Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 31


__ADS_3

Perlahan aku membuka mataku kemudian duduk, jam dinding menunjukan pukul 2. Aku tertidur sejam tapi badanku sudah merasa benar-benar segar. Aku meregangkan tubuhku ketika mataku menangkap jaket kulit sang Letnan yang tersampir di kursi membuatku langsung melompat dari tempat tidur dan keluar kamar karena sepertinya pria yang kurindukan itu kini telah pulang.


Senyumku terbit ketika kulihat dari atas sang Letnan duduk sambil nonton TV membuatku dengan cepat menuruni anak tangga dan langsung melompat memeluknya erat membuatnya tertawa sambil balik memelukku.


“Kangen,” ucapku sambil mencium pipinya.


“Aku juga.” Dia berkata sambil balas mencium pipiku, membuatku tersenyum kemudian kembali memeluknya.


Beberapa saat kami hanya saling peluk menyalurkan rasa rindu yang terpendam beberapa minggu ini.


“Mamah sama Papah mana?”


“Keluar beli nasi padang… lapar.”


“Mas Yudha belum makan?”


Sang Letnan menggelangkan kepala.


“Mau minum apa? Aku buatin.”


“Udah kamu duduk sini saja, aku masih rindu.”


Aku tersenyum mendengar ucapan sang Letnan yang kembali memelukku erat walaupun dengan sebelah tangannya.


“Tadi… Mamah yang nyuruh aku tidur di kamar Mas Yudha.” Aku tak ingin dia salah sangka karena melihatku tidur di atas kasurnya.


“Gak apa-apa, kan nanti juga itu jadi kamar kamu,” ucap sang Letnan sambil tersenyum.


“Kenapa gak bangunin?”


“Aku juga baru pulang kok.”


“Mas Yudha pasti capek banget ya, mau tidur?”


Sang Letnan menatapku beberapa saat kemudian tersenyum.


“Tiduran di sini saja bentar.” Dia melepaskan pelukannya untuk bergeser kemudian tidur di pangkuanku, “Kalau Mamah sudah pulang, bangunin ya.”


“Iya… jadi inget dulu, Mas Yudha juga tidur di pangkuanku sebelum akhirnya aku kehilangan Mas Yudha.” Aku mengelus rambutnya, mataku menatap wajahnya yang terpejam, “Mas Yudha gak bakal ninggalin aku lagikan?”


Ada ketakutan dalam diriku karena dulu-pun seperti ini, semuanya terkesan lancar dan baik-baik saja sebelum akhirnya badai benar-benar datang yang memporak porandakan hatiku.


“Sekarang kita telah terikat, tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita selain Allah,” jawab sang Letnan dengan mata masih terpejam.


“Beneran?”


“Insyallah… minta sama Allah agar kita tak lagi terpisahkan.”


“Aamiin.”


Aku kembali mengelus rambutnya dan membiarkan sang Letnan untuk tidur karena sepertinya akhir-akhir ini dia kurang beristirahat, sekitar jam 3 lebih kedua orangtua sang Letnan pulang dengan menenteng beberapa kantong plastik berisi makanan.


“Tidur dari tadi?” tanya Mamah.


“Barusan… biarin tidur saja dulu ya, Mah, kasian pasti capek banget.” Aku berbisik karena tak ingin membangunkan sang Letnan membuat Mamah tersenyum kemudian mengangguk mengerti.


“Bangunin, suruh pindah ke kamar biar nyaman tidurnya.”


“Nanti malah gak tidur lagi, Pah, biar tidur di sini saja dulu sebentar lagi tadi Mas Yudha minta dibangunin kalau Mamah sama Papah sudah pulang karena lapar, tapi… bentar lagi aja ya makannya? Kekey gak tega banguninnya.”

__ADS_1


Papah mengangguk mengerti dan aku baru membangunkan sang Letnan jam 4. Dua jam-an tidur cukup membuatnya terlihat kembali segar, dan kini langsung menghabiskan tiga piring nasi padang.


“Sudah berapa hari gak makan, Mas?” tanyaku karena kaget melihatnya makan seperti itu membuatnya tertawa.


“Tiap hari juga makan tapi ya seadanya dan kalau sempat saja, kadang berasa gak nelen makanan,” jawabannya yang kini lanjut menghabiskan es campur yang Mamah beli tadi.


“Besok kerja?” tanya Mas Yudha setelah menghabiskan es campurnya.


“Kerja.”


“Izin bisa gak?”


“Izin?”


“Iya, sehari saja.”


“Mau kemana?”


“Kemana saja, seharian besok aku ingin berkencan dengan tunanganku dan tak ingin diganggu.”


Aku terdiam beberapa saat sambil memikirkan pekerjaanku yang sudah selesai membuatku mengangguk sambil tersenyum, “Ok! Besok kita kencan.”


Dan besoknya pagi-pagi sang Letnan sudah datang untuk menjemputku, dia pamit sama Ayah-Ibu untuk membawaku pergi hari ini. Dan ternyata kami pergi ke Ciwidey, sebuah tempat dimana sebuah cerita di antara kami berawal.


Aku tersenyum sambil menatap keluar jendela dimana hamparan kebun teh dengan udara segar menyambut kami, jendela mobil sengaja dibuka lebar agar kami bisa menikmati udara khas pegunungan.


“Ingat gak, Key, di sini 4 tahun lalu kita pertama bertemu.”


“Ingat dong, hehehe… dan Mas Yudha masih jutek banget.”


“Dan kamu galak banget.”


“Ckk... bilang saja deg-degan.”


“Hahaha, iya sih.”


Hari itu kami membicarakan masa lalu bernostalgia dengan kisah kami sendiri, kami tertawa mengingat masa-masa itu. Sudah banyak cerita yang kami lewati bersama dari mulai sedih, senang, kadang kami akan menangis, merasa kecewa dan marah, tapi ternyata kami lebih banyak tertawa di antara perjalanan hubungan kami.


“Allah ingin kita lebih saling mencintai dan saling percaya satu sama lain karena itulah Allah memberikan cobaan yang belum tentu orang lain bisa lewati, tapi lihat? Alhamdulillah kita sekarang sudah pada titik ini, hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi pasangan suami istri.”


Aku tersenyum sambil mengangguk. Saat ini kami tengah berada di kawah putih sebuah tempat wisata yang berada di Ciwidey, yaitu sebuah kawah hasil letusan gunung Patuha. Tapi yang menjadi daya tarik adalah tanahnya yang berwarna putih karena campuran belerang dan airnya yang berwarna putih kehijau-hijauan. Berada di sana membuatku merasa berada di negeri dongeng dunia lain.


Kami duduk di atas tanah putih itu bersebelah, mungkin karena hari senin jadi di sana cukup sepi hanya ada kami berdua dan beberapa anak muda sepertinya mahasiswa yang tengah berekreasi dan sepasang calon pengantin yang tengah melakukan foto prewed.


“Suatu saat kita juga akan seperti itu,” ucap sang Letnan sambil melihat pasangan yang sedang melakukan foto prewed, “Kalau kita foto prewed kamu mau konsep apa?”


“Hmm… apa ya? Army.”


“Army?”


“Iya, Mas Yudha keren kalau udah pakai seragam.”


“Hahaha… gampang kalau gitu mah, tar kita minta Arga saja yang fotoin biar gratis.”


“Hahaha, iya benar!”


Kami kembali berkhayal tentang foto-foto yang akan kami ambil nanti tapi entah kenapa aku melihat ada kecemasan dari sang Letnan seharian ini, dia selalu menatapku dengan pandangan sendu yang lembut, bahkan sekali pernah aku melihat matanya berkaca-kaca sambil menatapku tak berkedip seolah ingin menyimpan kenangan hari ini dimata dan memorinya.


Tangannya tak pernah melepaskan tanganku walau hanya sebentar kecuali kalau dia sedang nyetir, bahkan walaupun sedang menyetir kalau memang bisa dia akan kembali menggenggam tanganku kemudian menciumnya. Membuatku mulai didera rasa takut.

__ADS_1


Tapi aku terlalu takut untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi, bagaimana kalau memang seperti yang aku takutkan kalau dia akan meninggalkanku seperti dulu? Sisa perjalan pulang kami lebih banyak diam, aku dengan ketakutanku dan dia dengan pikirannya sendiri.


Sampai akhirnya kami tiba di puncak bintang. Iya, tempat yang sama ketika kami mengikrarkan cinta kami, dulu namanya bukit bintang tapi kini telah berganti nama menjadi puncak bintang dengan posisi lebih tinggi dari dulu dan telah di tata sedemikian rupa hingga menjadi lebih cantik lagi.


“Besok aku pergi tugas,” ucapnya setelah dari tadi kami hanya terdiam menikmati pemandangan sore kota Bandung dari ketinggian.


“Tugas lagi?” tanyaku sambil menatapnya kecewa karena harus kembali ditinggal tapi tiba-tiba saja aku kembali dibuat terkejut ketika sang Letnan memelukku erat.


“Doakan aku biar bisa pulang kembali dengan selamat, sebut namaku dalam setiap doa selesai shalat, minta agar Allah melindungiku dan bisa membawaku kembali dalam pelukanmu.”


Aku terdiam dengan beribu rasa mendera dada, tenggorokanku memanas dan entah kenapa air mata bergulir mendengar ucapannya membuatku balas memeluknya erat.


“Insyaallah, Allah akan melindungi Mas Yudha dan akan mengirim Mas Yudha kembali pulang ke dalam pelukanku… karena Allah kasihan kepadaku yang selalu ditinggal Mas Yudha.”


Aku mendengar dengusan sang Letnan tersenyum membuatku ikut tersenyum.


“Ini bukan tugas pertama Mas Yudha, dan lihat selama ini Mas Yudha bisa kembali pulang dengan selamat… tidak usah khawatir semua akan baik-baik saja, selama ini juga tanpa disuruh aku selalu mendoakan Mas Yudha.”


Aku mencoba memberi semangat padanya yang sepertinya sangat dia butuhkan saat ini, dia melepaskan pelukannya kemudian menatapku dengan sorot mata penuh kasih sayang.


“Tapi ini pertama kalinya aku tugas meninggalkan tunanganku.”


“Hahaha… Mas Yudha lupa ya kalau Mas Yudha sudah ninggalin aku tugas selama berminggu-minggu ini?”


Sang Letnan menatapku beberapa saat kemudian tersenyum lebar, “Oh iya ya, hahaha… lupa.”


“Lupa kalau sudah tunangan?”


“Iya, hahahaha.”


“Iiiiih!!!”


“Maaf, Cinta.”


“Cinta?”


“Iya, habisnya Mamah sama Papah ngeduluin manggil kamu sayang sih.”


“Hahaha… gak mau Cinta.”


“Kenapa?”


“Kaya anaknya Uya Kuya.”


“Hahahaha… Cinta-nya AADC dong kan cantik.”


“Ckkk… gak mau pokoknya! Kecuali kalau Mas Yudha mau aku panggil Rangga.”


“Eh, iya deh jangan.”


“Hahaha.”


“Apa dong?”


“Tar aku kasih tahu, tapi nanti.”


Aku sudah tahu panggilan apa yang ingin ku dengar darinya, tapi nanti kalau saatnya tiba.


****

__ADS_1


__ADS_2