Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Ekstra Part 6


__ADS_3

Sekitar jam tujuh malam acarapun di mulai, tamu sudah mulai banyak yang datang memenuhi area respsi.


“Santai saja.” Aku berusaha menenangkannya yang terlihat tegang walaupun senyum manis tersungging di wajah cantiknya, aku menepuk tangannya yang menggandeng lenganku.


“Kalau salah gimana?”


“Kan cuma jalan saja jadi gak mungkin salah.” Aku tersenyum mendengar kekhawatirannya yang berlebihan.


Saat ini kami telah berdiri siap untuk prosesi pedang pora, sebuah upacara pelepasan masa lajang bagi para perwira sekaligus acara pengenalan mempelai perempuan yang telah sah menjadi istri seorang perwira ke dalam lingkunan militer dan juga memperkenalkan sang istri ke dalam dunia militer.


Di hadapan kami kini telah berbaris 12 rekan-rekanku yang saling berhadapan dengan pedang terhunus ke bawah, dan ketika Beno yang kali ini berperan sebagai komandan regu melapor padaku kalau pedang pora telah siap.


Perlahan kami mulai berjalan dan satu persatu pedang mulai terhunus ke atas, kami terus berjalan melewati gapura dari pedang-pedang tersebut, dapat kudengar semua orang terdengar kagum dengan formasi yang melambangkan bahwa kami dengan sikap dan jiwa ksatria akan selalu siap mengatasi segala rintangan dan menerobos semua hambatan yang ditemui di dalam pernikahan kami.


Kami berhenti di tengah-tengah dan pormasi berubah, seluruh anggota regu kini mengelilingi kami dengan pedang terhunus ke tengah membentuk payung dengan kami berdiri berhadapan di bawah pedang itu.


Aku kembali tersenyum menatapnya yang juga kini menatapku dengan tersenyum ketika ku sematkan cincin pernikahan di jari manisnya, kemudian dia-pun melakukan hal yang sama sebelum akhirnya Za yang kini telah resmi menjadi istri seorang perwira menerima seperangkat pakaian seragam Persit (Persatuan istri tentara) yang artinya kini dia telah resmi menjadi bagian dari dunia militer.


Bersamaan dengan itu Beno menyerukan aba-aba tegak pedang dan pembacaan puisi sebagai cerminan doa agar kami mampu bergandengan tangan mengatasi semua rintangan, dan setelah semuanya selesai akhirnya kami dipersilahkan menuju pelaminan.


“Tuhkan, tadi gak salah jalannya,” bisikku setelah kami sampai dipelaminan


“Hihihi…”


Dia tersenyum malu sebelum akhirnya kami menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang kebanyakan adalah rekan-rekanku, rekan-rekan kedua orangtuaku, dan yang mengejutkan adalah kami menerima karangan bunga dari Presiden, Kemenhukam, Kedubes Perancis dan Jepang, dan beberapa para Mentri dan orang-orang ternama lainnya yang bahkan aku sendiri belum pernah bertemu dengan beliau-beliau tersebut.


Acara resepsi selesai sekitar pukul 9, tapi kami tak ikut pulang karena mendapatkan voucher untuk menginap di resort malam ini.


Aku menyuruh Za untuk naik dan beristirahat terlebih dahulu sedangkan aku masih berada di bawah bersama sebagian teman-temanku yang memutuskan untuk duduk dan ngobrol setelah acara resepsi, termasuk Arga, Juang, Dirga, Adit, Agus dan Rendy.


Malam itu aku baru masuk ke kamar sekitar jam 11 malam dan ku lihat Za sudah tidur dengan mulut terbuka… aku tersenyum melihatnya tidur seperti itu, tapi dalam hati merasa sangat bersalah karena dia pasti sangat lelah.


Aku mandi, berganti pakaian dan akhirnya bisa merebahkan tubuhku di atas kasur dengan perempuan yang tak lain adalah istri sahku. Perlahan ku angkat kepalanya untuk kurebahkan di atas lenganku, sepertinya dia benar-benar lelah karena dia hanya bergerak sedikit sebelum kembali mangap.


Aku tersenyum sambil membuang napas lega ketika melihat dia kembali terlelap, “Love you” bisikku sambil mencium keningnya. Sepertinya aku harus cukup puas dengan hanya memeluknya saja pada malam pertama kami.


****

__ADS_1


1 tahun kemudian.


Aku berjalan cepat, napasku terengah dengan jantungku berdetak menggila sampai akhirnya aku melihat orang-orang yang ku kenal kini berdiri berkerumun di depan salah satu ruangan dengan wajah cemas.


“Oh syukurlah kamu sudah datang!” seru Papah ketika melihat kedatanganku.


“Cepat masuk ke dalam, istrimu sudah menunggumu dari tadi.”


Tanpa menunggu lagi aku langsung masuk ke dalam ruangan dengan perasaan cemas, di dalam kulihat istriku tengah tiduran di atas tempat tidur dengan keringat sebesar-besar jagung membasahi pelipisnya, seorang dokter dan dua orang perawat tengah membantunya dalam proses persalinan.


“Sayang!” Seruku sambil berjalan dengan cepat menghampirinya, aku langsung menggenggam tangannya yang balas menggengamku dengan sangat kuat seolah dia tengah menahan sakit yang teramat sangat.


“Oh, akhirnya!” dia menatapku dengan mata nyalang.


“Aku berlari kemari secepat yang ku bisa.”


“Aaarrgghh!!” dia mengerang, tangannya mencengkramku lebih keras lagi, “Kenapa kamu berlari?” dia bertanya dengan napas masih terengah-engah membuatku mengangkat alis bingung dengan pertanyaannya.


“Ambil napaaas…” perintah sang dokter membuat Keyza kembali mengambil napas dengan cepas melalui mulutnya, “Dorong!”


“Aaarrgghh!” dia kembali mengerang sambil mendorong sesuai interuksi sang Dokter.


“Karena kamu mau lahiran,” jawabku dengan gugup karena dokter kembali menyuruhnya untuk bernapas dan mendorong.


“Seharusnya...” dia menarik dan membuang napas dengan cepat, “naik motor bukannya LARI!! Aaarrrggg!!!”


Mungkin kalau situasinya tidak di dalam kamar bersalin dengan dia tidak sedang berjuang untuk melahirkan, aku akan tertawa mendengarnya, tapi aku tahu kalau aku tertawa sekarang yang ada dia akan menjambak rambutku hingga botak.


“Maafkan aku, lain kali kalau kamu mau melahirkan lagi aku akan masuk ke dalam ruang bersalin sambil naik motor dan tidak memarkirkannya di luar.”


“Hahaha.”


Dokter dan para suster tertawa mendengar ucapanku begitu pula dengannya sebelum akhirnya dia kembali mendorong, kali ini dorongannya sangat kuat hingga dokter berseru, “Ayo sedikit lagi! rambutnya sudah kelihatan.”


“Bismillahirohmannirohim! Ayo, Za, kamu bisa!”


“Aaarrgghhh!!!”

__ADS_1


Dan akhirnya suara tangis bayi menggema di dalam ruangan membuatku langsung mengucap syukur Alhamdulillah sambil memeluk dan mengecup keningnya.


“Kamu hebat, Za, sangat hebat.” Dia tersenyum lemah terlihat sangat lelah, di sisi ruangan kulihat para suster tengah membersihkan bayi kami, membungkusnya dengan selimut dan menyerahkannya ke dalam pelukan sang Ibu yang kini menangis haru menatap putra kami yang baru saja lahir ke dunia.


****


Aku berdiri di depan kaca yang mengelilingi ruang bayi, sebelah tanganku merangkul bahu istriku yang duduk di kursi roda karena masih lemah selepas melahirkan beberapa jam lalu.


“Dia mirip aku,” ucapku bangga melihat bayi dengan hidung mancung, bibir merah, pipinya terlihat tembem menggemaskan dan rambutnya hitam tebal, dia tengah tertidur dengan nyamannya.


“Enak saja, dia lebih mirip denganku,” ucapnya tak mau kalah.


“Yang mirip kamu cuma pipi tembemnya saja, hahaha.”


“Ini karena aku baru melahirkan!”


“Hahaha.”


Aku memeluknya dengan sebelah tangan karena gemas melihatnya yang merajuk seperti itu sebelum akhinya mataku kembali menatap ke depan dimana buah hati kami berada. Allah sungguh sangat mencintaiku, aku kini seolah memiliki seluruh dunia dan isinya. Bagaimana tidak, aku memiliki istri yang selalu mendukung dan mendoakanku dalam keadaan apapun, dan kini Allah menitipkan seorang putra dimana darahku mengalir di dalamnya.


Dulu aku belum mengetahui kalau perempuan yang kutemui sebagai relawan di tempat bencana akan menjadi istriku dikemudian hari.


Dulu ketika kami berpisah karena kesalah pahaman, aku tak tahu kalau di masa depan kami akan dipertemukan kembali dan merangkai cerita indah bersama.


Dulu ketika aku harus meninggalkannya dan bertunangan dengan perempuan lain, aku pikir itu adalah akhir dari hubungan kami.


Tapi kini kami berdua saling berangkulan menatap masa depan kami, buah cinta kami berdua… hatiku berdesir menatap istri dan putra kecilku, seolah Allah berbisik kepadaku, “Inilah waktunya Aku mengabulkan semua doa-doa kalian.”


Mungkin dulu doa kami belum dikabulkan karena hati kami belum siap.


Mungkin dulu doa kami belum dikabulkan karena kami masih harus banyak belajar tentang ikhlas dan sabar.


Mungkin dulu doa kami belum dikabulkan karena cinta kami belum begitu kuat.


Mungkin dulu doa kami belum dikabulkan karena Allah ingin kami berdua belajar untuk menghadapi segala macam masalah dan menjadi kuat dikemudian hari.


Mungkin dulu doa kami belum dikabulkan karena memang belum waktunya, dan sekaranglah mungkin waktu yang tepat bagi Allah untuk mengabulkan doa-doa kami.

__ADS_1


Bagi kalian yang doanya belum terkabul, bersabarlah… teruslah berdoa dan berikhtiar, yakinlah kalau memang sudah waktunya Allah akan mengabulkan doa-doa kita, dan itu akan jauh lebih indah.


The End


__ADS_2