
maaf ya baru bisa update lagi, soalnya baru bisa ngerjain sekarang. terima kasih untuk dukungannya selama ini .
❣❣❣
Hari itu telah dimulai. Hari dimana Allexe membuat perjanjian dengan Suri. Pagi ini Allexe sudah berada di kantor. Ia menandatangi sejumlah dokumen perusahaan. Allexe nampak serius membaca lembar demi lembar sebelum memberikan tanda tangannya di sana.
Perusahaan sebesar ini sudah ia tampuk sejak usianya 25 tahun. Ia berharap hari ini tidak ada yang mengacaukan pekerjaannya. Sambil bekerja ia juga mendengarkan siaran tv yang sengaja ia putar agar ruangannya tidak sunyi.
"Untuk penggemar spot light kita sajikan beberapa tempat liburan romantis ya..."
"Romantis?" Kata Allexe dalam hati. Allexe menegakan kepalanya dari dokumen dan melihat tv. Tempat demi tempat ia tontoni, hampir yang di siarkan sudah di kunjungi oleh Allexe bersama Lonas.
Ini bukan untuk Lonas melainkan Suri. Ia sedikit kepikiran untuk berbulan madu dengan Suri? Entahlah.
Allexe kembali menandatangani sambil membaca, berkutat dengan serangkaian pekerjaannya.
❣❣❣
Taman belakang...
Suri mengeratkan topi lebarnya, sambil memakai sarung tangan dan gunting. Ia memetik bunga mawar berbagai warna. Senyuman manis terus merekah di bibirnya.
"Apa perlu kamu bantu Nyonya? Nanti Tuan memarahi kami." Kata tukang kebun. Suri menggeleng.
"Tidak perlu." Jawab Suri. Mawar merah, hijau, biru, ungu, hitam, namun yang ia ambil adalah warna hitam dan putih saja sesuai dengan warna kamar Suri dan Allexe.
"Hati- hati Nyonya, batangnya berduri.'' Peringat tukang kebun. Suri berjongkok dan mengangguk.
"Iya, oh jangan panggil Nyonya tapi Suri, Namaku Suriani." Kata Suri ke tukang kebun.
"Tuan akan marah jika saya manggil anda hanya nama." Tukang kebun bernama Satri ikut berjongkok dan membantu Suri.
"Suamiku tidak akan marah, dia orang baik. Hanya saja tekanan hidup yang membuatnya kejam" jawab Suri. Suri memilih mawar yang ia petik dan masukan di keranjang.
"Suri, saya bisa minta tolong?" Tanya Satri. Suri mengangguk, ia melihat Satri.
"Tentu, apa itu?"
"Bisa izinkan ke Tuan, anak saya tinggal di sini selama liburan kuliah? Kami tidak memiliki tempat tinggal selain disini." Pinta Satri. Suri mengangguk ia melepas sarung tangannya dan segera berdiri.
"Tolong susun mawar ini di vas kaca dan berikan air lalu masukan ke kamar." Kata Suri dan segera pergi.
Suri menuju ruang tengah dan sedang memegang gagang telp untuk menelpon kantor Allexe.
Tut
Tut
__ADS_1
Tut
"Selamat siang, dari Xavier corporate. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang wanita di ujung telp
"Bisa bicara dengan Allexe?" Kata Suri seraya mengigit bibirnya dan memilin gagang telp.
"Dari siapa kalau boleh tau?"
"Dari teman lamanya."
"Baiklah, saya sambungkan dengan Pak Allexe.
Tut
Tut
Tut
"Hallo." Sua Allexe
"Ini Aku Suri. Bisakah aku ke kantormu? Kalau gak bisa juga tidak apa- apa. Aku ke kafe aja."
"Kemarilah, tapi tunggu di ruanganku. Aku ada meeting."
"Baiklah, terima kasih." Suri menutup telpnya dan tersenyum bahagia. Suri baru aja dapet ide, apa sekalian ia membawakan makan siang? Yaa.
Suri melesat ke dapur ia melihat koki sedang memasak. Ya, Allexe memiliki koki khusus dirumah ini dan beberapa lainnya.
"Hari ini menu siangnya apa?" Tanya Suri. Sang koki menjawab.
"Apa Allexe yang meminta?" Tanya Suri dan Mrs. Brina mengangguk.
"Iya nyonya." Jawabnya.
"Baiklah, tolong bungkuskan aku akan ke kantornya. Oh ya, bisakah bersihi kangkung dan tumbukan tempe? Aku akan masak nanti. Oh ya, jangan lupa bawang dan terasi sama cabe." Kata Suri dan Mrs. Brina mengangguk.
"Baik Nyonya." Jawabnya.
Seluruh pekerja di sini rata- rata wanita terlebih penjaga di rumah ini. Semua ini di lakukan Allexe agar Suri tidak terjerat pesona laki- laki lain selain suaminya.
❣❣❣
Sejam kemudian masakan suri dan makanan Allexe selesai. Suri juga sudah bersiap untuk pergi, kemeja sedernaha dan rok selutut bewarna senada dipakainya. Suri keluar dari rumah menaiki mobil dan duduk disana, di sampingnya terdapat keranjang berisi makanan.
Selang 30 menit Suri sampai di sebuah gedung tinggi dan menjulang. Suri keluar dari mobil, matanya menatap gedung tinggi itu dan terlihat takjub. Apa ini milik Allexe semua?.
Suri mengeratkan tangannya di pegangan keranjang. Seorang pria berpakaian formal mendatanginya dan memberi hormat.
"Silahkan, Tuan Allexe menyuruh anda untuk menunggu."
__ADS_1
Suri mengangguk lalu jalan di belakang pria itu. Suri merasa risih banyak yang lirik terutama wanita kantoran di sini. Suri masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas.
Ting
Pintu lift terbuka.
"Tuan Xavier sedang meeting. Anda bisa jalan lurus saja dan ruangan tuan ada di sana, saya hanya bisa mengantar sampai sini." Kata pria itu. Suri keluar dari lift dan mengangguk.
"Terima kasih."
Suri berjalan dengan pelan lalu matanya tak sengaja melihat Allexe sedang meeting lewat dinding transparan, ia begitu serius bahkan suaranya lantang bak seorang pemimpin perang. Merasa di lihati Allexe meliat di depan rupanya Suri berdiri di sana sambil melambaikan tangan.
"Untuk siang ini meetingnya sudah cukup, silahkan bubar. Selamat siang." Allexe menutup meetingnya dan segera keluar menghampiri Suri.
"Sesederhana ini kamu ke kantorku? Masuk." Allexe memegang tangan Suri untuk masuk ke ruangannya.
"Apa itu wanitaan sewaan?" Bisik salah satu kolega di belakang mereka.
"Mungkin saja. Sejak kapan lelaki brengsek itu setia, bahkan istrinya memiliki isu transgender." Timpal temannya lalu mereka sama- sama tertawa.
❣❣❣
Suri duduk di sofa setelah Allexe mempersilahkannya.
"Apa yang kau bawa?" Tanya Allexe. Suri mengeluarkan bekal dari dalam keranjang.
"Aku membawakan makan siang untukmu, kentang panggang beserta ayam dan brokoli, apa ini makananmu sehari- hari? Apa orang bule sukanya makan ini saja?" Tanya Suri. Allexe tertawa kecil ia mengambil sendok lalu memakannya.
"Aku harus menjaga pola makanku agar teratur dan sehat. Aku seorang pemimpin jadi tidak boleh sakit." Jawab Allexe. Suri membuka kotak bekalnya juga, isinya berupa nasi dan cah kangkung tempe, ada juga sambal cumi dan telur dadar. Allexe meletakan makanannya dan mengambil milik Suri.
"Loh, punyaku." Kata Suri tak terima.
"Aku hanya ingin mencicipi, tenanglah gak akan kuhabiskan." Allexe mengangkat makanannya dari Suri karena wanita itu ingin mengambilnya. Suri mengalah dan membiarkan suaminya makan. Allexe mulai makan suap demi suap, awalnya berasa aneh namun lambat laun lidahnya menerima dan mulai makan tak rasa makanan itu hampir habis.
"Kau menghabiskannya." Kata Suri sedih. Suri menutup makanan milik Allexe tadi dan memasukan ke dalam keranjang ia kemudian beranjak berdiri untuk mengambil minum botolan. "Jangan lupa minum." Kata Suri. Suri menggeser tubuhnya menjajh dari Allexe dan melihat ke sekitar. Mewah, dingin, wangi dan bersih itu yang Suri lihat. Di dinding juga terpajang foto Allexe bersama istri pertamanya.
"Kenapa?" Tanya Allexe setelah selesai makan bahkan kotaknya sudah kosong, Allexe merasa tak enak sedangkan ia bilang hanya mencicipi tadi.
"Kamu marah padaku?" Tanya Allexe pelan. Allexe tubuhnya agar mendekat ke Suri. Suri menggenggam kedua tangannya dan menggeleng.
"Tidak, aku cuma sedih aja. Sedih karena tidak bisa memiliki." Jawab Suri pelan tak lama ia tersenyum lalu melihat Allexe. "Tapi kamu akan berusaha agar novel itu jadi milikku, kan?" Sambung Suri. Allexe memejamkan matanya ia pikir memiliki dirinya rupanya novel yang kemarin.
"Hm, akan kudapatkan untukmu. Sekarang beresi ini dan masuk ke kamarku, di samping pintu keluar ada pintu kamar bukalah dan istirahat di sana. Aku akan lembur sampai malam." Allexe meminum air yang Suri ambilkan lalu beranjak berdiri dan duduk di singgah sananya.
"Baiklah." Suri memberesi bekas makan Allexe. "Oh ya, tukang kebun di rumah meminta izin agar anaknya tinggal di rumah. Katanya dia lagi liburan kuliah." Kata Suri.
"Lelaki atau perempuan? Berjanjilah kalau kuizinkan kau jangan berinteraksi dengan dia." Allexe kembali bekerja menandatangani dan membaca.
"Tidak tau, sepertinya lelaki. Iya aku janji." Balas Suri.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menelfon dirumah nanti." Kata Allexe.
Sepertinya Allexe mulai nyaman dengam Suri ataukah ini hanya sandiwara demi sebuah anak.