
"ya ampun zafran! entah sudah berapa lama kau hujan-hujanan" aku memayunginya "kenapa kamu masih disini? ayo masuk! aku akan ambilkan kamu handuk dan air hangat"
aku memberinya air hangat "minum ini, dasar bodoh!" sambil aku mengeringkan rambutnya dengan handuk, tangannya sudah gemetar karena kedinginan. "kenapa kau sangat keras kepala sih?kau mau sakit?"
"maaf vania" dia meletakkan air hangatnya dan menggenggam tanganku, aku bisa merasakan tangannya yang menggigil dan sangat dingin "maafkan aku vania, aku tahu aku salah, sangat salah, aku sudah sangat keterlaluan padamu. kau juga harus tahu kalau aku tidak mudah melakukan itu vania, aku juga merasa sangat sakit apalagi dengan apa yang nadin sampaikan padaku"
aku melepaskan tangannya dengan pelan "lalu kenapa kau tidak mencari tahu kebenarannya zafran?"
"disitulah kebodohan ku, aku dengan mudahnya mempercayai nadin karena aku fikir nadin itu sahabatmu dia pasti berkata jujur dan tidak mungkin menjelekkan sahabatnya sendiri, maafkan aku vania"
"sudahlah zaf, ini sudah terjadi"
"maaf van, maaf!"
"sebaiknya kau pulang, kau bisa sakit! aku memaafkan mu tapi aku butuh waktu sendiri. kuharap kau bisa hargai keputusan ku"
"kita bisa seperti dulu lagi kan? aku merindukan mu van, sangat merindukanmu"
"aku butuh waktu zafran, kau bisa lakukan apapun yang menurut mu bisa menyembuhkan kecewaku atas kejadian ini"
"aku akan berusaha vania! terima kasih dan maafkan aku" dia berdiri, melepaskan handuk yang masih melingkar di bahunya kemudian melangkah menjauh dariku, gemigil masih tersisa ditubuhnya.
__ADS_1
saat dia sudah menghilang dari pintu rumahku entah mengapa aku merasa sesak sendiri dengan sikapku padanya, dia terlihat begitu menyesal tapi aku merasa harus melakukan ini agar dia tidak berpendapat aku gadis yang bisa semaunya dia jauhi dan dekati.
hanya zafran yang berusaha meminta maaf padaku, sedangkan nadin? dia bahkan tidak punya niat untuk minta maaf padahal semua ini adalah kesalahannya, keegoisannya. aku tidak sangka dia bisa berfikiran untuk melakukan ini semua.
***
esoknya dikantor aku bertemu dengan nadin dan yah dia tidak mengatakan apapun padaku. aku rasa tidak akan memulai percakapan dengannya sebelum dia bisa mengakui kesalahannya padaku dan tulus meminta maaf maka aku akan memaafkannya karena mungkin dia memang sangat takut kehilangan zafran yang bahkan sama sekali belum jadi miliknya.
hingga siang aku tidak melihat zafran, bahkan bukan dia yang live music pagi, hatiku mencarinya tapi logika ku merasa tidak perduli.
"zafran tidak masuk yah?" Lana bertanya saat kami sedang makan siang dan aku tidak menggubrisnya
"hei! vaniaaa! kau dengar aku tidak?!"
"ku dengar, katanya zafran masuk rumah sakit"sambung yuni
walaupun aku terkejut mendengar perkataan yuni tapi aku berusaha mengendalikan diriku agar tampak biasa-biasa saja.
"oh iya? dia sakit apa?" Lana
"kalau tidak salah dia demam tinggi, mungkin tifus"
__ADS_1
"kasihannya, jenguk yuk!" Lana melihat ku
aku hanya melihatnya dan kembali melanjutkan makanku, aku berfikir mungkin dia sakit karena semalam dia hujan-hujanan didepan rumahku.
"vaniaa! kenapa melamun sih? jangan-jangan kau sudah tahu kalau zafran sakit?" yuni
"ti, tidaklah! mana aku tahu kalau dia sakit"
"jangan terlalu begini dong vania, zafran tidak sepenuhnya salahkan. wajar kalau waktu itu dia bersikap seperti itu karena mendengar nadin yang bilang kalau kau sangat terganggu dengannya"
"iya, kita jenguk yah?" yuni merengek
"kalian apa-apaan sih, jangan memaksakan kehendak kalian pada vania" dika menyentil dahi yuni
"ihh, dika! sakittt!" dia mengelus dahinya "untung aku sayang" bicara dengan suara kecil, aku bisa mendengarnya karena dia duduk di sebelahku.
"kalau kalian ingin sekali menjenguknya kan bisa pergi tanpa aku"
"awas yah, kau menyesal! pasti nadin akan menjenguknya" Lana mengejekku
"terserah" aku menjawab dengan nada yang mungkin terdengar jutek
__ADS_1
*bersambung*