Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 16


__ADS_3

Hubunganku dengan sang Letnan semakin hari semakin baik, retakan yang ada dihatiku perlahan mulai sembuh walau belum semuanya. Kami akan menghabiskan waktu libur kami berdua walaupun akhir-akhir ini sang Letnan seperti tak memiliki hari libur karena harus tugas.


Kadang dia akan pergi selama beberapa minggu meninggalkanku dalam kecemasan, ketika dia pulang aku akan menyambutnya walaupun belum bisa memeluknya seperti dulu, tapi aku akan tersenyum lebar sebagai bentuk pujian kalau dia telah melakukan tugas dengan sangat baik karena bisa pulang dengan selamat.


Oh iya, aku belum menceritakan tentang teman sekantorku yang sedang berusaha mendekatiku, namanya Bima, akhir-akhir ini dia sangat intens mendekatiku walaupun sudah sering aku tolak dengan mengatakan kalau aku sudah memiliki kekasih, tapi entahlah dia yang terlalu keras kepala atau bodoh karena tak menyadari kalau aku dengan terang-terangan menolaknya.


Seperti sekarang dia memaksa untuk mengantarku pulang walaupun aku sudah mengatakan kalau Dirga akan menjemputku.


“Bilang saja sama adikmu kalau kamu pulang sama aku, dia pasti ngerti.”


“Terimakasih, Bim, tapi aku akan pulang dengan Dirga.” Aku menatap kiri-kanan jalan berharap bisa melihat Dirga datang secepatnya.


“Oh ayolah, Key, sekalian aku juga mau ke Pajajaran.”


Aku sungguh kesal! Kenapa dia tidak mengerti juga dengan penolakan-penolakan yang ku katakan! Aku baru membuka mulutku lagi untuk menolaknya ketika sebuah motor ninja berhenti tepat di depan kami. Dia turun lalu membuka helmnya membuatku langsung tersenyum lebar.


“Sayang! Aku tak tahu kalau sudah pulang tugas!” ucapku dengan mata berbinar menatapnya lalu memberi kode dengan alis mataku yang menunjuk ke arah Bima.


“Kejutan?!” ucapnya sambil mengelus rambutku, “Nunggu dari tadi?”


“Iya… oh iya, sayang, ini kenalin teman kantorku, Bima… Bim, kenalin tunanganku.”


“Yudha.”


Sang Letnan menyalami Bima yang sepertinya masih tak percaya kalau aku telah bertunangan.


“Aku tak tahu kalau kamu sudah bertunangan.”


“Hanya kerabat dekat dan keluarga saja yang tahu,” jawabku sambil merangkul pinggang sang Letnan membuatnya merangkul bahuku mesra.


“Tunggu saja undangannya, insyaallah secepatnya,” ucap sang Letnan sambil tersenyum, “Kita pulang sekarang, Sayang?”


“Okay, pulang duluan ya, Bim.”


Kami pergi meninggalkan Bima yang sepertinya belum sembuh dari keterkejutannya, membuatku tertawa bahagia karena sepertinya dia tak akan berani untuk mendekatiku lagi.


“Siapa lagi itu?”


“Iiih! Nyebelin tahu gak, Mas, aku sudah sering banget nolak dia tapi dia gak ngerti-ngerti, gak tahu emang gak ngerti atau keras kepala.”


“Seharusnya kamu bilang dari awal kalau sudah tunangan, iyakan calon istriku?”


“Hahaha…”


Setelah acara di pesta pernikahan teman SMA-nya, dia selalu menggodakan dengan sebutan ‘calon istriku’ tapi aku akan langsung membungkamnya kalau dia berani mengatakan itu di depan Arga atau saudara-saudaraku.


Seperti kata Arga dan saudara-saudaraku, aku akan menjalani ini dengan pelan-pelan sambil mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang masih tertanam di hati… tentang apa aku masih mencintainya? Itu tak perlu ditanyakan lagi karena aku sudah memiliki jawabannya, hanya saja seperti yang sering kali ku bilang, aku belum bisa memercayainya kembali membuatku ragu untuk menyerahkan hatiku yang masih penuh dengan goresan ini kepadanya.


Aku tak pernah lagi mencoba untuk menjodoh-jodohkannya dengan Karin atau siapapun karena aku juga sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan tentang bagaimana perasaanku ketika melihatnya dengan perempuan lain? Yang pasti sifat pencemburuku langsung menyeruak kepermukaan dan aku sangat tidak menyukai melihatnya bersama perempuan lain!


“Aku langsung pulang ya.”


“Gak masuk dulu?”


“Engga, pengen tidur capek banget.”


“Ckk… paling sudah subuh baru tidur kaya biasanya.”


“Hahaha... sekarang beneran pengen tidur, capek banget.”


“Tadi kenapa jemput segala bukannya tidur saja jadi tambah capekkan.”


“Hehehe, kangen saja sudah lama gak lihat si cengeng yang satu ini.” Dia mengacak-acak rambutku sambil tersenyum.


“Ya udah, kan sekarang sudah ketemu pulang gih tapi beneran istirahat jangan begadang.”


“Siap!”


“Besok liburkan?”


Dia mengangguk sebagai jawaban.


“Ke sini gak?”

__ADS_1


“Lihat besok ya.”


“Sudah ada janji?”


“Teman-teman ngajak ketemuan.”


“Teman SMA?”


“Iya, mau ikut?”


“Hmmm… ganggu gak kalau ikut?”


“Engga, mereka juga pada bawa pasangan masing-masing kok.”


“Ada Deby sama Ocy gak?”


“Hahaha… Deby sudah balik ke Amrik, Ocy kayanya ikut deh.”


“Kok tahu?”


“Kan ada di grup.”


“Ooh...”


“Mau ikut gak?”


“Kan kerja.”


“Oh iya, tapikan setengah hari kalau sabtu, acaranya sore kok.”


“Iya, tapi engga deh tar malah ganggu.”


“Ya udah, pulang dulu ya... assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Keesokan harinya sekitar jam 7 malam sang Letnan mengirimiku pesan.


“Lagi nonton drakor di kamar.”


“Nasib jomblo ya kaya gitu, malam mingguannya sama drakor.”


“Kencan sama cowok-cowok di drakor itu lebih menggoda.”


“Hahaha, tapi tetap saja gak bisa dipeluk sama diajak ngobrol.”


“Biarin, lihat muka mereka saja sudah cukup bikin senyum-senyum sendiri.”


“Dasar… ngomong-ngomong temanmu itu gak ganggu lagikan?”


“Tadi dia nanya-nanya soal Mas Yudha.”


“Ngapain? Jangan-jangan dia jadi suka sama aku!”


“Hahaha… ngefans katanya.”


“Ckkk… susah kalau ganteng kaya artis.”


“Hahaha… GR! Dimana nih? Sudah pulang acara kumpulnya?”


“Belum… BT nih, mereka pada bawa pasangan.”


“Hahaha... nasib jomblo ya kaya gitu datang ke pertemuan dikacangin.”


“Iya nih, punya calon istri malah lebih milih kencan sama drakor daripada nemenin.”


“Hahaha.”


“Key, aku nganterin Ocy pulang ya?”


Tiba-tiba aku duduk tegak membaca pesannya.


“Memang Ocy datang sendiri?”

__ADS_1


“Tadi dianterin cowoknya, tapi cowoknya sudah ada janji jadi pulang duluan.”


Aku terdiam membaca itu.


“Mas Yudha bawa apa? Mobil atau motor?”


“Motor, kenapa?”


Membayangkan sang Letnan membonceng Ocy sudah membuat mood nonton drakorku terjun bebas. Oh ayolah, Key! sekarang kalian hanya berteman jadi tidak ada alasan untuk kamu melarang-larangnya. Aah! Tapi tetap saja aku tak menyukainya walau hanya dengan membayangkannya saja!


Aku terkejut ketika ponselku berbunyi dan itu dari sang Letnan, mungkin karena aku terlalu lama membalas pesannya jadi dia menghubungiku.


“Hallo.”


“Gimana, boleh gak?”


“Terserah Mas Yudha.”


Sang Letnan terdiam beberapa saat kemudian dia berkata.


“Key, bilang sama Za aku hanya sebentar setelah aku mengantarnya aku akan langsung pulang untuk bermain lagi dengan Kekey si cengeng.”


“Ya udah, tapi…”


“Tapi apa?”


Tapi jangan biarkan dia memelukmu, aku ingin mengatakan itu tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakannya.


“Engga jadi.”


“Ya udah, aku jalan ya... Cy, kata calon istriku gak boleh meluk, pegangannya kaya sama tukang ojek ya.”


“Iiih, Mas Yudha, apaan sih?!!”


Aku terkejut ketika tiba-tiba dia berkata seperti itu dan aku bisa mendengar suara perempuan tertawa sambil berkata, “Siap! Bayar ongkos sekalian ga?”


“Key, kata Ocy dia harus bayar ongkos gak?”


“Iiiih, Mas Yudha, nyebelin! Malu-maluin.”


“Hahaha… ya udah, aku jalan dulu ya, assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Aku langsung menyurukan kepalaku di perut Tedy sambil teriak, “Mas Yudha, nyebelin! Iiiih nyebelin!” aaahh, malu-maluin! Kalau nanti ketemu sama teman-temannya dia lagi gimana? Pasti malu bangetkan?! Dikiranya aku tadi beneran bilang gitu padahalkan itu… dalam hati saja aku bilangnya juga, tapi kenapa dia bisa tahu ya?


Sekitar jam 8.30 suara motor sang Letnan terdengar memasuki pekarangan rumahku membuatku langsung keluar, dia turun dari motor, membuka helmnya lalu nyengir melihatku yang cemberut menyambutnya sebelum memukul lengannya kesal.


“Iiih... nyebelin! Malu-maluin, nanti dikiranya aku beneran bilang gitu.”


“Hahaha… tapi dalam hati memang bilang gitukan,” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.


“Iiih! Nyebelin.”


Aku masuk ke dalam rumah masih dengan muka cemberut diikuti olehnya yang masih tertawa, kemudian duduk bergabung bersama Ayah dan Ibu yang sedang nonton TV.


“Dari mana Yud?” tanya Ayah setelah sang Letnan mengucap salam dan salim seperti biasanya


.


“Habis nganterin cewek tuh, Yah,” ucapku dengan ketus.


“Yudha, sudah punya pacar? Orang mana? Cantik gak? Kok gak dikenalin sih?”


“Iya, bawa sini Yud, kenalin sama kita... kok sudah pulang lagi malam mingguannya? Harusnya kamu pergi dulu makan malam atau nonton.”


“Nah, Ayah bener tuh.”


Aku menganga tak percaya melihat orangtuaku yang begitu antusias mendengar sang Letnan baru pulang nganterin cewek… aah sebenarnya yang anaknya mereka itu siapa sih? Aku atau sang Letnan? Kenapa mereka lebih antusias mendengar sang Letnan punya pacar daripada saat mendengar aku punya pacar di Jepang?


Hei! Apa mereka sudah tak niat lagi untuk menjadikan sang Letnan menantu kebanggaan mereka? Ckk... pakai ngasih saran soal malam mingguan segala.


*****

__ADS_1


__ADS_2