
"hai" aku merasa sangat canggung
"van!" zafran bangun dari tidurnya dan duduk sambil menganggukkan kepalanya mengarah ke kursi dekat tempat tidurnya memberi isyarat agar aku duduk disana
aku mengangguk dan jalan menuju kursi itu
"aku kira kamu tidak akan datang melihat ku"
sumpah! untuk pertama kalinya malam itu aku merasa canggung saat bersama pria, dan aku hanya tersenyum saat zafran mengatakan itu.
"kata yuni kamu tidak mau menjenguk ku, katanya kamu masih marah dan kecewa sama aku"
"ah? yuni bilang begitu?" ya ampun! sahabatku yang satu itu memang sangat polos
"iya, benarkan? aku kira kamu sudah memaafkan ku"
"eh, yuni salah paham kali! tadi waktu mereka mau kesini aku tidak ikut karena ada acara keluarga dulu tadi sore hehe" pandainya aku berbohong
"hm" memberi wajah yang datar
eh apa itu? kenapa dia hanya menjawab seperti itu, hampir 15 menit ruangan itu senyap tanpa suara. aku jadi merasa kembali canggung sampai akhirnya aku melihat makanan disamping zafran dan ingat dengan ucapan ibunya kalau dia belum makan
"zafran, kenapa kau tidak makan?" aku jalan kesampingnya dan mengambil piring makanannya
"makanannya tidak enak!"
"memangnya kamu sudah coba?"
"sudah tadi, rasanya pahit"
"tidak pahit! kamu kan sakit, lidahmu yang pahit! makan yah"
"aku tidak nafsu makan vania"
"kamu mau sembuh tidak? atau kamu nyaman yah disini?"
"aku mau makan tapi kamu yang suap!"
"eh makan sendirilah!"
"yasudah simpan saja, batal"
"ehh, iyaiyaa aku suapin"
"yess, sini duduk" dia menepuk tempat tidur disampingnya
aku duduk disampingnya, menatap matanya dan itu membuat ku sedih! aku sayang kamu zafran, tapi kita tidak mungkin bisa bersama ucapku dalam hati.
__ADS_1
"kenapa vania? kenapa matamu berkaca-kaca?"
"eh?tidak apa-apa"
zafran mengusap air mata yang hampir menetes di pipi ku "kenapa van?"
"tidak! ayo makan" aku menyuapinya
"kenapa makanan ini jadi manis yah? perasaan tadi pahit"
"apaan sih" aku tersenyum malu
"oh mungkin makanan ini jadi manis karena tertular dari senyum manis mu itu"
"zafran, sudah ah!" aku tidak bisa mengontrol bibirku untuk tidak tersenyum
"ah, rindunya aku dengan senyuman itu"
aku terus menyuapinya hingga makanannya habis, rasanya aku ingin waktu saat itu berhenti. aku ingin terus bersamanya!
"vania" dia menatapku
"iyaa?"
dia tidak mengatakan apapun hanya menatapku dan mengelus rambutku hingga pipi ku setelah itu dia langsung menundukkan kepalanya
"maafkan aku vania, sumpah aku tidak bermaksud waktu itu! entah kenapa aku percaya nadin dan dengan bodohnya aku tidak mencari tahu kebenarannya dan tanpa sengaja aku tidak tahu sudah berapa banyak kelakuanku yang menyakiti hatimu"
"sudahlah zafran, setidaknya dengan kejadian ini aku bisa tahu siapa saja orang-orang yang tulus padaku"
zafran terlihat sangat sedih dan aku bisa melihat penyesalan di matanya. dia hanya diam dan terus menunduk membuat suasananya kembali senyap, bahkan aku bisa mendengar suara nafasku sendiri.
"yasudah, aku pulang yah zaf!"
"tunggu ibu dulu yah, aku mau mengenalkanmu dengannya"
"aku dan ibumu bahkan sudah lumayan akrab tahu"
"hah? maksudmu?"
"iyaa, tadi sebelum masuk aku dan ibumu sudah banyak cerita diluar"
"kapan? kenapa aku tidak tahu?"
"mungkin kamu sibuk melamun menatap jendela tadi"
"kalian cerita apa?"
__ADS_1
"banyak"
"tentang?"
"tentangmu haha"
"apa yang ibu bilang?"
"katanya kamu bilang vania itu pacarmu"
"ah?" zafran tertawa cukup keras dan bertingkah aneh
"zafran! jangan banyak goyang, lihat infusanmu berdarah!" aku melancarkan cairannya agar darahnya masuk kembali dan saat melakukan itu ibu zafran sudah kembali
"eh kenapa itu?"
"ah ibu! ini, infusan zafran berdarah. dia banyak tingkah"
"dasar bocah ini! ibu sudah membeli vitamin yang dokter bilang tadi, kau minum! tapi kau makan dulu" ibunya ingin mengambil piring makanan zafran tapi melihat isi piringnya sudah habis "oalah sudah makan toh? tadi ibu yang paksa makan dia tidak mau, tapi pas pacarnya yang suruh langsung dia habiskan" ibunya zafran mengedipkan matanya padaku
"ibu cerita apa saja padanya" zafran menatap ibunya dan membelakangi ku
"tidak! ibu tidak cerita apa-apa"
"ibu, kalau begitu vania pulang dulu yah" karena melihat zafran yang terus menatap ibunya, mungkin dia malu karena ibunya bilang padaku kalau zafran mengaku pada ibunya kalau aku pacarnya
"ohiya nak!" ibu zafran mencium pipiku dan memelukku yang membuatku begitu bahagia. zafran pun yang melihat ibunya melakukan itu padaku juga terlihat juga bahagia nampak dari raut wajah dengan senyum lebar di bibirnya
"zafran aku pulang yah!"
"besok datang lagi ya nak" ibunya zafran memegang bahuku
"iyaa insyaallah bu"
"maaf, harusnya aku mengantarmu van"
"eh tidak, kamu kan sakit! aku bisa pulang sendiri, nih lihat ojek online ku sudah ada dibawah" aku menunjukkan ponselku pada zafran karena dia terlihat khawatir
"hati-hati kalau begitu, kau jangan dekat-dekat sama drivernya" dia menjentikkan jari ke dahiku
"ih apaan sih zaf! ibu vania pulang yah"
"makasih yah nak!"
"hehe iyaa bu"
*bersambung*
__ADS_1