Pengantin Simpanan

Pengantin Simpanan
Episode 36


__ADS_3

Lonas mendekati pintu dan membukanya, Farell dan anak


buahnya sudah menunggunya disana.


‘’Nyonya sudah kemana saja? Tuan Allexe sangat


khawatir. Mari saya bawa anda kembali ke rumah.’’ Kata Farell sopan Lonas


langsung menggeleng ia menjauhi Farell dan mengambil vas bunga.


‘’Ini bukan drama local Nyonya, letakan vas itu dan


ikuti saya kembali ke New York.’’ Farell maju langkah demi langkah ketukan


sepatunya bahkan terdengar di ruangan ini.


‘’Katakan pada Allexe aku tidak ingin kembali, kalau


mau suruh saja dia sendiri yang datang.’’ Kata Lonas.


‘’Sayangnya Tuan Allexe tidak bisa meninggalkan


pekerjaannya.’’ Jawab Farell


“Pekerjaan apa? Memperhatikan wanita kampungan itu?’


heh.’’ Lonas berdecih ia siap melemparkan vas bening itu ke kepala Farell


‘’Saya tidak tau, jangan seperti ini.’’ Farell dengan


sigap menangkap Lonas namun ia menghindar dengan cepat dan langsung melemparkan


vas itu ke kepalanya. Farell merasa limbung ke belakang namun dengan sigap anak


buah di belakangnya masuk dan memegang Lonas. Farell memegang kepalanya dan


kucuran darah mengalir dengan deras.


‘’Wah.’’ Kata Farell lalu ia tersenyum seolah tidak


terjadi apa- apa.


‘’Bawa dia langsung ke bandara! Ikat kaki dan


tangannya begitu sampai di mobil. Siapkan peti untuknya agar aman di bagasi


pesawat.’’ Kata Farell setelah itu keluar sambil mengaduh kesakitan.


‘’Farell! Sialan! Aku tau Allexe tidak menyuruhmu


seperti itukan! Akan kuadukanmu ke polisi!, lepasin aku.’’ Teriak Lonas bahkan


suaranya tidak anggun.


**


Allexe, lelaki itu hanya berdehem sambil menempelkan


gawainya di telinga. Farell menemukan Lonas dan sedang dalam perjalanan ke New


York.


‘’makasih sudah membawanya, Kamu dan Shinta bagaimana?


Kusarankan Shinta kembali ke Indonesia dan kamu disini. Suri sangat membutuhkan


wanitamu untuk menjadi teman ceritanya dan juga belanja.’’ Kata Allexe.


‘’….’’


‘’Hm, anak gadisnya orang jangan kau rusak. Aku tutup


telfonnya sekarang.’’ Tak lama Allexe menutup telponnya dan Gerald kebetulan


baru datang.


‘’Nelp siapa?’’ tanya Gerald yang baru datang dan


memberikan Allexe jadwal kunjungan ke salah satu daerah di Indonesia.


‘’Apa ini?’’ tanya Allexe sambil membuka map itu dan


membacanya.


‘’Kau ingat? Lima tahun yang lalu kamu membangun usaha


disana, waktunya peninjauan kembali dan melihat karyawan disana.’’ Jawab


Gerald. Allexe menghembuskan nafasnya pelan, ia menutup map itu dan bersandar


di kursi.

__ADS_1


‘’Tempat tinggalnya Suri, pertama kali aku bertemu


dengannya disana Bersama ibunya.’’ Kata Allexe sambil mengingat llima tahun


silam.


‘’Terus? Jangan meratap Lex, Suri tanggung jawabmu


apalagi memiliki anak. Focus ke masa depan.’’ Kata Gerald menasihati. Allexe menutup


matanya mengusap wajahnya pelan.


‘’Hm, kapan kesana?’’ tanya Allexe.


‘’Besok.’’ Jawab Gerald dan Allexe mengangguk setuju.


‘’Jadi bagaimana? Masalahmu dengan Lonas dan Mark?’’


tanya Gerald. ‘’Kenapa gak terima usulan si Farell sih.’’


‘’Kamu gila? kalau ketahuan Farell bisa tertembak mati


sendirian disana. diantara keluarga yang paling deket cuma dia.’’ Kata Allexe.


‘’Kalau aku gimana?’’ goda Gerald. Allexe menegakan


badannya membuka laci di sisi kanan dan mengeluarkan handgun ia mengkokangnya


guna memperdengar suara.


‘’Bisa kupinjam kepalamu untuk merasakan suara handgun


baruku ini?’’ ucap Allexe manis membuat Gerald meringis sekaligus tertawa


takut.


‘’Jangan membuatku mati muda.’’


Allexe tersenyum ia kemudian meletakan kembali benda


itu ke tempat semula.


‘’Kamu sudah makan siang? Kalua belum kita cari


restoran dan makan.’’ Kata Allexe. Gerald menggeleng bertanda belum makan ia


mengecek hpnya mencari restoran terdekat dengan kantornya


mempersilahkan Allexe berjalan duluan lalu dirinya.


**


Dua hari kemudian…


Farell kembali dengan Lonas yang berada di dalam peti


bewarna putih. Allexe yang sudah menunggu Nampak sedikit syok dengan peti


tersebut dirumah.


‘’Apa dia mati?’’ tanya Allexe setengah khawatir.


‘’Menurutmu aja, kamu gak liat ini.’’ Farell menunjuk


kepalanya yang di perban. Allexe menutup mulutnya seolah kaget.


‘’Aduh, maaf. Kalau gitu buka peti itu dan keluarkan


Lonas.’’ Kata allexe. Anak buahnya dengan sigap membuka peti itu dan


terlihatlah Lonas yang sedang meronta dan melihat Allexe pedih. Seolah- olah ia


diperlakukan buruk oleh anak buahnya terutama Farell.


Allexe membungkuk membuka ikatan Lonas dan membantu


mengeluarkan wanita itu dari peti.


‘’Apa ini caramu Lex? Memperlakukan isrinya seperti


pencuri?’’ tanya Lonas dengan nada kesal.


‘’Hm, maaf. Sebagai permintaan maaf aku akan


mengajakmu malam.’’ Kata Allexe namun Lonas menggeleng ia berubah manis di


depan suaminya.


‘’Tidak mau, aku ingin tinggal bersmaamu di negara


lain sampai Suri melahirkan dan menjadi anak kita. Aku tidak mau orang tuamu

__ADS_1


tau kalau aku ini waria.’’ Lonas berkata dengan nada serius.


‘’Gak guna! Kalau gak mau makan yaudah! Aku bisa ajak


mereka berdua.’’ Jawab Allexe santai ia kemudian melihat keduanya dan memberi


instruksi.


‘’Al, Apa yang salah denganmu? Kenapa kamu jadi orang


yang peduli?’’ ujar Lonas.


‘’Kenapa emangnya? Salah? Hari ini kita kedatangan


tamu! Bersiap- siaplah.’’ Allexe kemudian berbalik arah dan pergi ke kamarnya.


Farell dan Gerald saling menengok dan mengikuti langkah bos besarnya itu.


**


Lonas di perlakukan seperti biasa, mandi di bak mandi


dan berdiri beberapa pelayan untuk membantunya mengambil handuk, membawakan


makanan kecil dan juga minuman. Walaupun makan malam hari ini di rumah Lonas


harus tampil maksimal cantic luar biasa.


‘’Tolong kalian semua keluar dan panggilkan suamiku.


Semua pelayan itu kemudian keluar dan tak lama Allexe masuk Lonas berdiri dari


bak mandi dan tersenyum menggoda.


‘’Jangan merayuku! Aku akan menceraikanmu.’’ Kata


Allexe jujur. Lonas terdiam seketika dan menggeleng tidak mungkin.


‘’Sudah dua kali kamu berkata seperti ini All, kenapa?


Karena kamu sudah mencintai Suri kan, ngaku Al ngaku.’’ Kata Lonas tak lama ia


berteriak mendekati dan mencengkram kerah baju laki- laki di hadapannya.


‘’Iya, kenapa?’’ Allexe mengempaskan tangan Lonas


dengan kasar.


‘’Kamu berselingkuh! Kamu tidak bisa memberikanku


anak. Kita salah… gak ada yang perlu di pertahankan.’’ Kata Allexe ia berfikir


sudah waktunya berhenti.


‘’Gak bisa begini Al.’’ Tolak Lonas ia tidak terima.


‘’Bisa kalau aku yang mau.’’ Jawab Allexe datar.


Allexe membalik badan dan hendak keluar namun Lonas memeluknya dari belakang


dan menangis.


‘’Jangan, aku tidak bisa hidup tanpamu.’’


‘’Tanpaku atau hartaku?’’ Allexe melepaskan tangan


Lonas di perutnya. ‘’akan jujamin hidupmu agar tidak sengsara, asalkan tutup


mulutmu dan jaga rahasia yang kusimpan selama lima tahun.’’ Pinta Allexe.


‘’Keduanya, beri satu alasan untukku agar aku bisa


pergi meninggalkanmu.’’ Kata Lonas pelan ia mundur selangkah.


‘’Kamu laki- laki yang merubah kodratmu demi harta,


tahta dan kekayaan. Kusarankan dirimu menikah dengan Mark.’’ Jawab Allexe


setelah itu keluar dari kamar mandi. Sepeninggalam Allexe Lonas menangis ia


melihat dirinya di kaca.


‘’Kenapa tuhan menciptakan aku sebagai laki- laki.


Hiks.’’


Pada akhirnya Allexe menyadari bahwa untuk melabuhkan


hatinya harus di tempat yang tepat bukan hanya terbuai dengan kemolekan tubuh


saja.

__ADS_1


__ADS_2