
Dua bulan setelah pertunangaku dengan sang Letnan memang tak ada desakan dari para orangtua tentang pernikahan, tapi mereka lebih heboh mempersiapkannya daripada sebelumnya.
Setiap ada pameran pernikahan Ibu dan Mamah akan datang untuk melihatnya, walaupun tanpa aku tapi setelahnya aku harus mendengarkan mereka selama berhari-hari tentang gaun pengantin, dekorasi, gedung, catering sampai kartu undangan dari satu weeding organizer ke weeding organizer lainnya. Dan sang Letnan hanya bisa berkomentar, “Biarin saja, kita cukup dengarin mereka sudah senang.”
Dan berbicara tentang sang Letnan sudah beberapa minggu ini dia tak pulang, kondisi tanah air yang sedang menghadapi teror bom di beberapa daerah akhir-akhir ini membuat para TNI dan Polri bekerja ekstra.
“Letnan belum pulang?” tanya Arga, saat ini aku dan Arga sedang berada di lapangan Gasibu, niatnya sih lari pagi tapi larinya baru bentar akhirnya nongkrong di tukang kupat tahu yang berjualan di antara deretan pedagang-pedagang dadakan setiap minggu pagi.
“Belum,” aku mengela napas sambil mengaduk-aduk kupat dalam piringku, “Baru tunangan langsung ditinggalin tugas.”
“Hehe… nasib punya calon suami tentara ya kaya gitu, harus siap buat ditinggal-tinggalin… latihan dari sekarang biar nanti pas dah nikah gak kaget lagi.”
“Udah dari lama kali, Ga, latihannya bahkan dari sebelum pacaran,” kataku sambil menyuap kupat tahu.
“Kalau sudah dari lama seharusnya sekarang dah terbiasa dong.”
“Sekarang beda, Ga, rasanya.” Aku menelan makananku kemudian kembali berkata, “Kaya gimana ya?”
“Gak tahu, aku kan gak ngerasain.”
“Ih! Gak nanya kamu.”
“Oh, gak nanya dikirain nanya, hahaha.”
“Ckk... ya pokoknya beda deh.”
“Karena kan sekarang statusnya udah naik dari pacaran ke tunangan, ya rasanya pasti bedalah,” ucap Arga sambil menaruh piring kosong di bawah kursi.
__ADS_1
“Ciee… katanya gak ngerasain tapi itu tahu.”
“Hahaha… iya ya.”
Aku menghabiskan kupat tahuku kemudian menaruh mangkuknya di bawah kursi seperti Arga tadi.
“Kangennya sekarang double-double deh, khawatirnya juga. Bukan berarti kemarin gak kangen dan khawatir ya, tapi sekarang nambah lagi kadar kangen dan khawatirnya.”
“Ya wajar sih, Key, nanti pas kalian nikah bakal nambah lagi kadarnya. Jangan lupa berdoa saja, mudah-mudahan dia pulang dengan selamat.”
“Aamiin.”
Setelah pulang dari Gasibu aku mandi, ganti baju dan minta Dirga untuk mengantarku ke Sukajadi berharap hari ini sang Letnan pulang. Sambil menunggu kepulangannya aku menemani Papah nonton berita tentang penyanderaan 2 orang wartawan Indonesia, 2 orang wartawan Jepang, dan 3 orang wartawan Perancis yang ditahan oleh salah satu oraganisasi pemberontak terbesar di Suriah.
Mereka menuntut sejumlah uang untuk pembebasan ke 7 sandera, yang sepertinya telah ditolak oleh ketiga negara.
“Belum, Negara kita sedang mencoba lewat jalur diplomasi.”
“Kenapa kita tidak ancam balik saja seperti yang dilakukan Perancis.”
“Tidak bisa seperti itu, setiap negara mempunyai kebijakan sendiri-sendiri tapi lihat apa yang terjadi karena kecerobohan Perancis? Satu warga mereka telah dipenggal.”
Iya, beberapa hari lalu tak lama setelah Perancis mengumumkan akan menyerang kota yang menjadi basis pemberontakan itu, salah satu dari wartawan Perancis dipenggal di depan kamera yang tersambung dengan internet menghebohkan dunia. Sungguh biadab, mereka menganggap nyawa manusia layaknya seekor binatang yang bisa dipenggal karena tidak berharga untuk ditukar dengan sejumlah uang.
“Apa kita tidak bisa mengirimkan tentara kita ke sana untuk membebaskan sandera?”
“Mereka tidak akan membiarkan tentara dari Negara lain masuk tanpa ijin dan pengawasan dari mereka, apalagi kondisi negaranya dalam keadaan seperti itu karena itulah diperlukan diplomasi.”
__ADS_1
Aku mengangguk mengerti dan kembali menonton berita, sampai akhirnya Mamah ikut bergabung. Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 1 siang, tapi sang Letnan tak kunjung datang juga.
“Kamu pasti ngantuk, tidur siang sana!”
“Gak apa-apa, Mah, Kekey mau nunggu Mas Yudha.”
“Kita belum tahu dia pulang apa tidak, sudah tidur saja dulu di kamar Yudha.”
“Kamar… Mas Yudha?” tanyaku tak percaya dengan ucapan Papah.
“Iya, kamar Yudha.”
“Yudhanya juga kan gak ada, lagian itu nanti bakal jadi kamar kalian berdua jadi sambil kamu lihat apa-apa saja yang diperlukan untuk nanti, Mamah berencana mengganti tempat tidur dan lemari tapi nanti kamu pasti perlu meja rias juga, pokoknya nanti kamu lihat terus kasih tahu Mamah apa-apa saja yang diperlukan, ok?”
Aku tersenyum sambil mengangguk menjawab pertanyaan Mamah sebelum akhirnya pamit naik ke lantai atas dimana kamar sang Letnan berada. Lantai atas yang telah papah renovasi kini terasa lebih luas dengan furniture minimalis yang mamah dan aku sendiri pilihkan, beberapa lemari gantung hias tertempel di dinding dengan pernak penik lucu, beberapa lukisan abstrak ikut menceriakan lantai atas yang terdiri dari kamar sang Letnan, kamar Mamah-Papah yang nanti akan pindah ke lantai bawah, kamar tamu dan tambahan satu kamar mandi.
Sebagian besar dinding terbuat dari pintu-pintu kaca panjang yang terhubung dengan balkon dan kini terbuka hingga membuat udara dalam ruangan terasa segar karena sirkulasi udara yang jauh dari cukup. Aku terus berjalan menuju kamar sang Letnan yang kini telah diperbesar. Ini pertama kalinya aku masuk kamar sang Letnan hingga cukup membuat deg-degan, hehehe.
Hidungku langsung disuguhkan oleh wangi khas sang Letnan yang sangat ku rindukan, aku menatap sekeliling dan tersenyum melihat kamar khas pria dengan furniture hitam mendominasi, aku berjalan menuju buffet samping tempat tidur dimana terdapat beberapa pigura yang memajang foto-foto kami berdua, ada juga foto sang Letnan dengan angota Kopassus lainnya, terlihat gagah dengan baret merah mereka.
Senyumku langsung terbit ketika melihat fotoku dalam ukuran besar terpasang di dinding, foto yang sang Letnan ambil ketika di pinggir sungai anak Kubu, terlihat artistik karena di cetak dalam hitam putih.
Di sisi lainnya ada foto sang Letnan dengan seragam komando sepertinya dia sedang berlatih, terlihat dia sedang mengokang senjata laras panjang. Hanya melihat fotonya saja sudah membuat jantungku berdetak menggila, dalam hati aku bersyukur karena pria keren dan gagah ini adalah calon suami dan imamku.
Aku berbaring di atas tempat tidur sang Letnan dan senyumku kembali terbit sambil memeluk bantal karena bau sang Letnan yang menguar dari sana membuatku merasa rilex dan akhirnya aku pun tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur sampai akhir aku merasakan seseorang mencium pipiku sebelum sayup-sayup terdengar pintu tertutup.
****
__ADS_1
Snack buat yg lagi antri PILKADA... mudah"an pilkadanya lancar ya 😉