pengorbanan rasa

pengorbanan rasa
Nadin (part 1)


__ADS_3

Jam di dinding baru menunjukkan pukul 06:30 pagi dan ponselku berdering, menggunakan nomor baru. awalnya aku kira zafran karena dia juga sempat bilang akan ganti nomor dan siapa lagi yang biasa menelfon ku sepagi itu kalau bukan dia, aku mengangkat telfonnya dan dibuat terkejut oleh suara yang ku dengar. nadin, nadin yang menelfon ku


"vania" dengan suara yang terdengar sangat lemah


"nadin? ini kamu yah?"


"iya"


"kamu di mana din, kamu menghilang kemana?"


"aku ingin bertemu dengan mu"


"iyaa, kita ketemuan yah! kamu sekarang di mana? anak-anak yang lain pasti akan senang"


"tidak vania, aku hanya ingin bertemu denganmu"


"tapi kenapa nadin?"


"jangan memberi tahu siapa-siapa kalau aku menghubungi mu yah"


"kamu kenapa sih nadin?"


"boleh keluar sebentar? aku ada di depan rumah mu"


"hah? tapi aku sedang di rawat di rumah sakit"


"rumah sakit apa?"


"RS. *****************, kamu kemana nadin? sudah satu bulan kamu menghilang begitu saja"


tut...tut...tut... telfonnya pun mati, aku berusaha menghubunginya kembali namun nomornya sudah tidak dapat di hubungi. pertanyaan-pertanyaan kembali muncul di benak ku, setelah menghilang selama satu bulan nadin menghubungi ku dan ingin bertemu dengan ku tapi hanya dengan ku saja, apa ini ada hubungannya dengan zafran? apa dugaanku selama ini benar kalau nadin pergi karena aku dan zafran? ahhh pertanyaan-pertanyaan ini membuat kepala ku sakit!!!


seharian aku menunggu kedatangan nadin, aku kira setelah mendapat informasi keberadaan ku maka dia akan segera menemui ku seperti yang dia katakan namun hingga malam dia tak kunjung datang atau kembali menghubungi ku!

__ADS_1


sambil menatap jauh keluar jendela, aku menjatuhkan air mata entah itu air mata bahagia karena sahabatku yang menghilang begitu saja akan menemuiku atau air mata rasa bersalah ku padanya "apa aku akan sanggup bertemu dengan nadin?"


"nadin?" zafran memotong perkataan ku


"zafran? sejak kapan kamu di sini?" aku menyeka air mata ku dan berusaha mengatur emosi ku


"kamu akan bertemu nadin?"


"hah? tidak!"


"jangan bohong vania, aku mendengar perkataan mu tadi"


"memangnya aku tadi bilang apa?"


"tuhkan, jangan bohong! perkataan mu tadi seolah-olah kamu akan bertemu dengan nadin"


"kamu salah dengar, aku tadi bilang ingin sekali bertemu dengannya! sudah satu bulan dia menghilang tanpa kabar apapun"


"kamu sedang tidak menutupi apa-apa kan?"


*zafran hanya diam dan menatapku dengan tatapan yang sangat dingin seolah-olah dia sedang membaca fikiran lewat mata ku*


"kamu kenapa menatap ku seperti itu sih, sini duduk di sampingku"


"kamu tidak membohongi ku kan?"


"iyaa zafran iyaa, aku tidak bohong! kamu kenapa sih, kamu yang salah dengar tapi menatapku seolah-olah aku melakukan kesalahan besar"


dia memegang wajah ku "kalau ada apa-apa kamu cerita yah jangan menutupi apapun dari ku, janji?"


"iyaa zafran"


"sudah makan?"

__ADS_1


"sudah, bagaimana acara tadi? sayangnya aku tidak bisa ikut hiks"


"Lancar"


"pasti banyak gadis yang berteriak-teriak saat kamu manggung kan?"


"apaan sih kamu"


"kamu tahu tidak, aku selalu bingung plus heran tau sama gadis-gadis yang seperti kerasukan saat melihat mu perform"


"kenapa heran, aku kan sangat tampan dan menawan makanya mereka tergila-gila pada ku"


"cihhh, menawan apanya"


"jujur saja! aku tampan kan?"


"biasa-biasa saja"


"tidak mungkinkan gadis-gadis itu mau menghabiskan suaranya untuk berteriak kalau aku ini biasa-biasa saja"


"yah mereka saja yang berlebihan"


" kamu jujur saja tidak apa-apa kok"


"sudah ih, pasti tadi seru banget yah?"


"tidak! biasa-biasa saja"


"iya, karena tidak ada aku kan?"


"itu kamu tahu"


"uhhh, terharu akuu"

__ADS_1


akupun larut dengan cerita-cerita zafran dan seperti biasa dia memang selalu bisa membuatku lupa dengan semua masalah di fikiranku


*bersambung*


__ADS_2