
“Oh, Sayang, Mamah senang mendengarnya!” seru ibu sang Letnan sambil kembali memelukku.
“Doain ya, Mah.”
“Aamiin, Mamah selalu berdoa untuk kalian berdua.”
“Bi Aas, lanjutin ya... saya ke dalam dulu.”
Mamah merangkul lenganku dan mengajakku masuk ke dalam dimana Papah sedang nonton berita.
“Pah, Lihat siapa yang datang?”
“Halo, Sayang.”
“Pah.” Aku salim kemudian duduk di sofa sebelah Mamah.
“Kata Yudha, dia calon mantu kita.”
“Mamah!” aku menatap Mamah dengan wajah memerah karena tak mengira Mamah akan memberitahu Papah tentang itu.
“Waah… Alhamdulillah, sok atuh kapan mau di sah-innya.”
“Iiih, Papah!”
“Kan biar cepat-cepat sahnya, kalau ditunda-tunda lagi tar keburu berubah pikiran lagi.”
“Insyaallah tidak akan berubah pikiran lagi, Pah.” Aku berkata dengan malu-malu membuat kedua orangtua sang Letnan tersenyum.
“Iya kapan atuh?”
“Terserah Mas Yudha saja.”
“Apa yang terserah aku?”
Aku membalikan tubuhku melihat sang Letnan yang setengah berlari menuruni tangga.
“Itu Papah nanya kapan mau disahin-nya, biar beneran jadi mantu jangan calon mulu.”
Sang Letnan tersenyum mendengar perkataan Mamah.
“Kekey bilang terserah aku?”
“Iya, Kekey bilang terserah Mas Yudha saja,” jawab Mamah dengan senyum lebarnya.
“Kalau gitu, sekarang saja yuk!”
“Mas Yudha!”
“Hahaha, katanya terserah aku, kalau terserah aku sih pengennya sekarang.”
“Iiih… yang tadi,” ucapku sedikit berbisik dengan wajah memerah mendengar mereka membicarakan tentang pernikahan kami.
“Oooh… nanti katanya, Mah, kalau dia sudah ngasih kode Yudha langsung bilang Mamah sama Papah biar ngesah-in.”
“Ya udah kode-kodeannya jangan lama-lama ya! Nanti kalau sudah nikah kalian tinggal di sini saja di lantai dua itu khusus buat kalian, kami tak akan ganggu iyakan, Pah?”
“Iya, nanti kita renovasi lagi biar kamu nyaman, atau kalau kalian mau mandiri juga gak apa-apa, kalian bisa tempatin rumah yang di Buah Batu.”
“Oh, no-no-no!” seru Mamah dengan serius menatap Papah, “Yudha sering tugas keluar, Kekey pasti takut kalau sendirian di rumah, mending di sini saja ada Mamah yang nemenin kalau Yudha tidak pulang karena tugas.”
“Mamah yang nemenin Kekey atau Kekey yang nemenin Mamah nih?”
“Ya, saling nemeninlah.”
__ADS_1
“Hahaha… ya udah, nanti kita renovasi lantai atas.”
“Kita cari furniture baru juga.”
Aku dan sang Letnan hanya saling pandang tak bisa berkata apa-apa melihat kedua orangtuanya begitu semangat menyiapkan segalanya, kami hanya bisa tersenyum saling menggelengkan kepala. Sampai akhirnya sang Letnan berdiri dan menarik tanganku untuk ikut berdiri mengikutinya.
“Mau kemana?” tanya Mamah melihat kami pergi meninggalkan mereka.
“Mamah lanjutin saja ngobrol sama Papah soal lantai atas, Yudha mau kode-kodean dulu sama calon istri.”
“Mas Yudha!” aku langsung mukul lengannya yang hanya tertawa sambil terus menuntunku ke belakang… ya Allah! Pasti mukaku merah banget sekarang apalagi tadi kedua orangtua sang Letnan pun tertawa mendengarnya.
“Iiih… Mas Yudha malu-maluin.”
“Hahaha.”
Saat ini kami sudah duduk di atas gazebo dekat kolam ikan koi Papah.
“Lagiankan kita belum resmi.”
“Kata siapa? Kita sudah resmi kok.” Aku menatap sang Letnan sambil mengangkat alis.
“Kamu tinggal pilih mau jadi Kekey yang calon istriku atau Za kekasihku.”
“Curang! Hahaha.”
“Kok curang, kan kamu sendiri yang bilang sama teman-temanku kalau kamu calon istriku.”
Mendengar itu aku merasa kalah dan hanya bisa mendengus tertawa menatapnya, “Kalau Keyza?”
“Nah itu apa lagi… kalau itu sudah komplit semuanya deh, Keyza itu kekasih dan calon istriku.”
“Sepertinya aku tidak punya pilihan lain.”
Aku tersenyum melihat wajahnya yang begitu gembira, untuk beberapa saat aku menikmati memandang wajahnya yang berseri-seri seperti itu, sudah sejak lama aku tak pernah melihatnya seperti ini tersenyum dan tertawa dengan hati.
Aku tinggal di Sukajadi sampai jam 8 malam kemudian pamit pulang diantar sang Letnan menggunakan motor dengan tas ransel berisi baju bersih yang tergemblok di punggungku. Seminggu sekali dia akan pulang dengan pakaian kotor dan kembali ke mess dengan pakaian bersih untuk seminggu.
“Nanti kalau sudah nikah, Mas Yudha pulangnya seminggu sekali juga?” tanyaku sambil menatap tas ransel sang Letnan yang tergeletak di salah satu kursi teras rumahku.
“Ya enggalah, kalau sudah nikah nanti tiap hari pulang.”
“Kan jauh Sukajadi-Batujajar.”
“Nanti bawa mobil saja biar bisa lewat tol jadi tak terlalu jauh.”
Aku tersenyum mendengarnya, entah kenapa melihat Mamah dan Papah tadi yang semangat membicarakan dimana kami akan tinggal setelah menikah membuatku ikut semangat membayangkan pernikahan kami.
“Sebenarnya kita bisa saja tinggal di komplek Kopassus setelah nikah nanti jadi aku bisa pulang setiap saat.”
“Tapi kasihan Mamah sama Papah sudah semangat banget mau renovasi lantai atas segala.”
“Iya, nanti pelan-pelan kita bicarakan dengan mereka… kita bisa pulang ke Sukajadi seminggu sekali nginep di sana sekalian nengokin orangtua kita.”
“Terus nginep di sininya kapan? Kalau nginepnya di Sukajadi terus!”
Aku dan sang Letnan terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara ibu yang keluar dari dalam rumah diikuti Ayah dan Dirga.
“Ibu? Dari kapan…”
“Dirga tadi dengar Kakak nanya ke Mas Yudha kalau sudah nikah pulangnya seminggu sekali? Terus Dirga kasih tahu Ibu sama Ayah kalau Mas Yudha mau nikah.”
“Iiih.. dasar bawel!” seruku sambil menatap Dirga galak.
__ADS_1
“Jadi kalian beneran mau nikah?” tanya Ayah tak menghiraukanku dan Dirga.
“Insyaallah, Yah, doain saja,” jawab sang Letnan sambil berdiri dan tersenyum.
“Belum tahu kapannya, Yah, tadi hanya ngobrol biasa saja.” Aku berusaha meyakinkan kedua orangtuaku kalau kami tak akan menikah dalam waktu dekat ini.
“Yudha masih nunggu isyarat dari Kekey, kalau dia sudah ngasih isyarat Yudha pasti akan langsung meminta restu dan ijin kepada Ayah dan Ibu.”
“Kamu mah pake isyarat-isyaratan segala, udah aja iya gitu!” seru Ibu sambil memukul lenganku membuatku meringis… ini sebenarnya yang mau nikah siapa sih? Kok yang heboh malah orangtua.
“Iya, Yudha sudah 30, kamu juga sudah 25 sudah cukup umurnya buat nikah nunggu apa lagi sih.”
“Iya tuh, Yah, Kekey tidak tahu masih mikir-mikir dulu katanya.”
Aku melotot menatap sang Letnan yang bukannya belain malah ikut-ikutan seperti orangtuaku.
“Kakak mah pura-pura malu padahal mah mau, kalau sudah ditinggalin Mas Yudha aja baru tahu dia.”
“Mas Yudha tak akan berani lagi ninggalin Kakak, lihat saja kalau berani ninggalin!” aku menatap sang Letnan tajam membuatnya tertawa.
“Udah ah! Ibu mau nelpon Dimas dulu, dia pasti bahagia dengar kabar ini.”
“Ayah juga mau telpon Juang.”
“Bu! Yah! Kita belum tahu kapan mau nikahnya!” Teriakanku yang sepertinya percuma karena kini mereka sudah menghilang masuk ke dalam.
“Kak, jangan lupa tanyain pertanyaan Dirga yang di RS waktu itu ya!” seru Dirga dengan senyum lebar dan berlari masuk ke dalam.
“Apaan?” tanya sang Letnan penasaran.
“Itu si Dirga katanya jaket kulitnya…”
“Hahaha… masih dia ngincer jaket ini?”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Jangan yang ini, ah! Tar saja beliin yang baru.”
“Dikasih siapa tuh jaketnya?”
“Hahaha… bukan dikasih tapi aku sengaja pesan ini sama teman orang Garut.”
“Ooh…”
“Udah ah, aku pulang ya takut kemalaman.”
Aku mengangguk mengerti sambil berjalan mengikutinya untuk pamit kepada kedua orangtuaku lalu mengantarnya kembali ke halaman dimana motor sang Letnan terparkir.
“Sekarang kedua orangtua kita sudah tahu kalau kamu calon istriku, jadi kamu tak bisa lari lagi paham?”
Aku tersenyum sambil menunduk malu.
“Ini semua gara-gara Mas Yudha bilang sama Mamah, jadi aja dikiranya serius.”
“Hahaha… sengaja biar kamu gak kabur.”
Aku berdecak sambil tersenyum malu.
“Jadi karena kamu sudah menjadi calon istriku.” Sang Letnan menaruh kedua tangannya dipundakku membuatku mendongak menatapnya, “Aku akan meninggalkan tanda kalau kamu sekarang resmi menjadi milikku.”
Deg!
Darahku berdesir, jantungku berdetak menggila ketika sang Letnan memberikan tanda yang begitu manis dan lembut, yang tak pernah kurasakan lagi setelah setahun yang lalu. Tanda yang membuatku senyum-senyum sendiri sambil gelindingan di kasur ketika mengingatnya seolah itu adalah pertama kali kami melakukannya, sebuah tanda yang membuatku semakin merindukannya malam ini, dan sebuah tanda yang akan mengikat kami selangkah lagi menuju masa depan… aamiin.
__ADS_1
*****