminya di dalam mobil.


Allexe menutup pintu kamar dan terduduk di baliknya pikirannya kalut, ia mengusap wajahnya sambil melamun. Pikirannya melayang ke masalah yang rumit ini. Bagaimana ia bisa mengakhiri tanpa ada kekerasan dan kehancuran satu sama lain.


Tok


Tok


Tok


Allexe tersadar saat pintunya di ketuk, ia kemudian berdiri dan membuka pintu. Lonas masuk dan duduk di kasur.


''Kenapa kamu terlihat murung? Apa papi mengatakan sesuatu kepadamu?'' tanya Lonas. Allexe menutup pintu ia sudah muak dengan keadaan seperti ini. Ia mendekati kasur dan berbaring sungguh dalam keadaan seperti ini ia membutuhkan Suri dan ke empat anaknya.


''Papi minta kita pisah karena tidk menghasilkan keturunan untuknya.'' Kata Allexe. Lonas terkaget.


''Al, Al... dengarkan aku!'' teriak Lonas. Allexe berbalik ia mendatangi Lonas lagi dan menamparnya.


Plak


""Tidak ada yang boleh membentakku atau meneriaku! Kamu hidup atas belas kasihku! Jaga mulutmu atau kubuat kamu jadi gembel.'' Kata Allexe dingin dan tidak berperasaan. Lonas kaget ia menatap suaminya lekat.


''Kamu kenapa seperti ini?'' tanya Lonas lemas matanya mengeluarkan cairan bening.


''Aku muak ditekan mereka! Aku muak dengan masalahku di perusahaan dan aku muak dengan semua ini! Aku muak sama kamu! Lima tahun Bersama tidak menghasilkan apa- apa! Aku ingin pisah darimu!'' kata Allexe meledakan semuanya. Lonas menggeleng keras ia langsung memeluk Allexe.


''Gak mau, Aku mencintaimu Al.'' kata Lonas tangisnya tambah deras. Allexe melepaskan pelukan Lonas dan menegakannya.


''Sudah cukup Nas, Sudah cukup sampai sini.'' Kata Allexe pelan sambil menatap mata waria di depannya.

__ADS_1


''Kita bisa punya anak! Bisa! Suri kan bisa hamil...'' bujuk Lonas.


''Justru itulah aku ingin pisah darimu. Aku pilih Suri yang jelas- jelas wanita.'' Jawab Allexe. Lonas langsung mundur selangkah ia mengusap air matanya dan terdiam.


''Jadi kamu sudah memiliki perasaan dengan anak kecil itu?'' tanya Lonas pelan. ''Al, kalau aku tidak bisa memilikimu maka Suri juga. Suri tidak berhak atas dirimu. Kamu meninggalkanku, siap- siap saja rahasiamu terbongkar! Rahasia kalau ibunya telah meninggal dan kamu membohonginya!''


''Kamu mengancamku? Coba saja! Kemarilah.'' Allexe menuju tempat nonton yang berada di kamarnya. Allexe mengeluarkan gawainya lalu di sambungkan ke tv. Tak lama tv itu memutarkan video skandalnya dengan Mark dan beberapa anak buahnya. Allexe meletakan hpnya dan duduk di sofa sedangkan Lonas berdiri di samping nampak syok.


''Kamu mengkhianatiku!.'' Kata Allexe pelan namun tajam.


''Bu- bukan gitu. Dari mana kamu mendapatkannya?'' tanya Lonas sambil mematikan video itu. Allexe menyunggingkan senyumannya ia kemudian berdiri dan memasukan tangannya di saku celana.


''Menurutmu dari siapa? Pikirkan saja sendiri.'' Jawab Allexe santai.


''Al, baiklah kalau kamu ingin kita pisah. Aku tidak apa- apa. Aku sadar kalau aku tidak bisa memberikan anak. Sebaiknya aku pergi dari sini untuk selamanya.'' Lonas menangis ia kemudian berjalan menuju sisi kasur dan membuka nakas meja, di dalam sana ada cutter kecil Lonas mengambilnya kemudian mendekatkan pisau it uke lengannya. Allexe langsung mendekat dan mengambil pisau itu.


''Jangan mati.'' Allexe memeluk Lonas. Lonas langsung meronta mengeluarkan semua tenaganya agar terlepas dari pelukan suaminya itu. Bodoh, hanya karena satu wanita Lonas bisa kalah seperti ini.


Suri harus membayar rasa sakitnya, harus mendapatkan hukuman karena sudah merebut Allexe dari genggamannya. Allexepun akan merasakannya juga karena sudah menyakiti hatinya


**


Mark memutar Gekas winenya ia nampak tertawa sambil membayangkan Lonas menjadi miliknya. Hari- hari pasti terasa indah. Mark memilih lonas agar tidak perlu memiliki anak dan bisa ditiduri berkali- kali tanpa pil kb.


''bersiaplah lonas sayang. Allexe akan melepaskanmu untukku hahaha.'' Tawa lelaki itu mengema di dalam apartemen yang bernuansa gelap.


***


Janga lupa mampir ke ****** dan follow ya, jangan lupa kasih love nya disana. Yang rindu cerita mereka bisa ke ******


oke...

__ADS_1


__ADS_2