Pengantin Simpanan

Pengantin Simpanan
Episode 38


__ADS_3

Allexe nginap di salah satu hotel setelah sampai di


Indonesia, tepatnya di sebuah desa yang ia kunjungi lima tahun yang lalu. Besok


pagi ia  memulai aktifitasnya sekalian


mengunjungi makam Ibunya Suri.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu terdengar dari dalam, Allexe membuka


pintu  dan Gerald masuk sambil membawakan


dua porsi sate plus lontong yang sudah terpotong. Bosnya itu hampir tidak


pernah makan, apalagi melihatnya sedang makan.


‘’Ayo kita makan.’’ Kata Gerald sambil membuka


bungkusan dan menghidangkannya. Allexe duduk di sofa berhadapan dengan Gerald.


Allexe langsung makan menyantap sate dan lontong tanpa protes.


‘’Apa anak buahmu sudah makan? Jangan sampai mereka


kelaparan. Aku menyewa satu gedung ini karena tidak ingin terpisah. Mark pasti


akan membantu Lonas untuk menemukan Suri.’’ Kata Allexe serius sambil makan.


‘’Apa kamu membuat cacatan hitam di atas putih?


Membuat surat perjanjian antara kamu dan Mark? Laki- laki itu sangat licik dan


picik. Jangan sampai kamu kalah dengannya’’ Kata Gerald.


‘’Aku tidak akan kalah darinya, aku jauh lebih pandai


dari semuanya. Btw ini satenya enak. Aku merindukan Suri. Apa aku bisa


mengunjunginya?’’ tanya Allexe, Gerald menggeleng.


‘’Hubunganmu dengan Lonas belum tuntas. Takutnya Lonas


menemukan kalian. Sebaiknya nanti saja.’’ Jawab Gerald.


‘’Aku ingin menikahi Suri secara sah, hidup Bersama


kemudian.’’


‘’Kalau gitu ayo berjuang.aku juga ingin bahagia


Bersama Kimberly dan anakku.’’ Kata Gerald, di ujung kalimat terdapat nada yang


sedih serta sakit.


‘’Jadi benar? Kimberly hamil anakmu yaitu Tian.’’ Kata


Allexe sambil menelan makanannya lalu minum air kemasan di botol. Gerald


mengangguk pelan ia mulai memakan satenya berserta lontong.


‘’Hm, Aku menyelidikinya sendiri di sela pekerjaan.


Kamu gak liat garis Tian sama dengan diriku, mulai dari gayanya, sifatnya dan


wajahnya.’’ Jawab Gerald. Allexe berfikir sejenak kemudian mengangguk


‘’Setelah masalah ini selesai kamu bisa Bersama


Kimberly dan berjuang untuk kebahagian kalian.’’ Jawab Allexe.


***


Untuk kedua kalinya ia ke tempat yang sama, banyak


yang berubah termasuk rumah Suri dulu, rumah itu ia perbaiki diam- diam tanpa


sepengetahuan Suri. Tanah itu warisan satu- satunya dari Alm Ibunda Suri untuk dirinya


tinggal nanti. Allexe melewati rumah itu dan menuju lapangan.


‘’Setelah ini apalagi pekerjaanku?’’ tanya Allexe ke


Gerald. Gerald melihat agenda di dalam tab.


‘’Banyak, bertemu pimpinan Agatha Corp, bertemu dengan


pimpinan bernama Arka, ah bertemu dengan pemimpin Gressham dan…’’ Gerald


berhenti berucap saat Allexe memberikan isyarat untuk diam.


‘’Tidak usah di teruskan, terlalu banyak. Aku minta

__ADS_1


semua itu di tunda sampai tahun depan.’’ Kata Allexe.’’ Kata Allexe sambil


memijit pelipisnya.


‘’Tidak bisa, mereka semua punya waktu dan ketepatan


jadi kita harus mengikuti mereka. Ingat Al, mereka semua pemimpin terkuat dan


bisa bantu kita kedepannya. Disini sahammu di pertaruhkan dan mereka bisa bantu


kita.’’ Kata Gerald. Allexe menghembuskan nafasnya dan mengangguk pelan.


‘’Baiklah.’’ Jawab Allexe. Tak lama ia sampai ke


lapangan kerja, yang dulu Cuma tanah datar sekarang menjadi bangunan pabrik


besar dengan banyak karyawan mereka semua adalah milik Allexe. Allexe disambut


dengan Manager disana mereka bertemu dan berjalan menuju ruang yang sudah di


siapkan.


‘’Suatu kehormatan Pak Allexe bisa kesini untuk


melihat- lihat. Seperti yang anda tau disini aman dan sejahtera, stok batu bara


terus mengalir dan sawit yang kita miliki meningkat karena banyak. beberapa


buruh menjual tanah beserta kebunnya dan mereka ikut bekerja bersama kita.’’ Ucap


Yudha sambil membuka pintu untuk Allexe masuk. Allexe merasa lega mendengarnya


ia langsung duduk di singgah sananya sambil melihat para pekerja dari jendela


kaca di depannya.


‘’Baguslah kalau gitu, gak salah aku memilihmu untuk


memegang pekerjaan ini. Btw di ujung sana siapa?’’ tunjuk Allexe sambil melihat


pria paruh baya diluar pagar.


‘’Ah, pria itu selalu datang kesini apalagi ke rumah


itu.’’ Tunjuk Yudha kea rah rumah Suri yang dulu, walaupun tak Nampak serratus persen.


‘’Oh ya? Buat apa?’’ tanya Allexe ia menegakan tubuhnya


dan melepas kata mata yang sedari tadi terus menempel di hidungnya.


bertanya- tanya dengan penduduk setempat. Namun para penduduk bilang jika


istrinya telah meninggal dan anaknya sudah pindah entah kemana.’’ Kata Yudha


jujur. Yudha tidak tau kalau yang membawa anak itu adalah Allexe yang tak lain


adalah bosnya sendiri. Allexe menengok ke samping lalu berkata dengan Gerald.


‘’Kamu liat seseorang di sana?’’ tanya Allexe ke


Gerald. Gerald melihat dan mengangguk.


‘’Hm, apa perlu kupanggil?’’ tanya Gerald dan Allexe


mengangguk. Gerald langsung keluar untuk memanggil orang tersebut. Apa jangan-


jangan beliau adalah ayah dari Suri?


***


Allexe menyuruh Yudha untuk keluar sedangkan pria dan


Gerald baru saja datang. Allexe berdiri mempersilahkan pria dengan tongkat


masuk dan duduk di depannya. Pria itu tersenyum tanpa beban senyumnya mirip


dengan Suri.


‘’Selamat siang Pak, mungkin ada yang bisa saya bantu?


Saya melihat anda disana tadi.’’ Kata Allexe. Mereka sama- sama duduk.


‘’Ah haha, tidak ada hanya melihat- lihat saja, apa


ini milikmu? Sungguh sukses dirimu ini.’’ Kata Pria itu wajahnya sangat ramah


dan bersahabat mirip sekali dengan suri.


‘’Iya saya adalah pemiliknya.’’ Kata Allexe. Allexe


melirik ke Gerald untuk meminta minum. Gerald langsung berbalik untuk pergi


membeli minum. Pria itu merogoh saku sweternya lalu mengeluarkan secarik foto


ibu dan anak di atas meja.


‘’Mohon maaf sebelumnya, apa kamu melihat orang ini? Ini

__ADS_1


adalah istri dan anak saya.’’ Kata pria itu sopan. Allexe memperhatikan foto


itu, iya itu adalah Suri dan ibunya.


‘’Hm, kenapa kalian terpisah?’’ tanya Allexe. Pria itu


menghembuskan nafasnya kemudian melihat kea rah jendela.


‘’Ah kalau di ceritakan sangat panjang, aku menikah


lagi untuk hidup yang lebih baik, aku menikah dengan janda kaya raya. Aku menikah


dengan tujuan agar bisa hidup kaya dan bisa membahagiakan istriku dan Suri


tapi, ibunya Suri tidak terima dan pergi dari diriku bersama anak kami. Ia kemudian


tinggal disini. Kudengar ibunya Suri harus menjadi ******* untuk menghidupi


Suri sekolah hingga ia jatuh sakit dan menghilang begitu saja, sedangkan Suri? Aku


tidak tau dia dimana.’’ Pria itu melepas kaca nata beningnya dan menghapus air


matanya. Allexe mengeratkan rahanganya sungguh lelaki di depannya amat bejat,


demi harta ia rela meninggalkan anak dan istrinya.


‘’Oh gitu, saya  beritahu… harta tidak bisa menjamin apapun Pak, saya merasakannya


sendiri. Hidup kaya tidak menjamin kita punya cinta yan tulus.’’ Kata Allexe. Pria


itu mengangguk ia memasang kaca matanya lagi dia tersenyum.


‘’Itu benar, saya menyesal sekarang. Saya ingin


meminta maaf kepada istri saya dan juga putri kami.’’ Allexe mengambil foto itu


dan melihat sekali lagi.


‘’Suri bersamaku dan ibunya meninggal lima tahun yang


lalu. Ibunya meninggal karena kangker serviks stadium akhir. Istrimu menitipkan


anakmu kepadaku dan sekarang sudah menjadi istriku.’’ Kata Allexe jujur ia meletakan


foto itu di atas meja dan melihat ayah Suri. Ayahnya Suri syok istrinya


meninggal lima tahun yang lalu.


‘’Apa katamu? Meninggal?’’ tanya pria itu dan Allexe


mengangguk. Pria itu langsung menangis tanpa suara ia memegang dadanya dan


menunduk.


‘’Maafin aku, maafin aku sudah meninggalkan kamu


istriku. Oh tidak, sesakit ini ditinggalkan oleh dirimu.’’ Kata pria itu. Tak lama


Gerald masuk melihat pria itu menangis dalam diam, ada Allexe di depannya.


Allexe memberi isyarat untuk masuk dan meletakan minuman di samping foto.


‘’Silahkan diminum dulu.’’ Tegur Gerald. Pria itu


menegakan badannya pipinya sudah basah dengan air mata dan nafasnya tercekat


karena berusaha untuk menahan sakit.


‘’Makasih ya. Kalau boleh tau dimana pemakamannya?’’


tanya beliau sopan, tidak ada nada amarah ataupun benci.


‘’Di pemakaman dekat sini nanti saya tunjuki setelah


pekerjaan saya selesai.’’ Kata Allexe.


‘’Terima kasih ya, kamu laki- laki baik yang dipilih


istri saya untuk Suri.’’ Pria itu kemudian mengambil minuman untuk meredakan


sesak di dadanya.


‘’Apa saya bisa sholat disini? Mau numpang wudhu.’’ Kata


pria itu, Allexe menyuruh Gerald dan lelaki itu dengan sopan mempersilahkanya ayah


Suri untuk mengikuti dirinya.  ‘’Oh iya,


nama saya Yusuf kalau kamu siapa?’’ tanya Ayah Suri, walaupun hatinya sedang


hancur ia masih bisa tersenyum.


‘’Saya Allexe, silahkan kalau mau ibadah. Saya  mau lanjut kerja.’’ Allexe berdiri ia


membungkuk sedikit pertanda hormat lalu pergi ke meja untuk mengurus beberapa


berkas Bersama Yudha nanti.

__ADS_1


__ADS_2