
"vaniaa!" ibu mengetuk pintu
"iyaa bu?"
"pacarmu sudah datang menjemput mu tuh! cepat, nanti kalian terlambat"
"iyaa, ini vania sudah selesai kok bu!"
ibu mengantar ku hingga kedepan pintu "nak zafran! titip vania yah"
"siap ibu camer" zafran turun dan mencium tangan ibu
"camer?" ibu merasa heran
"iyaa, ibu camer! ibu calon mertua"
"zafran!!" aku mencubit pinggangnya
"aaahhhh" zafran menjerit
"ehh, kalian ini! sudah-sudah, berangkat sana nanti kalian terlambat loh"
"vania berangkat dulu yah bu"
"zafran berangkat dulu yah camer"
"zaff! apaansih ih" aku menariknya
***
"kakak kamu masih berlayar yah?" zafran membawa motornya sangat pelan
"iyaa, kakak sekarang ada di malaysia kata ibu bulan depan baru pulang! aku takut kalau kakak pulang dan tahu kalau aku sudah jadi pacar mu dia akan melarang hubungan kita"
"aku akan mengambil hati kakak mu agar dia bisa mempercayai ku untuk menjaga adiknya"
"kalau kakak tetap melarang?"
"tidak usah khawatir! yang penting aku sayang padamu"
"iyaa"
"iyaa apanya?"
"iyaa kamu sayang aku kan?"
"sarapan dulu yuk!"
"tapi ini sudah jam berapa, nanti kita terlambat"
"masih ada waktu kok" melihat tangannya
"kamu lihat apa ditanganmu?"
"lihat jam"
"kan kamu sedang tidak pakai jam"
"ohiya yah, anggap saja kalau aku sedang memakai jam"
"dasar" aku mempererat pelukanku, bersandar di bahunya dan memejamkan mataku, rasanya aku ingin waktu berhenti saja waktu itu!
__ADS_1
*motor terhenti, aku yang tadinya hanya ingin memejamkan mata dan bersandar dibahunya ternyata tertidur*
"vann" zafran memgelus lembut pipi ku
"eh, sudah sampai yah?"
"kamu tidurnya kurang yah semalam? kenapa terlihat sangat ngantuk"
"tidak kok! aku tidur jam 9"
"kamu tidak apa-apa kan? masih tidak enak badan yah?"
"tidak, bahu sangat nyaman makanya sampai tertidur hehe"
"ya udah yuk!" menggandeng tanganku "pagi bi! dua yah" kami sarapan bubur ayam yang sama waktu itu "masih mengantuk yah?"
"tidak, zaf! kita kayaknya terlambat deh"
"Tenang! kita tidak akan di hukum"
"memang sekolah punya mu" aku mengacak-acak rambutnya
"aku ingin terus seperti ini denganmu" menatapku hangat
"aku juga"
"ingin terus bersamaku?"
"insyaallah"
"amin"
"nah! ini buburnya" bibi membawakan pesanan kami
"beres!" mereka berdua berbincang dengan bahasa isyarat yang aku tidak mengerti apa maksudnya
"makasih bi"
"sama-sama nyonya zafran"
"bibi, apa sih"
"tidak rela dipanggil nyonya zafran?"
"kan belum"
"belum apanya"
"belum jadi nyonya zafran"
"memang mau?"
"mau"
"kalau begitu lulus sekolah kita langsung"
"langsung apanya?"
"langsung jadi nyonya zafran!"
"tapi aku mau kuliah dulu"
__ADS_1
"bisa kok, kan banyak yang sudah menikah tapi masih kuliah"
"tapi aku juga mau kerja"
"kalau itu aku tidak setuju"
"kenapa?"
"aku yang akan kerja"
"tapi aku akan membantu mu, aku tidak mau hanya tergantung pada suami ku nanti"
"tapi tidak boleh mengambil pekerjaan yang akan membuat mu capek"
"iyaa terserah padamu"
"vania, aku tidak ingin melarang mu melakukan apapun! itu terserah padamu, aku tidak ingin kamu merasa risih atau tidak nyaman bersamaku"
"tidak kok, aku tidak pernah merasa tidak nyaman denganmu! kamu pacar yang baik untuk ku"
"ayo makan buburmu!"
"iyaa"
****
sesampaiku disekolah betul saja kami telah terlambat tapi tidak seperti kata zafran, kami di hukum membersihkan taman untuk bisa masuk ke sekolah
"katanya kita tidak akan di hukum"
"kan cuma katanya, manusia cuma bisa berencana tapi allah yang menentukan"
"terserah zafran! terserah!" aku mengambil sapu lidi
"eh, kamu mau apa?"
"mengambil sapu, ingin menyapu sampah"
*zafran mengambil sapu lidi dari tanganku dan menarik badanku agar duduk*
"kamu baru sembuh, tidak boleh capek! biar aku yang mengerjakannya"
"manisnyaa"
"baru sadar kalau pacarmu manis yah?"
"salah bicara aku_-"
setelah zafran membersihkan taman samping sekolah, kami kembali ke gerbang untuk menandatangani keterangan siswa terlambat.
baru saja aku dan zafran masuk ke halaman sekolah, yuni berlari kearah ku dan terlihat matanya sangat sembab karena menangis
"kamu dari mana saja? kenapa tidak mengangkat telfonku?" yuni berbicara dengan nafas yang susah di atur karena air matanya yang tidak berhenti mengalir
"ponsel ku di tas, ada apa yun? kamu kenapa?"
"nadin! nadin van!"
"nadin katamu?" sambung zafran
"vaniaa! nadin vaniaaa!" tangisan yuni semakin keras lalu muncul Lana dan dika dengan raut wajah yang sangat sedih dan mata Lana pun terlihat sangat sembab sama seperti yuni
__ADS_1
*bersambung*