
Lonas mendekati pintu dan membukanya, Farell dan anak
buahnya sudah menunggunya disana.
‘’Nyonya sudah kemana saja? Tuan Allexe sangat
khawatir. Mari saya bawa anda kembali ke rumah.’’ Kata Farell sopan Lonas
langsung menggeleng ia menjauhi Farell dan mengambil vas bunga.
‘’Ini bukan drama local Nyonya, letakan vas itu dan
ikuti saya kembali ke New York.’’ Farell maju langkah demi langkah ketukan
sepatunya bahkan terdengar di ruangan ini.
‘’Katakan pada Allexe aku tidak ingin kembali, kalau
mau suruh saja dia sendiri yang datang.’’ Kata Lonas.
‘’Sayangnya Tuan Allexe tidak bisa meninggalkan
pekerjaannya.’’ Jawab Farell
“Pekerjaan apa? Memperhatikan wanita kampungan itu?’
heh.’’ Lonas berdecih ia siap melemparkan vas bening itu ke kepala Farell
‘’Saya tidak tau, jangan seperti ini.’’ Farell dengan
sigap menangkap Lonas namun ia menghindar dengan cepat dan langsung melemparkan
vas itu ke kepalanya. Farell merasa limbung ke belakang namun dengan sigap anak
buah di belakangnya masuk dan memegang Lonas. Farell memegang kepalanya dan
kucuran darah mengalir dengan deras.
‘’Wah.’’ Kata Farell lalu ia tersenyum seolah tidak
terjadi apa- apa.
‘’Bawa dia langsung ke bandara! Ikat kaki dan
tangannya begitu sampai di mobil. Siapkan peti untuknya agar aman di bagasi
pesawat.’’ Kata Farell setelah itu keluar sambil mengaduh kesakitan.
‘’Farell! Sialan! Aku tau Allexe tidak menyuruhmu
seperti itukan! Akan kuadukanmu ke polisi!, lepasin aku.’’ Teriak Lonas bahkan
suaranya tidak anggun.
**
Allexe, lelaki itu hanya berdehem sambil menempelkan
gawainya di telinga. Farell menemukan Lonas dan sedang dalam perjalanan ke New
York.
‘’makasih sudah membawanya, Kamu dan Shinta bagaimana?
Kusarankan Shinta kembali ke Indonesia dan kamu disini. Suri sangat membutuhkan
wanitamu untuk menjadi teman ceritanya dan juga belanja.’’ Kata Allexe.
‘’….’’
‘’Hm, anak gadisnya orang jangan kau rusak. Aku tutup
telfonnya sekarang.’’ Tak lama Allexe menutup telponnya dan Gerald kebetulan
baru datang.
‘’Nelp siapa?’’ tanya Gerald yang baru datang dan
memberikan Allexe jadwal kunjungan ke salah satu daerah di Indonesia.
‘’Apa ini?’’ tanya Allexe sambil membuka map itu dan
membacanya.
‘’Kau ingat? Lima tahun yang lalu kamu membangun usaha
disana, waktunya peninjauan kembali dan melihat karyawan disana.’’ Jawab
Gerald. Allexe menghembuskan nafasnya pelan, ia menutup map itu dan bersandar
di kursi.
__ADS_1
‘’Tempat tinggalnya Suri, pertama kali aku bertemu
dengannya disana Bersama ibunya.’’ Kata Allexe sambil mengingat llima tahun
silam.
‘’Terus? Jangan meratap Lex, Suri tanggung jawabmu
apalagi memiliki anak. Focus ke masa depan.’’ Kata Gerald menasihati. Allexe menutup
matanya mengusap wajahnya pelan.
‘’Hm, kapan kesana?’’ tanya Allexe.
‘’Besok.’’ Jawab Gerald dan Allexe mengangguk setuju.
‘’Jadi bagaimana? Masalahmu dengan Lonas dan Mark?’’
tanya Gerald. ‘’Kenapa gak terima usulan si Farell sih.’’
‘’Kamu gila? kalau ketahuan Farell bisa tertembak mati
sendirian disana. diantara keluarga yang paling deket cuma dia.’’ Kata Allexe.
‘’Kalau aku gimana?’’ goda Gerald. Allexe menegakan
badannya membuka laci di sisi kanan dan mengeluarkan handgun ia mengkokangnya
guna memperdengar suara.
‘’Bisa kupinjam kepalamu untuk merasakan suara handgun
baruku ini?’’ ucap Allexe manis membuat Gerald meringis sekaligus tertawa
takut.
‘’Jangan membuatku mati muda.’’
Allexe tersenyum ia kemudian meletakan kembali benda
itu ke tempat semula.
‘’Kamu sudah makan siang? Kalua belum kita cari
restoran dan makan.’’ Kata Allexe. Gerald menggeleng bertanda belum makan ia
mengecek hpnya mencari restoran terdekat dengan kantornya
mempersilahkan Allexe berjalan duluan lalu dirinya.
**
Dua hari kemudian…
Farell kembali dengan Lonas yang berada di dalam peti
bewarna putih. Allexe yang sudah menunggu Nampak sedikit syok dengan peti
tersebut dirumah.
‘’Apa dia mati?’’ tanya Allexe setengah khawatir.
‘’Menurutmu aja, kamu gak liat ini.’’ Farell menunjuk
kepalanya yang di perban. Allexe menutup mulutnya seolah kaget.
‘’Aduh, maaf. Kalau gitu buka peti itu dan keluarkan
Lonas.’’ Kata allexe. Anak buahnya dengan sigap membuka peti itu dan
terlihatlah Lonas yang sedang meronta dan melihat Allexe pedih. Seolah- olah ia
diperlakukan buruk oleh anak buahnya terutama Farell.
Allexe membungkuk membuka ikatan Lonas dan membantu
mengeluarkan wanita itu dari peti.
‘’Apa ini caramu Lex? Memperlakukan isrinya seperti
pencuri?’’ tanya Lonas dengan nada kesal.
‘’Hm, maaf. Sebagai permintaan maaf aku akan
mengajakmu malam.’’ Kata Allexe namun Lonas menggeleng ia berubah manis di
depan suaminya.
‘’Tidak mau, aku ingin tinggal bersmaamu di negara
lain sampai Suri melahirkan dan menjadi anak kita. Aku tidak mau orang tuamu
__ADS_1
tau kalau aku ini waria.’’ Lonas berkata dengan nada serius.
‘’Gak guna! Kalau gak mau makan yaudah! Aku bisa ajak
mereka berdua.’’ Jawab Allexe santai ia kemudian melihat keduanya dan memberi
instruksi.
‘’Al, Apa yang salah denganmu? Kenapa kamu jadi orang
yang peduli?’’ ujar Lonas.
‘’Kenapa emangnya? Salah? Hari ini kita kedatangan
tamu! Bersiap- siaplah.’’ Allexe kemudian berbalik arah dan pergi ke kamarnya.
Farell dan Gerald saling menengok dan mengikuti langkah bos besarnya itu.
**
Lonas di perlakukan seperti biasa, mandi di bak mandi
dan berdiri beberapa pelayan untuk membantunya mengambil handuk, membawakan
makanan kecil dan juga minuman. Walaupun makan malam hari ini di rumah Lonas
harus tampil maksimal cantic luar biasa.
‘’Tolong kalian semua keluar dan panggilkan suamiku.
Semua pelayan itu kemudian keluar dan tak lama Allexe masuk Lonas berdiri dari
bak mandi dan tersenyum menggoda.
‘’Jangan merayuku! Aku akan menceraikanmu.’’ Kata
Allexe jujur. Lonas terdiam seketika dan menggeleng tidak mungkin.
‘’Sudah dua kali kamu berkata seperti ini All, kenapa?
Karena kamu sudah mencintai Suri kan, ngaku Al ngaku.’’ Kata Lonas tak lama ia
berteriak mendekati dan mencengkram kerah baju laki- laki di hadapannya.
‘’Iya, kenapa?’’ Allexe mengempaskan tangan Lonas
dengan kasar.
‘’Kamu berselingkuh! Kamu tidak bisa memberikanku
anak. Kita salah… gak ada yang perlu di pertahankan.’’ Kata Allexe ia berfikir
sudah waktunya berhenti.
‘’Gak bisa begini Al.’’ Tolak Lonas ia tidak terima.
‘’Bisa kalau aku yang mau.’’ Jawab Allexe datar.
Allexe membalik badan dan hendak keluar namun Lonas memeluknya dari belakang
dan menangis.
‘’Jangan, aku tidak bisa hidup tanpamu.’’
‘’Tanpaku atau hartaku?’’ Allexe melepaskan tangan
Lonas di perutnya. ‘’akan jujamin hidupmu agar tidak sengsara, asalkan tutup
mulutmu dan jaga rahasia yang kusimpan selama lima tahun.’’ Pinta Allexe.
‘’Keduanya, beri satu alasan untukku agar aku bisa
pergi meninggalkanmu.’’ Kata Lonas pelan ia mundur selangkah.
‘’Kamu laki- laki yang merubah kodratmu demi harta,
tahta dan kekayaan. Kusarankan dirimu menikah dengan Mark.’’ Jawab Allexe
setelah itu keluar dari kamar mandi. Sepeninggalam Allexe Lonas menangis ia
melihat dirinya di kaca.
‘’Kenapa tuhan menciptakan aku sebagai laki- laki.
Hiks.’’
Pada akhirnya Allexe menyadari bahwa untuk melabuhkan
hatinya harus di tempat yang tepat bukan hanya terbuai dengan kemolekan tubuh
saja.
__ADS_1