
Yudha, pov
Bandung, 2017
Inilah harinya, hari kepulangan perempuan yang selama ini ku rindukan ke tanah air setelah beberapa bulan tinggal di luar negri. Tentu saja aku memiliki andil besar hingga perempuan itu mengambil keputusan untuk meninggalkan keluarga, sahabat, teman dan tanah kelahirannya… ya semua itu adalah karena kesalahanku, dan aku akan membayarnya sekarang… dengan menjaga dan membuatnya bahagia, walau harus mengorbankan kebahagianku sendiri.
Beberapa bulan tak melihatnya membuat kerinduanku tak terbendung lagi, ku pacu sepada motorku secepat yang kubisa. Membayangkan bertemu lagi dengannya membuat senyum tak lepas dari wajahku, walau kutahu dia mungkin tak akan menyambut kedatanganku seperti dulu lagi.
Dan tebakanku benar, dia hanya menatapku tak percaya ketika melihat kedatanganku sedangkan aku… aku ingin memeluknya erat untuk menyalurkan rasa rinduku. Tapi kutahu kini aku tak memiliki hak untuk itu.
Aku berusaha bersikap sebiasa mungkin untuk menghilangkan rasa canggung di antara kami, berusaha bersikap seperti layaknya teman termasuk ketika dia mengatakan kalau dia telah memiliki kekasih di Jepang.
Saat mendengarnya aku bahkan sempat berhenti mengunyah makan malam yang Ibu siapkan untuk kami. Secepat itukah dia bisa melupakanku? Secepat itukah dia bisa berpaling kepada lelaki lain? Aaah… aku dan kebodohan di masalaluku membuatku harus menerima kenyataan pahit ini, kalau sekarang dia bukan milikku lagi.
Aku kecewa sudah pasti, cemburu? Jangan tanya sebesar apa aku cemburu ketika mendengarnya, tapi aku telah berjanji untuk berada di sampingnya sebagai penjaga hati walau hatinya bukan lagi miliku.
Seperti apa pria yang telah bisa menyembuhkan hatinya yang terluka karena aku? Apa dia pria baik-baik? Apa dia bisa melindunginya? Apa dia bisa selalu dia andalkan? Apa dia rela berkorban untuknya?
“Dia baik, dia selalu membuatku menjadi prioritas utama dalam hidupnya,” jawabnya membuatku sedikit tenang walaupun dengan hati terluka mendengarnya memuji pria lain di depanku.
Tapi ternyata pria itu tak sebaik yang dia ceritakan, bagaimana bisa aku tenang setelah mendengarnya membentak perempuan yang ku cintai dan perempuan yang sedang kucoba jaga hatinya hanya karena alasan yang tak masuk akal. Seandainya dia di hadapanku akan ku pastikan dia tak akan lagi bisa bernapas dengan tenang!
Tahu apa yang membuatku kecewa selain mengetahui kalau pria yang kini berhubungan dengannya adalah seorang bajingan?
Ya, dia membelanya… dia membela kesalahan pria itu, seolah itu adalah hal yang lumrah ketika seorang pria yang notabene hanya seorang kekasih berani membentak dan memarahi perempuan yang seharusnya dia jaga dan cintai.
Apa ketika orang jatuh cinta mereka akan sebuta itu hingga menganggap hal yang tak wajar menjadi wajar? Ataukan dia marah hanya untuk menyalurkan amarah yang masih terpendam kepadaku? Entahlah, yang pasti aku kecewa juga marah saat itu hingga membuatku berolah raga fisik tengah malam hanya untuk menyalurkan emosi.
****
Lebih dari dua minggu aku tak bertemu dengannya, bukan karena marah hingga aku menghidar darinya tapi karena tugas yang harus ku emban. Aku bersyukur karena setelah kejadian malam itu aku langsung mendapatkan tugas yang bisa mengalihkan pikiranku dari masalah itu.
Tapi hati tak bisa dipungkiri walaupun sempat kecewa, tak bertemu dengannya selama dua minggu membuatku sangat merindukannya. Dan bukankah aku sudah berjanji akan selalu berada di sampingnya untuk menjaganya?
Dengan pikiran itu sepulang dari tugas aku langsung menuju Padjadjaran, setiba di rumahnya kulihat Dirga sedang bersiap pergi di atas motornya.
“Mau kemana?”
__ADS_1
“Eh, Mas… biasa jadi ojeknya Kakak.”
“Emang Kekey kemana?”
“Kakak sekarang kerja di Braga.”
Aku mengangguk mengerti, “Biar Mas Yudha yang jemput Kakakmu,” kataku sambil kembali menyalakan mesin motor dan langsung meluncur menuju alamat yang Dirga berikan.
Dari kejauhan ku melihatnya berdiri di depan sebuah kantor design, kerinduanku terhapus sudah walau harus puas hanya dengan menatapnya yang balik menatapku tak percaya ketika aku berhenti di depannya.
“Dirga ada tugas kuliah dia gak bisa jemput,” ucapku sambil menyerahkan helm padanya.
Sepanjang perjalanan dia hanya terdiam bahkan dia seolah enggan untuk berpegangan padaku. Apa dia masih marah? Aku mengenal sifatnya, dia bukan tipe orang yang akan larut-larut dalam kemarahan tapi apa mungkin dia kini telah berubah? Ataukah dia hanya seperti itu kepadaku karena belum bisa memaafkan kesalahanku?
“Maaf!” serunya membuatku menghentikan motor setelah menurunkannya di depan rumah. “Aku tak bermaksud seperti itu.” Suaranya mulai bergetar dengan mata berkaca-kaca membuatku tersenyum dalam hati.
Ahh... ternyata dia belum berubah masih saja manja, cengeng dan keras kepala! Dia yang marah tapi bilangnya aku yang marah… hehehe, menggemaskan bukan? Ah ingin sekali aku memeluknya malam itu tapi aku harus ingat posisiku sekarang, jadi yang bisa ku lakukan adalah mengacak-acak rambutnya gemas, untuk saat ini hal sederhana itu sudah lebih dari cukup untukku.
Dari kejadian malam itu aku bisa melihat kalau masih ada perasaan yang tersimpan untukku, walau dia berusahan menyembunyikan sekuat tenaga.
****
Aku merasa dia semakin nyaman denganku, entah sebagai teman, sahabat atau bahkan mungkin kakak. Tapi aku tak peduli dia menganggapku apa selama dia berada di sampingku, aku menyukainya, aku menyukai ketika dia merengek memaksaku mengantarnya kemanapun disaat aku libur termasuk membeli baju lebaran, hehehe… dia memang manja, cengeng seperti anak kecil, tapi aku menyukainya.
“Bagusan yang mana, ini (dia menaruh pakaian panjang berwarna biru muda di depan tubuhnya) atau ini?"
“Bukannya sama ya?” tanyaku sambil menatap dua pakaian di tangan kiri-kanannya yang menurutku mirip hanya yang satu warnanya lebih tua.
“Beda dong, yang ini seletingnya di depan, yang ini di belakang, bunga sama warnanya juga beda, terus ini tangannya ada kancingnya yang ini gak ada kancingnya cuma pakai karet.”
Aku terdiam mendengar penjelasannya tapi tetap saja menurutku itu sama saja.
“Ya udah yang itu saja tuh… yang seletingnya di depan jadi kamu gampang pakainya gak ribet.”
“Yang ini?”
“Iya.”
__ADS_1
Dia kembali memerhatikan kedua pakaian itu terlihat berpikir dengan serius.
“Yakin yang ini?” Dia kembali bertanya sambil memajukan pakaian di tangan kanannya yang tadi ku pilih.
“Iya.”
“Tapi aku kurang suka motif bunganya… motifnya bagusan yang ini trus ini tangannya berkancing jadi lebih lucu.” Dia memajukan pakaian yang ada di tangan kirinya membuatku mengangkat alis.
“Ya udah yang itu saja.”
“Jadi yang mana? Yang ini atau yang ini?”
Aku menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “Yang itu,” aku menunjuk yang sebelah kiri membuatnya tersenyum lebar.
“Ok!”
Ya Allah!! Ada apa dengan makhluk-Mu yang satu ini? kalau dia mau yang kiri seharusnya dia tak perlu bertanya lagi, dan aku hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala melihat kelakukannya itu.
****
Hari kedua lebaran tahun ini bertepatan dengan ulang tahunnya, dia pikir aku lupa terlihat dari keterkejutan di wajahnya ketika aku mengucapakan rasa terimakasihku kepada Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya seperti sekarang.
Tapi bukan hanya dia yang terkejut, akupun dikejutkan olehnya yang mengenalkan seorang pria yang ternyata adalah kekasihnya. Hatiku memanas tapi aku berusaha bersikap seperti biasa… ini adalah hukuman lain yang harus ku terima karena kesalahanku, dan resiko yang harus ku ambil karena janjiku untuk melindungi dan berada di sampingnya walaupun apa yang terjadi.
Beberapa menit duduk dan berbicara dengan pria itu membuatku sudah bisa menilai karekternya kalau dia tidak akan cocok dengannya. Dia terlalu sombong yang tentu saja tidak akan berpengaruh untukku, semakin dia sombong semakin aku senang untuk menjatuhkannya. Ah, dia salah mencari lawan! Apalagi ada Arga yang akan mendukungku untuk menjatuhkannya.
Bukan hanya kesombongannya yang membuatku tak menyukainya, tapi dia adalah tipe orang yang tidak bisa menahan emosi. Kalau boleh aku sombong, aku memiliki insting yang cukup kuat dan sedikit bisa menilai karakter seseorang karena itulah aku tak bisa memercayakan perempuan yang aku cintai kepada pria seperti si Tukul.
Keesokan harinya si Tukul mengundangku dan Arga makan siang, bukan hanya kami tapi Arga juga mengajak Irene dan Karin. Hari itu aku ikut hanya untuk lebih memastikan lagi penilaianku tentang si Tukul, tapi kedatanganku harus dibayar dengan melihatnya mencium pipi perempuan yang aku cintai.
Aku menyesali kedatanganku, seharusnya aku tidak datang saat itu karena itu terlalu menyakitkan. Walaupun sudah berjanji akan tetap berada di sampingnya walau hatinya bukan lagi milikku, tapi tetap saja aku hanya seorang manusia biasa yang bisa merasakan sakit hati ketika melihat perempuan yang ku cintai dipeluk bahkan dicium oleh pria lain di depan mataku sendiri.
Sehebat inikah hukuman yang harus ku jalani hingga harus menyaksikan itu semua? Lebih baik aku bertarung melawan musuh di medan perang dengan tangan kosong daripada harus menyaksikan itu semua, setidaknya di medan perang aku bisa balas memukul dan melawan tidak seperti sekarang yang hanya bisa diam dengan hati terluka.
****
Es campur buat semuanya 😁
__ADS_1