Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 15


__ADS_3

“Key, besok ada acara gak?” tanya sang Letnan membuatku menatapnya kemudian menggelengkan kepala.


“Temanin aku yuk?”


“Kemana?”


“Nikahan teman SMA, di gedung dekat rumah Arga nanti pulangnya kita ke rumah Arga.”


“Okay, jam berapa?”


“Aku jemput jam 11 ya.”


Dan keesokan harinya setelah aku pusing sendiri memilah-milah pakaian yang cocok akhirnya aku memutuskan memakai dress selutut berwarna salem, high heel putih senada dengan tas clutch yang ku bawa, rambutku ku biarkan terurai dan dengan bantuan Mbak Asri tetanggaku, rambutku yang lurus itu kini memiliki ujung-ujung bergelombang yang cantik.


Sang Letnan tersenyum puas melihat penampilanku, dia-pun tak kalah gagah dengan kemeja biru muda dan jas biru tua nya. Dengan menggandeng lengan sang Letnan kami masuk ke dalam gedung resepsi, beberapa orang menyapa sang Letnan yang dia kenalkan sebagai teman-temannya. Mereka datang dengan pasangan masing-masing, bahkan beberapa dari mereka sudah ada yang memiliki momongan membuat sang Letnan terkejut tapi ada juga yang menjomblo seperti dirinya.


“Ini calon kamu, Yud?”


Saat ini kami sedang duduk berkumpul di halaman gedung sambil menikmati hidangan dengan beberapa teman sang Letnan.


“Insyaallah, doain saja,” jawab sang Letnan membuatku tersenyum sambil tertunduk malu.


“Aamiin.”


“Geus papanggih jeung si Deby can, Yud?” (Sudah ketemu dengan Deby belum, Yud?”


“Deby? Emang aya?” (Emang ada?)


“Aya (Ada), tadi dia nanyain tuh… baru datang dari Amrik.”


“Beuki geulis siah, Yud.” (Tambah cantik lho, Yud).


“Operasi plastik meureun (kayanya) di Amerika-na,” ucap Sang Letnan santai membuat teman-temannya tertawa.


“Gelo siah.” (Gila lu).


“Si Salma jeung (dan) si Ocy oge aya (juga ada).”


“Siapa mereka?” tanyaku penasaran setelah melihat teman-teman Mas Yudha tertawa ketika menyebutkan nama perempuan-perempuan itu.


“Fans zaman dulu,” jawab sang Letnan sambil tersenyum.


“Deretan para mantan?” tanyaku membuat sang Letnan dan teman-temannya tertawa.


“Zaman cinta monyet dulu,” ucap sang Letnan membuatku berdecak sambil menatapnya tajam, melihat itu sang Letnan hanya tertawa sambil mengelus kepala bagian belakangku lembut.


“Awas, balik ti ondangan pasea ah.” (hati-hati pulang dari undangan nanti berantem.)


“Hahaha.”


“Hai… lagi pada ngetawain apa nih!”


Dua orang perempuan berdiri di hadapan kami, satu orang mengenakan gaun merah dan satu lagi mengenakan gaun hijau pupus, mereka terlihat cantik dengan pakaian mahal yang melekat di tubuh mereka. Tapi yang menonjol adalah perempuan yang mengenakan pakaian hijau pupus, dia terlihat elegan mengingatkanku pada teman-teman kalangan atasnya Rey.


“Yudha?!” serunya dengan mata berbinar menatap sang Letnan yang berdiri untuk menyapanya.


“Apa kabar, Deb?” Sang Letnan mengulurkan tangan untuk menyapanya tapi yang membuatku menganga dengan mata terbelalak adalah perempuan itu mencium kedua pipi sang Letnan!!!


Ok! Tadi temannya bilang kalau dia baru pulang dari Amerika jadi sepertinya dia masih terbiasa dengan adat kebarat-baratan, tapi kita tidak berada di Amerika sekarang!! Helooo… ini Indonesia!!! Pakailah adat ketimurannya… aaarrgghhh! Aku tidak menyukainya!!


“Baik… tambah ganteng saja Yud.”


Ok, fix! Aku tak menyukainya!!!


“Key!” Sang Letnan memanggilku membuatku menatapnya yang tengah tersenyum lembut, tangannya terulur membantuku berdiri di sampingnya yang langsung merangkulku tanpa ragu.


“Kenalin, ini teman SMA-ku… Deby dan Ocy.”


What? Jadi keduanya adalah mantan sang Letnan? Dan kini mereka berdua menatapku dari atas sampai bawah seolah tengah menilaiku! Aku tersenyum seeemanis mungkin sambil mengulurkan tangan dan berkata,

__ADS_1


“Keyza… calon istrinya Mas Yudha.”


Aku bisa mendengar teman-teman sang Letnan tiba-tiba saja pada batuk dan berdehem, tapi aku tak peduli… aku sudah puas dengan melihat keterkejutan di mata mereka. Sesungguhnya aku-pun terkejut kenapa aku mengatakan kalau aku calon istrinya sang Letnan? Aaah, biarkan saja yang penting aku harus menyingkirkan kedua perempuan ini dari sisi sang Letnan.


“Calon kamu?” tanya Oci tak percaya.


“Insyaallah, doain saja,” jawab sang Letnan masih merangkul bahuku dengan senyum lebar diwajahnya.


“Jadi belum nikah?”


“Belum, Deb, kan tadi dibilangin ca-lon,” ucap salah satu teman sang Letnan.


Apa dia tidak mengerti kata calon dan insyaallah? Ckk… dia harus sekolah lagi.


“Assalamualaikum.”


Seorang wanita berhijab cantik kini berdiri dengan senyum mengembang di wajahnya, di sebelahnya berdiri seorang pria yang langsung menyalami teman-teman sang Letnan layaknya teman lama… dan tebak siapa perempuan berjilbab itu? Yeap, Salma! Mantan sang Letnan yang lainnya.


“Apa kabar?” Salma cipika-cipiki dengan Deby dan Ocy… ya tidak masalah sih, kan sesama perempuan kalau tadi sama Mas Letnan jelas-jelas gak boleh, bukan muhrim!


“Apa kabar, Yud?”


“Alhamdulillah, baik, Ma.”


“Yud!” pria yang tadi berdiri di samping Salma menyalami sang Letnan, “Lagi ada di Bandung?”


“Tugas di Bandung sekarang mah, Dra.”


“Oh… saha (siapa)?” tanyanya sambil menatap sang Letnan setelah melihatku berdiri di sampingnya.


“Sayang, kenalin ini Hendra dan Salma, istrinya.”


Aku terkejut ketika sang Letnan memanggilku sayang, tapi aku menyukainya karena melihat Deby dan Ocy yang lebih terkejut daripada aku ketika mendengarnya (aku ingin tertawa melihatnya!!!). Kalau kata iklan mah, rasanya kaya ada manis-manisnya gitu dech, hahahaha.


“Istri kamu, Yud?” tanya Salma dengan mata membulat menatap sang Letnan.


“Aamiin… MasyaAllah, meuni geulis kieu (Cantik banget),” ucapnya sambil menatapku dengan sorot mata ramah. Ok! Aku menyukai mantannya yang satu ini.


“Keyza.”


Aku mengenalkan diri dan seperti kepada Deby dan Ocy, Salma mencium kedua pipiku.


“Kapan dong nyusul, Yud?” tanya Salma.


“Kapan, Sayang?” sang Letnan malah bertanya kepadaku dengan senyum menggoda membuatku memerah. Sepertinya aku terlalu mendalami peran sebagai ‘calon istri’ sang Letnan!


“Secepatanya?”


“Hahaha… insyaallah secepatnya katanya,” ucap sang Letnan sambil mengelus rambutku.


“Iya ih sok didoain biar cepat-cepat sah, ngelihatnya juga udah serasi banget.”


Aku tersenyum malu mendengarnya, dan fix! Aku menyukainya!


****


“Aku tidak menyukainya,” ucapku saat kami di dalam mobil menuju rumah Arga.


“Siapa?”


“Mantan Mas Yudha.”


“Kenapa?”


“Main ciam-cium saja!”


“Hahaha… aku juga tadi kaget, Key, mungkin dia belum ngelupain kebiasaannya di Amrik, dia lama tinggal di sana dan baru pulang ke Indonesia belum lama ini, jadi belum terbiasa.”


“Pokoknya aku gak suka, walau cuma cium pipi gitu… bukan muhrim!”

__ADS_1


“Iya, tapi kita bahkan pernah ciuman, kan sama bukan muhrim.”


Aku terkejut mendengar ucapan Mas Yudha yang terkesan santai, dia seolah menamparku dengan kata-katanya barusan. Itulah manusia kadang kita bisa melihat kesalahan orang lain dengan sangat cepat, tapi kita selalu lupa dengan kesalahan kita sendiri… astagfirullahaladzim.


“Pokoknya aku tidak menyukainya, tapi aku menyukai Salma.”


“Kenapa? Karena dia bilang kamu cantik.”


“Iiih, bukan.”


“Karena dia sudah nikah?”


“Hahaha... bukan!”


“Karena dia bilang kita serasi?”


“Engga!”


“Atau karena dia mendoakan kita nikah secepatnya?”


“Hmm... mungkin.”


“Hahahah.”


“Tapi dari ketiganya aku paling suka Salma... ramah, baik.”


“Deby sama Ocy juga baik, Key, kalau gak baik gak mungkin aku pacarin dulu.”


“Ckk... belain.” Aku kesal mendengar sang Letnan membela mantan pacarnya di hadapanku seperti itu.


“Bukannya belain tapi itu kenyataannya, kamu kan baru ketemu sama mereka beberapa menit doang.”


“Tapi aku gak suka, terutama Deby.”


“Ya sudah gak apa-apa gak suka juga.”


“Aku lebih suka lihat Mas Yudha sama Karin daripada Deby.”


“Aku tidak akan bersama salah satu dari keduanya, Key, aku kan sudah bilang kalau aku sedang menunggu seseorang dan aku yakin dia sekarang lagi dalam perjalanan menuju arahku.”


Aku terdiam beberapa saat, “Kalau misalnya dia tak kembali bagaimana?” aku bertanya sambil menatap sang Letnan serius.


“Dia akan kembali percayalah, Key, kalau pun tidak… tenang saja aku kan sudah punya calon istri, benarkan calon istriku? Hahahha.”


Dia tertawa melihatku yang menganga mendengarnya memanggilku calon istri.


“Iiih... aku kan bilang gitu biar Deby gak deket-deketin Mas Yudha lagi.”


“Hahaha… tahu gak, Key?”


“Apa?”


“Deby itu sudah nikah, suaminya orang Amerika.”


“Hah! Serius?” aku bertanya tak percaya.


“Iya hahaha.”


“Jadi… tadi… semua teman-teman Mas Yudha tertawa itu karena…”


“Karena lucu lihat kamu yang ngambek, hahaha.”


“Iiih... kenapa gak bilang dari tadi!”


“Aww- aww.. Key, aku lagi nyetir nih… hahaha... ampun-ampun.”


Aku mencubit pinggang, lalu memukuli lengannya kesal... seharusnya dia memberitahuku dari awal sebelum aku mempermalukan diri sendiri di hadapan teman-teman sang Letnan. Tapi karena kejadian tadi aku juga menyadari sesuatu, kalau aku masih sangat pencemburu seperti dulu kalau menyangkut sang Letnan.


****

__ADS_1


__ADS_2