
Allexe menutup telponnya
menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan pesawat secepat mungkin. Hatinya tidak
tenang saat mendengar Suri sakit. Allexe mengganti baju dan memakai jas panjang
dan selendang di leher, cuaca malam ini sangat dingin dan Allexe tidak tahan
cuaca seperti itu.
‘’Kamu mau kemana? Secepat ini
Allexe.’’ Kata Lonas.
‘’Suri sakit, aku harus
menemuinya. Aku akan kembali.’’ Allexe langsung pergi dari rumah dan langsung
masuk ke dalam helikoper untuk menuju bandara. Allexe menelfon Gerald dan
Fareel untuk ikut bersama mereka.
‘’Kita ketemu di bandara malam
ini.’’ Kata Allexe setelah itu telfon tertutup.
Lima menit kemudian, helikopter
mendarat di bandara dan disambut oleh Fareel dan gerald bersama Kimberly
lengkap dengan pakaian tidur bersama seorang lelaki kecil.
‘’Kau! Kenapa memanggilku.’’
Bentak fareel saat Allexe turun dari hellikopter. Tidak taukah kakak sepupunya
itu kalau dirinya sedang PDKT dengan wanita cantik di hotel.
‘’Masuk.’’ Allexe memegang
kerah belakang Fareel dan menyeretnya masuk ke dalam pesawat namun langah
lelaki itu berhenti saat ia menatap serketarisnya.
‘’Apa aku memanggilmu juga?’’
tanya Allexe ke Kimberly.
‘’Aku yang memanggilnya,
kupikir ini urusan kerja kan.’’ Jawab Gerald. Allexe menatap Kimberly yang
nampak risih dengan situasi ini
‘’Kakak lepaskan aku.’’ Kata
Farrel.
‘’Ayo masuk.’’ Kata Allexe ke
semuanya tanpa menghiraukan Farrel.
Setelah masuk ke dalam pesawat
Allexe duduk bersama Farel dan Gerald bersama Kimberly dan juga anak kecil.
‘’Mami, kita mau kemana? Besok
Tian ada kelas ulangan Mi, kalau Mami mau kerja pergi aja sendiri, Tian bisa di
rumah kok.’’ Kata bocah berumur 7 tahun.
Kimberly bingung mau jawab apa ke anak semata wayangnya ini.
‘’Hei, kau harus ikut ini demi
seseorang yang menuggu kita. Dia sedang sakit kalau kamu turun dari pesawat itu
butuh banyak waktu terbuang. Jadi duduk saja, aku sudah mengiziinkan kamu untuk
libur dan akan menyusul untuk ulangan.’’ Jelas Gerald lembut.
‘’Baiklah paman.’’ Jawab Tian
tanpa membantah.
‘’Goodboy.’’ Puji Gerald.
‘’Hey Tian, nanti kita main
ya.’’ Ajak Fareel
‘’Maaf Om, Tian gak suka main
sama orang dewasa, Tian lebih suka belajar agar bisa menjadi pengusaha kaya dan
membuat Mami tidak perlu bekerja.’’ Jawab Tian. Kimberly merasa haru ia
mengusap kepala anaknya.
‘’Ini sudah malam, Tian tidur
ya, nanti kalau sudah sampai Mami bangungin.’’ Kata Kimberly sambil membukakan
selimut dan menyelimuti anaknya.
‘’Mami apa Papi seorang
pengusaha juga?’’ tanya Tian. Tian melihat Allexe yang nampak melihatnya dan
Farrel. ‘’Sudahlahlah Mi, Mami gak usah jawab.’’ Tian tersenyum ia tau ibunya
itu enggan memberitahu sosok Papinya.
‘’Night Mi.’ Tian mengalihkan
wajahnya ke jendela pesawat setelah itu menutup mata dan tidur. Kimberly
mengusap kepala anaknya.
‘’Apa kamu sudah menikah?
Kenapa dengan Papinya?’’ tanya Fareel. Kimberly menggeleng
‘’Karena aku tidak tau siapa ayahnya
dan siapa yang menghamiliku. Aku hanya bisa melihat warna rambutnya yang
cokelat pekat dari belakang dan postur tubuh yang besar.’’ Jawab Kimberly
pelan. Ia menundukan pandangannya melihat tangannya saling ***. Gerald
pindah tempat duduk tepatnya di depan Allexe dan Fareel.
‘’What.’’ Jawab Allexe dan Fareel
serentak.
__ADS_1
‘’Kasihan sekali dirimu,
brengsek laki- laki itu.’’ Umpat Fareel. Ucapan Fareel. Gerald menuangkan wine
ke dalam gelas lalu menenggaknya dengan sekali minum, pikirannya hanya satu,
satu yang hanya ia yang boleh ketahui.
Allexe memijit pelipisnya dan
mencoba untuk tidur sambil teringat Suri.
**
Beberapa lama kemudian...
Allexe sampai di kediaman Suri.
Lelaki itu langsung masuk ke rumah dan mencari istrinya. Devina dan Shinta
memberi hormat dan menunjukan Suri yang sedang berbaring dengan seorang Suster
dan Bidan.
‘’Suri.’’ Allexe duduk di samping
kasur dan memegang tangan lentik istrinya.
‘’Dia habis minum obat untuk
meredakan mual di perutnya. Istri kamu hamil tapi untuk memastikan kamu bisa
bawa dia ke rumah sakit.’’ Kata Bidan Yenna sambil melihat berkas Suri.
‘’Hamil.’’ Kata Allexe tidak
percaya. Allexe menarik sudut bibirnya ia mencium tangan Suri dalam lalu
meletakannya di kasur.
‘’Terima kasih Yenna.’’ Jawab Allexe
sambil menatap Sepupu sekalinya itu.
‘’Aku tidak tau dia siapa,
kudengar dia istrimu. Cepat beritahukan ke keluarga Inti. Kamu tau Mommy dan
Daddy seperti apa? Mereka yakin pilihanmu kali ini benar.’’ Yenna menepuk bahu
lelaki itu penuh arti. Allexe tersenyum dan mengangguk.
‘’Pasti, tapi ada yang harus
diurus. Mark memerasku lewat Lonas, aku gak tau ancaman apa yang di berikan
hingga Lonas mau melakukannya.’’ Kata Allexe sambil melepas jaketnya dan
selendang di leher.
‘’Kau memiliki tangan kanan dan
kiri yang handal, suruh mereka cari.’’ Jawab Yenna.
‘’Aku tau, dan sekarang lagi di
selidiki. Apa kamu akan pergi?’’ tanya Allexe ia duduk di bawah kaki Suri.
‘’Hm, Di klinik sedang banyak
pasien. Bawalah Suri kesana untuk melakukan USG, kuperkirakan bayinya kembar.’’
sedang tertidur, rambutnya tergerai lurus, bibirnya pucat dan rapuh dan
tubuhnya sangat kurus.
Allexe berdiri lalu keluar dari
kamar ia menuju Gerald yang sedang duduk sendirian sambil sibuk dengan tab.
‘’Apa ada sesuatu?’’ tanya
Allexe ke Gerald ia kemudian duduk disampingnya.
‘’Lihat ini dan lakukan
tindakan secepat mungkin.’’ Allexe mengambil tab di tangan Gerald dan membaca
surel tentang Lonas dan Mark. Video asusila terpampang jelas Lonas digilir
kemudian memakai barang terlarang, Allexe merasa emosinya bergejolak ia
menghemaskan tab di tangannya.
‘’Bangsat! Jadi Lonas
menghianatiku.’’ Kata Allexe. Allexe Lonas hanya di perdayai saja. Di video itu
Lonas berkata ‘’ Sangat nikmat bersamamau
Mark dan aku menyukainya.’’
‘’Semenjak kita di Bora- Bora,
Lonas nginap di Apartemen dan Mark sengaja mengincarnya. Mark menyukai Lonas
juga dan Mark ingin kamu jatuh. Rivalmu itu selalu tidak puas, dan satu lagi
dia anggota geng Mafia, Tukang jual beli Sabu- sabu dan lainnya di pasar gelap.’’
Jelas Gerald.
‘’Panggil Fareel.’’ Kata
Allexe. Gerald menelfon Farell yang sedang di teras belakang menikmati kopi
dengan Shinta, wanita yang baru diajak kenalan.
‘’Dimana?’’ Tanya Gerald
‘’Teras belakang, kenapa?’’
‘’Bos panggil.’’
‘’Oke..’’
Gelad mematikan telpon tak lama
Farel datang
‘’Kenapa/’’ tanya Farell
‘’Apa kamu punya teman di dunia
gelap? Mafia atau sejenisnya?
Farel mencoba berfikir sambil
__ADS_1
melihat kontak ponselnya.
‘’Ada, dia seanggota dengan
Mark namanya Jill. Jill teman seperjuanganku dulu disana, dia sangat jago bela
diri, lari dari kejaran polisi dan pandai berdalih. Mark menyewanya untuk
menjadi tangan kanan, tapi Jill bisa menjadi pihak lawan jika bayarannya
sepadan.’’ Jelas Farell
Jangan heran Farell dulu
seorang bodyguard para mafia kelas kakap namun karena ia terjerumus terlalu
dalam dan hingga ingin bunuh diri jadi Allexe mengambilnya dan menjadikannya
seorang manusia.
‘’Gitu ya.’’ Allexe mengusap
dagunya seraya berfikir.
‘’Bilang ke Jill aku akan
membayar lima kali lipat dari Mark asalkan ia memberitaukan informasi apapun
mengenai rencana Mark untuk menghancurkan aku.’’ Kata Allexe.
‘’Seriosly? Kau bisa miskin
mendadak untuk membayarnya.’’ Kata Fareel kaget.
‘’Aku tidak semiskin yang kau
pikirkan! Aku tidak hidup dengan perusahaan keluarga dan keluargaku saja. Aku masih
memilliki usaha lain diluar itu.’’ Jawab Allexe sambil bersandar di sofa.
‘’Apa itu?’’ tanya Gerald dan
Fareel bersamaan.
‘’Tambang batu bara dan kelapa
sawit di Kalimantan. Aku juga memiliki satu pulau pribadi di sana dan kaya
dengan hasil lautan. Aku membuka tempat pariwisata disana dan menjual makanan
seafood.’’ Jawab Allexe.
‘’Astaga sejak kapan?’’ tanya
Fareel
‘’Sejak aku di kucilkan
keluarga inti karena tidak bisa memberikan keturunan.’’ Jawab Allexe sendu. ‘’Jadi,
ketika nanti aset keluarga diambil alih oleh saudaraku yang lain aku masih ada
usaha sendiri.’’
Fareel duduk di bawah kaki
Allexe sambil mengurut kaki bosnya.
‘’Apa kita akan kesana Tuan
Allexe? Apa- apa disana ada wanita cantik berbikini seperti di hawai? Atau bali?’’
tanya Allexe. Gerald yang kesal langsung mencatuk kepalaya dengan Tab.
‘’Kau! Dipikiranmu hanya
perempuan saja!’’ pekik Gerald sedangkan Fareel mengusap kepalanya.
‘’Kamu!’’ tunjuk Farel tak
terima. ‘’Kamu kenapa memukul kepalaku haha! Kau bukan bos disini.’’
Gerald memajukan kepalanya di
hadapan Farel dan menatap horor ke Farel
‘’Aku emang bukan bosmu tapi
aku yang pegang kendali! Allexe memang bos disini tapi yang mengatur semuanya
adalah aku!’’ Farell langsung tersenyum masam dan bangun.
‘’Kau kejam juga ya. Aku pergi
saja huh.’’ Farel pergi namun sebelum itu ia menarik rambut Gerald dan berlari
layaknya anak kecil. Gerald berdiri dan segera melompat dari sofa dan menyusul
Fareel
‘’Farell!’ pekik Gerald.
Allexe menggelengkan kepalanya
sambil memijit pelipisnya. Pikirannya kacau sekarang sebaiknya ia tidur bersama
Suri dan memikirkan anaknya.
**
Farell dan Gerald saling
berlari memutari kolam berenang di halaman belakang rumah. Tian hanya bisa
melihat mereka berdua sambil bergeleng kepala.
‘’Dengan badan tinggi dua
kalilipat dariku dan penampilan oke membuat kata orang benar.’’ Gumam Tian.
Farel dan Gerald saling melihat Tian.
‘’Benar apa?’’ tanya Gerald.
‘’Penampilan oke tapi tidak
punya OTAK.’’ Tian segera berbalik dan pergi masuk. Farell langsung lemas dan
Gerald terdiam
‘’Kenapa anak itu sama
sepertimu Gerald! Kalau ngomong menyakitkan walaupun nadanya standar.’’ Kata Farel.
‘’Kamu bodoh gak punya otak.’’ Kaya
Gerald setelah itu pergio.
__ADS_1
‘’Tuh kan mimik wajah
dan nada kalian sama. Ya Tuhan.’’