
“Kamu baik-baik saja?”
Arga duduk di depanku, matanya menatapku yang sedang asik makan kacang goreng sisa lebaran kemarin.
“Tanganku masih sakit.” Aku mengangkat tangan kananku yang masih di perban walaupun sudah tak begitu sakit.
“Bukan itu maksudku, tapi tentang si Tukul.”
“Jangan sebut namanya lagi di depanku.” Aku bergidik mengingat pengecut yang satu itu.
“Kamu tidak sedih putus sama dia?”
“Ngapain sedih, malah harusnya syukuran.”
“Tidak mengurangi selara makan kamu?”
“Engga, aku makan banyak tanya saja ibu.”
“Syukurlah berarti dompetku aman, tak perlu bawa kamu makan di Dago atau Lembang.”
Aku mendelik membuatnya tersenyum lebar.
“Gak mau keliling Bandung sambil hujan-hujanankan?”
“Engga!”
“Gak nangis-nangis sendiriankan?”
“Engga!!”
Arga menatapku penuh selidik.
“Kenapa?” tanyaku sambil mengambil minum, saat ini kami tengah duduk di teras belakang seperti biasanya.
“Aku hanya bingung sebenarnya kamu suka benaran sama dia gak sih atau hanya pelampiasan?”
“Suka beneranlah, Ga, dia tak pernah seperti ini sebelumnya, biasanya dia baik penuh perhatian cuma ya memang cemburuan sih.”
“Bukan itu maksudku… dulu senyum tak pernah lepas dari wajah kamu walau hanya mengetahui kalau Letnan tahu no telpon kamu, dan kamu bertambah seperti orang gila senyum-senyum sendiri hanya karena kalian WA-an sampai tengah malam, dan selera makan kamu langsung hilang ketika kehilangan kabar dari dia padahal saat itu kalian belum ada hubungan apa-apa, kamu bahkan harus masuk UGD hanya mendengar dia pacaran dengan orang lain… dan yang pasti aku bisa melihat itu semua dengan jelas, tapi saat dengan si Tukul aku tak melihat itu semua, Key.”
Aku terdiam mendengarkannya.
“Kamu bahkan lupa untuk menceritakannya padaku seolah itu tidak ada artinya, kamu pernah bilang kalau kamu tak pernah menceritakan apa kegiatanmu padanya, tapi Letnan hanya perlu bertanya ‘kapan datang?’ kamu langsung mengekor di belakangnya untuk menceritakan apa yang kamu lakukan hari itu, kamu bilang tak pernah cemburu sama si Tukul, tapi kamu akan langsung cemberut melihat Letnan duduk dengan Karin walaupun saat itu kamu sedang bersama kekasihmu… dan aku yakin kalau misalnya yang melakukan ini adalah Letnan kamu akan sangat terpukul dan terpuruk, tapi sekarang lihat sepertinya selain fisikmu yang terluka itu tidak terlalu berpengaruh apa-apa.”
Aku terdiam menyadari hal itu, seperti biasa Arga akan bisa melihat itu semuanya bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya.
“Entahlah, Ga, awalnya aku pikir aku benar-benar menyukainya... melihatnya yang selalu memberikan perhatian seolah-olah aku adalah prioritas utama baginya membuatku merasakan apa yang tidak diberikan Letnan untukku dulu, dan itu membuatku bahagia untuk beberapa saat. Tapi ketika aku pulang ke Indonesia dan kembali bertemu dengannya, aku merasakan apa yang tak pernah ku rasakan saat bersama dengan pria lain… debaran yang menggila hanya dengan mendengar suaranya atau mencium wangi tubuhnya, desiran yang terasa hangat walau hanya tanpa sengaja menyentuh tangannya atau bersengolan dengannya.”
Aku tersenyum menatap Arga yang juga ikut tersenyum.
“Selama ini aku ingin selalu menyangkalnya, aku bahkan akan marah setiap kali Letnan mengomentari Rey, akhir-akhir ini aku malah menghindarinya karena dia menyuruhku berhati-hati terhadap Rey. Aku hanya ingin membuktikan kalau penilainya salah dan aku yang benar dan aku juga meyakinkan hatiku kalau perasaanku terhadap Rey adalah nyata, tapi… lihat apa yang terjadi denganku? Tanganku retak, tubuhku memar, tapi hanya itu kesakitan yang ku rasa… tentu saja aku juga merasa marah kepada Rey karena tega melakukan ini padaku, tapi aku juga kecewa pada diri sendiri karena ternyata aku salah selama ini dan terlalu keras kepala untuk mendengarkan kalian bahkan aku menyangkal hatiku sendiri.”
Arga terdiam dia kemudian berdecek, “Kalau soal cinta kadang orang akan menjadi buta dan keras kepala, memang kita sendiri yang merasakannya tapi kadang saran dari orang ketiga itu penting. Itulah gunanya teman, sahabat dan keluarga yang akan memberikan kita penilaian netral. Tapi kadang kitanya sendiri yang tak ingin mendengarkan mereka dan menganggap kalau kitalah yang benar karena kita yang menjalaninya.”
Aku mengangguk-angguk setuju.
“Aku bukannya tidak tahu dengan perasaanku, Ga, tapi aku takut… entah trauma atau apalah namanya, yang jelas aku memiliki ketakutan kalau aku kembali dengan Mas Yudha, aku takut dia menyakitiku lagi atau meninggalkanku demi perempuan lain seperti kemarin.”
Arga menatapku beberapa saat kemudian tersenyum menenangkan.
“Pelan-pelan saja, Key, pelan-pelan… yakinkan kembali hatimu kalau itu tak akan terjadi.”
Aku tersenyum kemudian mengangguk.
“Kalau kamu tetap di sampingnya kamu akan mengetahui seberapa besar dan tulus dia mencintaimu.”
Aku menatap Arga terkejut membuatnya tersenyum.
“Kalau dia hanya ingin menjagamu, dia bisa saja berpacaran dengan perempuan lain dan tetap menjagamu… seperti aku, hehehe. Aku tetap bisa berpacaran dengan orang lain sambil menjagamu jugakan?”
Aku tersenyum kemudian mengangguk membenarkan.
“Tapi dia tidak, dia malah tertawa ketika aku menjodohkannya dengan Karin. Kamu tahu sendiri Karin cantik, pintar, baik dan dari keluarga baik-baik juga. Aku pikir dia akan sangat cocok dengannya, tapi kamu tahu apa yang dia katakan ketika aku mengatakan itu padanya?”
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala tak tahu.
“Dia mengatakan kalau dia hanya memiliki satu hati yang hanya berisi namamu, satu kepala yang dia pakai hanya untuk memikirkanmu, dan dua tangan hanya untuk memelukmu.”
Aku tersentak mendengar ucapannya.
“Di-dia… mengatakan itu?”
Arga mengangguk sambil tersenyum, “Kamu akan mengetahui dan menyadarinya sendiri, Key, karena kamu akan bisa merasakan seberapa tulus dia menyayangimu dan itu cukup untuk membuatmu kembali percaya padanya.”
Itu yang aku harapkan cepat atau lambat aku bisa kembali membuka hati dan memercayainya, tapi aku tak tahu kapan dan berapa lama itu akan terjadi.
“Pelan-pelan kamu yakinkan hatimu, tapi jangan terlalu lama atau kamu akan menyesal setelah benar-benar kehilangannya nanti.”
Aku terdiam memikirkan ucapan Arga dan dia mungkin benar suatu saat nanti kalau aku tetap bimbang seperti sekarang aku akan benar-benar kehilangannya, dan saat itu mungkin saja untuk selamanya. Tapi bagaimana kalau aku tak akan pernah bisa kembali padanya seperti dulu? Mungkin dialah yang akan paling tersakiti, dan aku tak menginginkan itu.
Keesokan harinya Irene dan Karin datang untuk menjengukku, ketika mereka pulang Irene diantar Arga sedangkan Karin akan pulang sendiri seolah memberi kesempatan untukku menguji hatiku sendiri dengan meminta sang Letnan untuk mengantarnya pulang, padahal sang Letnan sudah menyarankan agar Dirga yang mengantarnya tapi aku bersikeras agar dia yang mengantarnya.
Awalnya aku hanya ingin menguji diri sendiri apa kini aku bisa melihatnya dengan perempuan lain? Dan juga belajar untuk merelakannya seandainya aku tak bisa kembali padanya nanti. Tapi ternyata itu sulit, hatiku bahkan tak ikhlas melihat mereka duduk berdua di atas motor, aku harus menguatkan diriku sendiri, bukankah aku yang menyarankannya?
Sorenya aku menunggu sang Letnan berharap kalau dia akan kembali ke rumahku tapi ternyata dia tak kunjung datang, dan kini setelah beberapa hari tak ada juga kabar darinya membuatku langsung menghubunginya.
“Dimana?”
“Mess.”
“Sibuk gak?”
“Engga, kenapa?”
“Gak apa-apa, Mas Yudha marah?”
“Marah kenapa?”
“Gara-gara kemarin aku nyuruh nganterin Karin.”
“Sedikit marah.”
Aku terdiam membaca pesannya, dan aku memutuskan untuk menghubunginya.
“Wa’alaikumsalam.”
“Mas Yudha beneran marah?”
“Sedikit.”
“Gara-gara kemarin?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Key, aku tahu tentang perasaan Karin, dan aku juga tahu maksud Arga dan Irene untuk menjodohkanku dengannya, tapi aku tak percaya kalau kamu-pun akan berpikiran sama seperti mereka.”
“Kenapa? Karinkan baik, cantik, pintar cocok sama Mas Yudha.”
Sang Letnan terdiam mendengar perkataanku dan aku bisa mendengarnya membuang napas berat.
“Aku tak suka ketika semua orang mencoba menjodoh-jodohkan kami seolah tak peduli dengan perasaan kami.”
“Kami peduli karena itu kami menjodohkan Mas Yudha dengan perempuan yang kami anggap cocok dengan Mas Yudha.”
“Bagaimana dengan perasaanku? Apa kamu tak peduli dengan perasaanku? Apa kamu pikir aku bisa berhubungan dengan seseorang tanpa melibatkan perasaanku? Kalau kamu tak peduli dengan perasaanku setidaknya mengertilah perasaan Karin. Apa kamu pikir dia akan bahagia kalau berhubungan denganku padahal aku tak bisa memberikan hatiku seutuhnya? Aku tak ingin memberinya harapan semu, Key.”
Aku terdiam mendengar penjelasannya dan lagi-lagi dia benar dengan mengantarkannya pulang itu juga seperti memberinya sebuah harapan.
“Maaf, aku tak berpikir sampai sana… tapi Mas Yudha juga harus mulai membuka diri Mas Yudha sama perempuan lain, aku tak ingin Mas Yudha menderita karena aku! Karena mengkhawatirkan kebahagianku, Mas Yudha lupa dengan kebahagian Mas Yudha sendiri.”
“Perasaanku biar menjadi urusanku dan kamu tak usah khawatir, aku juga akan mencari kebahagianku sendiri, jadi tolong jangan mencoba untuk menjodoh-jodohkanku lagi karena untuk saat ini aku tak perlu itu, dan aku tak ingin membuat seseorang menderita lagi gara-gara aku.”
“Baiklah, maafin aku.”
“Iya… sekarang jangan BT lagi.”
__ADS_1
“Siapa yang BT?!”
“Itu kata Dirga seharian kamu BT, cemberut mulu katanya kaya tutut.”
Ckkk… Dirga, awas ya! dasar tukang ngadu!
“Jangan percaya! Aku gak cemberut kok.”
“Hahaha… iya deh iya gak cemberut cuma bibirnya manyun aja.”
“Iiih, engga!”
Aku mendengar sang Letnan tertawa membuatku tersenyum tapi tiba-tiba aku mengingat sesuatu.
“Mas.”
“Hmmm.”
“Kemarin kok manggil aku Za lagi?”
Oh iya aku hampir lupa memberitahu, kemarin ketika sang Letnan akan pergi mengantarkan Karin dia menatapku sambil bertanya, “Kamu yakin ingin aku mengantarnya, Za?”
Seketika aku mematung dengan dada berdetak hebat ketika mendengarnya kembali memanggilku dengan nama yang hanya menjadi panggilan miliknya itu, saat itu aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban dan bisa kulihat kekecewaan di dalam sorot matanya sebelum akhirnya pergi meninggalkanku yang menyesali tindakanku.
“Karena kemarin aku memang berbicara dengan Za bukan dengan Kekey.”
Aku mengerutkan alis bingung, “Kan sama, aku-aku juga.”
“Bagiku berbeda… Kekey adalah seorang teman yang telah ku anggap seperti adikku sendiri yang cengeng, manja seperti anak kecil, sedangkan Za…”
Sang Letnan terdiam membuat jantungku mulai berdetak semakin cepat menunggu apa yang akan dia katakana tentang Za.
“Sedangkan Za?” aku bertanya penasaran.
“Za adalah perempuan hebat yang aku cintai, perempuan yang dewasa dengan caranya sendiri, perempuan yang memiliki kecantikan fisik dengan hati jauh lebih cantik, perempuan yang akan menangis karena sangat merindukanku, perempuan yang mencintaiku dengan tulus tanpa syarat bahkan ketika belum mengetahui siapa aku sebenarnya, perempuan yang akan menunggu dan setia padaku walaupun kami masih belum menjadi siapa-siapa, dan juga…”
Hatiku berdesir mendengarnya, ada kerinduan yang tiba-tiba menyeruak kepermukaan yang tak bisa dibendung lagi, membuat dadaku sesak seolah ada gumpalan yang menghimpitnya yang semakin lama semakin naik ke tenggerokan membuatnya tercekat.
“Dan juga… dia adalah perempuan yang sangat aku cintai, perempuan yang ku rindukan setiap malam hingga dadaku sesak, perempuan yang sangat ingin ku peluk saat ini.” Dia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan ucapannya, “jadi, Key, kalau kamu ingin menjodohkanku tolong jodohkan aku dengan dia karena hanya dialah perempuan yang ingin kucium setiap malam ketika mengucapkan selamat tidur, karena hanya dengannya-lah ingin kuhabiskan masa tuaku.”
Aku tak bisa berkata-kata, airmata mulai turun membasahi pipi yang diam-diam ku hapus, sungguh aku bisa mendengar rasa rindu yang teramat sangat dari suaranya membuat hatiku ikut merasakan kesakitan yang dia rasakan karena memendam rindu selama ini.
“Baiklah, aku akan menjodohkanmu dengannya, tapi untuk saat ini aku belum bisa menemukannya, dia masih ingin waktu sendiri untuk kembali menata hatinya… beri dia waktu untuk itu.”
“Kalau kamu bertemu dengannya katakan kalau aku akan menunggunya sampai kapanpun, seperti yang aku bilang padanya di bandara ketika dia pergi, sekarang akulah yang akan menunggu, seperti dia yang selalu menungguku dulu. Dia memiliki semua waktu yang dia inginkan untuk sendiri, tapi kalau dia mulai lelah dan memerlukan seseorang untuk bersandar, katakan padanya untuk pulang kepadaku karena aku akan selalu ada untuknya... dan katakan padanya… aku rindu.”
Aku juga, aku juga rindu!
“Baiklah nanti ku sampaikan.”
“Baiklah sambil menunggu Za kembali, aku akan bermain dan menjaga Kekey yang manja dan cengeng kaya anak kecil.”
“Iiih, aku gak cengeng!”
“Gak cengeng tapi sudah dua kali nangis, pake meluk-meluk segala lagi, bilang saja pengen meluk cowok ganteng.”
“Iiih engga! Siapa yang meluk? Mas Yudha saja yang meluk duluan, terus aku tuh gak manja.”
“Gak manja tapi makan pengen disuapin.”
“Kan tangannya lagi sakit.”
“Kesempatan itu mah pengen disuapin cowok ganteng.”
“Iiih engga!! Hahaha… tapi, Mas, aku kok merasa aneh ya?”
“Aneh kenapa?”
“Kok kesannya aku punya kepribadian ganda ya?"
“Hahahaha.”
Malam itu aku mengetahui arti diriku bagi dirinya, ternyata sampai sekarang aku masih menjadi pemilik hatinya. Ada perasaan bahagia dan juga tenang karena itu artinya dia tetap menjadi miliku tapi juga ada perasaan takut.
__ADS_1
Aku tak mau kehilangannya tapi juga takut untuk kembali padanya… apa aku egosi? Mungkin saja… tapi aku juga tak ingin menjadi egois, aku juga ingin melihatnya bahagia jadi yang harus aku lakukan sekarang adalah meyakinkan diriku sendiri tentang apa mauku, bersamanya atau melepasnya? Dan aku harus mendapatkan jawaban itu secepatnya… demi dirinya dan juga demi diriku.
*****