
“Semua pekerjaan juga beresiko, Key,” ucap Arga dengan mulut penuh.
Saat ini aku dan Arga tengah duduk di teras depan sambil makan bakso, aku menceritakan tentang apa yang terjadi dengan sang Letnan dan juga khawatiranku.
“Tapi tidak semua beresiko ketembak, Ga.”
“Iya, tapi yang berbahaya bukan hanya ketembak, Key.” Arga mengunyah baksonya kemudian menelannya sebelum melanjutkan ucapannya.
“Tukang Duren juga beresiko, gimana kalau tiba-tiba kepalanya kejatuhan duren? Bukan hanya 1 tapi setruk?”
“Hahaha.. ah! kamu mah ngaco.”
“Eh, bukan ngaco ini mah serius, Key!” Arga mengambil air minum karena kepedasan.
“Tapi kan itu hal yang jarang bahkan tak mungkin terjadi, Ga.”
“Emang Letnan tiap hari ditembakin? Kan engga, kecuali ditembakin cewek itu bisa saja tiap hari dan percayalah itu lebih bahaya lagi.”
“Iiih! Kamu mah ngedoainnya gak bener.”
“Siapa yang ngedoain, aku cuma mau ngasih tahu saja kalau semua pekerjaan itu beresiko dan yang membahayakan itu bukan hanya tertembak. Yang perlu kamu ingat jodoh, maut itu sudah ada yang ngatur… tidak perlu kita pergi ke medan perang untuk tertembak, buktinya diberita ada orang lagi duduk tahunya tertembak peluru nyasarkan? Itu sudah takdirnya, sudah garis hidupnya kalau soal itu kita tidak bisa menghindar dari kuasa Illahi.”
Aku terdiam memikirkan perkataan Arga yang lagi-lagi ada benarnya juga.
“Iya ya, Ga.”
“Iya, khawatir itu wajar tapi jangan terlalu berlebihan malah nyiksa diri sendiri. Seperti yang sering Letnan bilang yang perlu kamu lakukan hanya berdoa minta sama Allah biar menjaganya kalau dia lagi tugas, dan kalau lagi tidak tugas minta sama Allah biar menjaganya dari godaan perempuan-perempuan yang menggoda.”
“AAMIIN!!!”
“Hahaha… kayanya aamiinnya kencengan buat doa yang terakhir tuh.”
“Gara-gara dia masuk TV pulang dari Suriah kemarin, masa wartawan jadi pada inget sama kejadian Leona dulu, Ga, kan nyebelin.” Aku berkata dengan kesel karena memang tim pembebasan kemarin sempat menarik perhatian publik terutama sang Letnan yang dulu sempat menjadi viral.
Masyarakat seolah diingatkan kembali dengan kejadian Leona beberapa tahun lalu, melihat sosok sang Letnan yang semakin dewasa dan gagah membuatnya kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial dan televisi.
Banyak saluran televisi yang mengundangnya secara pribadi ke acara talk show yang selalu ditolaknya. Tapi dia tidak bisa menolak acara-acara kenegaraan seperti jamuan dengan Presiden dan undangan kenegaraan dari Kedubes Prancis dan Jepang yang pasti diliput wartawan.
“Nyebelin karena inget Leona atau karena jadi banyak yang suka?”
“Dua-duanya!”
“Hahaha… makanya cepetan di sah-in.”
“Ckk... dianya masih sibuk ngurus-ngurus laporan tugas kemarin sama makan-makan.”
“Hahaha... gaya nya si Letnan makan-makannya sama Presiden terus para Dubes… eh kamu juga deh pernah makan-makan sama anak Dubes, hahahaha…”
“Iiih.. jangan diingetin!!!”
“Gimana kabarnya tuh si Tukul?”
“Gak tahu dan gak mau tahu!”
“Hahahaha… jangan gitu, Key, sama mantan terindah tuh.”
Tanpa banyak bicara aku langsung melempar Arga dengan plastik berisi kerupuk yang hanya membuatnya semakin tertawa.
“Sama kaya Wina.”
“Ya bedalah.”
“Ya samalah.”
“Sama apanya?”
“Sama-sama gila! Hahaha”
“Hahaha…”
Aku dan Arga tertawa lebih tepatnya menertawakan diri sendiri karena pernah salah menyukai seseorang. Tapi kini aku telah kembali kepada orang yang memang telah mencuri hatiku sejak lama sedangkan Arga…
“Gimana Irene? Semua baik-baik sajakan?”
Arga berdiri sambil menyerahkan mangkuk kosong kepada tukang bakso lalu membayarnya, dia kembali duduk sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku tadi.
“Sudah putus.”
“Hah! Kapan?” aku terkejut mendengar jawaban Arga.
“Minggu lalu.”
“Kok gak cerita?”
“Waktu itu kamu sedang pusing mikirin Letnan yang lagi tugas ke Suriah, aku tak mau nambah beban pikiran kamu.”
“Ya Allah, Ga, seharusnya kamu cerita saja.”
“Gak apa-apa, key, semua sudah beres.”
“Tapi kamu gak apa-apakan?”
“Gak apa-apa, lagian aku sudah bisa nebak kalau ujung-ujungnya bakal kaya gini.”
“Masih gara-gara Reva?”
“Awalnya iya, tapi ke sini-sini jadi merembet kemana-mana.”
“Kemana-mana gimana?”
“Iya pokoknya dia cari-cari kesalahan aku terus.”
“Emang kamunya saja yang salah kali, Ga.”
“Engga lah,Key.”
“Kalau kamu gak salah, dia gak bakal nemuin kesalahan kamu walaupun dia cari-cari.”
Arga terdiam beberapa saat kemudian berkata, “Iya ya, hahaha.”
“Kamu gak nurunin dia di tengah jalankan?”
__ADS_1
“Hahaha, engga!”
“Gak nyiram dia pakai es tehkan?”
“Iiih! Itu mah kamu, Key, hahaha.”
Aku ikut tertawa mengingat kejadian Arga dan Wina dulu.
“Jadi.. siapa yang mutusin? Kamu atau Irene?”
“Aku.”
“Kamu?!” aku bertanya tak percaya.
Arga mengangguk sebagai jawaban kemudian berkata, “Hubungan tanpa kepercayaan sudah tidak ada artinya lagi, Key, seperti bungkus kosong tanpa isi.”
“Tapi kamu masih sayang sama dia?”
Arga terdiam kemudian mengangguk, “Aku tak akan menyangkal, aku memang masih menyayanginya tapi buat apa dipertahankan lagi kalau hubungan ini hanya membuat kami saling menyakiti.”
“Irene gimana? Dia pasti terluka ketika kamu putusin.”
“Mungkin, tapi saat itu dia bisa menerimanya dengan sangat baik karena sepertinya dia-pun telah memikirkan hal ini. Kami telah sama-sama dewasa, Key, sudah tahu apa yang terbaik untuk kami berdua dan sepertinya mengakhiri hubungan ini adalah keputusan yang terbaik bagi kami.”
Aku tersenyum memberinya semangat, “Tak perlu khawatir, aku yakin kamu hanya perlu sebulan buat dapatin lagi yang baru.”
“Hahaha.”
“Tapi kali ini harus yang serius, Ga, jangan main-main.”
“Dari dulu juga pacaran mah serius, Key, aku tuh gak pernah pacaran sambil main bekel atau ular tangga.”
“Hahaha.”
Arga Dewantara tak pernah berubah sedikitpun tetap menjadi pribadi yang menyenangkan, yang bisa membuatku tertawa dalam kondisi apapun, sahabat terbaikku. Dan kini aku bisa melihat kedewasaan pada dirinya.
Bukan lagi sebagai pemuda yang hobi naik gunung dan terkesan urakan, tapi kini aku bisa melihat cara pandangnya yang semakin dewasa tak lagi mementingkan ego. Mungkin umurlah yang membuat kami tanpa sadar berubah menjadi lebih dewasa.
Arga dengan jantan melepas cintanya karena ia tahu kalaupun dia memertahankannya yang ada mereka berdua hanya akan saling menyakiti, aku yakin dia mengambil keputusan itu karena dia tak ingin membuat Irene lebih terluka lagi dengan perasaan cemburunya yang tak mendasar.
Sedangkan aku… seandainya aku masih seegois dulu mungkin saat ini aku tak akan bertunangan dengan sang Letnan dan masih terpuruk dalam kubangan perasaan benci dan kecewaku padanya karena masalah masa lalu. Aku bersyukur karena aku dikelilingi orang-orang yang tak pernah sedikitpun menyerah untuk menyadarkanku tentang perasaanku sendiri dan selalu mendukungku.
Dan tentu saja yang paling berperan penting dalam masalah ini adalah sang Letnan sendiri yang tak pernah menyerah dengan kekeras kepalaanku dan selalu berada di sampingku walaupun apa yang terjadi.
Dan kini pria itu sedang berada di dalam layar kaca berbicara dengan para wartawan yang meliput acara makan malam semalam di Istana Kepresidenan sekaligus presscon secara resmi tentang apa yang terjadi di Suriah beberapa hari yang lalu.
Sebagai Komandan pasukan pada saat pembebasan sandera sang Letnan diberi kesempatan untuk menjelaskan secara langsung kepada awak media dan menjawab beberapa pertanyaan dari para wartawan.
Aku tersenyum bangga melihat sang Letnan yang terlihat tenang dan penuh percaya diri ketika berbicara di depan kamera yang meliput dan menjawab pertanyaan-pertanyaan para wartawan dengan tegas, tak berbelit-belit. Membuatku merindukannya dan tanpa pikir panjang aku langsung menghubunginya.
“Assalamualaikum, calon bidadari surgaku.”
“Hahahaha… wa’alaikumsalam calon imamku.”
“Hahaha.”
“Lagi ngapain? Ganggu gak?”
“Ganggu.”
“Iya, kamu menggangguku yang sedang sibuk memikirkan dan merindukanmu.”
“Iiih… Mas Yudha!”
Aku tak bisa menahan tawaku lagi ketika mendengar gombalannya.
“Kenapa? Itu memang kenyataanya, Sayang.”
“Kalau memang kangen kenapa gak pulang?”
“Aku juga inginnya pulang, tapi aku harus menghadiri undangan dari Kedubes Prancis malam ini.”
“Emang harus datang ya?”
“Ini nasib bawahan, Za, kami tak bisa menolak ketika atasan telah memberi perintah.”
Aku sedikit kecewa mendengarnya karena jujur saja aku sangat merindukannya. Sepulang dari Suriah kami hanya bertemu malam itu ketika aku mengetahui kalau tangannya terserempet peluru, besoknya sang Letnan memang masih diberi jatah libur tapi dihabiskan dengan tidur dan akupun tak ingin mengganggunya karena tahu kalau dia pasti sangat lelah.
Keesokan harinya dia harus kembali masuk kerja untuk membuat laporan dan langsung pergi ke Jakarta untuk menghadiri undangan makan malam bersama Presiden lanjut dengan undangan dari Kedubes-kedubes yang merasa sangat berterimakasih karena TNI telah berhasil menyelamatkan nyawa warga mereka.
“Jangan cemberut, kalau urusan di sini sudah selesai aku pasti langsung pulang.”
“Siapa yang cemberut? Aku sih engga.”
“Engga salah… hahaha.”
“Iiih engga! Beneran!”
“Gak kangen?”
“Kangen!”
“Tadi katanya engga.”
“Iiih, engga cemberut tapi kangen.”
“Oh, bilang dong daritadi.”
“Mas Yudha nyebelin!”
“Hahaha… nyebelin atau ngangenin?”
“Nyebelin!”
“Hahaha.”
Sang Letnan yang selalu menggodaku kadang membuatku kesal tapi juga merindukannya ketika berjauhan seperti ini. Dia bahkan membuatku merindukannya di antara benci dan amarahku dulu, dia telah menghancurkan hatiku kemudian dia juga yang memperbaikinya. Ada apa dengan pria itu hingga membuatku seperti itu? Atau mungkin pertanyaan yang tepat adalah ada apa denganku yang seolah tak bisa lepas darinya bahkan ketika aku ingin?
“Jodoh… itu namanya jodoh,” jawab Arga ketika aku bertanya padaya.
Sang Letnan yang belum pulang dari Jakarta dan Arga yang kini jomblo membuat kami memutuskan untuk jalan berdua mengisi malam minggu tanpa kekasih, tapi untunglah aku bukan jomblo sepeti Arga, hehehe.
__ADS_1
Aku dan Arga duduk di warung tenda jagung bakar yang tersebar di sepanjang Jl. Dago setiap malam terutama malam minggu seperti sekarang.
“Kalau dah jodoh misalnya yang satu di kutub utara satu lagi kutub selatan, pasti bakal ketemu juga,” lanjutnya sambil mengunyah jagung bakar.
“Ketemunya dimana? Kan jauhan.” Aku bertanya iseng sambil menggigit jagung bakar yang dilumuri saus pedas.
“Pas acara halal bihalal sesama orang kutub.”
“Dikirain acara arisan.”
“Ya ibu-ibunya sekalian arisan.”
“Hahahaha… anak-anaknya ngapain?”
“Anak-anaknya makan ketupat sama opor pinguin ditambah rendang beruang kutub.”
“Hahahaha.”
Aku tertawa sampai tersedak membuatku langsung menghabiskan teh botol yang disodorkan Arga.
“Jangan ketawa mulu nanti tersedak.”
“Sudah!”
“Oh sudah ya? Ya telat dong ngasih tahunya.”
Aku mendelik yang membuatnya tertawa.
“Kamu sih nanya-nya aneh-aneh.”
“Kamu juga jawabnya aneh-aneh.”
“Berarti kita berdua aneh dong.”
“Iya ya.. hahaha.”
“Hahaha… sudah ah, kita kembali ke lap-top!”
“Iiiih… nyebelin!”
“Hahahaha ada yang ingat mantan… aww!”
Aku menendang kaki Arga yang duduk di depanku kemudian tersenyum puas ketika melihatnya kesakitan.
“Jadi itu jodoh ya, Ga?”
Aku kembali bertanya santai membuat Arga menatap galak beberapa saat sebelum menjawab pertanyaanku.
“Iya, itu dah jodoh… kamu mau lari kemanapun, mau ngumpet dimanapun, walau menolaknya ratusan kali, dan pacaran dengan cowok psikopat kaya si Tukul (Arga menyeringai penuh kemenangan ketika melihatku yang mendelik padanya) ataupun pacaran sama anak Dubes manapun (Arga tersenyum lebar ketika melihatku mulai melotot padanya) ujung-ujungnya tetap balik lagi sama dia.”
Aku mengangguk-angguk mengerti, “Dah takdir ya, Ga?”
Arga mengangguk sambil menggigit jagung bakarnya, “Semua sudah ada yang ngatur, Key dan itu pasti yang terbaik buat kita semua, ya walaupun belum tentu sesuai keinginan kita.”
Aku melihat Arga tersenyum miris, dan aku tahu kenapa dia melakukannya.
“Ya yakin aja, Ga, kamu-pun kaya gitu.”
“Kaya gitu gimana?” Arga menatapku tak mengerti dengan apa yang ku ucapkan, dia menaruh batang jagung yang sudah habis di atas piring kecil sedangkan aku masih berusaha menghabiskan jagung bakarku.
“Ya seperti yang kamu bilang tadi, kalau memang Irene jodoh kamu pasti gak bakalan kemana, mungkin saja nanti kamu pacaran sama siapa, dia juga pacaran sama siapa atau mungkin bahkan kalian sudah bertunangan sama orang lain seperti Mas Yudha dengan Widy dulu, tapi kalau bukan jodohnya pasti akan bubar juga dan akhirnya kembali ke tempat masing-masing, tempat yang telah Allah siapkan untuk kita.”
Arga terdiam sambil menyeruput kopi hitam kemudian tersenyum sambil mengangguk mengerti. Kami kemudian membicarakan hal lain dan sedang tertawa membicarakan cerita masa lalu ketika tiba-tiba dua orang perempuan mengagetkan Arga.
“Hei!”
Perempuan berambut hitam tebal sedikit bergembang panjang yang dijepit sembarang dengan wajah mungil, hidung mancung, kulit kuning langsat tertawa dengan manisnya ketika melihat Arga yang hampir saja melompat kaget karena tepukan di punggungnya.
Di belakangnya berdiri gadis mungil berkacamata yang ikut tertawa melihatnya, dan aku mengenal siapa gadis itu… dia adalah Reva.
“Ya Allah, Rin, kalau jantungan gimana?”
“Gampang tinggal bawa aja ke UGD,” jawab perempuan yang Arga panggil Rin itu, dia kini menatapku dengan matanya yang besar membuatku tersenyum padanya.
“Kenalin, Rin, ini sahabatku dari zaman purbakala… Kekey.”
“Fosil dong?!” protesku membuat Arga tertawa, aku kemudian menyalami perempuan yang tersenyum ramah kepadaku, “Keyza, panggil saja Kekey.”
“Rinjani, panggil saja Arin.”
“Mau tahu gak nama panjangnya Arin?” tanya Arga dengan mata serius menatapku.
“Siapa?”
“Rinjani Mahameru Papandayan Merapi Gede.”
“Hah!” aku terbelalak dengan mulut menganga mendengar sederetan nama gunung yang ada di Indonesia itu.
“Hahaha… gak usah dengarin Arga.” Arin tertawa menatapku yang terbelalak kaget, “Rinjani Mahameru Putri, itu nama yang diberikan kedua orangtuaku, sisanya pemberian anak gunung yang satu ini.”
Arga tertawa mendengar Arin memanggilnya dengan sebutan anak gunung.
“Dan ini Reva.” Akhirnya Arga mengenalkanku kepada gadis yang membuat perasaan Arga ragu beberapa waktu lalu, “Mau tahu gak nama panjangnya Reva?” Arga kini menatapku dengan sorot mata iseng.
“Revalina S. Tamat?”
Semua orang tertawa mendengarku mempelesetkan nama artis itu.
“Bukan, tapi hampir benar,” ucap Arga membuatku kembali berpikir.
“Jadi siapa dong?”
“Revalina S. Campur,” ucap Arga membuatku tertawa.
“Iiiih… jangan dengarin A Arga, Teh… bukan es campur, tapi es teler.”
“Hahaha... oh dah ganti nama, Va?” tanya Arga.
“Udah, A. es campur gak laku makanya diganti es teller siapa tahu jadi laku.”
Kami kembali tertawa mendengar Reva, mereka berdua adalah gadis yang menyenangkan dan aku menyukai kedua teman Arga ini, tapi… aku bisa melihat sesuatu dari mata keduanya ketika menatap Arga… ya mereka berdua menyukai sahabat baikku itu.
__ADS_1
Ah... sepertinya tidak akan lama bagi Arga untuk mencari pengganti Irene. Bagiku siapapun yang nanti bersama Arga, ku harap dia adalah perempuan yang bisa membuat sahabatku ini bahagia dan selalu tersenyum.
*****