Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 26


__ADS_3

Setelah hari itu kedua orangtua kami seperti disibukkan dengan persiapan pernikahan kami yang entah kapan itu. Papah benar-benar merenovasi lantai atas, Mamah yang semangat memilih furniture walaupun memercayakannya kepadaku untuk urusan design interiornya mengingat itulah bidangku.


Ibu tak kalah hebohnya dengan mulai mencari menu-menu makanan ter-update dan mencari referensi catering yang enak, juga model kebaya. Sedangkan Ayah sibuk mengingat-ingat siapa saja yang akan diundang nanti, jangan sampai ada yang terlewat katanya.


Aku dan sang Letnan pernah berkata kalau pernikahan kami ingin sedehana saja, dan tahu tanggapan orangtua kami? Yeap! Mereka langsung protes.


“Kamu itu anak perempuan satu-satunya Ayah, jadi tidak bisa seperti itu,” protes Ayah yang langsung dapat sautan tak kalah panjang dari Ibu. Sedangkan orangtua sang Letnan jangan ditanya lagi, dia adalah putra semata wayang jadi ya bisa dibayangkan bagaimana protesnya mereka berdua ketika mendengar kami mengatakan itu. Dan akhirnya kami pun hanya bisa pasrah.


“Sudah, terserah mereka saja yang penting mereka senang, anggap saja sebagai bakti kita kepada mereka sebelum melepas masa lajang,” ucap sang Letnan sambil tersenyum menatapku yang hanya bisa menghela napas, walaupun akhirnya setuju dengan apa yang dia ucapkan.


“Tapi kita sendiri juga tak tahu mau nikah kapan, mereka sudah heboh dari sekarang.”


“Jawabannya ada pada kamu, kalau kamu bilang ok kita bisa nikah besok.”


“Ckk.. Mas Yudha saja belum ngelamar aku secara resmi.”


“Gimana aku mau ngelamar kamu, kalau kamunya saja masih ragu sampai sekarang.”


Aku terdiam mendengar itu karena memang sampai sekarang aku masih ragu walaupun aku sudah bisa menerima kembali sang Letnan tapi memikirkan untuk menikah dengannya dan menghabiskan seluruh sisa hidupku dengannya itu membuatku kembali berpikir. Apa aku bisa? Apa aku sanggup? Apa dia yang terbaik untukku? Apa aku yang terbaik untuknya? Seribu satu pertanyaan kembali mendera setiap kali aku memikirkan pernikahan.


“Mas Yudha tak akan ninggalin aku-kan karena aku ragu terus.” Aku bersandar di pundaknya sambil merangkul lengannya.


“Kalau mau ninggalin mah dari kemarin-kemarin saja kali, Key, waktu kamu masih galak-galaknya bukan sekarang,” ucapnya sambil menjedotkan kepalanya ke kepalaku pelan membuatku terkikik.


“Mas Yudha perlu tahu aku bukannya ragu sama Mas Yudha, tapi aku ragu sama diriku sendiri, apa aku mampu menjadi istri yang Mas Yudha harapkan? Apa aku sanggup menjadi ibu rumah tangga? Apa aku akan menjadi istri yang terbaik buat Mas Yudha?”


“Key, aku menyukai kamu apa adanya, aku tidak mencari istri yang terbaik dan sempurna, tapi aku mencari istri yang selalu ada di sampingku dalam keadaan apapun, istri yang bisa dijadikan teman bercerita dan menemaniku, dan itu kamu.”


Aku menatap wajahnya cukup dekat sambil tersenyum, “Beneran?”


“Benar dong, masa bohong.” Kali ini dia menjedotkan keningnya kekeningku sambil tersenyum membuatku kembali terkikik.


“Kita sama-sama belajar dalam membangun rumah tangga, jadi kita harus saling mengingatkan dan mengisi kekurangan kita masing-masing, ok?!”


“Ok!” jawabku dengan senyum lebar dan tanpa diduga dengan cepat dia mengecupku! Dengan kaget aku langsung celingukan melihat sekeliling takut Ayah atau Ibu melihat kejadian tadi, atau mungkin si bawel Dirga yang akan langsung mengadukannya kepada orangtuaku.


“Kalau ada yang lihat gimana!” memukul lengan Mas Yudha sambil sedikit menjauh.


“Biarin, jadi kan ke grebek terus akhirnya kita dinikahin deh.”


“Iiiih!!!”


“Hahaha.”


Dia malah tertawa melihatku cemberut.


“Keluar yuk, cari makan,” ucap Sang Letnan sambil berdiri kemudian masuk ke dalam rumah.


“Makan dimana?”


“Dimana saja, kamu mau makan apa?”


“Gak mau makan tapi mau yoghurt.”

__ADS_1


“Hmm… Cisangkui?”


“Ok!” aku langsung tersenyum lebar ketika mendengar nama jalan sekaligus tempat yoghurt yang cukup terkenal di kalangan wisatawan yang sudah terbiasa datang ke Bandung


.


Jl. Cisangkui sendiri berada di belakang gedung sate, dan yoghurt cisangkui sendiri adalah sebuah rumah kuno sisa peninggalan Belanda yang diubah menjadi tempat makan dan lumayan nyaman. Kami sedang menunggu pesanan ketika tanpa di duga seseorang menyapa kami, dan itu adalah Karin. Ah! Aku lupa kalau rumah Karin ada di Cimanuk yang jaraknya tak begitu jauh dari Cisangkui, seharusnya tadi kami tak ke sini.


“Sama siapa, Rin?”


“Sama teman-teman, Mas… kalian berdua saja?’


“Iya.”


“Dikirain Arga sama Irene ikut juga.”


“Tidak, tadi kita dadakan ke sininya.”


Karin mengangguk mengerti, di belakangnya kini berkerumun beberapa orang perempuan dan pria, beberapa dari mereka ada yang bule membuat kami menatap mereka.


“Oh iya, ini teman-teman Karin waktu kuliah di Australia dulu.” Karin mengenalkan kami kepada teman-temannya menggunakan bahasa inggris yang fasih.


Tapi yang menarik perhatianku adalah perempuan yang Karin kenalkan terakhir, seorang perempuan dengan rambut hitam panjang lurus, kulit putih, dan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya yang seketika langsung dibukanya ketika menatap kami. Aku bisa melihat keterkejutan dari matanya yang berbingkai bulu mata lentik ketika menatap sang Letnan membuatku menatap sang Letnan yang masih terlihat santai seperti biasa.


“Ini Nadine, dan pacarnya Ryan.” Karin memperkenalkan perempuan itu dengan pria bule yang berdiri di sampingnya.


Nadine? Oh, jangan katakan kalau dia adalah Nadine yang itu!!!


“Nadine,” ucap perempuan itu sambil menjulurkan tangannya kepada sang Letnan yang diterima sang Letnan sambil tersenyum.


“Keyza, tunangannya Mas Yudha,” ucapku membuat dirinya dan juga Karin terkejut ketika aku mengenalkan diri.


“Tu-nangan? Aku tidak tahu kalau kalian sudah bertunangan,” ucap Karin terkejut, dan aku merasa bersalah padanya karena aku tahu bagaimana perasaannya pada sang Letnan selama ini.


“Yang resminya belum, Rin, insyaallah nanti kita undang ya kalau acara resminya,” jawab sang Letnan membuat Karin semakin terlihat terpukul, dan aku benar-benar merasa bersalah padanya karena pernah memberikan harapan palsu.


“Selamat ya.”


“Makasih,” ucapku sambil mengangguk, dan merekapun pamit duduk di kursi panjang tak jauh dari kami, aku langsung menghela napas ketika kembali duduk di hadapan sang Letnan.


“Kenapa?” tanya sang Letnan sambil menatapku dengan bertopang dagu.


“Aku merasa gak enak sama Karin.”


“Inilah kenapa aku tak mau ngasih harapan padanya dulu.”


“Harusnya aku dengerin Mas Yudha dulu.”


“Euh!” Mas Yudha mengacak-mengacak rambutku gemas, “Kalau dengerin aku langsung bukan Keyza namanya.”


Mendengar itu aku cemberut tapi kemudian tersenyum membuatnya tertawa bersamaan dengan datangnya pesanan kami, dua gelas yoghurt dan seporsi batagor untuk sang Letnan.


“Mas.”

__ADS_1


“Hmmm.”


“Mmm… itu temannya Karin yang itu.”


“Yang mana?” tanyanya sambil menyuap batagor dan menatapku dengan mulut penuh terlihat lucu.


“Yang tadi… yang terakhir itu.”


Sang Letnan mengangguk mengerti.


“Dia… mantan Mas Yudha ya?” tanyaku penasaran membuat sang Letnan menatapku beberapa saat kemudian mengangguk.


“Iya.”


“Tuhkan!” Aku berseru cukup keras membuat beberapa orang menatap ke arahku yang langsung meringis sambil menatap sang Letnan yang malah tertawa sambil mengambil batagor dengan garpunya.


“Aaa...!” perintahnya dengan garpu yang telah berisi batagor di depan mulutku yang langsung ku makan walaupun masih menatapnya kesal karena menertawakanku, tanpa sengaja aku melihat meja Karin dimana dia dan Nadine sedang menatap ke arah kami.


“Tapi kenapa tadi pura-pura gak kenal?” tanyaku dengan mulut penuh.


“Dia duluan yang pura-pura nganggap gak kenal, sudah biarkan saja mungkin dia sudah lupa beneran.” Sang Letnan menyuap batagor sambil mengangkat bahunya santai.


“Mereka ngelihatin terus tuh,” ucapku sambil menyeruput yoghurt.


“Siapa?”


“Fans!”


“Hahaha… biarkan mereka menikmati memandang keindahan ciptaan Allah yang satu ini.”


“Ckkk!” aku mendelik mendengar ucapannya membuatnya kembali tersenyum.


“Yang pentingkan akunya hanya lihatin kamu, dan kamu hanya lihatin aku.”


Mendengar itu membuatku mau tak mau jadi tersenyum malu.


“Cantik.”


“Siapa?”


“Nadine.”


“Cantikan kamu.”


“Aku serius, Mas.”


“Aku juga serius,” ucap sang Letnan sambil minum yoghurtnya.


Aku selalu terpesona dan kagum melihatnya yang selalu terlihat tenang dan santai dalam kondisi apapun seolah tak ada yang menjadi beban dalam hidupnya, dan tak pernah terprofokasi oleh apapun. Kami melanjutkan makan dan minum yoghurt kami dengan membicarakn hal lain, sesekali aku tertawa mendengar lelucon-leluconnya


“Aku mau bayar dulu ya,” ucap sang Letnan sambil berdiri dan masuk ke dalam, tapi yang membuatku terkejut adalah ku lihat perempuan itu, maksudku Nadine ikut berdiri dan masuk ke dalam seolah menyusul sang Letnan.


****

__ADS_1


Cemilan hangat untuk menikmati hujan di pagi hati


__ADS_2