
Yudha Pov
Bandung, 2017
Perawatan yang seadanya saat pengangkatan peluru membuat luka tembak yang ku alami mengalami infeksi dan sehari setelah kepulangan ku ke tanah air aku mengalami demam tinggi hingga tak bisa bangun dari tempat tidur.
Tak ingin membuatnya semakin khawatir membuat aku merahasiakan tentang sakitku darinya, dia hanya mengira hari itu aku tertidur seharian padahal di dalam kamar aku tertidur dengan inpus terpasang di tangan. Papah memanggil dokter yang kebetulan tetangga kami yang biasa ku panggil Om Tomy.
Om Tomy membersihkan, mengobati dan kembali menjahit lukanya, dia juga memberikan beberapa obat yang harus ku minum hingga keesokan harinya aku cukup kuat untuk datang ke Jakarta dan menghadiri makan malam di istana Negara.
Tapi kondisiku belum pulih seutuhnya dan untung saja kantor yang memang mengetahui keadaan yang sebenarnya memberiku ijin untuk beristirahat, dan saat itu ku gunakan sebaik-baiknya untuk mengurus pernikahan.
“Dia bakal ngamuk, Nan, kalau gak dilibatin dalam persiapan pernikahannya.”
“Mending dia ngamuk, Ga, tapi akhirnya mau nikah dari pada ku kasih tahu sekarang tapi malah ditolak.”
“Hahaha, benar juga ya, dia pasti sok jual mahal gak mau nikah cepet-cepet.”
“Nah iya, kamu kan tahu sendiri dia keras kepalanya kaya gimana.”
“Hahaha, bener!”
Atas dasar itulah diam-diam aku dan kedua orangtuaku bertemu dengan keluarganya… tentu saja saat dia tidak ada di rumah dan itu tugas Arga untuk mengalihkan perhatiannya.
Tanpa kuduga keluarganya menyetujui permintaanku untuk tidak memberitahunya terlebih dahulu tentang rencana pernikahan ini. Alhasil kami semua disibukan dengan semua persiapan pernikahan yang untungnya hanya tinggal mencetak undangan dan mencari tempat resepsi.
“Kekey maunya outdoor tapi ngeri hujan juga, jadi kalau bisa cari tempat yang semi indoor saja.”
Saat ini aku dan Arga berada di kantor OASIS, tak memiliki saudara membuatku meminta bantuan Arga dan anggota OASIS yang memang telah mengenal calon istriku itu dengan sangat baik.
“Ok, nanti kita coba googling terus survey lapangan,” ucap Adit yang mendapat anggukan dari semuanya.
“Ada yang punya kenalan percetakan undangan gak?”
“Undangan mah gampang, Mas, ku (sama) Agus.”
“Tapi bisa cepet gak, Gus?”
“Bisa diatur, ayeuna mah (sekarang) cari tanggalnya aja dulu.”
“Oh enya nya tanggalna can pasti (Oh iya ya tanggalnya belum ada)... aku pengennya bulan-bulan ini, tapi tergantung tempat bisanya kapan.”
“Jadi sekarang kita harus cari tempatnya dulu, kalau tempat sudah pasti baru tinggal cetak undangan,” ujar Arga yang mendapat anggukan dariku.
“Siap! Nanti biar Kamal sama Yoan yang cari tempat.”
Seluruh ruangan tiba-tiba terserang batuk mendengar ucapan Kamal membuat Yoan memerah, melihat itu membuatku teringat sesuatu.
“Oh iya, aku juga rencananya mau ngelamar Kekey secara pribadi... jadi, aku minta bantuan kalian sekali lagi.”
Aku memberi tahu ideku tentang melamar Kekey di bukit bintang yang menjadi saksi ketika kami pertama kali mengucap kata cinta. Dan sepertinya Allah mempermudah semua urusanku, tanpa di duga Adit mengenal beberapa orang yang bertugas menjaga bukit bintang dan dia bersedia untuk meminta ijin melakukan acara lamara di sana.
__ADS_1
“Mas Yudha, mulai sekarang jangan hubungin Kekey dulu ya,” ucap Yoan membuatku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Kan biar surprise!” ucap Yuni, Mira, Vita dan Yoan berbaregan membuatku dan Arga saling lirik kemudian tertawa.
“Yang ada dia bakal ngamuk-ngamuk.”
“Ya enggalah kalau nanti pas hari H-nya kita bikin se-sweet mungkin, dia pasti terharu percaya deh,” ucap Vita yang mendapat anggukan dari yang lainnya.
“Pokoknya Mas Yudha jangan menghubung dia dulu.”
“Kalau dia yang menghubungiku?”
“Jangan diangkat!”
“WA?”
“Jangan dibalas!”
“Waah gawat nih,” ucapku karena bisa membayangkan akan seperti apa dia mengetahui aku menghindarinya.
“Nah tugasnya Arga tuh buat nenangin Kekey.”
“Bisa-bisa tekor bandar gini ceritanya mah,” hela Arga membuatku tertawa, karena ku tahu dialah yang memiliki tugas terberat kali ini.
****
Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari Kamal kalau tempat yang mereka datangi rata-rata sudah penuh sampai beberapa bulan ke depan bahkan sudah ada yang sampai awal tahun depan. itu sedikit membuatku ketar-ketir tapi untung saja akhirnya Kamal memberi kabar ada sebuah resort di daerah Dago Pakar ada yang kosong pada hari minggu kurang dari 2 bulan lagi karena ada yang cancel.
Selain itu mereka juga telah menyiapkan paket kumplit jadi aku tak perlu lagi pusing-pusing mikirin dekorasi, rias pengantin dan catering. Merasa puas dan cocok membuatku berniat membayar DP, dan saat inilah terjadi sedikit perdebatan tentang siapa yang akan membayar di antara orangtua Za dan orangtuaku, sampai akhirnya aku menengahi.
“Biar Yudha saja,” ucapku membuat mereka menatapku, “Yudha memiliki sedikit tabungan yang insyaallah cukup untuk membiaya pernikahan ini.”
Tapi ternyata perkataanku itu malah membuatku dalam keadaan terjepit.
“Yud, Kekey adalah putri Ayah satu-satunya jadi bagaimana bisa Ayah melepaskannya begitu saja,” ucap Ayah membuatku memahami maksudnya, “Selama ini Ayah telah menyisihkan uang untuk pernikahannya, kamu tahu sendirikan kalau Kakak dan adiknya adalah laki-laki semua jadi mungkin ini kesempatan satu-satunya Ayah untuk bisa merasakan nikahin anak perempuan… jadi biar Ayah saja yang membiayai pernikahan kalian.”
“Apalagi Papah, Papah hanya punya kamu, Yud,” ucap Papah seolah tak ingin kalah sambil membuang napas berat mendramatisir keadaan sambil kembali berkata, “Papah hanya menikahkan sekali… biaya pernikahanmu sudah menjadi kewajiban Papah, uang tabungan kamu, kamu simpan saja untuk masa depan kamu sama Kekey nanti.”
Keduanya… tunggu! Bukan keduanya tapi keempatnya karena Mamah dan Ibu ikut menatapku dengan penuh harap membuatku serba salah tak tahu harus memilih siapa… aah, jadi ini yang namanya salah satu kerepotan mengurus pernikahan? Beruntungnya kamu, Za, gak harus pusing kaya gini. Untuk sesaat aku menyesali merahasiakan pernikahan ini darinya, ku harap saat ini dia ada di sini jadi setidaknya dia bisa ikutan pusing sepertiku.
“Kalau misalnya gini saja gimana,” ujarku mencoba mencari jalan tengah setelah berpikir sesaat, “Biayanya dibagi dua saja?”
“Ya engga bisa gitu dong, Yud… kalau biaya dibagi dua gitu kita gak enak, karena kalau misalnya salah satu keluarga terlalu mendominasi tentang acara resepsi nanti kita gak enak sama keluarga pihak besannya,” ucap Ibu yang mendapat anggukan dari Mamah membuatku kembali harus memutar otak mencari jalan tengah.
“Nah gimana kalau misalnya nanti setelah ijab qobul kita resepsi di pihak perempuan segimana umumnya, dan setelah itu baru pihak pria mengadakan ngunduh mantu?”
“Nah iya kaya gitu saja,” ucap Mamah menyetujui ide Ibu membuat Ayah dan Papah tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala, dan akupun ikut bernapas lega karena akhirnya satu masalah selesai.
Dan akhirnya disetujui juga kalau yang di Dago akan dibayar Papah, sedangkan keluarga Za berkata kalau mereka hanya akan melakukan resepsi sederhana yang ternyata lumayan jauh dari kata sederhana, tapi yang membuatku terkejut adalah hari resepsi keluarga perempuan akan dilaksakan pada hari yang sama dengan acara di Dago!
__ADS_1
Yang aku kira mereka hanya akan melaksakan resepsi di rumah yang artinya bisa dilaksaknakan kapan saja, tapi ternyata merekapun menyewa gedung.
“Gedungnya hanya tanggal itu yang kosong, jadi langsung Ayah ambil daripada nunggu lama lagi.”
“Iya, gak apa-apa, Yah.” Aku berkata dengan tersenyum pasrah, daripada diundur lagi bisa gawat urusannya.
Alhamdulillah semua urusan persiapan sudah selesai, tinggalah aku melaksanakan acara lamaranku. Saat ini kami tengah disibukan dengan memasang lampu-lampu kecil, sound system seadanya, dan urusan makanan biar para perempuan yang ngatur.
“Masih lama?” tanya Arga yang saat ini sedang bersama calon istriku.
“Bentar lagi.” aku membalas pesan pesannya.
“Buruan, kuping dah panas nih.”
“Hahaha… yang sabar ya, Bos!”
Aku tersenyum membayangkan pasti saat ini dia tengah merajuk karena tak bisa menghubungiku selama dua minggu ini. Untung saja dua minggu ini aku disibukkan dengan persiapan pernikah kami, kalau tidak akupun tak akan kuat untuk menemuinya.
Acara lamaran malam itu akhrinya berjalan lancar, dia terlihat terkejut sekaligus senang tapi dia lebih terkejut ketika aku mengatakan kalau sebulan lagi kami akan menikah.
“Kenapa aku tak diberi tahu? Yang mau nikahkan aku!” Dia bertanya ketika kami berbicara berdua sepulang dari bukit bintang.
“Sama aku nikahnya, masa kamu nikah sendiri.”
“Iiih, serius!’
“Iya serius, kamu nikahnya sama aku kan.”
“Tahu ah!” dia berkata kesal membuatku tersenyum.
“Hahaha… maaf, tapi tahu gak?”
“Engga, kan gak dikasih tahu.”
“Udah dong marahnya… mau denger gak kita nanti konsepnya apa?” dia masih cemberut tak menjawab, membuatku tersenyum karena sudah tahu bakal seperit ini.
“Nanti itu ya kita pakai tema semi outdoor, jadi kamu gak usah takut lagi kehujanan dan jadi Sodako, tapi kamu juga bisa melihat pemandangan Bandung dari ketinggian.” Aku diam-diam tersenyum melihatnya yang kini mulai tertarik dengan apa yang ku bicarakan.
“Pemandangan Bandung dari ketinggian?”
“Iya, dan pada malam hari… jadi dah kebayangkan pasti bagus banget tuh.”
Senyum mulai mengembang dari wajah cantiknya dengan mata berbinar.
“Dan juga, nanti sebelum resepsi di mulai kita akan berjalan di bawah payungan pedang dari rekan-rekanku.”
“Pedang pora?” matanya yang bercahaya kini membualat terlihat bersemangat dan kali ini aku benar-benar tersenyum karena sepertinya usahaku telah berhasil. Dia memang keras kepala, tapi juga seperti anak kecil kalau ngambek tinggal kasih es krim pasti diam, hehehe.
“Iya… pedang pora, kamu tidak suka? Kalau tidak suka aku akan membatalkan semuanya.”
“Suka! Jangan dibatalin!”
__ADS_1
Ok! Misi selesai.
*****