
aku fokus melihat nadin yang beranjak pergi meninggalkan kamar zafran, perasaan bersalah seketika timbul dalam benak ku
"vania" tiba-tiba zafran memegang tanganku, "makasih yah"
"ehh, iya? makasih untuk apa?"
"makasih karena kamu sudah memaafkan ku dan mau memberiku kesempatan kedua, aku janji tidak akan melakukan kebodohan yang bisa menyakiti hatimu dan tidak akan melakukan kesalahan lagi yang akan membuat mu jauh dariku! aku janji vania, tetaplah bersamaku!"
seketika perasaan bersalah ku pada nadin berubah menjadi perasaan haru dan untuk pertama kalinya aku merasa terharu dengan perkataan seorang pria padaku.
***
"nak vania? hari ini tidak pergi magang?"
"tidak bu, hari ini vania off"
"ibu bisa minta tolong?"
"kalau vania bisa pasti vania akan tolong, memangnya ibu mau minta tolong apa?"
"ibu minta tolong kamu temani zafran yah, ibu pulang dulu mau bawa baju kotor"
"ohiya bu"
"nak vania tidak apa-apa?"
"tidak kok bu, vania akan menemani zafran sampai ibu datang"
"makasih ya nak, ibu jadi merepotkan"
"tidak merepotkan kok bu"
"yasudah, ibu pulang dulu yah!"
"vania antar sampai ke bawah bu?"
"eh, tidak usah! nak vania disini saja"
__ADS_1
"hati-hati bu"
"iyaa" saat ingin pergi ibunya zafran mencium keningku
aku melihat ibunya pergi dan menghilang dari pintu sambil memegang keningku dan yah senyumanku pun tidak menghilang dari bibirku
"senangnyaaa" zafran meledekku
"apaansih"
"sini duduk" karena dia sudah duduk, dia menepuk tempat tidur disampingnya
"aku duduk disini saja" aku memilih duduk di kursi samping tempat tidurnya agar tidak terlalu dekat dengannya
"maaf merepotkan mu"
"tidak kok, hari inikan aku memang off"
"begini deh, aku dan ibu cuma berdua dikota ini karena ayahku ditugaskan di medan.
"iyaa"
"aku juga tidak punya kakak dan adik"
"iyaa"
"vaniaa, aku baru lihat ibu seperti ini"
"maksudmu?"
"aku bahagia melihat ibu bersikap seperti ini denganmu, aku bahagia melihat ibu juga sayang padamu"
"aku juga sayang pada ibumu, dia baik dan sangat terbuka padaku"
"kalau zafran? sayang tidak?"
"apaan sih"
__ADS_1
"vania, jadi milikku yah" dia mengambil tanganku, menggenggamnya dengan erat dan menatapku dengan wajah yang penuh harapan
"kamu kenapa sih" aku ingin melepaskan genggamannya tapi sulit karena pegangannya sangat erat
"aku sudah pernah mengucap komitmen padamu, tapi aku masih merasa takut kehilanganmu. apalagi karena kejadian itu, aku sudah merasa kehilangan mu"
aku hanya diam
"vaniaa, jadi milikku yah" dia mengulangi pertanyaannya
aku terus diam
"apa selama ini kamu hanya menganggap ku temanmu?"
aku masih diam
"atau mungkin benar kata nadin, sebenarnya kau merasa terganggu dengan kehadiran ku?"
aku menatapnya tapi tidak mengeluarkan perkataan sedikitpun.
"vania, selama ini kamu punya perasaan juga padaku atau tidak? kenapa setiap kali aku menunjukkan rasa sayangku kamu tidak pernah merespon yang seakan-akan kamu juga punya rasa yang sama padaku?" dia terus mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaannya "vania, kenapa diam saja? atau benar kata nadin kalau kamu sebenarnya sudah punya seseorang? kamu sudah punya pacar?"
"kita tidak bisa zafran!" aku berdiri dari tempat dudukku dan berhasil melepas genggaman tangannya
"kita tidak bisa atau karena kamu memang tidak punya perasaan apapun padaku?"
"kamu tidak akan mengerti zafran"
"apa yang tidak bisa aku mengerti vania?!" dia bertanya dengan nada yang agak berteriak
"aku tidak mau merebut mu zafran!" aku sudah tidak bisa menahan gejolak perasaan yang selama ini ku pendam dan akhirnya tangisku pecah saat itu membuat zafran merasa bersalah karena sudah bersuara tinggi padaku
"maaf vania, aku tidak bermaksud berteriak padamu" dia memegang tanganku, menariknya agar aku duduk disampingnya. dia memegang wajahku,mengusap air mataku dan menatapku "kamu tidak merebutku dari siapa-siapa vania, aku cuma milikmu! zafran milik vania!"
karena terbawa suasana aku refleks memeluknya "aku sayang juga sayang padamu zafran, tapi kita tidak bisa sama-sama"
*bersambung*
__ADS_1