
Allexe nginap di salah satu hotel setelah sampai di
Indonesia, tepatnya di sebuah desa yang ia kunjungi lima tahun yang lalu. Besok
pagi ia memulai aktifitasnya sekalian
mengunjungi makam Ibunya Suri.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu terdengar dari dalam, Allexe membuka
pintu dan Gerald masuk sambil membawakan
dua porsi sate plus lontong yang sudah terpotong. Bosnya itu hampir tidak
pernah makan, apalagi melihatnya sedang makan.
‘’Ayo kita makan.’’ Kata Gerald sambil membuka
bungkusan dan menghidangkannya. Allexe duduk di sofa berhadapan dengan Gerald.
Allexe langsung makan menyantap sate dan lontong tanpa protes.
‘’Apa anak buahmu sudah makan? Jangan sampai mereka
kelaparan. Aku menyewa satu gedung ini karena tidak ingin terpisah. Mark pasti
akan membantu Lonas untuk menemukan Suri.’’ Kata Allexe serius sambil makan.
‘’Apa kamu membuat cacatan hitam di atas putih?
Membuat surat perjanjian antara kamu dan Mark? Laki- laki itu sangat licik dan
picik. Jangan sampai kamu kalah dengannya’’ Kata Gerald.
‘’Aku tidak akan kalah darinya, aku jauh lebih pandai
dari semuanya. Btw ini satenya enak. Aku merindukan Suri. Apa aku bisa
mengunjunginya?’’ tanya Allexe, Gerald menggeleng.
‘’Hubunganmu dengan Lonas belum tuntas. Takutnya Lonas
menemukan kalian. Sebaiknya nanti saja.’’ Jawab Gerald.
‘’Aku ingin menikahi Suri secara sah, hidup Bersama
kemudian.’’
‘’Kalau gitu ayo berjuang.aku juga ingin bahagia
Bersama Kimberly dan anakku.’’ Kata Gerald, di ujung kalimat terdapat nada yang
sedih serta sakit.
‘’Jadi benar? Kimberly hamil anakmu yaitu Tian.’’ Kata
Allexe sambil menelan makanannya lalu minum air kemasan di botol. Gerald
mengangguk pelan ia mulai memakan satenya berserta lontong.
‘’Hm, Aku menyelidikinya sendiri di sela pekerjaan.
Kamu gak liat garis Tian sama dengan diriku, mulai dari gayanya, sifatnya dan
wajahnya.’’ Jawab Gerald. Allexe berfikir sejenak kemudian mengangguk
‘’Setelah masalah ini selesai kamu bisa Bersama
Kimberly dan berjuang untuk kebahagian kalian.’’ Jawab Allexe.
***
Untuk kedua kalinya ia ke tempat yang sama, banyak
yang berubah termasuk rumah Suri dulu, rumah itu ia perbaiki diam- diam tanpa
sepengetahuan Suri. Tanah itu warisan satu- satunya dari Alm Ibunda Suri untuk dirinya
tinggal nanti. Allexe melewati rumah itu dan menuju lapangan.
‘’Setelah ini apalagi pekerjaanku?’’ tanya Allexe ke
Gerald. Gerald melihat agenda di dalam tab.
‘’Banyak, bertemu pimpinan Agatha Corp, bertemu dengan
pimpinan bernama Arka, ah bertemu dengan pemimpin Gressham dan…’’ Gerald
berhenti berucap saat Allexe memberikan isyarat untuk diam.
‘’Tidak usah di teruskan, terlalu banyak. Aku minta
__ADS_1
semua itu di tunda sampai tahun depan.’’ Kata Allexe.’’ Kata Allexe sambil
memijit pelipisnya.
‘’Tidak bisa, mereka semua punya waktu dan ketepatan
jadi kita harus mengikuti mereka. Ingat Al, mereka semua pemimpin terkuat dan
bisa bantu kita kedepannya. Disini sahammu di pertaruhkan dan mereka bisa bantu
kita.’’ Kata Gerald. Allexe menghembuskan nafasnya dan mengangguk pelan.
‘’Baiklah.’’ Jawab Allexe. Tak lama ia sampai ke
lapangan kerja, yang dulu Cuma tanah datar sekarang menjadi bangunan pabrik
besar dengan banyak karyawan mereka semua adalah milik Allexe. Allexe disambut
dengan Manager disana mereka bertemu dan berjalan menuju ruang yang sudah di
siapkan.
‘’Suatu kehormatan Pak Allexe bisa kesini untuk
melihat- lihat. Seperti yang anda tau disini aman dan sejahtera, stok batu bara
terus mengalir dan sawit yang kita miliki meningkat karena banyak. beberapa
buruh menjual tanah beserta kebunnya dan mereka ikut bekerja bersama kita.’’ Ucap
Yudha sambil membuka pintu untuk Allexe masuk. Allexe merasa lega mendengarnya
ia langsung duduk di singgah sananya sambil melihat para pekerja dari jendela
kaca di depannya.
‘’Baguslah kalau gitu, gak salah aku memilihmu untuk
memegang pekerjaan ini. Btw di ujung sana siapa?’’ tunjuk Allexe sambil melihat
pria paruh baya diluar pagar.
‘’Ah, pria itu selalu datang kesini apalagi ke rumah
itu.’’ Tunjuk Yudha kea rah rumah Suri yang dulu, walaupun tak Nampak serratus persen.
‘’Oh ya? Buat apa?’’ tanya Allexe ia menegakan tubuhnya
dan melepas kata mata yang sedari tadi terus menempel di hidungnya.
bertanya- tanya dengan penduduk setempat. Namun para penduduk bilang jika
istrinya telah meninggal dan anaknya sudah pindah entah kemana.’’ Kata Yudha
jujur. Yudha tidak tau kalau yang membawa anak itu adalah Allexe yang tak lain
adalah bosnya sendiri. Allexe menengok ke samping lalu berkata dengan Gerald.
‘’Kamu liat seseorang di sana?’’ tanya Allexe ke
Gerald. Gerald melihat dan mengangguk.
‘’Hm, apa perlu kupanggil?’’ tanya Gerald dan Allexe
mengangguk. Gerald langsung keluar untuk memanggil orang tersebut. Apa jangan-
jangan beliau adalah ayah dari Suri?
***
Allexe menyuruh Yudha untuk keluar sedangkan pria dan
Gerald baru saja datang. Allexe berdiri mempersilahkan pria dengan tongkat
masuk dan duduk di depannya. Pria itu tersenyum tanpa beban senyumnya mirip
dengan Suri.
‘’Selamat siang Pak, mungkin ada yang bisa saya bantu?
Saya melihat anda disana tadi.’’ Kata Allexe. Mereka sama- sama duduk.
‘’Ah haha, tidak ada hanya melihat- lihat saja, apa
ini milikmu? Sungguh sukses dirimu ini.’’ Kata Pria itu wajahnya sangat ramah
dan bersahabat mirip sekali dengan suri.
‘’Iya saya adalah pemiliknya.’’ Kata Allexe. Allexe
melirik ke Gerald untuk meminta minum. Gerald langsung berbalik untuk pergi
membeli minum. Pria itu merogoh saku sweternya lalu mengeluarkan secarik foto
ibu dan anak di atas meja.
‘’Mohon maaf sebelumnya, apa kamu melihat orang ini? Ini
__ADS_1
adalah istri dan anak saya.’’ Kata pria itu sopan. Allexe memperhatikan foto
itu, iya itu adalah Suri dan ibunya.
‘’Hm, kenapa kalian terpisah?’’ tanya Allexe. Pria itu
menghembuskan nafasnya kemudian melihat kea rah jendela.
‘’Ah kalau di ceritakan sangat panjang, aku menikah
lagi untuk hidup yang lebih baik, aku menikah dengan janda kaya raya. Aku menikah
dengan tujuan agar bisa hidup kaya dan bisa membahagiakan istriku dan Suri
tapi, ibunya Suri tidak terima dan pergi dari diriku bersama anak kami. Ia kemudian
tinggal disini. Kudengar ibunya Suri harus menjadi ******* untuk menghidupi
Suri sekolah hingga ia jatuh sakit dan menghilang begitu saja, sedangkan Suri? Aku
tidak tau dia dimana.’’ Pria itu melepas kaca nata beningnya dan menghapus air
matanya. Allexe mengeratkan rahanganya sungguh lelaki di depannya amat bejat,
demi harta ia rela meninggalkan anak dan istrinya.
‘’Oh gitu, saya beritahu… harta tidak bisa menjamin apapun Pak, saya merasakannya
sendiri. Hidup kaya tidak menjamin kita punya cinta yan tulus.’’ Kata Allexe. Pria
itu mengangguk ia memasang kaca matanya lagi dia tersenyum.
‘’Itu benar, saya menyesal sekarang. Saya ingin
meminta maaf kepada istri saya dan juga putri kami.’’ Allexe mengambil foto itu
dan melihat sekali lagi.
‘’Suri bersamaku dan ibunya meninggal lima tahun yang
lalu. Ibunya meninggal karena kangker serviks stadium akhir. Istrimu menitipkan
anakmu kepadaku dan sekarang sudah menjadi istriku.’’ Kata Allexe jujur ia meletakan
foto itu di atas meja dan melihat ayah Suri. Ayahnya Suri syok istrinya
meninggal lima tahun yang lalu.
‘’Apa katamu? Meninggal?’’ tanya pria itu dan Allexe
mengangguk. Pria itu langsung menangis tanpa suara ia memegang dadanya dan
menunduk.
‘’Maafin aku, maafin aku sudah meninggalkan kamu
istriku. Oh tidak, sesakit ini ditinggalkan oleh dirimu.’’ Kata pria itu. Tak lama
Gerald masuk melihat pria itu menangis dalam diam, ada Allexe di depannya.
Allexe memberi isyarat untuk masuk dan meletakan minuman di samping foto.
‘’Silahkan diminum dulu.’’ Tegur Gerald. Pria itu
menegakan badannya pipinya sudah basah dengan air mata dan nafasnya tercekat
karena berusaha untuk menahan sakit.
‘’Makasih ya. Kalau boleh tau dimana pemakamannya?’’
tanya beliau sopan, tidak ada nada amarah ataupun benci.
‘’Di pemakaman dekat sini nanti saya tunjuki setelah
pekerjaan saya selesai.’’ Kata Allexe.
‘’Terima kasih ya, kamu laki- laki baik yang dipilih
istri saya untuk Suri.’’ Pria itu kemudian mengambil minuman untuk meredakan
sesak di dadanya.
‘’Apa saya bisa sholat disini? Mau numpang wudhu.’’ Kata
pria itu, Allexe menyuruh Gerald dan lelaki itu dengan sopan mempersilahkanya ayah
Suri untuk mengikuti dirinya. ‘’Oh iya,
nama saya Yusuf kalau kamu siapa?’’ tanya Ayah Suri, walaupun hatinya sedang
hancur ia masih bisa tersenyum.
‘’Saya Allexe, silahkan kalau mau ibadah. Saya mau lanjut kerja.’’ Allexe berdiri ia
membungkuk sedikit pertanda hormat lalu pergi ke meja untuk mengurus beberapa
berkas Bersama Yudha nanti.
__ADS_1