
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam… naah itu dia.”
Kami langsung berdiri menyambut sang Letnan yang terlihat keren seperti biasanya walaupun hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana denim. Arga langsung memeluk sang Letnan sambil mengucapkan minal aidzin walfaidzin.
Aku baru akan maju ketika Al berlari dari dalam sambil berteriak… “Ooom!” Membuat sang Letnan langsung mengangkatnya kemudian menciumnya.
“Salim!”
Al langsung menuruti perintahnya sambil tersenyum lebar.
“Pinter.” Sang Letnan mengacak-acak rambut pendek Al lalu menurunkannya setelah terlihat Kak Dimas dan yang lainnya kini ikut bergabung di depan.
“Kok, baru datang sekarang, Yud?” tanya Kak Dimas sambil memeluk sang Letnan dan bermaaf-maafan.
“Iya, acara di rumah baru beres, Kak.”
Mas Juang seperti biasa langsung memberi hormat kalau bertemu sang Letnan, sebelum akhirnya mereka-pun berpelukan. Dan terakhir Dirga yang salim kemudian dapat pelukan yang sama, melihat itu membuatku tersenyum, ada perasaan hangat di dada ketika menyaksikannya.
“Yah… maafin Yudha.” Sang Letnan salim yang seperti biasa dapat tepukan lembut di bahu dari Ayah sambil tersenyum lebar.
“Bu…. Maafin Yudha, Bu.” Ibu mengangguk lalu mencium kedua pipi sang Letnan seperti kepada anak-anaknya, akupun yakin Arga dapat perlakuan yang sama tadi, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sang Letnan masih berdiri di depan ibu sambil menggenggam tangannya ketika tiba-tiba berkata, “Terimakasih karena sudah melahirkan, membesarkan dan mendidik Kekey menjadi seperti sekarang.”
Aku terkejut dengan hati berdesir ketika mendengaar ucapan sang Letnan kepada Ibu yang membuat ibu tersenyum lebar sambil berkata.
“Sama-sama, Sayang, cuma kamu yang setiap tahun tak pernah lupa ngucapin.”
Aku semakin kaget ketika ibu mengatakan setiap tahun, itu artinya bahkan ketika kami telah putus dia masih menghubungi ibu untuk mengucapkan itu? Sang Letnan kini bersalaman dengan Teh Wulan kemudian menatapku yang belum sembuh dari keterkejutan lalu menjulurkan tangannya sambil berkata,
“Salim!”
Dan seperti Al tadi aku langsung salim, membuat sang Letnan mengelus rambutku sambil berkata, “Pinter.” Aku tersenyum mendengar pujian itu tapi kemudian tersadar kalau aku persis Al tadi!
“Iiiih… nyebelin!”
Semua orang tertawa melihat sang Letnan yang memerlakukanku seperti anak umur 2 tahun.
“Hahaha.”
__ADS_1
Aku cemberut tapi kemudian tersenyum sambil menatapnya dengan mata berbinar membuatnya mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Kok cuma Ibu yang diucapan selamat, kan aku yang lagi ultah.”
Aku tersenyum ketika ku lihat dia tersenyum mengingat kalau dia belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
“Oooh… iya lupa… selamat ya, Key, sudah tambah tua… jangan cengeng lagi!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku membuat semua orang kembali tertawa dan kali ini aku benar-benar cemberut.
“Udah! Kalian ini bercanda mulu, malu tuh ada tamu,” ucap ibu yang menyadarkan kami kalau ada Rey yang hanya berdiri menyaksikan kami tadi.
Sang Letnan menatap Rey yang juga menatapnya, aku menatap sang Letnan dan jujur saja aku sedikit ragu ketika akan mengenalkan mereka. Tapi mau tak mau akhirnya aku melakukannya juga.
“Kenalin, Mas, ini… Rey.”
Sang Letnan masih menatap Rey penuh selidik kemudian mengangguk mengerti, dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“Salim,” ucapnya polos membuat Rey langsung maju dan benar-benar salim membuat kami semua kembali tertawa. Dan seperti aku tadi Rey seperti baru menyadari kesalahannya, terlihat dari wajahnya yang sedikit kesal.
“Mas Yudha.. iiiihh!!” aku memukul lengan sang Letnan yang hanya tertawa.
“Udah… sekarang pada makan dulu gih, Teh Wulan sudah siapin ketupatnya tuh.”
“Arga juga, Bu, masih kenyang.”
“Ya udah, pokoknya kalau mau makan semua sudah siap ya.”
Ayah dan Ibu kembali ke dalam setelah mengantar keluarga Kak Dimas yang malam ini akan menginap di rumah orangtua Teh Wulan di daerah Cimahi, sedangkan Mas Juang dan Dirga pergi karena ada janji dengan teman-teman mereka. Dan kami berempat kini duduk di ruang tamu.
“Bunganya bagus,” ucap sang Letnan sambil mengambil buket bunga yang diberikan Rey tadi, “aku tak tahu kalau kamu suka bunga, Key.”
“Aku saja baru tahu, Nan,” ucap Arga sambil mengambil nastar di toples berisi kue-kue khas lebaran yang berada di atas meja.
“Perempuan itu rata-rata suka kalau dikasih bunga atau coklat gitu… saya sering kasih Kekey bunga atau coklat kalau dia lagi marah dan biasanya marahnya langsung hilang. Ya tentu saja coklat dan bunganya juga yang special, bukan coklat murahan.”
Sang Letnan dan Arga menatapku kemudian tersenyum sambil mengangkat alis mereka.
“Kalian belum pernah ngasih bunga atau coklat sama cewek kalian?”
“Pacar saya lebih suka diajak makan bakso dari pada di kasih bunga, kata dia bunga itu gak bikin kenyang, terus untungnya gak suka coklat takut giginya rusak katanya… kalau bakso kan murah Rp 15.000, sudah bikin dia kenyang terus senyum lagi.”
__ADS_1
“Nah bener tuh, kalau pacar saya dulu lebih suka dikasih duren daripada di kasih bunga,” ucap sang Letnan sambil kembali menyerahkan bunga kepadaku dengan senyum menghiasi wajahnya membuatku kembali diingatkan kepada masa lalu.
Dulu ada kalanya ketika aku marah sang Letnan akan membelikanku duren atau kalau lagi gak musim dia akan membeli es krim rasa duren sebagai permintaan maaf walaupun tidak boleh makan banyak-banyak, atau makan bakso di dekat Gubernuran hanya untuk membuatku kembali tersenyum padanya, tapi ada kalanya juga dia hanya mengatakan kata-kata romantis yang terkesan gombal yang akhirnya membuatku tersipu malu atau tertawa. Sesungguhnya, tak perlu buket bunga atau coklat mahal untuk membuatku kembali tersenyum.
“Kalian pasti bukan tipe cowok romantis ya? kalau saya akan melakukan apa saja untuk membuat cewek bahagia… ya seperti ini, saya bahkan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk mendapatkan tas limited edition yang hanya ada 100 di dunia ini untuk hadiah ulang tahun Kekey.”
Aku malu mendengar Rey berkata seperti itu, aku bahkan tak berani untuk melihat bagaimana reaksi sang Letnan dan Arga ketika mendengarnya.
“Wiiih, keren! Pasti mahal banget ya?” tanya Arga ambil melihat tas hadiah dari Rey.
“Ya… lumayanlah, kalau di Indonesia bisa buat beli motor 4-5lah.”
Ok! Aku benar-benar malu sekarang, dan wajahku pasti sudah memerah saat ini.
“Edan euy, luhur kieu si Tukul, Nan.” (Gila, tinggi banget si Tukul ngomongnya, Nan).
“Keun antep, Ga, loba teuing gaul jeung si Suneo eta teh.” (Biarin saja, Ga, kebanyakan gaul ma Suneo itu tuh).
Mendengar itu Arga tertawa dan aku hanya bisa terdiam, karena jujur saja aku juga merasa tak tahan dengan kesombongan Rey saat ini apalagi ini menyangkut hadiah yang diberikannya untukku.
“Hebat banget, jadi tas ini hanya ada 100 di dunia?” sang Letnan bertanya yang semakin membuat Rey merasa bangga.
“Iya, ini tas hasil designer dunia jadi hanya dimiliki oleh artis-artis papan atas, orang-orang kaya dan juga para kolektor tas.”
Sang Letnan mengangguk mengerti.
“Tahu gak? Arga pernah memberikan hadiah limited edition kepada Kekey dan hanya ada satu-satunya di dunia.”
Rey terkejut mendengar ucapan sang Letnan, tapi bukan hanya dia, aku dan Arga-pun sama terkejutnya, kami tak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.
“Para artis papan atas dunia, orang-orang kaya, bahkan para kolektor dan Raja Arab-pun tak ada yang memilikinya. Untuk mendapatkannya perlu perjuangan luar biasa, bukan hanya ngantri di mall tapi bisa juga membahayakan jiwanya.”
“Benarkah? Apa itu?” Rey terlihat penasaran.
Sang Letnan menatapnya serius kemudian menunjuk lemari hias dimana terpajang pernak-pernik khas daerah dan juga beberapa dari luar negri, tapi yang paling mencolok adalah sebuah batu dengan tulisan ‘asli dari puncak gunung Semeru’.
Aku dan Arga hampir saja tertawa menyadari apa yang dimaksud sang Letnan dengan barang limited edition yang pernah Arga berikan untukku.
“Batu asli diambil dari puncak gunung Semeru, satu-satunya yang ada di dunia karena hasil design dari Sang Maha Pencipta, jadi gak bakalan ada yang sama baik bentuk atau ukurannya.”
“Benar-benar limited edition.” Arga menyambung ucapan sang Letnan yang hanya duduk tenang sambil makan kacang goreng, dan aku diam-diam tersenyum melihat wajah Rey yang melongo mendengar ucapan sang Letnan dan Arga
__ADS_1
*****