
“Hahaha… bukan pacar, tadi Yudha habis ada reuni sama teman-teman SMA terus pulangnya sekalian anterin teman dulu.”
“Oh, dikiran beneran punya pacar... udah seneng kita denger kamu punya pacar.”
Aku kembali menganga tak percaya mendengar ucapan ibu.
“Teman-teman cewek kamu ada yang masih single gak?”
“Ada beberapa, Yah.”
“Ya udah, sama salah satu dari mereka saja… kan kalian sudah kenal lama jadi proses saling mengenalnya gak bakalan susah bisa langsung nikah.”
“Ayah!” aku menatap ayah dengan mata membulat tak percaya mendengar ucapannya.
“Kenapa? Yudha tuh dah cukup umur buat nikah, 30 kan Yud, tahun ini?”
“Iya, Yah, 30.”
“Tuh… dulu saja Dimas nikahnya umur 28, jadi dia sudah waktunya menikah.”
“Iya, tapi….” Aku tak bisa menemukan kata-kata yang tepat, terlalu shok melihat antusiasme kedua orangtuaku.
“Teman-teman SMA Yudha gak bakalan ada yang mau sama Yudha, Yah.”
“Lho kenapa?” tanya Ibu tak percaya.
“Mereka tahunya Yudha sudah punya cal…”
Aku langsung membekap mulutnya karena tahu apa yang akan dia katakan.
“Kemarin waktu di resepsi pernikahan temannya Mas Yudha, mereka kira Kekey… pacarnya Mas Yudha.”
“Lho kok bisa? Memang kalian gak bilang kalau kalian gak pacaran?” tanya Ayah ikut penasaran.
“Soalnya Kekey bilang kalau dia…”
Aku kembali membekap mulutnya dengan kesal, aah kenapa hari ini dia sangat cerewet!
“Kekey bilang kalau Kekey mules jadi langsung pulang waktu itu! kita ngobrol di belakang aja, yuk!” aku menarik tangan sang Letnan ke teras belakang yang langsung aku pukulin kesal dan malah membuatnya tertawa.
“Iiih… Mas Yudha, benar-benar nyebelin ya hari ini!”
“Lho, kan aku jujur, sama orangtua tuh gak boleh bohong.”
“Ckk...”
Aku duduk di kursi di susul oleh sang Letnan yang duduk di sampingku, tapi kemudian dia berdiri kembali untuk mengambil gitar Dirga dan mulai memainkan beberapa lagu.
“Tadi seru?” aku bertanya sambil mendengarkannya memainkan lagu cold play.
“Lumayan, ngobrol-ngobrol tentang zaman SMA.” Dia tersenyum sambil terus bermain gitar.
“Mantan Mas Yudha ada semuanya?”
“Hahaha… kan Deby dah pulang ke Amrik, ada Ocy sama Salma.”
“Mantan Mas Yudha cuma 3 itu?”
“Zaman SMA? Iya.”
“Hah?! Jadi lebih dari 3?”
__ADS_1
Dia tertawa ketika melihatku yang menganga tak percaya.
“Hahaha… ada satu lagi, namanya Nadine tapi dia beda sekolahan.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Terus siapa lagi?”
“Gak ada lagi, cuma itu… oh iya satu lagi! Za.”
“Leona? Widy?”
“Mereka gak masuk hitungan dong.”
“Ckk… yang pertama siapa? Deby?”
“Yang pertama, Salma waktu kelas 1 tapi cuma pacaran beberapa bulan aja, trus Ocy.. eh pas kelas 2 sekelas sama mereka berdua, hahaha.”
“Hah! Terus?”
“Ya udah, gak gimana-gimana, kan putusnya juga baik-baik jadi ya masih berteman… putuskan bukan berarti jadi musuh.”
“Iya sih, jadi sama Ocy juga kelas 1?”
“Sama Ocy pas mau naik kelas 2, itu juga cuma bentar berapa bulan ya? lupa, terus Deby.”
“Kalau sama Nadine?”
Sang Letnan terlihat menerawang beberapa saat sebelum menceritakan tentang mantannya itu, membuatku merasa cemburu untuk beberapa saat.
“Nadine, aku pacaran sama dia ketika aku sudah di Akmil, waktu itu dia masih kelas 3 SMA.”
“Dia mau kuliah ke luar negri, terus dia bilang gak bisa LDR-an ya udah putus.”
“Mas Yudha masih sayang ya?”
“Sama siapa? Sama Za? Iya kalau itu gak usah ditanya.”
“Iiih… bukan! Tapi sama Nadine.”
“Enggalah, tapi kalau di antara Salma, Ocy, Deby sama Nadine mungkin aku paling sulit ketika putus dengannya… dengan yang lainnya kami memang sepakat untuk putus karena ternyata kami lebih cocok berteman, kalau dengan Nadine… aku sedikit sulit menerima ketika dia minta putus dengan alasan kuliah di luar, maksudku alasannya tidak masuk akal saja.”
Aku terdiam mendengar ucapannya.
“Tapi itu sudah sangat lama sampai akhirnya aku bertemu seseorang yang melompat dari truk di antara kekacauan tempat bencana, dan saat itulah aku menemukan cinta sejatiku.”
“Ckk...” aku tersenyum mendengarnya.
“Kalau misalnya bertemu lagi dengan Nadine gimana?”
“Gimana apanya? Ya gak gimana-gimana, kan itu dulu.”
“Gak bakalan CLBK?”
“Hahaha… kan ada kamu yang bakal dengan siap menyingkirkan siapapun yang berani mendekatiku, nanti kamu tinggal bilang ‘kenalin, calon istrinya Mas Yudha,’ hahahaha.”
“Iiih… tapi Mas Yudha beneran sudah tak ada lagi rasa sama dia?”
“Hahaha enggalah, aku saat itu susah menerima putus dengan dia karena alasannya yang ku bilang tadi tidak masuk akal, tapi setelah makin kesini aku suka tertawa sendiri kalau ingat zaman dulu kadang alasan putus pada gak masuk akal, kaya misalnya ‘kamu terlalu baik buat aku’.”
__ADS_1
“Hahaha… iya bener.”
“Lha, kitakan nyari pasangan itu nyari yang baik, kok sudah dapat yang baik malah diputusin.”
“Hahaha, iyaaa…”
“Kamu pernah ya mutusin kaya gitu?”
“Hahaha… pernah!!”
“Tuuhkan, hahaha…”
“Si Nadine juga dulu bilangnya gitu, ‘maaf aku mau kuliah ke luar negeri, aku gak bisa LDR-an’… mungkin dia lupa kalau selama ini kami LDR-an, aku di Magelang dia di Bandung, ketemu jarang banget paling cuma SMS an aja, terus kalau di luar negeri emang gak bisa SMS-an atau kirim email.”
“Hahaha… iya bener.”
“Makanya kan aneh, mending kaya si Deby… ‘Yud, aku mau ke Amrik putus yuk?’ aku bilang kenapa putus? ‘soalnya nanti aku mau cari bule ganteng’.”
“Hahahaha… beneran Deby bilang gitu?”
“Iya, hahaha, dia mah emang aneh anak-anak bilang dia kurang seons tapi itu yang bikin asyik orangnya, kalau ngomong asal jeplak saja.”
“Hahaha… terus Mas Yudha bilang apa?”
“Ya udah mau bilang apa lagi coba, aku cuma bilang ya udah doain aku biar dapatin Luna Maya.”
“Hahahaha.”
“Itu yang kamu putusin karena alasan terlalu baik itu kapan?”
“SMA juga… orangnya ngebosenin.”
“Hahaha, terus kenapa pacaran sama dia kalau ngebosenin?”
“Ganteng lho, Mas, terus pinter juga… eh tahunya ngebosenin banget, beneran terlalu baik gak bisa di ajak bolos kaya Arga.”
“Hahaha… kamu pernah bolos?”
“Pernah sama Arga, makan bakso chuanki.”
“Hahaha, terus pacar yang lain kamu juga yang mutusin duluan?”
“Iya… aku pernah 2 kali pacaran waktu SMA, yang pertama itu Wildan yang tadi aku bilang ngebosenin, yang kedua si Bule tapi gak lama juga.”
“Kenapa?”
“Selingkuh.”
“Hah! Kamu diselingkuhin?”
“Iya, sama teman aku juga selingkuhnya… habis deh si Bule dihajar Arga.”
“Patah hati dong.”
“Iya, tapi gak lama sedihnya juga soalnya dia juga diselingkuhin ceweknya.”
“Hahaha... karma"
“Iya, hahaha.”
Malam itu kami membicarakan masa lalu kami, menertawakan kebodohan-kebodohan yang telah kami lakukan sampai membicarakan rahasia di masa lalu, yang sepertinya tidak mungkin kami ceritakan kalau status kami masih berpacaran tanpa melibatkan perasaan kami. Tapi kini kami bisa saling terbuka membicarakan segala hal, dan dengan keterbukaan kami seperti sekarang membuat retakan-retakan dihatiku perlahan mulai sembuh.
__ADS_1
Selain itu aku kini lebih mengenal sang Letnan, bukan hanya sebagai Mas Letnan lelaki luar biasa yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, bukan juga sebagai lelaki yang membuatku terluka beberapa waktu lalu, tapi sebagai Yudha Adipati Pratama seorang pria biasa yang pernah bandel layaknya anak seumurannya, pria yang pernah jadi gitaris di band sekolahannya dan pria yang disukai banyak orang terbukti dengan banyaknya teman yang dia miliki termasuk bisa berteman dengan para mantannya.
*****