
Kami memutuskan untuk makan di dusun bambu, sebuah area menarik yang ada di Lembang.
“Wow, ini keren!” Seru Rey setelah kami turun dari mobil, kami menggunakan dua mobil. Mobil Rey dan mobil sang Letnan dimana Arga, Irene dan Karin ikut bersamanya sedangkan aku berdua dengan Rey.
Pemandangan dusun bambu memang sangat cantik dengan tema eco culture yang sangat instagramable membuat area ini banyak dikunjungi wisatawan termasuk hari ketiga lebaran seperti sekarang.
Kami berjalan melewati pematang sawah dimana terdapat gazebo-gazebo cantik tempat beberapa pengunjung duduk beristirahat sambil makan cemilan atau sekedar bercengkrama. Awalnya kami ingin duduk di area Lutung Kasarung yaitu tempat makan seperti sarang burung yang tergantung di ketinggian tapi karena banyaknya pengunjung dan area itu merupakan area favorite membuat semua tempat penuh. Jadi akhirnya kami memutuskan duduk di resort Purbasari yang tak kalah cantik, berupa saung-saung unik yang terletak di pinggir danau.
“Sudah berapa lama kalian pacaran?” tanya Karin sambil menatap aku dan Rey yang duduk di hadapannya.
Saat ini kami sedang menikmati makan siang ada ikan gurame bakar, pepes nasi, ayam goreng, sop buntut dengan aneka minuman, aku awalnya memilih jus strawberry tapi ketika melihat sang Letnan meminum kelapa jeruk yang terlihat sangat enak membuatku menukar minuman kami yang hanya dapat decakan pasrah darinya, hehehe.
“Berapa lama ya?” aku berpikir karena aku tak tahu kapan pastinya aku pacaran.
“Hanya mereka dan Allah yang tahu, Rin,” jawab sang Letnan sambil tersenyum membuat mereka tertawa, dan perkataannya itu mengingatkanku pada masa lalu.
Dulu ada kalanya aku menganggap kalau tanggal jadian adalah tanggal sakral untuk kami, tapi kini aku bahkan tak tahu kapan tanggal jadianku dengan Rey.
“Honey, jangan katakan kalau kamu lupa?”
Aku berusaha berpikir tapi aku belum menemukan jawabannya.
“Ckk... dasar pelupa, minggu depan itu anniversary kita yang ke 100!” seru Rey dengan semangat.
“100 tahun?!” Arga bertanya dengan mata membulat.
“Hahaha... bukan tapi minggu depan itu hari ke 100 kita jadian, benarkan, Honey?”
“Hehehe, iya.” Hari ke 100? Bagaimana aku tahu, aku bahkan tak tahu kapan tanggal jadian kami jadi bagaimana bisa aku menghitung hari?!
“Kalian merayakan jadian hari ke 100?” tanya Irene dengan mata membulat dan senyum cerah.
“Harus dong, kami juga merayakan sebulan kami pacaran… kamu masih ingatkan waktu aku ngasih kamu 100 tangkai mawar merah?”
“Wow 100 tangkai?”
“Iya,” Rey berkata dengan bangga setelah melihat reaksi Karin dan Irene yang terlihat terkejut.
“Kalian rayain hari ke 7 juga gak?” tanya Arga membuat Rey menatapnya.
“Tidak.”
“Kalau 40 hari?” tanya sang Letnan membuat Rey mengerutkan kening.
“Engga, kalau di Indonesia suka ya rayain hari ke 7 sama 40 hari?"
__ADS_1
“Oh iya… 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari terus 100 hari,” jawab sang Letnan santai sambil makan timun sisa lalapan.
“Buahahaha… tahlilan,” ucap Arga sambil tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan Irene dan Karin, dan jujur saja aku juga ingin tertawa tapi harus manahannya karena tak tega melihat Rey yang terlihat kesal.
“Jangan dengerin mereka, mereka memang gitu gak romantis.” Aku berusaha menenangkan Rey.
“Iya mereka mah gak romantis, Kekey pasti beruntung banget punya pacar romantis yang bahkan tahu kapan hari ke 100 jadiannya.”
Rey kini tersenyum mendengar Irene yang memuji dirinya.
“Memang kamu sama Arga tak pernah merayakan anniversary gitu?”
“Ya paling setahun.”
“Oh kalian sudah pacaran setahun?”
“Lebih dikit,” jawab Irene sambil tersenyum.
“Kalau Karin sama Yudha sudah berapa lama?”
Ku lihat wajah Karin memerah dia kini menatap sang Letnan yang hanya menatap Rey santai.
“Kami hanya berteman,” ucap sang Letnan.
“Jangan, kasihan Karin kalau harus punya cowok kaya aku.”
“Kenapa?”
Sang Letnan terdiam beberapa saat kemudian dia tersenyum sambil berkata.
“Aku terlalu tampan, nanti dia makan hati karena banyak yang suka sama aku.”
“Hahahaha… gelo!”
Kami tertawa mendengar perkataan sang Letnan, kecuali Rey tentu saja dia menganggap ucapan sang Letnan itu serius.
“Aku juga banyak yang suka! Bukannya sombong, tapi cewek-cewek banyak yang memohon untuk jadi kekasihku.”
Astagfirullahadzim, aku sangat malu mendengarnya!
“Tapi ya... sebagai lelaki kita harus setia dong, jangan karena banyak yang suka terus kita jadi gak setia... jadi, honey, kamu beruntung dapatin aku.”
Dia tiba-tiba mencium pipiku membuatku tersentak dan mundur dengan mata terbelalak, aku menatap sang Letnan berharap dia tak melihat adegan tadi tapi sepertinya terlambat semua orang melihatnya.
Irene dan Karin tersenyum menggoda, Arga terlihat tidak menyukainya sedangkan sang Letnan? Aku tak bisa menebak apa yang dia pikirkan saat ini, dan aku tak suka karena aku tak mengetahui apa yang ada dipikirannya ketika melihatku tadi. Dulu aku bahkan tak bisa melihat Widy yang merangkul tangannya mesra, dan kini Rey bahkan mencium pipiku… apa dia juga merasa sakit seperti aku dulu? Aku harap tidak, karena itu akan sangat menyakitkan.
__ADS_1
Kami selesai makan dan kini berkeliling menikmati pemandangan yang disuguhkan Dusun Bambu, Arga yang memang sangat menyukai photography tak menyia-nyiakan kesempatan itu. walaupun hanya menggunakan kamera ponsel tapi dia berhasil menangkap beberapa moment bagus yang diabadikan di dalam kamera ponselnya.
Begitu juga dengan Rey, dia sibuk menarikku kesana-kemari untuk foto berdua, dan aku merasa risih ketika dia harus memelukku atau merangkulku di depan sang Letnan yang hanya duduk mengamati kami dari gazebo bersama Karin.
Aku tak bisa konsentrasi dengan Rey, mataku terus menatap ke arah gazebo sesekali kulihat Karin tertawa mendengar lelucon sang Letnan, sampai akhirnya Irene memanggilnya dan meninggalkan sang Letnan seorang diri membuatku langsung menuju gazebo meninggalkan Rey yang tengah asik foto-foto mengelilingi dusun bambu.
Aku duduk di samping sang Letnan yang duduk berselonjor sambil bersandar, tangannya memegang kaleng coca cola, matanya menatap ke depan menikmati pemandangan alam tapi aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
“Apa kamu bahagia?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
“Iya,” jawabku sambil membuka fanta dan meminumnya.
“Tapi aku tak menyukainya.” Aku menatap sang Letnan yang terlihat serius menatap kedepan.
“Mas Yudha tidak menyukai aku bahagia?”
Sang Letnan tersenyum menatapku sambil berkata, “Bukan, kebahagianmu adalah prioritas utamaku, tapi aku tak menyukai kekasihmu… entahlah aku melihat banyak kepura-puraan yang membuatku meragukannya, sebaiknya kau hati-hati dengannya.”
“Kepura-puraan? Dia memang sedikit sombong, tapi dia pria yang baik dan tak pernah berpura-pura dan dia juga tak mungkin menyakitiku.”
Aku tak menyukainya ketika harus menilai Rey seperti itu padahal dia baru bertemu dengannya dua kali. Sang Letnan menatapku beberapa saat kemudian mengangguk.
“Mungkin aku salah, tapi sebaiknya berhati-hatilah.”
“Katakan yang sejujurnya padaku, kenapa Mas Yudha tidak menyukainya?”
Entah kenapa nada suaraku sedikit kasar saat itu, mungkin karena aku ingin mendengar dari mulutnya kalau dia marah melihatku dengannya kalau saat ini dia cemburu, bukan hanya selalu beralasan karena janjinya sebagai penjaga hatiku.
“Apa Mas Yudha marah? Atau cemburu? Apa karena itu Mas Yudha tidak menyukainya?”
Sang Letnan menatapku yang terlihat sedikit emosi.
“Apa kalau aku marah atau cemburu akan berpengaruh padamu?”
Aku terdiam tak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Apa kalau aku marah atau cemburu kamu akan memutuskannya dan kembali padaku?”
Aku tersentak mendengar pertanyaannya.
“Tidakkan? Jadi tidak ada artinya aku marah atau cemburu karena itu tidak akan membawamu kembali padaku.”
Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa, semua yang diucapkannya benar… apa yang sebenarnya ku inginkan dengan mengetahui dia marah atau cemburu? Kesenangan batin karena mengetahui kalau aku masih memiliki arti khusus dihatinya? Atau hanya ingin membalas dendam dengan apa yang dulu kurasakan ketika melihatnya bersama Widy? Entahlah, tapi apapun itu hanya akan membuktikan keegoisanku.
*****
__ADS_1