pengorbanan rasa

pengorbanan rasa
telah tiada


__ADS_3

"nadin vaniaaa!!!"


*hanya dengan mendengar nama nadin terucap hatiku langsung bertelusur pada kata-kata dan permintaannya padaku*


"nadin telah tiada" akhirnya dengan lantang dika memberi tahuku informasi itu dan mendengar itu lutut ku menjadi gemetar dan tubuhku terasa tak memiliki tulang sehingga membuat ku langsung duduk


"van!vaniaaa!" zafran menopang ku


"dia menghembuskan nafas terakhirnya subuh tadi sekitar jam 4 vania" Lana menegaskan


"kalian tahu darimana berita ini?" zafran


"kerabat nadin yang menelfon ketua jurusan tadi"yuni


tubuhku semakin lemas, penglihatan ku pelan-pelan menjadi gelap! aku hanya merasakan zafran menggendong ku dan saat tersadar aku sudah berbaring di uks sekolah


"nadin!!!!" aku terhentak dan seketika hanya nadin yang ada di pikiran ku saat itu

__ADS_1


"vania, kamu tidak apa-apa? kita kembali ke rumah sakit yah?" zafran terlihat begitu cemas


"tidak, tidak perlu! kita kerumah nadin sekarang!"


"tapi jasad nadin sebentar lagi akan di bawa ke kampung halamannya untuk di makam kan di sana" Lana


"sekarang nadin ada dimana?"


"di rumah kerabatnya karena rumahnya telah di jual" yuni


"kamu bicara apa vania? apa maksudmu?" zafran


Lana pun memelukku, di ikuti oleh yuni yang juga memelukku! Di pelukannya Lana berbisik "jangan vania! ini bukan saatnya kamu mengatakan semuanya" aku mengerti apa maksud Lana waktu itu tapi fikiranku benar-benar kacau! sahabatku, dia telah tiada! sahabatku, sahabatku yang telah memohon kebahagiaan padaku tapi sebagai seorang sahabat aku tidak bisa memberikan kebahagiaan itu di saat-saat terakhirnya! aku sahabat yang egois! perasaan bersalah terus menggerogoti diriku, rasa kehilangan juga sangat membuatku terpukul.


"kita ke nadin sekarang!" refleks aku menarik-narik jaket yang di kenakan zafran


"iyaa van, iya! tapi kamu tenangkan dirimu dulu yah, minum" zafran menyodorkan kan ku air

__ADS_1


***


diperjalanan menuju tempat nadin aku hanya terdiam dengan air mata yang tak berhenti mengalir dari mataku! kenanganku bersama nadin terus saja muncul di ingatan ku bersama dengan saat pertama kali dia mendatangi ku dengan kondisi yang sangat menyedihkan, ditambah dengan rasa bersalah yang terus saja menghantui ku! kata-katanya yang mengatakan kalau dia ingin zafran di sisa umurnya sangat membuat ku tertekan! kalian bisa membayangkan kondisi dan perasaan ku saat itu? aku benar-benar berantakan!


"vania, kamu jangan menangis terus! kamu juga baru pulih, jangan terlalu tertekan! ini semua hanya masalah waktu, cepat atau lambat kita semua akan berada di posisi nadin saat ini. kita mungkin sayang pada nadin tapi allah swt lebih sayang padanya dan nadin orang yang sangat baik itulah sebabnya nadin pergi lebih cepat agar dia tidak melakukan dosa lagi di dunia ini" zafran mencoba menenangkan ku tapi aku hanya diam "vaniaa?" zafran mengelus lututku


"Diam! tidak usah bicara terus, aku tidak ingin bicara"


"Maaf, aku hanya tidak bisa melihat mu seperti ini"


*aku bahkan bisa merasakan jarak dengan zafran waktu itu, kami mungkin berboncengan tapi terasa sangat berjarak apa lagi dengan situasi hatiku saat itu! aku selalu saja bersikap atau mengeluarkan perkataan yang akan menyakiti hati zafran padahal dia tidak tahu apa-apa bahkan dia tidak melakukan kesalahan apapun tapi sikap ku selalu saja membuatnya terlihat seperti seorang penjahat*


bendera putih telah terlihat, tubuhku gemetaran! lututku terasa tidak kuat untuk berjalan masuk kedalam.


zafran menggenggam tanganku yang gemetar dengan tujuan menguatkan ku untuk bisa melangkahkan kaki ku melihat tubuh sahabatku yang sudah tidak bernyawa.


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2