
Di tas gundukan tanah yang sudah merata, di berikan
batu nisan bewarna putih dan di kelilingi pagar kayu. Di atas nisan terdapat
nama ibunya Suri serta tanggal wafatnya. Yusuf, suaminya duduk di atas tanah
lalu menyapu kepala nisan dengan pelan.
‘’Kamu tinggalkan aku? Seperti ini kah? Kubilang sabar
tunggu aku sayang.’’ Kata pria paruh baya sambil mengeluarkan air matanya
pelan. “Aku menyesal, amat sangat menyesal sudah seperti ini.’’ Yusuf mengambil
sebotol air meniral dan kembang yang ia beli di pintu pemakaman depan. Tangan renta
itu membuka botol dengan tangan gemetar setelah terbuka ia menyiram batu nisan
itu secara merata. Allexe dan Gerald berjongkok di sisi pemakaman dan ikut
menyiram dengan air.
‘’Kenapa tinggalkan aku hm? Apa salah kusimpan dirimu
hm? Kita memang hidup susah dulu. Kenapa? Aku mencintaimu istriku.’’ Katanya,
bahunya bergetar tak lama ia menangis menumpukan kepalanya di batu tersebut dan
menangis sesenggukan. Allexe berdiri berpindah ke samping ayah Suri dan memegang
kedua bahunya untuk tegak. ‘’Aku menyesal menculiknya, membawanya untuk
menikah, membawanya lari dari keluarganya dan menikah dengan wanita lain demi
harta dan ia menghilang selamanya seperti ini.’’ Kata Yusuf ia menangis
tersedu- sedu sambil menghapus air matanya seperti anak kecil. Allexe menahan
emosinal untuk menangis, ia menangisi dirinya yang bejat juga, ia takut nasibnya
sama seperti ayahnnya Suri. Yusuf memegang tangan Allexe di bahunya dan
menepuknya pelan.
‘’Makasih sudah membantu saya untuk kesini, saya titip
Suri ya Nak Al. apa saya bisa tinggal di rumah alm. Istri saya?’’ izin Yusuf.
Allexe mengangguk tentu saja boleh karena itu adalah hak mereka.
‘’Apa anda sudah lebih baik? Setelah iini bisa
langsung diantar kesana untuk istirahat.’’ Kata Al. Yusuf mengangguk.
‘’Kalian bisa pergi untuk kembali kerja, saya masih
ingin disini untuk menebus kerinduan ini.
‘’Kalau gitu nanti saya tinggalkan satu driver untuk
menunggu anda disini. Jangan kelamaan nanti keburu dingin.’’ Allexe menatap
Gerald dan mengangguk untuk berdiri. Gerald berdiri ia membungkuk hormat
setelah itu pergi terlebih dahulu.
‘’Apa anda ingin bertemu dengan Suri?’’ tanya Allexe.
Yusuf menggeleng untuk sementara ia tidak ingin bertemu anaknya ia tidak ingin
menghancurkan momen kebahagiaan anaknya nanti.
‘’Tolong saja jaga anak saya. Saya menitipkan Suri
kepadamu sama seperti istri saya mempercayai kamu untuk menjaga Suri. Saya belum
ada keinginan untuk bertemu dia. Saya masih takut… takut tidak bisa
mengikhlaskan istri saya ke akhirat karena wajah mereka mirip. Apalagi Suri
__ADS_1
sudah dewasa.’’ Kata Yusuf. Allexe mengeluarkan ponselnya dan menunjukan wallpaper
layarnya ke beliau.
‘’Seperti ini rupa Suri sekarang, dia hamil kembar
empat.’’ Yusuf memegang ponsel yusuf dan tersenyum bahagia. Wajahnya sangat
mirip dengan mendiang ibunya.
‘’Dia sangat cantik.’’ Tak lama ia menangis hp itu ia
kembalikan ke Allexe dan memeluk nisan istrinya. ‘’Dia mirip kamu, Putri kita sayang.’’
Allexe melepas kaca mata hitamnya dengan cepat ia
mengusap matanya yang memerah. ‘’Saya permisi dulu Pak Yusuf, kalau ada apa-
apa saya sudah meninggalkan beberapa pengawal untuk anda.’’ Allexe berdiri dan
pergi, seketika ia ingin pulang kerumah melihat Suri dan anak- anaknya.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat setelah itu masuk
ke dalam mobil.
***
Esoknya….
Allexe mulai meninjau pekerjaan hingga larut malam,
kopi setia menemaninya untuk bergadang Bersama Gerald dan Yudha. Para pekerja
sudah di istirahatkan dan pulang kerumah masing- masing. Semua berkas tentang
pekerjaan di lapangan sudah selesai dengan tuntas.
‘’Wah, pekerjaan ini sangat cepat Pak. Padahal saya
siapkan waktu tiga hari. Bagaimana dengan sisa dua hari pak?’’ tanya Yudha
‘’Libur, kamu butuh istirahat kan… kamu sudah bekerja
dengan baik dan aku suka itu.’’ Kata Allexe tegas. Yudha bersorak gembira.
‘’Makasih Pak…’’ jawab Yudha.
Drtt
Ddrtt
Allexe mengambil hpnya di atas meja ia kemudian
mengangkat telp dan nampaklah wajah Suri yang imut jelita. Allexe menyangga
hpnya dengan tumpukan berkas lalu ia tersenyum.
‘’Hai sayang.’’ Sapa Allexe lembut. Ia melihat Suri
berbaring sambil mengenakan lingerie merah.
‘’Aku rindu padamu, kapan pulang?’’ tanya Suri ia
memperlihatkan perutnya yang Nampak besar sambil mengelusnya. Allexe melihat
Gerald yang mengatur jadwalnya, Gerald terdehem dan menggeleng.
‘’Belum tau, bagaimana kabar twinnie?’’ tanya Allexe
sambil menyeruput sisa kopi di dalam gelas.
‘’Kabar mereka baik di dalam perut. Al hari ini anakmu
cerewet sekali, bayangin jam tiga pagi tadi aku kepengen banget makan bingka
kentang, akhirny Bu lastri membuatkannya. Oh ya, Shinta sudah kembali tiha hari
yang lalu. Aku habis nonton film mafia ganteng Al terus keingat kamu, aktornya
__ADS_1
mirip sekali dengan suamiku ini apalagi di atas ranjang.’’ Kata Suri dengan
malu di akhir kata. Allexe tertawa pelan ia menyandarkan badannya di sandaran
kursi
‘’Oh ya? Apa aku mirip seoran mafia? Bagaimana kalau
sebenarnya aku seorang mafia?’’ tanya Allexe.
‘’NO, itu pekerjaan tidak baik. Mafia itu pembunuh dan
memperdagangkan yang tidak halal.’’ Jawab Suri. ‘’Tidak mungkin itu
pekerjaanmu, sedangkan pakaianmu aja selalu bersih dan rapih.’’ Suri memeluk
guling dan menghadap samping.
‘’Coba tanya Gerald, apakah dia seorang mafia atau
Farel.’’ Kata Allexe dengan mimic serius, Suri ternganga ia langsung bangun dan
tercengang. Seketika Allexe tertawa ia merasa lucu dengan mimic istrinya yang
polos ini.
‘’Al ih gak lucu.’’ Kata Suri ngambek ia kembali
berbaring. ‘’Becanda nih daddy kalian, tega sama Mommy.’’ Kata Suri ke anak-
anaknya di dalam perut.
‘’Makanya jangan kebanyakan nonton film barat. Siapa sih
yang ajarin kamu nonton gituan hm?’’ taya Allexe sambil menarik nafasnya untuk
tenang kembali.
‘’Shinta, Dewina dan Mba Kimberly.’’ Jawab Suri
Allexe menepuk keningnya sambil menggeleng.
‘’Pantesan, lain kali gak usah nonton lagi nanti kalau
jadi ketagihan gimana coba.’’
‘’Al, aku ingin liburan naik kapal gitu, ya ya ya…. Cepet
pulang.’’ Kata Suri manja. Allexe menatap Suri dan mengangguk
‘’Iya sayang, sekarang sudah malam tidurlah. Doakan aku
disini ya.’’ Kata Allexe.
‘’Hm, Al apa disana malam juga kenapa jendela
belakangmu gelap ya?’’ tanya Suri ia mendekatkan wajahnya untuk memperhatikan
Allexe. Allexe menengok kebelakang lalu Gerald buru- buru menutup jendela di
belakang Allexe.
‘’Eh ada Mas Gerald.’’ Tegur Suri. Gerald memperbaiki
jasnya dan say hai dengan tangan
‘’Malam.’’ Sapa Gerald. Allexe memegang dadanya
sungguh ia tidak ingin Suri tau kalau dirinya sedang berada di Indonesia.
‘’yaudah aku tidur dulu ya, dadah suamiku…’’ Suri
mencium Allexe secara online habis itu mati. Allexe dan Gerald saling meilirik kemudian
sama- sama membuang nafas dan Gerald melepas jasnya dan duduk di sofa. Yudha
hanya menggaruk kepalanya yang masih tidak mengerti apa yang terjadi.
‘’Saya permisi dulu ya pak.’’ Izin Yudha setelah itu
__ADS_1
pamit keluar.