Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 11


__ADS_3

Sepulang dari dusun bambu hari itu Rey kembali pulang ke Jakarta sedangkan aku seolah ingin membuktikan kepada sang Letnan kalau aku tak salah dalam memilih pasangan, alhasil setiap Rey datang ke Bandung aku habiskan seharian bersamanya tak menghiraukan sang Letnan yang datang ke rumah di antara hari liburnya.


Aku terkesan kejam? Iya, aku memang kejam tapi aku hanya ingin membuktikan padanya kalau aku tak membutuhkannya menjadi penjagaku dalam urusan pria, aku bisa menentukan siapa yang terbaik untuk diriku sendiri dan aku bisa menjaga diriku sendiri.


Pernah suatu malam aku dan Rey baru saja pulang main, dia memelukku di depan rumah karena mau kembali ke Jakarta dan saat dia mau menciumku tiba-tiba sang Letnan keluar dari rumah. Aku bisa melihatnya mematung untuk beberapa saat tapi kemudian dia bersikap biasa lagi.


“Baru pada pulang?” tanyanya sambil mengenakan helm dan naik ke atas motornya.


“Iya,” jawab Rey dengan senyum lebar dan tangannya merangkulku, sedangkan aku hanya terdiam.


“Duluan ya, assalamualaikum.”


Dia pamit meninggalkanku dengan perasaan bersalah, malam itu aku tidak bisa tidur ketika membayangkan matanya yang terluka saat menatapku tadi… ini benar-benar membuatku jadi gila! Bagaimana bisa aku melanjutkan hidupku kalau ada dia di dekatku. Satu-satunya jalan adalah menghindarinya atau pergi jauh darinya.


Alhasil akupun mulai menghindar dan menjauhi sang Letnan akhir-akhir ini, walaupun kadang aku merasa bersalah padanya tapi aku harus melakukan itu demi kami… tidak! Bukan demi kami tapi demi diriku sendiri yang ingin terlepas dari bayang-bayangnya.


****


Hari sabtu siang Rey menjemputku di kantor yang memang hanya setengah hari kalau hari sabtu, dia mengatakan kalau besok dia akan kembali ke Jepang karena jatah libur sebulan ayahnya telah habis, jadi hari ini dia ingin menghabiskan waktu bersamaku untuk terakhir kalinya.


Rey memintaku menemaninya membeli beberapa pakaian, aku memutuskan mengajaknya ke Bandung Super Mall yang telah berganti nama menjadi Trans Studio Mall yang terletak di Jl. Gatot Subroto bersebalahan dengan Trans Studio Bandung.


Aku menemaninya memasuki satu toko ke toko lainnya, melihatnya mencoba satu pakaian ke pakaian lainnya, sampai kakiku terasa pegal. Waktu shalat ashar telah hampir habis aku mengajaknya sholat, tapi dia telalu banyak alasan membuatku sholat sendiri di mushola mall yang terletak di area parkir.


Banyaknya orang yang mau sholat membuatku harus antri dan sedikit agak lama, aku sedang berjalan menuju coffee shop yang ada di area luar mall dimana Rey menungguku ketika dua orang pria menanyakanku tentang arah menuju Jl. Antapani. Sambil berjalan aku mejelaskannya dan mereka-pun pergi setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih sambil menjabat tanganku.


“Siapa mereka?”


Aku terkejut ketika menyadari Rey sudah berdiri tak jauh dariku.


“Mereka menanyakan jalan,” jawabku jujur.


“Nanyain jalan kok pake senyam-senyum segala.”


“Mereka hanya mengucapkan terima kasih.”


Rey terlihat emosi dan aku terlalu lelah untuk meladeninya yang cemburu saat ini.


“Alasan!” serunya sambil berjalan meninggalkanku menuju tempat mobilnya diparkirkan.


“Itu kenyataannya, Rey!”


Aku berjalan mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


“Di antara begitu banyak orang yang ada di sini, kenapa mereka bertanya padamu, heh?!”


“Aku tidak tahu! Aku sedang berjalan ketika mereka menghampiriku dan menanyakan arah jalan.”


“Mereka tak akan mendekatimu kalau kau tak menggoda mereka terlebih dahulu!”


Aku terbelalak tak percaya dengan apa yang dia ucapkan.


“Apa maksudmu?”


“Oh ayolah, kau pikir aku bodoh! Aku tahu kau pasti kecentilan sampai membuat mereka berani untuk mendekatimu bukannya orang lain hanya untuk alasan menanyakan jalan. Sekarang jujur! Mereka tidak menanyakan jalankan tapi kalian berkenalan kan? Aku melihat dengan kepalaku sendiri, kalian bersalaman sambil tersenyum dan mana ada shalat ashar sangat lama seperti tadi!”


“Tadi di mushola penuh dan mereka hanya mengucapkan terima kasih!”


“Kau pikir aku akan percaya?” geram Rey sambil mencengkram tanganku, “Aku sudah curiga kalau selama ini kau bermain api di belakangku, dan sekarang terbukti!”


“Lepasin!” geramku sambil menarik tanganku yang sudah mulai merasa nyeri karena cengkramannya yang sangat kuat.


“Aku tak percaya kau berani mengkhianatiku di depan mataku, dasar cewek murahan!”


Plak!


Aku langsung menamparnya ketika mendengar dia menghinaku dengan sebutan yang tak wajar untuk diucapkan seorang kekasih. Dia terbelalak tak percaya aku berani menamparnya, matanya kini semakin menatapku penuh amarah.


“Kau! Kau berani manamparku!” teriaknya membuat beberapa orang yang berada di area parkir menatap ke arah kami.


“Aku tak akan memaafkanmu dasar ja**ng! sial!”


Dia memaki sambil terpincang-pincang karena aku dengan sekuat tenaga menendang tulang keringnya membuatnya langsung melepaskan cengkramannya.


“Tarik ucapanmu pengecut!” Aku menatapnya tajam, emosiku sudah tak tertahan lagi ketika mendengarnya memanggilku dengan sebutan yang merendahkan derajat kaum perempuan. Dadaku bergemuruh karena amarah, mataku nyalang menatapnya.


“Apa kau bilang.. pengecut?”


“Iya, pengecut! Apa lagi namanya kalau bukan pengecut yang hanya beraninya sama perempuan.”


“Lu pikir gue gak berani sama si Arga atau si Yudha yang katanya tentara hebat itu! Sini panggil mereka! Gue gak takut!”


Teriaknya sambil mendorong-dorong bahuku membuatku semakin mundur.


“Lu merasa hebat hanya karena berteman dengan orang rendahan kaya mereka!”


Napasku memburu, dadaku naik turun, amarah menguasai diri tapi aku juga sedikit ketakutan melihatnya kesetanan seperti itu.

__ADS_1


“Jangan hina mereka!” geramku.


“Apa! Apa! Mau apa kalau gue hina mereka, hah!” dia mendorong tubuhku dengan cukup kencang hingga aku terhuyung kehilangan kesimbangan dan bersamaan dengan itu sebuah mobil datang dari arah berlawanan yang langsung menghantam tubuhku yang limbung hingga terjerembab ke depan.


****


Aku terbaring di atas tempat tidur UGD RS. Muhamadiyah-Bandung, inpus terpasang di lengan kiriku, sedangkan tangan kananku diperban dari mulai telapak tangan sampai hampir sikut untung saja hasil ronsen memerlihatkan tidak ada yang salah dengan tulang-tulangku, kecuali lengan kanan yang sedikit retak dan terkilir karena dipakai untuk menahan berat tubuh ketika terjatuh. Selain itu semua baik-baik saja selain shok dan memar-memar di beberapa bagian.


Tubuhku masih gemetar mengingat kejadian tadi, Rey berdiri di samping tempat tidurku meminta maaf, tapi aku bahkan tak mau melihat wajahnya lagi. Ayah dan Mas Juang yang baru saja datang terlihat terkejut melihat kondisiku, aku hampir saja menangis ketika melihat mereka tapi aku masih bisa menahannya.


“Kami sedang menuju mobil ketika sebuah mobil melaju dengan kencang di lapangan parkir.”


Aku menatap Rey nyalang mendengar kebohongannya, lenganku masih terasa sakit akibat cengkramannya tadi, aku hampir membuka mulutku untuk mengatakan kebenarannya ketika kulihat wajah Ayah yang terlihat sangat khawatir, tak ingin membuatnya semakin khawatir membuatku mengurungkan memberitahu mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan itu membuat dadaku semakin sesak.


Tapi aku tak bisa menahan diri lagi ketika sang Letnan datang dengan napas terengah-engah dan wajah khawatir menatapku, membuat emosi yang tadi kutahan menyeruak kepermukaan.


“Kamu tak apa-apa?”


Dia berdiri di samping tempat tidurku, terlihat kecemasan di wajahnya, tangannya mengusap kepalaku lembut membuatku langsung terisak dan dengan tangan kiri yang terpasang inpus aku menarik tubuhnya untuk ku peluk, aku-pun menangis sejadinya di dalam peluknya.


Aku mendengar Ayah berkata kalau dia dan Mas Juang akan mengurus Administrasi dulu dan aku bisa merasa sang Letnan mengangguk.


“Dia... dia… marah hik-hik… mencengkram tanganku.. sakit hik-hik.. (sang Letnan menatap Rey nyalang) dia mendorongku hik-hik… mobil datang dari arah belakang untung saja tidak kencang... kalau saja mobil itu kencang… a-aku…”


Aku kembali menangis sambil memeluknya tak bisa membayangkan kalau seandainya mobil yang menabrakku dalam keadaan kencang, mungkin aku tak akan berada lagi di sini, memeluknya.


“Dia marah, mencengkram lenganmu?”


Aku mengangguk masih menangis, sang Letnan memeriksa lenganku dan bisa kulihat rahangnya mengeras dengan mata nyalang setelah melihat lenganku memerah dan mulai kebiruan dengan bekas kuku karena cengkraman Rey tadi.


“Dia yang membuat lenganmu seperti ini?”


Aku kembali mengangguk.


“Dia menamparku!” seru Rey membuat sang Letnan menatapnya tajam cukup untuk membuatnya terdiam.


“Aku menamparnya karena dia menyebutku murahan.”


“Dia apa?!”


“Dia menyebutku murahan… dia menyebutku ja**ng, dia juga menghina Mas Yudha dan Arga, karena itu aku menendang kakinya, terus dia mendorong tubuhku.”


Wajah sang Letnan tiba-tiba berubah murka mendengar ceritaku, hanya dengan beberapa langkah yang sangat cepat dia kini telah berdiri di depan Rey dan langsung menyeretnya keluar ruangan. Aku hanya bisa menganga terkejut melihat itu, sampai akhirnya Ayah dan Mas Juang kembali memasuki ruangan.

__ADS_1


“Mas Yudha… Rey… cepat!” teriakku yang langsung membuat Mas Juang berlari keluar ruangan menyusul keduanya, meninggalkanku yang gemetar ketakutan.


****


__ADS_2