pengorbanan rasa

pengorbanan rasa
episode 25


__ADS_3

aku merasa sangat bahagia hingga senyumanku tidak pernah lepas dari bibirku.


bahkan jika ada alat yang mampu mengukur kebahagiaan maka menurut ku aku adalah orang yang sangat bahagia didunia! saat itu aku sudah mendapatkan jawaban yang selama ini aku tidak yakin tapi dengan kejadian itu aku menjadi yakin bahwa benar kata lana aku sudah menyayangi zafran dan mungkin saja sudah berada di fase mencintainya, terlepas dengan segala-galanya yang telah menjadi penghalang untuk perasaanku dan perasaan zafran bahkan dari penghalang terbesar ku yaitu sahabatku nadin yang mungkin hanya aku yang menganggapnya sahabat!


saat itu aku sudah merasa tidak perduli akan semuanya! semua penghalang! penghalang dari pihak aku maupun pihak zafran, apalagi aku mendapat dukungan dari ibunya, aku merasa disayang oleh ibunya dan aku juga sudah menyayangi ibunya bahkan mungkin aku menyayangi apapun yang bersangkutan dengan zafran.


aku juga sudah kecewa pada nadin dan mungkin rasa kecewaku itu yang mendorongku untuk harus berjuang demi kebahagiaan ku sendiri tanpa harus memikirkan perasaan atau kebahagiaan orang lain yang bahkan sama sekali tidak memikirkanku!


itu adalah keputusan ku setelah melalui kejadian di rumah sakit.


aku berbagi cerita bahagiaku pada lana setelah sampai dirumah dan benar saja sudah aku perkirakan kalau lana pasti akan sangat turut bahagia untukku, tak hanya lana aku juga berbagi hal yang sama pada yuni dan sahabatku yang polos itu juga ikut bahagia untukku bahkan dia menyuruh ku berjanji untuk memperjuangkan kebahagiaan ku sendiri.


berbeda dengan dika, hanya dia yang menurutku masih khawatir dengan kedekatan ku kembali dengan zafran apalagi dia juga ikut kecewa dengan tindakan nadin dan mungkin juga dia tidak suka pada zafran karena menurutnya ini semua terjadi karena zafran, aku dan nadin tidak bicara itu karena zafran.


dihati kecilku aku masih sangat sangat berharap jika saja nadin juga bisa ikut bahagia untukku tapi sudahlah dia bahkan tidak memikirkan ku saat mengkhianati ku!


***


keesokannya aku masih dalam hari off ku,


aku memutuskan untuk pergi menjenguk zafran. bahkan aku sudah bangun lebih pagi untuk memasak untuknya, aku bahkan berniat membuat ibunya zafran terpesona dengan masakan yang akan ku buat.

__ADS_1


sesampai ku di rumah sakit dengan membawa makanan yang ku buat sendiri, saat aku masuk dikamar zafran moodku yang sudah ku bangun untuk semangat dan ceria dari pagi tiba-tiba hancur saat mendapati nadin juga ada disana. walaupun aku melihat zafran yang bahkan memalingkan wajahnya seakan-akan tidak menginginkan kehadiran nadin disana, hanya ibunya zafran yang terlihat menemani nadin berbincang dan saat ibunya zafran melihatku masuk dia langsung tersenyum lebar dan meninggalkan nadin yang masih berbicara dengannya.


"nak vania" ibunya zafran memelukku dan seketika merubah wajah nadin menjadi sangat pias.


saat mendengar namaku disebut oleh ibunya, zafran yang tadinya hanya menatap keluar jendela langsung bangun dan duduk untuk menyambut ku dan lagi-lagi membuat nadin tertunduk kesal.


"kamu bawa apa nak?" melihat rantang ditanganku


aku berusaha menutupi moodku yang hancur "ini, vania tadi masak untuk zafran dan ibu"


"ohya? kenapa repot-repot sih nak"


"tidak kok bu, vania tidak merasa kerepotan"


"kenapa repot-repot memasak untukku? kau pasti harus bangun pagi kan?" zafran menatapku


"siapa juga yang masak untukmu, aku masak untuk ibu"


"ehmm... enak nak! ternyata kamu pandai masak yah"


"palingan dibantu ibunya" zafran mengejekku

__ADS_1


"enak saja! aku masak sendiri, memangnya kamu"


aku cemberut padanya


"hahaha, mana biar ku coba seenak apa masakan dia" zafran meminta ibunya untuk menyuapinya


"enak kan?" aku menatapnya


"biasa saja" dia bahkan memasang wajah yang datar


aku cemberut padanya.


"haha, iyaiyaa! masakanmu enak! makasih yah"


"dasar kau ini! senang sekali mengejek calon menantu ibu" ibunya zafran memegang kepalaku hingga bersandar pada bahunya


zafran hanya tersenyum mendengar perkataan ibunya dan tanpa kami sadar ternyata masih ada nadin yang berdiri di depan sofa dan nadin terlihat sangat terpukul atas kejadian yang baru saja dia saksikan itu, dia terlihat menyeka air matanya.


"saya pamit dulu, harus berangkat ke tempat magang" karena hari itu dia memang sedang tidak off.


zafran tidak menggubrisnya, hanya ibunya zafran yang mengucapkan terimakasih padanya dan mengantarkannya ke depan pintu kamar.

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2