
saat di parkiran yuni melirikku "benar kau tidak mau ikut menjenguk zafran?"
aku hanya diam
"ayolah vania, kau tidak ingin melihat zafran? pria yang kau sayang sedang sakit" Lana berbisik ditelinga ku
"tidak! kalian saja yang pergi" aku tetap pada pendirianku walaupun hatiku ingin sekali melihatnya
"yasudah kami tunggu jemputan mu" dika
"tidak usah, kalian pergi saja! nanti jam besuknya habis loh" aku menyuruh mereka pergi
"tidak mungkin kami meninggalkan mu sendiri" yuni duduk disampingku "kau masih sangat marah pada nadin?"
"aku tidak marah, hanya kecewa"
"nadin benar-benar berubah, dia bahkan tidak punya niat baik untuk meminta maaf padamu" sambung lana
"aku sayang pada nadin lan, bahkan tanpa nadin melakukan itu aku sudah berniat menjauhi zafran untuknya, aku sangat kecewa dan tidak menyangka nadin berbuat itu hanya karena pria"
"dulu aku selalu berdoa agar kita tidak pernah mencintai lelaki yang sama tapi itu semua tidak dikabulkan. harusnya nadin bisa ikut bahagia melihat mu seperti ini vania, melihatmu mulai bisa membuka hati lagi bukannya berperilaku seperti ini" yuni melingkarkan tangannya ke bahuku
"sudahlah! kalian jangan ikut-ikutan tidak bicara dengan nadin, kasihan dia!"
"apa hera harus tahu semua ini?" Lana tiba-tiba ikut duduk disampingku
__ADS_1
"jangan! dia sudah sangat terpukul atas berpisahnya kedua orang tuanya, jangan kau buat dia makin sedih"
"Hera pasti sangat kecewa jika mengetahui ini" Dika yang tadinya hanya diam ikut bicara
"andai saja nadin tahu bagaimana kau sangat sayang padanya, aku rindu kita yang dulu" yuni menarik lana serta dika dan langsung memeluk kami bertiga. suasana yang hangat dan mengharukan sebagai sahabat ditambah sinar matahari yang perlahan menghilang tergantikan oleh gelapnya langit malam
"eh sudah, malu tahu" dika berusaha lepas dari pelukan karena dia pria sendiri dan banyak orang yang melihat
tak lama kemudian jemputan ku sudah datang
"kau mau titip salam ke zafran?" Lana menyenggol bahuku
"tidak!"
"baiklah kalau itu maumu, tapi jangan menyesal yah"
***
disaat aku melamun di depan jendela, rambutku berterbangan ditiup semilir angin aku memikirkan zafran, merasa sangat cemas akan keadaannya dan juga ikut merasa bersalah karena aku merasa dia sakit karenaku, karena memohon maaf padaku. walaupun hatiku sangat ingin melihatnya tapi egoku menolak itu!
"apa aku menelfon lana untuk mencari tahu keadaan zafran? tapi dia pasti akan mengejekku" aku membuka ponselku dan melihat profil zafran yang masih memakai foto kami berdua, aku membaca kembali pesan-pesan singkat kami dan tanpa ku sadari senyum kecil muncul dari bibirku, baru sehari aku tidak melihatnya tapi hatiku merasa begitu rindu. sambil memandang foto kami berdua "aku mencemaskan keadaan mu zafran, aku menyayangimu dan maafkan aku"
disaat aku sibuk bicara dengan foto kami tiba-tiba Lana menelfon "ternyata dia duluan yang menelfon haha lana-lana" aku mengangkat telfonnya "iya lana?"
"kasihan zafran van" dia memulai pembicaraan dengan nada suara yang sedih
__ADS_1
"kenapa?"
"tadi waktu kami menjenguknya dia sangat bahagia tapi saat dia tahu kalau kau tidak ikut wajah bahagia berubah menjadi murung"
"kenapa begitu?"
"yah dia kecewalah kau tidak ikut, ayolah vania aku tahu dan mengerti kau kecewa tapi itu bukan sepenuhnya kesalahan zafran! aku juga tahu zafran melakukan itu pasti tidak mudah, dia juga menanyakan dirimu padaku tadi"
"kau menelfonku untuk apa sih lan?"
"aku ingin memberikan mu saran sebelum kau menyesal!"
"maksudmu?"
"besokkan hari off mu, kau jenguk zafran gih"
"jangan memaksaku lan!"
"aku tidak memaksamu, hanya memberimu saran!"
"sudah dulu yah lan, aku mengantuk sekali"
"kau tidak pernah mau mendengar ku vania, tapi kali ini kau harus mengikuti saranku"
"iyaa, makasih yah lan! aku sayang padamu" aku mematikan telfonnya
__ADS_1
*bersambung*