
boleh follow author gak? biar rajin update hehe...
****
Untuk seukuran kekayaan Allexe, bisa saja ia memesan restoran mahal dan memiliki pengawal pribadi serta seperti CEO pada umumnnya. Memanjakan istri dengan limpahan uang bertanda kasih sayang dan cinta, tapi semenjak bersama Suri Allexe seperti pria biasa tidak membawa pengawal, tidak menggunakan supir pribadi dan tidak juga menyewa tempat istimewa. Yah, seperti rakyat biasa dan tidak ada yang mengenali dirinya disini karena ia memakai topi dan lebih banyak tertunduk.
Mereka tidak terlalu mengenal Allexe tapi mereka kenal Lonas, top model terkenal dengan identitas yang di sembunyikan.
Suri sedang menulis menu yang ia inginkan di meja. Tempat duduknya lesehan di bawah pohon ketapang dan di beri lampu warna- warni dan di belakang mereka terdapat bibir pantai.
''Al, kamu mau makan apa?'' tanya Suri. Allexe menggeleng,
''Aku tidak makan makanan sampah! Aku pernah makan di tempat seperti ini Sur dan ujung- ujungnya masuk rumah sakit karena sakit perut.'' Kata Allexe sambil menggedikan bahunya.
''Sssttt... Apa sih Al, ini bukan sampah. Jangan berbicara terlalu keras nanti mereka dengar dan memukulimu gimana?'' kata Suri sedikit kesal.
''Hehe maaf sayang, aku pesan air mineral aja.'' kata Allexe.
''Yakin gak mau makan?'' tanya Suri dan Allexe mengangguk yakin.
''Oke, aku akan memesan makanan untukku dan anak- anakku aja.''
-Sate ayam
-Empek-empek
-Pisang gapit
-Jus mangga
-Ikan bakar
-Air Mineral
Suri menghitung jumlah pesanannya setelah cukup ia memanggil penjual terdekat dan memberikan menu pilihannya. Sang penjual engulang pesanan Suri lalu ia mengangguk.
''Yakin habis? Katanya Cuma sate aja.'' kata Allexe. Suri tertawa malu sambil mengusap perutnya
__ADS_1
''Gak tau nih mungkin kemauan Twinney.'' Jawab Suri.
''Twinney?'' ulang Alllexe.
''Hm, lucu aja kalau mereka berempat di panggil Twinney ckck.'' Jawab Suri sambil memegang perutnya.
''Hm... biar gak repot ketika memanggilnya sekaligus ya.'' Tebak Allexe dan Suri mengangguk.
''Beenr.'' Jawab Suri
**
Farrel duduk di ruang tengah ia menyeruput kopinya sambil menatap layar laptop. Di dalam laptop tersebut ada chat dirinya dengan Jill, tangan kanan Mark. Farrel meminta informasi tentang Mark dengan bayaran yang sepadan.
Informasi berupa keinginan Mark terhadap Allexe. Motif Mark untuk menghancurkan Allexe itu apa. Derap langkah terdengar dari belakang Farrel, lelaki itu langsung mengganti layar chat menjadi foto- foto wanita cantik.
''Wah gadis Kalimantan rupanya cantik- cantik ya,'' puji Farrel sambil meletakan cangkir kopi di meja. Gerald memukul kepala Farrel dengan gulungan kertas di tangannya lalu duduk di sofa sebelah Farrel.
''Jangan tutupi, aku sudah tau. Jadi bagaimana? Apa Jill tidak mengkhianati kita?'' tanya Gerald sambil mengambil kopi milik Farrel dan menyeruputnya.
''Aku dan kamu sudah melakukannya sesuai kemampuan, sekarang tinggal Allexe yang kerjakan. Jadi gini, Aku sudah mengamankan setengah aset milik dia di Kalimantan ini, membuat kepindahan kita semua disini juga dan termasuk Suri.'' Kata Farrel. '' Setengah hartanya lagi aku biarkan untuk di hancurkan Mark bersama Lonas. Lonas sekarang senjata Mark untuk memeras Allexe kan... ''
''Kamu gila? Setengah hartanya bisa buat pulau Asia ini menjadi miliknya.'' Kata Gerald tak terima.
''Harta di antara lain yang terlibat utang piutang dan bermasalah. Jika Mark mengambil alih milik Allexe yang bermasalah sepupuku itu kan jadi aman dan namanya bersih dari utang piutang. Bener gak?'' kata Farrel.
''Tapi kan tetap aja Allexe akan masuk penjara nantinya.''
''Gak bakalan, kita akan tarik dia. Salah satu diantara kita nanti akan pura- pura jadi pengkhianat untuk berkomplot dengan Mark. Aku akan pura- pura mengkhianati Allexe untuk masuk bersama Jill dan membereskannya dari dalam.
''What? Kalau kau dibunuh sama Allexe aku akan membantumu, tenang saja.kamu kan khianatin dia nanti'' Jawab Gerald tenang, ia mengembalikan cangkir kopi di tempatnya.
''Kan Cuma pura- pura. Emang Bantu apa itu?'' tanya Farrel tak enak.
''Membantumu menyiapkan pemakaman, peti mati, pakaian indah dan juga acara yang megah.'' Jawab Gerald.
''*** kau Gerald.'' Pekik Farrel kesal. Gerald sontak tertawa terbahak- bahak.
__ADS_1
''Pelankan suaramu, nanti yang lain bangun.'' Kata Gerald. Fareel celingak celinguk memastikan gak ada yang bangun karena suaranya tadi.
''Habisnya kamu kek *** betulan. Sudah pergi sana...'' usir Farrel.
''Aku kan pernah bilang kemarin, aku menyukaimu... aku ingin menemanimu malam ini.'' Gerald mulai menjahili farrel.
''Astaga!'' pekik Farrel sambil menghindar ketika Gerald mendekatinya.
Tib- tiba saja pintu salah satu kamar terbuka dan keluarlah sosok pria kecil bernama Tian, lelaki itu melihat Gerald dan Farrel di sofa tengah.
''Cu cu cu.'' Tian melihat tangannya di dada dan mendekati mereka. Gayanya seperti pria dewasa saja walaupun di balut dengan baju tidur bewarna cokelat bergaris putih hitam.
''Eh Tian, kok belum tidur?'' tanya Farrel. Gerald terdiam ia menjauh dari farrel dan melihat Tian.
''Tian dengar suara dari luar, menganggu Tian menonton cartoon, sudah gede tapi masih suka main.'' Tian melangkah pergi masuk ke kamarnya lagi. Farrel geregetan ia memandang Gerald kesal
''Kamu! Oh Tuhan aku tidak tahan dengan anak seperti itu.'' Kata Farrel padahal dia sudah mencoba bersahabat dengan dengn Tian.
''Kau lukai dia maka aku akan membunuhmu duluan.'' Jawab Gerald.
''Anakmu? Wajah, gestur, mimik dan sifat kalian sama. Jangan bohongi aku! Allexe pun tau itu.'' Kata Farrel.
''Aku tidak tau! Aku tidak ingat juga kejadian itu, tapi aku tidak menolak jika Tian adalah anakku juga.'' Jawab Gerald pelan.
''Masalah kalian ini rumit sekali.'' Kata Farrel.
''Daripada kamu, diam- diam naksir Devina.'' Timpal Gerald sambil menahan senyum. Farrel yang sedang menyeruput kopinya langsung tersedak dan memukul Gerald. Gerald tertawa lagi tapi kali ini pelan.
''Sembarangan nah! Gak ada yang mau sama wanita bar- bar itu.'' Farrel mengelap mulutnya di kaos Gerald.
''Kurang ajar nah, kaosku basah mulutmu. Bersihkan pakai tanah ini.'' Kata Gerald.
''Kamu kita aku apa? Anjing? Setres gak lama aku sama kamu ini.''
''Iya kalau merasa aja.''
''***.'' Kata Farrel.
__ADS_1