pengorbanan rasa

pengorbanan rasa
First lunch


__ADS_3

walaupun kami sudah biasa makan siang bersama, tapi kali itu adalah makan siang pertama kami setelah jadian.


seperti biasanya, dia sudah membawakanku makanan dan tak lupa juga jus favorit ku.


"aku masih memikirkan nadin, dia kemana sih?"


"vania tolonglah! Kali ini aku cuman mau ada kita berdua tanpa orang ketiga"


"inikan kita cuman berdua"


"memang berdua! tapi membahas orang ketiga"


"dulu aku sempat bertekad menjauhimu tahu"


"sudah tahu!"


"haha, tahu dari mana?"


"dari sikapmu lah! apalagi saat aku mengajakmu bicara pasti kamu memberikan jawaban ketusmu padaku"


"karena menurutku sahabat lebih penting dari lelaki, ehmm kamu tahu tidak?"


"tidak"


"ih, kok jawabnya gitu sih"


"emang iya aku tidak tahu"


"makanya dengar dulu"


"iya sayang, iyaa apa?"


"ihh,jijik ih"


"haha iya apa?"

__ADS_1


"sebenarnya aku sudah pernah seperti ini sebelumnya"


"seperti ini? maksudmu?"


"pacar lana yang sekarang itu pernah mengejarku juga sepertimu"


"memang aku mengejarmu?"


"tuhkan"


"iyaaiyaa, terus?"


"tapi tentunya tidak seperti mu, dia tidak bisa membuatku membuka hati untuknya padahal dia bahkan sudah menyatakan perasaannya dihadapan banyak orang"


"hm, terus?"


*kami bahkan lupa memakan makanan dihadapan kami saking asyiknya berbincang*


"ya tentu saja aku menolaknya"


"kamu menolaknya dihadapan orang banyak itu?"


"wow, aku bisa bayangkan sih betapa malunya dia"


"aku memang jahat sih waktu itu, tapi menurutku itu sudah benar! daripada aku menerimanya hanya dengan alasan dia tidak malu dihadapan orang tapi aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, itu sama saja aku mempermainkan dia kan?"


"terus lana? bagaimana dengannya?"


"Lana tahu semuanya tapi dia tidak seperti nadin yang terlalu memaksakan kehendaknya dan mungkin saja Lana yang selalu ada saat dia terpuruk dimasa lalu karenaku dan akhirnya Lana berhasil membuat pacarnya sekarang sangat bucin padanya! dia beruntung mendapatkan sahabatku yang satu itu"


"tapi tidak seberuntung aku pastinya yang mendapatkan mu"


*kami saling memandang cukup lama*


"eh makanannya" aku tersadar

__ADS_1


"ohiya! sampai lupa aku, keenakan memandang mu"


*ingatanku kembali pada nadin, banyak pertanyaan yang muncul di benakku tentang menghilangnya nadin tapi itu semua cukup ku simpan dalam hati. aku tidak mau merusak suasana hati orang yang ku sayang di hadapan ku ini*


setelah selesai menyantap makanan dihadapan kami, zafran memulai pembicaraan kembali


"kakakmu sudah tahu hubungan kita?"


"belum, aku takut memberi tahunya"


*zafran menggenggam tanganku*


"kalau kakak ku masih melarang ku pacaran bagaimana?"


"kalau kata dilan sih yang penting kamu masih ada dibumi itu sudah cukup! sudah cukup membuatku bahagia"


"ih aku serius"


*zafran menggenggam tanganku makin erat*


"yang penting kamu masih berada di bawah langit yang sama denganku, aku juga bisa terus melihatmu dan yang paling penting aku juga sudah tahu kalau kamu juga sayang sama aku itu lebih dari cukup"


"kalau kita memang tidak jodoh?"


"suatu saat nanti kalau memang kita tidak ditakdirkan bersama kamu jangan pernah menangis saat semua sudah berakhir tapi tersenyum lah karena kita pernah terjadi! tapi yang aku tahu walaupun sebelum kita lahir di dunia ini sang pencipta sudah menyiapkan seseorang untuk menemani hidup kita tapi aku akan tetap berdo'a yang tekun padanya agar hanya kamu! hanya vania yang akan menjadi pendamping hidupku"


"uhh terharu aku, aku sayang kamu"


"kamu siapa?"


"yah kamu!" aku menunjuk hidungnya


"vania sayang siapa sih?"


"sayang zafran! puas!"

__ADS_1


dia tersenyum "zafran lebih sayang vania"


*bersambung*


__ADS_2