
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul delapan malam dan aku sudah berada di depan rumah sakit. aku berada disana sebelum melewati perdebatan panjang dengan diriku sendiri yang mungkin disaksikan angin dan tanaman didepan jendela kamarku, perdebatan yang panjang sebelum akhirnya egoku kalah dengan hati dan perasaan ku yang sangat mengkhawatirkan zafran. pria yang kata Lana aku sayang sedang terbaring lemah di rumah sakit dihadapan ku ini, tak hanya karena alasan itu aku juga merasa bersalah karena penyebab dia sakit ada hubungannya denganku bahkan memang karena aku.
aku hanya bisa mondar-mandir didepan pintu kamar yang ditempati zafran, * jika kalian bertanya kenapa aku bisa tahu kamar zafran itu karena lana mengirimkan ku gambar pintu kamar zafran yang terdapat nomornya*
saat aku masih sibuk mondar-mandir didepan pintu aku dibuat terkejut oleh seorang perempuan yang cukup berumur keluar dari kamar itu membuat ku seketika menjadi patung
"temannya zafran yah?"
"eh iyaa" aku menjawabnya dengan gugup
"kenapa hanya mondar-mandir disini, kenapa tidak masuk?"
"takut salah kamar"
"oalah, ini benar kamarnya zafran. saya ini ibunya"
"oh" aku meraih tangannya untuk salim dan seketika ingatan dengan sup ayam yang enak itu melintas di kepalaku. dia ibunya zafran, orang pernah membuatkanku sup ayam hehe "saya vania tante"
"aahhh! jadi ini gadis yang namanya vania toh" dia mencubit pipiku dan itu membuat ku merasa heran
"hehe iya tante"
"jangan panggil tante lah, panggil saja ibu! kan calon ibumu iyakan?"
"hah?" aku makin dibuat heran dengan tingkah dan perkataan ibunya zafran
__ADS_1
"kenapa nak? kau pacarnya zafran kan? yang pernah ibu bikinkan sup?"
"pacar?" aku cukup terkejut dengan apa yang ibunya zafran katakan. "jadi selama ini zafran mengaku pada ibu kalau aku ini pacarnya?" senyum langsung timbul dibibir ku dan seketika rasa tegang ku menghilang dan terganti dengan perasaan bahagia
"iya, kau pacar zafran kan? atau jangan-jangan anak itu cuma ngaku-ngaku saja?"
"bukan itu maksudku bu" aku menjawabnya dengan cepat
"jadi kau ini pacarnya atau bukan?"
karena aku tidak tahu mau menjawab apa jadi aku hanya tersenyum dan refleks aku memeluk ibu zafran karena merasa sangat gembira atas informasi yang dia berikan padaku. "makasih bu"
"oalahh! makasih untuk apa toh?"
"eh" aku melepaskan pelukanku "maaf bu, saya lancang memeluk ibu"
"ohiya, tadi maksud saya makasih untuk supnya"
"ohiya" ibunya zafran menarikku untuk duduk didepan kamar zafran "kamu tahu tidak, waktu itu ibu sedang tidur kebetulan kamarnya ibu dekat dapur jadi ibu bangun karena dengar ribut di dapur ternyata zafran lagi motong kentang. ibu tanyalah dia lagi ngapain, katanya vania sakit flu berat kalau ibu tidak salah"
"hehe iyaa bu" aku memotong ceritanya
"hooh, jadi ibu tanya vania itu siapa? dia jawab pacarnya. ibu cukup kaget waktu itu karena setahu ibu zafran itu orangnya cuek sekali sama gadis, sampai pernah ada gadis yang tergila-gila banget sama anak itu! bahkan sampai gadis itu nangis-nangis ke ibu karena katanya di tolak sama zafran tapi ibu tidak bisa lakukan apa-apa untuk dia. kalau zafran tidak mau yah ibu nda bisa paksa, iya kan?" ibunya zafran bercerita dengan sangat terbuka padaku, bahagiaku berlipat ganda saat itu.
"hehe iya bu, di tempat magang juga banyak gadis yang tergila-gila padanya" mungkin saat mengatakan itu raut wajahku terlihat cemas
__ADS_1
"Loh, kenapa toh nak? kan zafran sudah pilih nak vania jadi jangan khawatir! anggap saja gadis-gadis yang tergila-gila pada zafran itu sainganmu dan akhirnya kamu yang jadi pemenang, toh kamu itu gadis yang sangat manis"
"hehe iyaa, makasih bu" entah kenapa perkataan ibunya zafran membuatku tenang tapi andai ibu tahu gadis yang tergila-gila pada zafran itu sahabatku.
"astaga ibu lupa!"
"kenapa bu?"
"ibu tadi mau ke apotek belli vitamin yang dokter sarankan untuk zafran, keasyikan cerita sama kamu jadi ibu lupa"
"maaf bu"
"eh, kenapa minta maaf! sudah ibu pergi dulu yah, kau masuk deh lihat pacarmu itu" saat ingin pergi ibunya zafran kembali "eh nak vania!"
"iyaa bu?"
"kalau bisa nak vania bujuk zafran makan yah! dia belum makan soalnya, tidak nafsu katanya.
siapa tahu kalau nak vania yang suruh jadi nafsu dia"
"iya baik bu, ibu hati-hati" senyumanku bahkan tidak bisa hilang dari bibir, aku sangat bahagia bisa kenal dan akrab dengan ibunya zafran. dia bahkan sangat baik dan terbuka padaku.
***
aku membuka pintu kamar zafran, aku melihat dia sedang menghadap keluar jendela entah apa yang dia lihat. saat aku kembali menutup pintunya zafran bicara "apoteknya dekat yah bu?" sambil membalikkan badannya dan melihat ternyata aku yang datang.
__ADS_1
*bersambung*