Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 14


__ADS_3

“Sekarang kamu ngertikan kenapa Kak Dimas selalu nyuruh kamu hati-hati sama cowok? Apa lagi cowok yang baru kamu kenal?”


Saat ini aku sedang bersama saudara-saudaraku tengah berkumpul di ruang keluarga sedangkan kedua orangtuaku sedang pergi. Kak Dimas yang sedang ada raker di Bandung terkejut mendengar apa yang menimpaku dan langsung menceramahiku bersama dengan Mas Juang yang memang sedang tugas di Bandung.


“Iya,” jawabku sambil tertunduk menyadari kesalahanku.


“Sudah ada yang di depan mata yang jelas-jelas baik, sayangnya bukan cuma sama kamu tapi sama semua keluarga kita juga, orangtuanya juga sudah sayang banget sama kamu kaya anak sendiri, tapi masih saja nyari yang lain,” ucap Mas Juang membuatku semakin menunduk sambil menggambar bola kusut tak kasat mata dengan jari-jariku di atas bantal sofa.


“Itulah kenapa Dirga gak suka ketika Kakak bilang kalau kakak sudah punya cowok di Jepang, mana ngomongnya di depan Mas Yudha lagi kan kasihan dianya.”


“Dianya juga biasa saja kok waktu dengar aku punya pacar.”


“Jadi kamu maunya dia ngamuk-ngamuk?” tanya Mas Juang membuatku kembali terdiam, “Atau kamu sengaja memberitahunya untuk membuatnya cemburu?”


“Tidak.”


“Tak perlu kamu tanya secemburu apa dia, tapi dia bukan si Tukul yang akan memaki dan nyakitin kamu karena cemburu.”


“Jangan sok tahu, Mas Juang tak ada di sini jadi bagaimana bisa tahu dia cemburu atau tidak." Aku berbisik pelan sambil tertunduk karena takut kedengaran Mas Juang yang pasti akan tambah ngamuk kalau mendengarku berkata seperti itu.


“Kak Dimas tahu kamu masih ingin bersenang-senang dengan mengenal banyak orang… tapi hati-hati, tidak semua lelaki seperti Arga atau Yudha yang akan menjaga kamu dengan sangat baik, yang akan mengalah dengan kekeras kepalaanmu. Banyak ******** di luar sana, Key, kamu harus lebih selektif lagi mulai sekarang karena umur kamu juga sudah seharusnya memikirkan mencari pasangan buat masa depanmu bukan hanya untuk bersenang-senang apalagi hanya untuk sebuah pelampiasan.”


Aku terdiam, Kak Dimas yang halus kalau bertutur kata berbeda dengan Kak Juang yang keras, tapi itu malah membuatku lebih takut dan nurut sama Kak Dimas daripada Mas Juang yang biasanya malah berakhir dengan bertengkar.


“Kadang kita tak menyadari kalau ada seseorang yang berharga di depan kita dan malah bersusah payah mencari yang jauh.”


“Benar banget!” seru Mas Juang dan Dirga mendengar ucapan Kak Dimas, membuatku menatap mereka kesal.


“Aku tahu kok!”


“Kalau tahu kenapa malah pacaran sama si Tukul?”


“Aku… aku takut kalau akan kembali terluka seperti dulu,” ucapku pelan membuat mereka saling menatap dalam diam, “Kalian tak tahukan apa yang membuat kami putus dulu? Bagaimana kalau itu terjadi lagi? Aku tak akan sanggup lagi untuk bangkit kalau itu terjadi lagi.”

__ADS_1


“Kami tahu, Key, kami tahu apa yang terjadi antara Yudha dan Widy.”


“Kalian tahu?” tanyaku tak percaya.


“Kak Dimas ada di sana hari itu, ketika dia mengetahui kebenarannya.”


“Bagaimana bisa Kakak ada di sana?” aku masih menatap Kak Dimas tak percaya.


“Kamu ingat kalau pada hari keberangkatanmu Kakak ada janji?”


Aku mengangguk mengingat hari itu.


“Janji itu adalah menemani keluarga Raihan untuk membicarakan tanggal penikahan dengan keluarga calon suami Widy. Hari itu dia begitu murka ketika mengetahui kebenaran yang keluarga Reihan coba sembunyikan darinya, Kakak bisa melihat dia mencoba menahan amarahnya ketika mengetahui kalau selama ini dia telah dibohongi dan dimanfaatkan oleh mereka. Dia mengatakan kalau gara-gara mereka dia telah kehilangan perempuan yang paling dia cintai, kakak bisa melihat betapa hancurnya dia saat itu karena kehilangan orang yang dia cintai dan Kakak semakin terkejut ketika dia dengan lantang meneriakan namamu sebagai cinta dalam hidupnya, bukan hanya itu tapi kakak juga bisa melihat sorot penuh kasih sayang ketika menyebut Ayah, Ibu, Juang, bahkan dia menyebut Dirga dengan sebutan adik kecil kami… saat itulah kakak mengetahui seberapa besar dia mencintai kamu dan keluarga kita.”


Tenggorokanku tercekat mendengar cerita Kak Dimas.


“Dan lihat dia sekarang, dia tetap berdiri di sampingmu sebagai teman dan menjagamu walau mengetahui kamu memiliki kekasih. Apa kamu masih belum mengerti seterluka dan secemburu apa dia saat itu ketika mengetahui kamu telah melupakannya dengan memiliki kekasih lain? Tapi dia mengesampingkan perasaannya, dia tetap mendukungmu walau apa-pun yang terjadi.”


Aku semakin terdiam dengan tenggorakan yang semakin memanas membuat mataku mulai bekaca-kaca. Kak Dimas mengelus punggungku lembut sambil berkata,


Kini semua orang terdiam dan aku tahu kini semuanya tengah menatapku berharap aku mengatakan sesuatu, tapi aku tak tahu apa yang harus kukatakan.


“Pelan-pelan saja, Key.” Aku menatap Mas Juang yang menatapku dengan tersenyum, “Kita tahu hatimu pasti hancur saat itu dan saat ini mungkin belum kembali seutuhnya, jadi sambil menunggu hatimu kembali utuh pelan-pelan kamu pastikan lagi tentang perasaanmu dan cari jawaban dari pertanyaan Kak Dimas tadi… aku hanya akan memberimu satu pertanyaan, apa kamu benar-benar bisa hidup tanpanya? Pikirkan itu baik-baik.”


Mas Juang menepuk pundakku lembut membuatku tersenyum padanya karena pertanyaan itulah yang paling sering tertanam dihatiku selama ini.


“Dirga juga punya satu pertanyaan.”


Kami kini semua menatap Dirga yang terlihat sangat serius menatapku.


“Kalau Kakak kembali sama Mas Yudha, tanyakan padanya…. boleh gak jaket kulitnya buatku?”


“Euuh! Budak teh batur keur serius! (Dasar anak kecil, orang lagi serius)”

__ADS_1


Mas Juang langsung menjitak Dirga yang meringis kesakitan.


“Aku juga serius!” ucap Dirga sambil mengelus-elus kepalanya.


Mas Juang baru akan kembali menjitak Dirga ketika pintu depan terbuka bersamaan dengan salam dari suara yang selalu membuat dadaku berdetak hebat.


“Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Sang Letnan berdiri gagah dengan jaket kulit dan senyum di wajahnya ketika menyapa kami semua, tapi seketika senyumnya menghilang ketika matanya menatap mataku yang masih berkaca-kaca.


“Kamu nangis?” tanyanya dengan penuh kekhawatiran membuatku semakin ingin menangis, mungkin dia benar saat bersamanya aku akan menjadi cengeng dan manja, tapi aku tak peduli.


“Kenapa? Tangannya sakit lagi?”


Aku menggelengkan kepala lalu menatap saudara-saudaraku, membuat sang Letnan melipat tangannya di depan dada dan menatap mereka mengintimidasi.


“Bukan Dirga! Mas Juang tuh yang bikin Kakak nangis!” Dirga berdiri dengan wajah takut ketika melihat sang Letnan yang menatapnya tajam, setelah melihat Dirga melarikan diri dia kini menatap Mas Juang yang terlihat serba salah kemudian berdiri.


“Bukan Juang… Kak Dimas tuh!” Mas Juang-pun langsung melarikan diri masuk ke dalam kamar seperti Dirga tadi.


“Ah! Kak Dimas lupa, Kakak belum packing buat tar malam.” Kak Dimas-pun kabur masuk ke dalam kamar meninggalkanku yang langsung tertawa melihat mereka semua melarikan diri seperti itu hanya karena tatapan maut sang Letnan.


“Jadi kenapa nangis?” tanyanya setelah duduk di sampingku.


Aku terdiam melihatnya beberapa saat, sungguh dia sangat luar biasa tampan dengan mata tajam, hidung mancung, alis tebal dan rahang kokoh yang ditumbuhi jenggot-jenggot pendek membuatku mengelusnya, membuatnya sedikit tersentak karena terkejut, aku tersenyum ketika merasakan geli di telapak tanganku.


Aku menatap matanya ingin sekali aku menjawab pertanyaan itu dengan ‘karena aku merindukanmu, sangat merindukamu, Mas Letnan.’ Tapi yang keluar dari mulutku adalah.


“Karena aku cengeng dan manja seperti anak kecil.”


Dia berdecak sambil tersenyum kemudian mengacak-acak rambutku seperti biasanya.

__ADS_1


Nanti suatu hari nanti aku akan mengatakannya dengan lantang kalau aku merindukannya, tapi untuk sekarang aku belum siap dan masih harus memantapkan hatiku lagi.


*****


__ADS_2