
Rasa bersalah seakan tiba-tiba mengepung ku saat melihat tubuh tak bernyawa nadin, langit-langit ruangan di penuhi dengan suara tangisan yang seakan-akan seperti anak panah yang menghujam jantungku.
suster yang waktu itu bersama nadin juga ada di sana, menatap ku seolah-olah aku adalah penjahat besar dan tubuh yang sudah tidak bernyawa ini seakan-akan di sebabkan oleh ku di tambah dengan kehadiran zafran disisi ku yang terus menguatkan ku, walaupun suster itu tidak pernah bertemu dengan zafran tapi aku yakin dia pasti tahu jika itu adalah zafran.
tubuh ku refleks menolak apapun yang di lakukan zafran dengan tujuan ingin menguatkan ku, disana lah puncak dilema-dilema yang selalu aku rasakan semenjak memilih dan larut dengan kisah rumit itu
aku dan sahabatku yang lain menghampiri keluarga nadin untuk menyampaikan belasungkawa kami sedangkan zafran ku biarkan menunggu di luar, keluarganya menceritakan kronologi detik-detik kematian nadin yang membuat ku semakin merasa bersalah dan sangat terpukul
"kami ikut berduka cita bu" dika membuka pembicaraan
"kami sangat terkejut saat tahu kondisi nadin, apalagi nadin tidak pernah bercerita apapun pada kami tentang ini.dia tiba-tiba saja menghilang"yuni
"maafkan nadin jika dia pernah membuat kesalahan pada kalian yah" ibunya nadin
"apa yang sebenarnya terjadi pada nadin
bu?"Lana
"sebenarnya nadin telah menderita leukemia semenjak setahun yang lalu tapi kami sekeluarga termasuk nadin juga baru mengetahui penyakit tersebut satu bulan yang lalu dan itupun saat telah memasuki stadium terakhir, kami sudah berusaha melakukan pengobatan semampu kami, ibu telah berusaha membawa nadin ke dokter di singapura tapi sang pencipta berkehendak lain" ibunya nadin terlihat sangat terpukul, kepedihan yang menjadi-jadi tanpa air mata hanya sorot mata setajam takdir yang telah menelakkan kekalahan atas kematian sang puteri tercinta apalagi nadin adalah puteri sematawayangnya
"ibu yang kuat yah bu, dengan kepergian nadin maka nadin tidak akan merasakan sakit lagi" dika berusaha mencairkan situasi
setelah cukup lama menahan kepedihannya
__ADS_1
"nak vania, apakah kenal dengan zafran?" pertanyaan yang di lontarkan oleh bibi nadin membuat kami tersentak
dika, yuni, lana seketika menatap ku "iya bu aku mengenalnya, dia satu tempat magang dengan kami" aku berusaha tegar menjawabnya walaupun mungkin suaraku terdengar gemetar
"apa dia kekasih nadin?" sambung bibi nadin
aku tertunduk, merasa tidak sanggup menjawabnya. aku menggenggam tangan yuni dan lana
"bukan bi, memangnya ada apa? kenapa bibi bisa mengenal zafran?" Lana menggebu-gebu
"nadin, semenjak kemarin dia terus menanyakan apakah zafran datang apakah zafran datang, bahkan subuh tadi sebelum dia pergi dia sempat menyebut nama nak vania dan zafran"
"apakah sebegitu sayangnya nadin pada zafran? sampai di akhir hayatnya pun dia terus memanggil zafran dan mengharapkan zafran datang padahalkan nadin tahu kalau zafran itu pacarnya vania" yuni berbicara pada Lana dengan polosnya dihadapan orang tua dan keluarga nadin
"yuni,kontrol bicaramu!" dika
"jadi zafran pacar kamu vania?" bibi nadin menatapku
*aku terdiam, saatnya waktu pemakaman nadin
aku keluar dari rumah duka mendapati zafran masih duduk disana*
"aku ikut mobil dika bersama yang lain" aku mengatakan itu pada zafran dengan raut wajah yang tidak ingin mendengar kata penolakan
__ADS_1
"iyaa, aku akan mengikutimu dari belakang"
*aku melihat zafran yang mengikuti mobil yang ku tumpangi dengan wajah yang terlihat sangat sedih mungkin karena sikap ku padanya, aku tertunduk karena tidak kuasa menahan air mataku*
"jangan menyiksa diri seperti itu van, kasihan dirimu! kasihan zafran juga" yuni
"apa zafran sudah tahu?" dika
"apa?"
"apa zafran sudah tahu kalau nadin sempat menemuimu di rumah sakit?" dika
"tidak"
*pemakaman nadin berjalan lancar, aku melihat sosok ibu yang sangat tegar pada ibu nadin. setelah selesai semua orang perlahan kembali dan meninggalkan pemakaman*
zafran mendekati ku dan ingin menggandeng tanganku tapi sebelum sempat menyentuh tanganku, aku menolak dan memegang tangan yuni
"aku pulang nebeng mobil dika lagi bersama yang lain" tanpa mendengar jawaban zafran aku sudah beranjak meninggalkannya
zafran menatapku yang berjalan menjauh darinya.
zafran mendekati kuburan nadin, meletakkan bunga di batu nisannya dan aku bisa melihat zafran sedang berbicara di hadapan batu nisan nadin entah apa yang dia katakan, dalam hatiku merasa ingin bersama zafran disana tapi logika ku membuat ku meneruskan langkah ku menuju mobil dika.
__ADS_1
saat aku ingin naik, zafran sempat melihat ku tapi aku berpura-pura mengalihkan mata ku.
*bersambung*