Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 6


__ADS_3

Seperti yang telah dijanjikan, keesokan harinya aku pergi ke Sukajadi yang tentu saja membuat Mamah dan Papah kaget melihatku, seperti biasa mereka menyambutku ke dalam pelukan. Setelah ngobrol Mamah memintaku menemaninya belanja bulanan ke PVJ yang memang dekat rumah hanya tinggal turun ke bawah beberapa menit saja.


Sedangkan sang Letnan seperti biasa kalau hari libur jam 11 belum juga bangun, kata Mamah semalam dia begadang nonton bola dan baru tidur setelah sholat subuh. Ckkk… kebiasaan!


Aku dan Mamah baru akan pulang ketika mendengar seseorang memanggilku dan ternyata Irene bersama seorang perempuan cantik dengan kulit putih dan rambut hitam pajang, yang ternyata Karin.


“Siapa ini, sayang?”


“Kenalin, Mah.. ini pacarnya Arga.”


“Oh ya? Arga kok gak ngenalin ke Mamah sih… siapa namanya?”


“Irene, Tante,” jawab Irene sambil salim.


“Kalau ini?”


“Karin, Tante, temannya Irene.”


“Oh... cantik-cantik ya.”


“Key, belum kenalkan? Ini Karin, yang kemarin diceritain.”


“Ooh… Keyza.”


Aku menyalaminya yang tersenyum ramah, cantik benar-benar cantik… tak seglamor Leona maupun Widy, tapi Karin terlihat anggun dengan kesederhanaannya.


“Arganya mana?”


“Tadi lagi ke toilet dulu… oh, itu dia!"


Arga datang dan terkejut melihat aku dan Mamah yang langsung memeluknya walaupun setelah melepaskan pelukan langsung mendapat pukulan dari Mamah.


“Kamu ini ya! Lagi pulang ke Bandung gak pernah ke rumah, malah pacaran mulu.”


“Hehehe… iya, Mah, maaf tadinya mau ke rumah tapikan Letnan lagi tugas.”


“Sudah pulang tuh ada di rumah.”


“Sekarang ada di rumah?”


“Masih tidur,” jawabku yang membuat Arga menatapku jahil.


“Ya sudah, main ke rumah saja yuk sekarang, kalau ada kalian pasti dia bangun deh.”


Aku terkejut mendengar Mamah yang mengajak mereka semua ke rumah yang artinya Karin-pun akan ikut ke rumah, dan melihatnya bangun tidur. Ooh, tidak boleh terjadi!!! Bagaimana kalau dia tambah menyukainya ketika melihat sang Letnan baru bangun tidur dengan suara beratnya yang seksi dan rambut berantakannya itu?


Key, sekarang kalian hanya berteman ingat itu! Kamu saja sudah ada Rey, masa dia gak boleh dekat sama perempuan lain? Jangan egois, Key... aku mengingatkan diriku sendiri tentang itu selama dalam perjalanan ke rumah sang Letnan.


Jam sudah menunjukan pukul 2 ketika kami sampai di rumah sang Letnan yang besar, membuat Irene dan Karin sempat kaget melihatnya ketika kami baru sampai. Arga telah sampai duluan karena dia menggunakan motor sedangkan kami naik mobil dengan Pak Min, supirnya Mamah.


Mamah menyuruh kami duduk di ruang keluarga, dan kami sedang ngobrol ketika mendengar seseorang turun dari lantai 2, dan itu adalah sang Letnan dengan masih menggunakan celana tidur biru, kaos oblong putih dengan rambut berantakan dan mata yang masih terlihat setengah mengantuk.


“Ada tamu ternyata,” ucapnya sambil tersenyum dengan suara berat khas bangun tidurnya yang kembali membuat jantungku berdebar kencang dan sepetinya bukan hanya aku karena kini Karin-pun menatapnya dengan pipi memerah.


“Tadi ketemu Mamah sama Kekey di PVJ, terus diajak ke sini,” jawab Arga yang kembali dapat anggukan sambil tersenyum dari sang Letnan.


“Hei, apa kabar? Maaf baru bangun,” sapa sang Letnan sambil menatap Irene dan Karin yang ikut tersenyum menjawabnya.


“Hei, cengeng, kapan datang?” dia mengacak-acak rambutku sambil berjalan ke dapur, dan aku langsung mengekor dibelakangnya


.


“Dari tadi, sarapan di sini bareng Mamah sama Papah, terus diajakin belanja bulanan ke carefour, terus beli roti juga.”


“Rotinya mana?” tanya sang Letnan sambil minum air putih.

__ADS_1


“Di meja,” jawab Mamah yang sedang membereskan belanjaan bersama Bi Aas.


Aku langsung ke meja dapur dan mengambil roti coklat kesukaannya.


“Den Yudha mau kopi?”


“Jelas dong, Bi,” jawabnya sambil makan roti hanya dalam beberapa kali gigitan sebelum kembali berjalan dan aku kembali mengekor di belakangnya.


“Cowok kamu nelpon tadi malam?”


“Nelpon.”


“Marah lagi gara-gara di jemput aku?”


“Engga.”


Sang Letnan mengangkat alisnya tak percaya dengan apa yang aku ucapakan.


“Dia gak nanya, ya udah aku juga gak ngasih tahu, dia cuma cerita ini itu tentang kegiatannya.”


Sang Letnan kembali berjalan ke ruang keluarga bergabung dengan yang lainnya.


“Habis nerima laporan?” tanya Arga sambil tersenyum yang dijawab sang Letnan dengan anggukan dan tawa.


“Dah gak marah lagi?” tanya Arga sambil menatapku.


“Siapa yang marah! Aku gak marah, benarkan?” aku menatap sang Letnan yang menatapku beberapa saat kemudian tersenyum sambil menatap Arga.


“Tahu gak, semalam ada yang hufftt…”


Aku langsung membekap mulutnya dengan mata melotot menyuruhnya diam, sampai akhirnya dia mengangguk mengerti.


“Kalian bertiga deket banget ya?” tanya Karin penasaran.


“Mereka sudah kaya saudara,” jawab Irene sambil tersenyum.


“Nuhun(makasih), Syahrini.”


“Ah! Si Aden mah ka Bibi teh kalau gak Syahrini, Krisdayanti.”


“Mereka berdua lewat sama Bi Aas mah, makanya Mang Opik suka ma Bi Aas.”


“Iiih, si Aden mah suka gitu,” ucap Bi Aas dengan wajah memerah sambil kembali ke dapur.


“Siapa Mang Opik?” tanya Arga penasaran.


“Tukang cabe di pasar, pacarnya si Bibi.”


“Hahaha… tuh! Letnan kalah sama tukang cabe, dia saja dah punya pacar… masa hari gini masih jomblo.”


“Jomblo itu hak ekslusif yang tak bisa didapat semua orang.”


“Itu sih alasan padahal emang gak laku, hahahaha.”


“Kalau kita punya pacar kemana-mana harus ngabarin, belum lagi kalau pulang terlambat sudah pasti langsung diintrogasi, kalau jomblokan enak mau kamana-mana tinggal jalan saja gak ada yang ngelarang-larang.”


“Aku gak pernah ngelarang-larang!”


Lagi! Aku mengungkapkan apa yang ada dihatiku membuat semua orang kini menatapku.


“Karena aku bukan pacar kamu,” ucap sang Letnan sambil menatapku, “Coba kalau ke si Tukul, pasti kamu ngelarang-larangkan?”


“Tukul?” aku mengerutkan kening berpikir siapa Tukul.


“Siapa Tukul?” tanya Arga.

__ADS_1


“Pacarnya dia kan namanya Rey... Rey…”


“Reynaldi!” seru Arga dan sang Letnan berbarengan sambil tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan Irene dan Karin, membuatku cemberut sambil memukuli sang Letnan yang duduk di sampingku.


“Namanya Rey aja, bukan Reynaldi.”


“Hahaha... iya-iya…Rey saja.”


“Aku tak pernah ngelarang-larang dia,” ucapku setelah berhenti memukulinya walaupun masih cemberut.


“Tak pernah sama sekali?” tanya Arga tak percaya.


“Iya.”


“Kenapa?” tanya Irene ikut penasaran.


“Karena percuma saja, lagiankan gak kelihatan… misalnya aku larang, terus dia bilang iya tapi dia ternyata pergi aku kan gak tahu, jadi ya sudah biarin saja.”


“Itu tandanya kamu percaya sama dia, dan seharusnya dia juga percaya sama kamu.”


“Setuju!” seru Arga sambil mengangguk ketika mendengar ucapan sang Letnan, dan aku tahu maksud mereka berdua.


“Tapi kalau menurutku ada dua kemungkinan.”


Semua menatap Karin yang menatapku penuh selidik, “Seperti yang dikatakan Mas Yudha, kamu percaya sama pacar kamu atau kamu tak peduli.”


“Setuju!” ucap Irene sambil tersenyum, “Aku selalu ingin tahu hari ini Arga ngapain saja? Kemana saja? Sama siapa? Bukan karena aku tak percaya sama dia, tapi aku hanya ingin berbagi hal yang sama dengannya, aku-pun sebaliknya aku selalu cerita apapun.”


“Dia juga suka cerita kegiatannya dia.”


Aku berkata sambil mengambil kue yang disediakan Mamah tadi.


“Kamu cerita?” tanya sang Letnan sambil meminum kopinya.


“Kadang kalau ditanya.” Jawabku membuat sang Letnan menatapku.


“Komunikasi memang penting, tapi kepercayaan jauh lebih penting,” ucap Karin sambil tersenyum, “Kaya Arga sama Irene, bisa saja mereka bercerita apapun tapi kalau tidak ada landasan kepercayaan di antara mereka itu hanya akan sia-sia.”


“Setuju!” seru sang Letnan sambil tersenyum menatap Karin, “Kamu harus dengar itu, Key, intinya saling percaya.”


“Aku percaya kok,” jawabku sambil memikirkan perkataan Karin, apa aku percaya sama dia atau tak peduli? Entahlah…


“Kalau Mas Yudha kenapa sampai sekarang masih belum punya pacar?” tanya Karin membuatku menatapnya lalu menatap sang Letnan penasaran dengan jawabannya, dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.


“Menurutku, Mas Yudha bukan tipe cowok posesif yang akan melarang-larang ceweknya apalagi kata Arga yang bilang Mas Yudha gak laku, aku yakin banyak cewek yang mau sama Mas Yudha,” lanjutnya membuat Arga berdehem jahil.


Sang Letnan masih terdiam dengan cangkir kopi di tangannya terlihat berpikir sebelum akhirnya dia berkata sambil tersenyum.


“Karena aku masih punya tugas untuk menjaga hati seseorang.”


Deg!


Jantungku berhenti berdetak untuk sepersekian detik ketika mendengar jawabannya yang terkesan santai.


“Aku telah berjanji kepada seseorang untuk menjaga hatinya sampai aku bertemu dengan seseorang yang bisa kupercaya untuk menggantikanku menjaganya, sampai saat itu tiba aku akan tetap sendiri.”


Semua orang terdiam mendengar jawabannya, begitu juga aku yang menatapnya dengan debaran jantung mengila.


“Kalau aku sudah yakin orang itu bisa dipercaya untuk menjaga hatinya, baru aku akan memikirkan hatiku.”


“Apa… dia kekasihmu?” tanya Karin penasaran tapi juga terdengar berhati-hati dan aku bisa melihat sang Letnan kembali berpikir sebelum akhirnya berkata.


“Bukan… dia adalah teman yang telah ku kecewakan.”


Jawabannya itu membuat Karin dan Irene saling pandang bingung sedang Arga hanya tersenyum mendengarnya, dan aku… aku masih terdiam dengan dada berdetak hebat.

__ADS_1


****


__ADS_2