Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 27


__ADS_3

Apa aku menyusulnya juga ke dalam? Aku sempat ragu beberapa saat antara ingin menyusul tapi juga gengsi dan akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di kursi walaupun dengan hati cenat-cenut dan kakiku bergetar seolah ingin lari menyusul ke dalam. Tak lama kemudian sang Letnan datang dengan senyum seperti biasanya, di belakangnya Nadine-pun datang dan kembali duduk di samping pacar bulenya.


“Udah yuk!” ajak sang Letnan sambil menatapku yang mengangguk lalu berdiri yang langsung dirangkul sang Letnan.


“Rin, duluan ya,” pamit sang Letnan.


“Iya, Mas.”


“Duluan ya, Rin… assalamualaikum,” aku juga ikut pamit sambil merangkul pinggang sang Letnan seolah ingin menunjukan pada semua orang kalau dia adalah milikku!


“Wa’alaikumsalam.”


Kamipun pergi meninggalkan Karin dan mantan sang Letnan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat makan. Aku menatap sang Letnan yang sedang duduk di balik kemudi.


“Kenapa?”


“Mas Yudha, tadi ketemu Nadine?”


“Ketemu kan ketemunya sama kamu.”


“Iiih… bukan itu, maksudku pas Mas Yudha ke kasir.”


“Ooh… iya.”


“Ngobrol apa?”


Sang Letnan menatapku kemudian kembali menatap kearah depan, “Mau aku jujur?”


Dengan cepat aku menjawab, “Iya.”


“Janji gak bakal marah?”


Aku menatap sang Letnan beberapa saat, kemudian menjawab, “Tergatung.”


Sang Letnan tersenyum mendengar jawabanku.


“Awalnya dia menanyakan kabar, aku bilang baik dan aku juga menanyakan kabarnya, dia bilang baik.”


Aku mendengarnya dengan seksama.


“Terus?”


“Terus dia bilang, dia minta maaf tadi dia gak yakin kalau itu aku jadi dia pura-pura tak mengenaliku.”


“Alasan.”


“Hehehe… lanjutin jangan?”


“Lanjutin!”


“Dia nanyain kamu.”

__ADS_1


“Aku?”


“Iya, dia nanya apa benar kamu tunanganku? Aku bilang iya, terus dia bilang kalau dia menyesal karena sudah memutuskanku, selama ini dia berusaha menghubungiku tapi aku ganti nomer jadi dia tak bisa menghubungiku.”


“Maksudnya dia mau ngajak balikan?”


Sang Letnan mengangkat bahunya, “Mungkin.”


Aku terdiam beberapa saat dengan perasaan campur aduk, “Terus?”


“Teruuus… dia minta nomer telponku.”


Aku menganga mendengarnya tak percaya, “Dikasih?”


“Tidak.”


“Beneran tidak?”


“Beneran.”


“Kenapa tidak dikasih?”


“Boleh aku ngasih?”


Aku terdiam tak bisa menjawab, “Asal jangan macam-macam saja.”


Sang Letnan tersenyum mendengarku, “Dia berbeda dari Deby, Salma, dan Ocy karena itulah aku tak memberinya.”


“Bukan aku, tapi dia yang masih menyukaiku.”


“Bagimana Mas Yudha tahu?”


“Mata tak bisa berbohong, Key, seperti kata lagu cinta itu tersirat bukan tersurat.”


“Mas Yudha masih bisa melihat dia menyukai Mas Yudha?”


“Iya, seperti aku bisa melihat itu di mata Karin dan juga kamu, karena itulah kenapa aku tak menyerah terhadapmu selama ini karena… matamu terus pancarkan sinarnya.” Sang Letnan menyanyikan bagian akhirnya sambil tersenyum, membuatku tertawa malu.


“Di antara mereka siapa mantan terindah Mas Yudha?”


Sang Letnan menatapku terlihat terkejut mendengar pertanyaanku, saat ini kami sedang berhenti di perempatan Pasteur-Pasirkali.


“Mantan terindah?”


“Iya di antara mereka berempat siapa yang paling Mas Yudha sukai dan memiliki kenangan yang tak bisa dilupain?”


Sang Letnan tersenyum menatapku sebelum kembali menatap depan karena lampu sudah berubah hijau.


“Harus aku jawab?”


Aku bisa mendengar ketidak sukaan disuaranya, membuatku terdiam beberapa saat.

__ADS_1


“Mas Yudha tidak suka aku bertanya?”


“Iya.”


“Kenapa?”


“Karena buatku mantan ada pada masa lalu, sedangkan kita ada pada masa sekarang… bagaimanapun indahnya masa lalu itu hanya sebuah kenangan dan kita tak hidup dalam kenangan atau masa lalu. Kita hidup untuk saat ini dan masa depan bukan untuk masa lalu, jadi yang terpenting adalah dengan siapa kita saat ini dan berusaha mengukir kenangan yang lebih indah untuk masa depan.”


Aku diam-diam tersenyum setuju dengan jawabannya, tapi… aku masih penasaran!!! Baiklah, untuk saat ini aku akan menahan rasa ingin tahuku tapi nanti entahlah mungkin aku akan kembali bertanya… mungkin.


Sisa perjalan pulang kami tak lagi membicarakan tentang itu, kami membicarakan Arga yang hubungannya dengan Irene semakin buruk saja karena rasa cemburu Irene kepada Reva, dan Arga sudah sangat lelah untuk menjelaskan padanya kalau tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.


Sesampainya di rumah kami dikejutkan oleh kedatangan orangtua Mas Letnan di rumahku yang sepertinya tengah merembukan sesuatu, dan senyum mereka langsung terbit ketika melihat kami.


“Dari mana?” tanya Mamah setelah kami ikut duduk bergabung bersama mereka di ruang tamu.


“Habis main, Mah.”


“Ada yang perlu kami bicarakan dengan kalian berdua.”


Aku dan sang Letnan saling tatap mendengar perkataan Ayah.


“Kami telah membicarakan ini dan kalian perlu ingat, kami tidak memaksa, kami hanya menyarankan jadi semua keputusan ada pada kalian berdua, apa kalian paham?”


Aku mengangkat alis bingung mendengar penjelasan Ayah yang terkesan berputar-putar bukan seperti Ayah biasanya yang to the point.


“Dan… keputusan apa yang harus kami ambil?” tanya sang Letnan mendapat anggukan dariku.


Kedua orangtua kami saling pandang sebelum akhirnya Papah maju untuk berbicara.


“Bagaimana kalau kalian tunangan dulu?”


Aku menganga terkejut mendengar pertanyaan Papah dan memandang sang Letnan yang sama terkejutnya denganku.


“Tu-nangan?” tanya terbata.


“Kami sudah tahu dan mengerti kalau kalian belum ingin menikah, dan seperti yang Yudha pernah katakan kalau kalian akan menikah setelah kamu memberikan ‘kode’ kalau kamu bersedia untuk menikah dan kami hargai itu.” Ayah berusaha menjelaskan maksud mereka.


“Kami tidak akan memaksa kalian menikah sampai kamu memberikan ‘kode’ itu, ini hanya tunangan tidak lebih dari itu, hanya untuk mengikat kalian berdua.” Kini Papah melanjutkan penjelasan Ayah.


“Mamah tak mau kehilangan kamu lagi, Sayang.”


“Ibu jugak tak mau kehilangan Yudha lagi.”


Aku masih belum sembuh dari keterkejutan, dan kembali menatap sang Letnan karena tak tahu harus menjawab apa.


“Hanya tunangankan?” tanya sang Letnan yang mendapat anggukan semangat dari keempatnya membuat sang Letnan terdiam beberapa saat terlihat berpikir kemudian berkata.


“Siap, laksanakan!” Serunya membuat kedua orangtua kami tersenyum gembira dan aku semakin menganga menatapnya tak percaya kalau dia akan menerima saran itu begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu kepadaku.


******

__ADS_1


__ADS_2