
keesokan harinya dia benar datang satu jam lebih cepat.
aku mondar-mandir didalam kamarku, bingung sikap apa yang harus ku tunjukkan padanya bukan cuma itu aku juga merasa malu untuk menemuinya setelah dia mencium ku dihadapan sahabatku semalam.
"vaniaaa kenapa lama sekali? kasian tuh nak zafran sudah lama menunggu" ibu berteriak
"iyaa sebentar lagi bu"
aku menarik nafas panjang dan menghampiri zafran
"maaf membuat mu menunggu"
dia memakaikan ku helm yang membuat mata kita saling menatap dengan jarak yang sangat dekat dan aku tersadar kalau dia membelikan ku helm yang sama dengannya hanya beda warna saja
"apa ini?" aku menganggukkan wajah dan menaikkan satu alisku padanya
"masa kau tidak tahu, ini helm" dia mengejekku
"iyaa aku tahu ini helm, maksudku kenapa kau membelikan ku helm yang sama denganmu?"
"terserah aku dong, sudah ayo naik"
ternyata benar dia mengajakku makan bubur ayam.
"eh, nak zafran" bibi penjual bubur itu menyapa zafran sepertinya mereka sudah akrab
"dua ya bi, bubur spesial untuk orang spesial" dia melirikku dengan senyum jahilnya "ini tempat makan bubur favorit ku"
"ohh, ngomong-ngomong sudah berapa gadis yang kau ajak makan disini?" entah kenapa aku bertanya begitu padanya
dia mengeraskan suaranya "bi, dia bertanya sudah berapa gadis yang pernah ku bawa makan disini"
"eh apa-apaan sih" aku mencubitnya
bibi membawakan kami bubur "jangan khawatir nak zafran biasanya sendiri kesini, kau gadis pertama yang pernah bibi liat bersama nak zafran"
"hehe iya bi, makasih" aku mengambil buburnya
"kenapa bertanya sepertu itu?" zafran menatapku dengan menaikkan satu alisnya
"tidak tahu" aku hanya fokus mengaduk buburku
dia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya "vaniaa vaniaa"
setelah kami selesai makan, zafran pamit pada bibi dan aku mengikuti apa yang zafran lakukan
__ADS_1
***
setelah kami sampai aku sengaja berjalan cepat agar tidak ada yang mengira aku kesini dengannya, kami sudah terlambat karena di perjalanan kami terkena macet karena ada kecelakaan.
"dari mana? tumben terlambat" seniorku sudah ada diruang latihan untuk memulai kelas streching
"terjebak macet kak, maaf"
"yasudah, cepat ganti baju latihanmu"
tidak lama kemudian zafran datang dan seniorku menanyakan hal yang sama pada zafran dengan yang dia tanyakan padaku dan jawaban zafran pun sama denganku yaitu terjebak macet.
"wah, tadi vania juga terlambat dan alasannya sama denganmu jangan-jangan kalian perginya bareng" senior perempuanku berkata dengan agak sinis karena rumor yang ku dengar dia menyukai zafran, usia kami juga cuma beda dua tahun.
"ayo cepat ganti bajumu" senior yang akrab denganku menyuruh zafran
"benar kau kesini dengan zafran?" Lana menyenggol ku
"tidak"
***
"kantin yuk, aku tadi tidak sempat sarapan pagi karena takut telat" yuni
"kalian duluan saja yah, aku akan ke toilet dulu, nanti aku menyusul" aku memang merasa sedang sakit perut
"ah, tidak perlu! kalian duluan saja"
"yasudah, jangan lama-lama"
setelah aku keluar dari toilet, aku terkejut karena zafran ada didepan toilet.
"kau sedang apa disini?"
"aku tadi tidak melihatmu bersama temanmu, jadi aku mencarimu"
"ada apa? kenapa mencariku?"
"aku ceritakan sambil jalan ke kantin" zafran memegang tanganku
aku menghentakkan tangannya " eh, aku akan kekantin sendiri saja" aku berfikir kalau ke kantin dengannya dan nadin melihat kita entah apa yang akan dia fikirkan
"tapi itukan kantin umum, bebas untuk siapa saja" zafran kembali memegang tanganku dan menarikku untuk berjalan
"kawanku masuk rumah sakit, kalau pulang kau temani aku menjenguknya yah"
__ADS_1
"hah? siapa?"
"kawanku, sekalian ku kenalkan. yah?"
"tapi ada dua syarat"
"kenapa pake syarat sih" dia menghentikan jalannya
"yasudah kalau tidak mau" aku meninggalkannya
"ehh,iyaa tunggu! apa syaratnya?" dia mengejar ku dan kembali memegang tanganku
"yang pertama lepaskan dulu tanganku, kenapa kau suka memegang tanganku sih"
"iyaa iyaa" dia melepaskan pegangannya
"bagus, yang kedua kau harus berjalan jauh dibelakang ku! jangan mengikuti ku, paham?!"
"lohh, memang ada apa sih?"
"lakukan saja, inikan mudah" aku sengaja memberi syarat seperti itu agar tidak ketahuan kalau aku ke kantin dengannya apa lagi dikantin sudah ada nadin, bisa gawat kalau dia melihatku
akhirnya zafran berhenti berjalan dan membiarkan ku jalan lebih dulu didepannya. saat aku sampai dikantin aku heran melihat lana dan nadin memeluk hera, mereka tampak sedih
"eh, kalian kenapa?"
hera berdiri dan memelukku, aku melepaskan pelukannya dan membuatnya duduk kembali.
"ada apa hera? ayo cerita"
"aku akan pindah van, ibu dan ayahku akan bercerai karena ayahku selingkuh" perkataan hera membuat tangisnya pecah
aku terkejut mendengarnya, tidak tahu apa yang akan ku lakukan untuk bisa menenangkannya
"tenangkan dirimu" aku hanya bisa memeluknya, hingga dia sudah cukup tenang.
"aku akan pindah, setelah sidang besok aku akan ikut bersama ibuku ke bandung. ini hari terakhir ku disini, kalian jangan melupakanku yah"
"apa yang kau katakan, kau tidak perlu khawatir sekarangkan jaman yang modern. kita bisa telfonan bahkan video call, manfaatkan teknologi"dika mengelus rambut hera
"iyaa, kau jangan khawatir!" sambung yuni
yuni,lana,dan nadin mendekat dan juga ikut memeluk hera.
"kau baik-baik disana yah, kudengar cowok-cowok bandung itu manis-manis kau pasti akan betah disana" Lana meledek hera
__ADS_1
*bersambung*